Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 143 - Sang Pengasuh


__ADS_3

Tiba di kantor kehadiran putri Presdir yang terkenal tampan itu sontak menjadi pusat perhatian. Kali pertama Zavia ikut tanpa didampingi mamanya, dia yang tidak terbiasa dengan orang-orang itu jelas saja memasang wajah cemberut dan tidak banyak ulah.


Dalam pelukan Keyvan, Zavia sudah seperti berlian yang tidak seharusnya dibawa ke tempat umum. Pesona Keyvan tidak pernah berkurang, yang ada semakin tampan bahkan hadirnya Zavia menambah kharisma seorang Keyvan Wilantara.


"Zavia ..."


Dari kejauhan Justin menyapanya, firasat Keyvan mulai tidak baik jika pria itu sudah ada di hadapan Zavia. Sejak kecil memang kerap bertemu hingga dia tidak perlu proses mengenali lebih dulu, Zavia menepuk-nepuk dada sang papa kala Justin kian mendekat.


Mendadak minta dilepaskan dan memang Justin pandai sekali membuat Zavia betah. Pria itu meraih jemarinya dan Zavia yang pantang disentuh sedikit saja oleh Justin sontak menendang-nendang karena berpikir Justin mengejarnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaa tatuut!!!" pekiknya melengking dan Keyvan sedikit kesulitan menahan tubuhnya, Justin yang sembarangan datang membuat Keyvan ingin sekali memukulnya.


"Sudah-sudah, kau mau ganti popoknya nanti?"


Keyvan menghentikan tangan Justin yang dengan sengaja menggelitiki Zavia padahal anak itu pantang disentuh sedikit saja. "Pelit sekali," ungkap Justin mencebik, kebiasaan sekali Keyvan menjadi penghalang antara keduanya.


"Bukannya pelit, aku harus jaga-jaga ... Mikhayla bisa marah kalau sampai dia kekurangan popok, Justin." Bukan tanpa alasan Keyvan begitu, dia khawatir saja putrinya justru pipis karena terlalu bersemangat Justin gelitiki.


"Tumben diajak, Mamanya kemana memang?"


"Kuliah," jawab Keyvan kini masuk ke ruangannya, diikuti Justin yang sengaja ikut demi mendekati Zavia.


"Yang lain?"


"Banyak tanya, Wibowo dan Keny mana?"

__ADS_1


Keyvan mendudukkan putrinya di atas meja kerja, sementara dia duduk dan menyiapkan segala sesuatunya. Bukan hal sulit bagi Keyvan untuk tetap bekerja meski ada si mungil itu yang ikut dengannya.


"Ada, mungkin sebentar lagi ke sini ... kau ajak Zavia, padahal hari ini kau lumayan sibuk," ungkap Justin sudah bingung lebih dulu padahal Zavia bukan putrinya.


"Gampang, hari ini aku hanya bertemu Bu Guritno, kau jaga Zavia sementara tidak masalah, 'kan?"


Mudah sekali dia melempar tanggung jawab, Keyvan memiliki keyakinan jika sahabatnya ini bisa diandalkan hingga dia dengan santai menitipkannya sementara.


"Berapa lama?"


"Tidak lama, satu jam mungkin. Zavia tidak banyak mau, bebaskan saja dia mau apa ... kau cukup awasi dia," ujar Keyvan kemudian, pria itu terpaksa memanfaatkan sumber daya yang ada.


Zavia yang tidak sembarangan mau disentuh orang jelas membuat Keyvan sedikit sulit. Akan tetapi, jika dia bawa menemui rekan bisnisnya akan lebih bahaya lagi. Maka dari itu, akan lebih baik jika Justin jadi pengasuh sementara untuk Zavia.


"Mainan ada?" tanya Justin khawatir jika Keyvan justru memintanya mencari lebih dulu, yang benar saja jika harus mencari.


Keyvan menunjukkan tas beruang yang dia bawa sejak tadi. Ya, sebenarnya tatapan orang-orang tertuju pada Keyvan tadi mungkin karena itu juga, bukan hanya karena kehadiran Zavia.


"Coba aku periksa."


Justin penasaran, dia memang sebahagia itu. Dia memang sangat tertarik dengan apapun tentang Zavia kecil, ya bagi dia semua wanita menyebalkan kecuali bayi Keyvan.


"Hah? Ini mainannya?"


Justin mengerutkan dahi kala melihat mainan Zavia yang berbeda dengan anak-anak lain. Keyvan konglomerat, bisa-bisanya mainan putrinya hanya sebuah celengan dari hewan menggemaskan itu, pikir Justin.

__ADS_1


"Iya, kenapa memangnya?"


"Van, kau punya uang ... anak seumuran Zavia mainan bukan ini, lihat saja Giska."


"Dia sedang sukanya ini, celengan ini hadiah dari Papa jangan kau hina ... dia belinya di Korea, ini bukan sembarang b4bi, Justin."


Apa bedanya, sama saja.


Justin membatin namun sepertinya tidak ada yang salah dengan semua ini. Memang tampak lucu, akan tetapi menurut Justin aneh saja balita mainnya begitu.


"Yaya, lalu makananya mana?"


"Ada, itu kotaknya ... susunya juga ada, kau jangan coba-coba minum, Zavia masih minum susu mamanya," ungkap Keyvan khawatir jika Justin khilaf dan justru minum ASI untuk Zavia.


"Iyaya, lagipula sejak kapan aku suka susu ... aku hanya suka sumbernya saja, susunya tidak," jawab Justin tengil seperti biasa dan itu membuat Keyvan mengerutkan keningnya.


"Heeuh terserah kau saja, tapi benar bisa jaga Zavia, 'kan?"


"Aman, kau tenang saja ... jangankan satu Zavia, tiga pun aku bisa menjaganya, Van. Kau jangan meremehkan aku."


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2