Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 45 - Tidak Mau Berbagi


__ADS_3

...Happy Reading...


.


.


.


"Tiga jam lagi, masih lama ... Ck, kenapa harus belajar selama itu?"


Faktanya, dia keluar hanya demi menghindari Justin. Pria itu kini menunggu di depan universitas dalam kesendirian, Mikhayla tidak mengangkat teleponnya setelah mengirimkan pesan jika dia selesai jam tiga sore.


Keyvan hendak mencari kesibukan tapi dia bingung harus melakukan apa. Tidur siang mungkin jalan terakhir, dia juga tidak terlalu lapar karena sempat makan siang sebelum menjemput sang istri. Tidak terbiasa tidur siang karena sibuk, sekalinya tidur bukan di tempat seharusnya.


Sementara di tempat lain, Mikhayla yang kini memerah tidak fokus dengan pembahasan yang tengah disampaikan. Bukan karena mengantuk atau kurang cairan, melainkan dia dibuat berdesir dengan permintaan Keyvan melalui pesan singkat padanya beberapa saat lalu.


I wanna touch you, Mikhayla.


Masih terbayang dengan jelas, dan Mikhayla dalam keadaan sadar membalas tanpa memikirkan bagaimana jika nanti sudah berada di hadapan Keyvan


Touch me like you want, Honey.


Dia mengutuk diri sendiri dan merasa benar-benar seperti penggoda ahli setelah mengingat balasan untuk Keyvan, pikirannya sudah kacau dan ingin rasanya mengubur diri ke perut bumi.


"Memalukan!! Ajaran siapa itu," gumam Mikhayla memijat pelipisnya sesaat sebelum membuat gempar seisi kelas dengan ulahnya.


BRAAK

__ADS_1


Mikhayla membenturkan keningnya ke meja hingga semua yang tengah fokus mendengar penjelasan dosen di depannya terkejut. Beberapa dari mereka justru mengira hal itu sebagai efek kecelakaan yang dia alami hingga Dosen yang tengah bertanggung jawab pada jam itu segera bertindak cepat lantaran khawatir kepala Mikhayla belum baik-baik saja.


"Mikhayla, kenapa? Kalau belum sembuh total jangan masuk dulu."


"Iya, Khay ... kamu juga masih pucet gitu, bahaya nanti."


Memang benar-benar menyebalkan, Mikhayla bingung menghadapi orang-orang ini. Hendak jujur dia malu, tapi kepalanya juga sakit saat ini. Ingin rasanya dia pura-pura pingsan, tapi jika sampai terjadi dan ketahuan bohong lebih malu lagi.


"Aku baik-baik saja, cuma ...."


"Mikhayla, kamu berdarah."


Mikhayla menyentuh hidungnya, mata cantik itu membulat sempurna dan dia bingung kenapa bisa sampai mimisan begini padahal hanya membentur meja, apa memang sekuat itu? Dia tidak habis pikir hingga saat ini.


"Pulang, kamu masih butuh istirahat, Khayla."


Alka yang sejak tadi memandanginya kini menarik pergelangan tangan Mikhayla dan berperan sebagai pahlawan untuknya. Dengan status mereka sebagai kekasih yang diketahui banyak pihak membuat Alka mendapatkan kepercayaan dengan mudah.


"Aku antar pulang," tutur Alka yang kemudian mendapat penolakan dari Mikhayla.


"Nggak usah, bisa sendiri."


"Jangan bantah, Khay ... tadi pagi kamu udah buat marah." Alka berdecak kesal lantaran tadi pagi dia bahkan terpeleset akibat berusaha mengejar Mikhayla yang menghindarinya.


"Aku pulang sendiri, sini tasnya."


Mikhayla yang tidak ingin menciptakan keributan berusaha bersikap lembut meski Alka membuatnya risih. Khawatir saja jika laki-laki pendendam itu bukan Keyvan saja, dia tidak ingin membuat posisinya terancam untuk kedua kali.

__ADS_1


"No, aku yang antar."


Keras kepala, ego tinggi dan mau menang sendiri adalah Alka yang sesungguhnya. Mikhayla menarik napas perlahan dan dia tidak bisa menerima begitu saja mengingat ucapan Keyvan tadi pagi.


"Papa yang jemput, aku sudah telepon sebelum masuk," ucap Mikhayla jelas berbohong saat ini.


Alka sedikit ciut jika Mikhayla sudah membawa sang papa. Dia masih berusaha menahan kepergian Mikhayla dengan tidak memberikan tasnya.


"Tasnya balikin, nggak harus aku minta berkali-kali, Alka." Mikhayla terlihat lelah ketika memintanya, kesal namun dia tidak mungkin marah seperti orang kehilangan akal di hadapan pria ini.


"Khay ak_"


"Kau tuli? Aku rasa kau sudah dewasa untuk mengerti bahasa manusia."


Belum sempat Alka menyelesaikan pembicaraan, seorang pria yang tidak asing di matanya merebut paksa tas Mikhayla yang dia pegang sejak tadi. Tubuh tinggi dan wajah datar itu terlihat seperti menyimpan sejuta amarah, Alka tidak punya kuasa untuk mempertahankan tas Mikhayla.


"Anda siapa? Apa tidak malu ikut campur urusan orang lain?"


"Kenapa memangnya? Sejak tadi dia sudah menolak dan kau yang memaksa, bukankah seharusnya kau yang malu ... Al-ka?" Keyvan tersenyum tipis menatapnya rendah sekali, tubuh Alka yang terlihat kurus itu mungkin remuk jika Keyvan mau.


"Malu? Kenapa harus malu ... dia pacarku, jelas saja punya hak."


Lagi-lagi Keyvan terkekeh mendengar pernyataan Alka. Berani-beraninya bicara tentang hak di hadapan seseorang yang lebih berhak.


"Berhenti membual, aku tidak ingin berbagi denganmu."


Keyvan bicara seperti bercanda, Mikhayla panik tapi sebisa mungkin tidak terlihat ketakutan di hadapan Alka. Tanpa kata, Keyvan merangkul pundak sang istri dan berlalu meninggalkan Alka yang kini tengah berpikir maksud ucapan Keyvan.

__ADS_1


- To Be Continue -


Part selanjutnya sore ya, Bund🦈


__ADS_2