
Dua hari berlalu dari rumah sakit, Mikhayla mendatangi kediaman Zia dengan maksud mempertanyakan tujuan wanita itu ke rumah sakit. Ya, jelas saja dia penasaran luar biasa. Hendak datang kemarin-kemarin waktunya sangat terbatas, baru hari ini Keyvan bisa mengantarnya sembari pergi ke kantor.
"Mama."
"Hm, kenapa? Muka kamu biasa saja bisa?"
Zia jelas saja terkejut didatangi Mikhayla dengan wajah cemberutnya. Dia pahami mungkin saja itu pengaruh hormon atau lainnya, akan tetapi setelah dia lihat-lihat lagi sepertinya Mikhayla memiliki kekesalan pribadi padanya.
"Kemarin Khayla lihat Mama di rumah sakit, hamil ya?"
Tanpa basa basi dia bertanya seperti itu di hadapan Zean yang sangat sensi akan kehadiran seorang adik lagi. Belum sempat Zia jawab putranya berlalu begitu saja tanpa pamit, jelas saja marah.
"Siapa hamil?"
Baru juga beberapa detik Mikhayla bertanya. Mikhail yang baru saja tiba dari taman belakang menghampiri dan juga menunggu jawaban dari sang istri.
"Papa kenapa jalannya begitu?"
"Sakit pinggang, Khay," jawab Mikhail meringis sebagai bukti pinggangnya memang sakit.
"Berarti sudah tua. Tapi, serius Mama kenapa ke rumah sakit? Jangan bilang hamil," tutur Mikhayla usai mengatakan sang papa sudah tua.
"Kenapa memangnya kalau Mama hamil? Mama juga punya suaminya, lagipula kemarin kamu bilang setuju-setuju saja," ungkap Mikhail sewot hingga pada akhirnya dia dan sang putri adu tatapan maut.
"Yang bilang nggak setuju siapa? Khayla tu cuma nanya," jawabnya sedikit memelan kemudian, dia lupa jika kini yang dia ajak bicara adalah Mikhail, bukan Keyvan yang akan mengalah padanya.
"Papa bisa baca tatapan mata kamu ya, Khayla ... kamu pikir Papa boddoh atau gimana?"
"Papa santai dong, kenapa marah-marah sama Khayla? Khayla aduin bang Evan nih," ancamnya yang kini sudah berbeda dan membuat Mikhail semakin gemas pada putrinya, melihat sang putri begini dia seakan kembali ke 16 tahun silam, tepat Mikhayla berusia dua tahun.
"Ih gendut!! Sudah tua masih suka ngadu, malu sama bayi," pungkas Mikhail dan membuat Mikhayla sontak mengembalikan pisang goreng yang sudah saja hendak dia masukkan ke mulut.
"Tua teriak tua, Papa sadar diri ngatain Khayla gendut dianya sendiri persis sapi laut," ungkap Mikhayla tidak mau kalah, sebelum dia menikah memang kerap begini pada sang papa, bahkan ketika dia balita.
"Kamu anaknya sapi laut berarti, wajar sama gendutnya."
__ADS_1
Keyvan sesulit itu menjaga batinnya dan khawatir sekali Mikhayla mendengar satu kata itu dari siapapun. Kini, ketika di rumah orang tuanya justru Mikhayla diserang papanya sendiri.
"Khayla anak mermaid, bukan sapi laut," ungkapnya usai melihat Zia yang kini tampak frustasi dengan tingkah mereka.
"Dan Papa suami Mermaid, kebetulan putrinya ikut gen Papa mak_"
"Astaga sudah!! kenapa kalian yang jadi berantemnya? Kamu juga, Mas. Sudah tahu Khayla hamil malah diajak berantem, Evan aja paham dianya enggak."
Sebal lantaran Mikhail menggoda putrinya berkepanjangan, Zia berteriak hingga membuat Mikhail diam sejenak. Sementara Mikhayla menjulurkan lidah karena merasa di bela sang mama, padahal Zia marah kepada dua-duanya.
"Kamu juga, Khayla ... sudah tahu Papa begitu buat apa diterusin."
"Ah Mama jangan ikutan marah-marah begitu, jawab saja pertanyaan Khayla. Mama kenapa ke rumah sakit?" tanya Mikhayla lembut sekali, sangat jauh berbeda dengan caranya bicara pada sang papa.
"Nemenin Papa, kemarin ada yang ketinggalan makanya Mama sendirian ... mungkin saat itu kamu lihat Mama," ungkap Zia yang berhasil membuat Khayla terhenyak, dia terkejut dan matanya sontak membasah.
"Papa?"
Demi apapun ini adalah penyesalan dalam diri Khayla. Sempat adu mulut karena kehadiran Mikhail dia anggap mengganggu, kini wanita itu menghambur ke pelukan Mikhail. Ya, pemandangan ini adalah biasa bagi Zia. Perubahan suasana hati kedua orang ini secepat kilat dan dia hanya bisa memahami, itu saja.
Mikhail mengacak rambut sang putri usai merengkuhnya beberapa menit. Bukti nyata walau dia kerap sekesal itu, kasih sayang Mikhayla sangat besar pada Mikhail.
"Papa sakit apa, Ma?"
"Diare, biasalah Papamu semuanya dia makan," jawab Zia yang pada akhirnya menjadi sebab air mata Mikhayla hilang seketika.
"Salah sendiri kalau begitu, makanya jangan semuanya dimakan. Apa-apa masuk, Mama juga kenapa bisa suka sama Papa yang rakus dan lebar ini?"
"Hei Anda, Papa masih muda lebih tampan dari suamimu, paham?" Bibit keributan mulai terdengar dan Zia memilih berlalu kemudian.
"Itu dulu, belasan tahun lalu ... sekarang tidak lagi, Papa tidak lebih tampan dari Om Babas."
"Anak durjana, lihat 20 tahun kemudian apa Evan masih setampan itu." Mikhail berani bertaruh dan yakin seratus persen jika Keyvan akan persis dirinya di masa depan.
.
__ADS_1
.
.
Tadi pagi berseteru dan di sore hari Mikhayla pergi berdua bersama sang papa. Keyvan yang menjemputnya bahkan harus menunggu beberapa saat di rumah mertuanya, hingga suara motor itu terdengar memasuki halaman dan tampaklah sang istri yang melambaikan tangan seceria itu.
"Sayang!!" teriak Mikhayla mungkin membuat telinga Mikhail sakit.
"Hati-hati, pegang pundak Papa," titah Mikhail karena khawatir putrinya terjatuh akibat terlalu bahagia sore ini.
Keyvan mendekat, entah kenapa hatinya selalu dibuat sehangat itu melihat keharmonisan kedua orang ini. Wajah Mikhayla tampak berbinar, Keyvan tersenyum tipis melihat apa yang dibawa istrinya.
"Dari mana?"
"Jalan-jalan sama Papa," jawab Mikhayla menunjukkan gigi rapihnya, tidak lupa dia menunjukkan beberapa kantong kresek yang tentu saja isinya makanan.
"Jajan lebih tepatnya."
Jalan-jalan apanya, hampir setiap makanan yang dia lewati harus dibeli dan Mikhail yang terlalu menyayangi putrinya jelas saja memberikan kebebasan untuk sang putri.
"Pinggir jalan, Pa?" tanya Keyvan ragu dan dia memang sedikit pemilih meski semuanya dia biarkan untuk sang istri.
"Iya, tidak masalah ... dia terbiasa makan jajanan kali lima, Van."
Sejak dahulu memang Mikhail berbeda, hal semacam ini juga sempat menjadi bahan perdebatan bersama Zia. Kini, Keyvan yang berada di posisi itu, "Ya sudah kalian masuklah, nanti Papa masuk juga."
"Kenapa tidak izin, Sayang? Harusnya pergi bersamaku. Ya Tuhan, Khayla ... kamu bisa jamin semuanya sehat? Hm?" Bukan marah, tapi dia hanya menjaga saja sebenarnya.
"Papa juga tidak sembarangan kasih izin, jangan khawatir ... Papa 18 tahun jagain aku, tidak mungkin dia asal," ucap Mikhayla sedikit tidak nyaman lantaran Keyvan menganggap Mikhail asal-asalan.
"Ya tapi kan, kamu ham ... kali terakhir ya, lain kali jangan." Hendak marah tapi tatapan mata sang istri lebih menakutkan hingga dia memilih mengalah. Dari pada menangis, lebih baik dia diam kali ini.
- To Be Continue -
Titip Rindu buat Ayah😌❤
__ADS_1
Kurang bahagia apa kamu, Khay ... sudah punya suami sebaik Evan tapi masih bisa jajan sore-sore sama papanya.