
"Evan!! What are you doing here?!"
Di saat gairrahnya berada di puncak, teriakan itu terdengar jelas menggema di ruangan. Keyvan terkesiap sembari berusaha menyembunyikan Mikhayla dalam pelukannya.
"What the fuckk!!"
Beruntung saja tubuh Mikhayla kecil hingga Justin tidak bisa melihatnya semudah itu. Mata Justin membeliak seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat, sempat berpikir jika suara yang dia dengar berasal dari video dewasa yang Keyvan tonton, nyatanya memang dari wanita dalam pelukan sahabatnya.
"Dasar gila!! Om My Gosh ... Evan."
"Bangshat, berbalik!! Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku!" sentak Keyvan memenuhi ruangan, Mikhayla yang terbiasa dengan kelembutannya akhir-akhir ini dibuat takut kala Keyvan memperlihatkan amarahnya yang luar biasa nyata saat ini.
"Okay!! But ... siapa dia? Sejak kapan kau bermain wanita?"
"Nanti aku jelaskan, tetap di sana jangan melihat ke belakang jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi," titah Keyvan melarang keras Justin berbalik, pria itu membopong Mikhayla yang kini menyembunyikan wajah di dada bidangnya ke kamar segera.
Permainan yang tengah berada di puncak terpaksa berhenti lantaran kehadiran tamu tidak terduga yang bisa dipastikan akan mengusik kehidupan pribadinya bersama Mikhayla.
Rasa malu Mikhayla bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri. Dia bahkan tidak berani membuka mata sebelum Keyvan berhasil membawanya ke kamar, beruntung saja Keyvan belum melucuti pakaiannya. Jika sampai keduanya tertangkap dalam keadaan polos, jelas Keyvan malu seumur hidup.
Dengan langkah panjang, Keyvan masuk ke kamar. Tidak lupa dia mengunci pintunya lebih dulu, Keyvan merebahkan istrinya ke tempat tidur, Mikhayla masih belum melepaskan tangannya di leher Keyvan.
"Buka matamu," ucap Keyvan lembut, dia paham bagaimana terkesiapnya Mikhayla ketika mendengar suara Justin yang tiba-tiba masuk menyela permainan mereka.
"Sudah kukatakan sejak awal ... kalau ada orang gimana? Lihat buktinya sekarang, malunya aku ya Tuhan," lirih Mikhayla sesendu itu bahkan dia mengacak rambutnya asal lantaran merasa tengah dibuat malu hingga persendian.
"Maaf, Sayang ... sama sekali aku tidak menyangka cecunguk itu masuk seenaknya," tutur Keyvan merasa bersalah namun semua sudah terjadi, jelas saja terlambat walau dia menangis darah.
"Terserahlah, sana!! Aku mau mandi," ujar Mikhayla bangun dan mendorong Keyvan sedikit menjauh, miliknya sudah terlanjur basah dan tidak mungkin dia betah tidur dalam keadaan begini.
"Mandi? Mulai saja belum kamu mau mandi?"
Keyvan mengerutkan dahi, dia sedikit bingung dengan peranyataan sang istri. Wajah datar Mikhayla semakin menggemaskan di mata Keyvan, ingin sekali dia menggigit bibir yang kini maju beberapa centi itu.
"Hm gerah, turunlah ... siapa tahu penting," tutur Mikhayla meraih bantal untuk menutupi tububnya yang kini polos layaknya bayi baru lahir.
__ADS_1
"Nanti saja, teruskan yang tadi saja."
Keyvan tidak peduli meski Justin menunggunya, pria itu melempar bantal yang Mikhayla peluk seenaknya. Masih dengan kelembutannya, Keyvan menarik tengkuk sang istri dan melummat bibir Mikhayla sebagai permulaan permainan yang sempat terhenti paksa akibat ulah Justin.
Memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya. Keyvan mendorong pelan sang istri hingga kini pasrah terbaring di hadapannya. Dia tidak akan melakukan pemanasan kali ini, rasanya sudah cukup panas bahkan milik Mikhayla sudah membasah dan siap menerima Keyvan sepenuh jiwanya.
Tanpa diminta, Mikhayla membuka kakinya lebar-lebar kala Keyvan membuka ritsleting celananya. Entah karena terbiasa atau memang jiwa Mikhayla yang menginginkan hingga dia benar-benar pasrah jika Keyvan menginginkannya.
Persetan dengan keadaan, Justin juga akan mengerti jika dia bicara jujur nantinya. Saat ini, terpenting Keyvan ingin melepas kerinduan pada sang istri, peluh keduanya berpadu dalam kemesraan yang menjalar begitu hangat di sekujur tubuh keduanya.
"Khay ... Mikhayla."
Keyvan mengerang kala dia merasakan sesuatu hendak meledak dari bagian intinya. Pria itu terus memacu kecepatan hingga dia napasnya kian tidak beraturan kala hentakan terakhir.
Terlalu bersemangat dalam permainan, dia melupakan sesuatu dan hal itu berhasil membuat Keyvan terdiam membisu beberapa saat. Sungguh dia benar-benar tidak mengingatnya, Mikhayla juga tidak mengingatkan hingga keduanya kini saling tatap dengan ekspresi yang sama bingungnya.
.
.
.
"Dia sudah sejauh ini?"
Justin masih bingung dan kini menerka-nerka seraya menatap pakaian wanita yang berceceran di lantai. Tidak dapat dipungkiri lagi, jika Keyvan lama jelas melanjutkan permainannya, pikit Justin.
Brugh
"Ada apa?"
Keyvan kini kembali dan menghempaskan tubuhnya di sofa, dia yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos tipis membuat Justin mempercayai pikirannya.
"Tidak ada, aku penasaran saja kenapa kau tidak kembali ke kantor ... ternyata begini," tutur Justin menarik sudut bibir, sejak kemarin-kemarin dia penasaran dan dibayar tunai ketika nekat mentangi kediaman Keyvan tanpa izin.
"Dia istriku, wajar saja kan aku menjadikannya alasan pulang lebih cepat."
__ADS_1
"Istri?" Justin mengerutkan dahi, pria itu seakan bermimpi di siang bolong. Di antara segudang fakta, kenapa harus dia mengetahui hal semacam ini, sejak kapan sahabatnya itu menikah lagi.
"Hm, dia istriku ... Mikhayla namanya."
Deg
Justin berdegup tak karuan, mendengar perkataan Keyvan dia mendadak mengingat taruhan yang sempat dia ucapkan terkait status duda Keyvan. Berharap sekali pria itu lupa dan tidak menagih janji konyolnya, pikir Justin.
"Bro? Kau sakit? Kenapa bisa kau menikahi wanita lain dalam waktu singkat pasca kematian Liora?"
"Entahlah, aku tidak bisa jelaskan bagaimananya ... saat ini aku membutuhkan Mikhayla, jangan mengusik kehidupan pribadiku, Justin." Keyvan sudah berbicara begini sejak awal, karena biasanya Justin yang pada dasarnya adalah mulut ember kerap menyebarkan apa yang dia ketahui dan Keyvan merasa tidak bebas dengan kehidupannya.
"Ah begitu, Tante Henia sudah mengetahui pernikahanmu?"
"Tidak, dan aku tidak berniat memberitahukan hal ini pada mereka hingga nanti," ujar Keyvan serius dan berpikir itu adalah jalan paling baik untuk dia dan Mikhayla.
"Masih muda? Pakaiannya seperti anak remaja ... bagaimana rasanya, Van?" tanya Justin penasaran.
"Tentu saja, 18 tahun ... rasanya lebih gila dari yang pernah kau bayangkan, bukan hanya dibuat resah tapi kepalamu dibuat sakit juga karena tingkahnya." Keyvan menghela napas kasar kemudian memunguti pakaian sang istri yang berceceran akibat ulahnya.
"Benarkah?"
"Hm, benar." Keyvan bahkan masih trauma akibat terlempar dari tempat tidur pasca mendapat tendangan maut Mikhayla.
"Kata Keny yang lebih muda lebih sempit, apa iya, Van?"
PLAK
"Pertanyaanmu, bisakah berhenti bertanya ke arah sana? Messum sekali," sentak Keyvan seraya mendaratkan telapak tangan di kening Justin hingga pria itu merasakan sensasi yang luar biasa sakit di sana.
Dia bukan pria yang suka membahas hal semacam itu sebagai topik pembicaraan. Ya, walaupun dia juga sedikit messum sebenarnya.
"Aku penasaran, bisakah kau panggilkan dia, Van?"
"Tidak bisa, istriku harus tidur ... dia kelelahan usai berenang di lautan madu," ujarnya tersirat dan berhasil membuat Justin mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
- To Be Continue -