
"Bang Evan kemana?"
"Sabar dulu, Khayla ... suamimu sedang ada urusan sebentar, nanti juga pulang sendiri. Sudah ditelpon?"
"Aduh Bang Ken!! Lama, udah dari sepuluh menit lalu aku hubungi tapi tidak diangkat, bagaimana dong?"
Astaga, baru juga sepuluh menit. Keny pikir sepuluh jam dan hal ini sungguh membuatnya tidak habis pikir. Wajar saja Keyvan kerap ke kantor dengan wajah sembab akibat kurang tidur, bisa dipastikan Mikhayla lebih merepotkan dari Sonya.
"Calmdown!! Oke ... Jangan mondar-mandir begini, kesandung bahaya, Khayla. Paham?"
Keny kewalahan, padahal yang datang adalah istri sahabatnya. Pria itu menenangkan Mikhayla agar sedikit santai dan jangan mondar mandir seperti setrika, bukan tanpa alasan melainkan dia khawatir kandungan Mikhayla kenapa-kenapa.
"Ck, lama ah ... Bang Ken telpon temen Bang Justin dong, atau siapa gitu? Intinya suruh pulang, Papa masuk rumah sakit bilangin."
"APA?!"
"Aduh, jangan drama terkejut begitu!! Ini bukan sinetron," pekik Khayla sebal sekali melihat Keny yang terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan beberapa saat, bukannya cepat bertindak justru menikmati momen terkejutnya lebih dulu, kesal Mikhayla.
"Iyaya ... Abang hubungi, sabar jangan teriak-teriak begitu. Seperti hendak melahirkan saja," ungkap Keny gemas namun sedikit bingung menghadapi wanita seperti Mikhayla ini, jujur saja walau Sonya memang manja tapi tidak seheboh Mikhayla jika butuh sesuatu.
"Ah lama!! Sini aku aja yang ngomong," ucap Mikhayla seraya menarik ponsel Keny lantaran pria itu tak kunjung bicara, padahal memang belum terhubung sama sekali.
"Hallo!!" itu sapaan atau ajakan bertengkar sebenarnya, Keny mengelus dada demi membuat jantungnya stabil sebentar.
"Belum, Mikhayla ... lihat masih berdering," ujar Keny menggeleng pelan, salut sekali dia andai kata Mikahyla memang begini ketika bersama Keyvan.
__ADS_1
Terlalu panik, dia yang khawatir dengan keadaan sang papa jelas tidak lagi memikirkan keanggunan dan lainnya. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah Keyvan, Mikhayla menginginkan suaminya kembali saat ini juga.
Beberapa saat menunggu, suara Justin yang tampak datar itu terdengar. Mungkin dia tidak mengetahui siapa yang menghubungi sesungguhnya, hampir saja Justin mencaci Keny lantaran mengusik kesibukannya.
"Bang Justin, suamiku mana? Papa pingsan dan masuk rumah sakit barusan, tolong bilangin cepet pulang aku menunggu di kantor."
Bicara pada Justin terlihat santai dan baik-baik saja, entah kenapa ketika bicara padanya persis hendak mengulitinya hidup-hidup. Keny mendadak merasa diperlakukan tidak adil oleh bidadari kesayangan Keyvan ini.
"Khayla, kenapa bisa Om Mikhail masuk rumah sakit?"
Suara Justin terdengar begitu khawatir di sana, pria itu meminta penjelasan dari Mikhayla sembari dia melangkah pulang lebih cepat. Mereka tampak tergesa dan sudah pasti datang dengan kecepatan tinggi.
"Papa kaget, ah jangan nanya dulu ... pulang cepetan, aku takut Papa kenapa-kenapa." Mendengar Mikhayla yang tampak kesal, Keny kini merasa lega karena ternyata Mikhayla bisa kesal juga pada Justin. Syukurlah, batin pria itu merasa merdeka.
"Tunggu, aku takut nanti aku kesana Papa sudah sadar ... aku tidak mau dimarahin sendirian," ungkap Mikhayla dan ini masih menjadi misteri untuk Keny, kenapa mereka setakut ini padahal pada orang tuanya sendiri.
"Kenapa memangnya?"
"Ada lah, ini urusan rumah tangga ... rahasia," ujarnya tampak lebih menyebalkan dari sebelumnya.
Di saat terdesak begini Mikhayla masih bisa membuat Keny sebal. Padahal dia bertanya serius dan bisa-bisanya mendapat respon secuek itu, sungguh diluar nalar.
Beberapa menit menunggu, Keyvan dan Justin datang dengan wajah paniknya. Pria itu menatap istrinya penuh tanya namun tidak bisa segera bersuara, hendak bicara saja sakit mau bagaimana.
"Ayo pergi, Mama sudah menunggu kita."
__ADS_1
Mikhayla menarik pergelangan tangan Keyvan agar melangkah lebih cepat. Sementara Justin dan Keny yang ditinggal jelas saja ikut meski sama sekali tidak diajak, pikir mereka turut khawatir.
"Aku saja yang bawa mobil," pinta Mikhayla sontak membuat Keyvan menggeleng, sampai kapanpun tidak akan dia izinkan istrinya menyetir sendiri.
Mikhayla memang datang ke kantor tanpa Bastian karena pria itu mengantar Mikhail dan Zia ke rumah sakit, sementara itu dia yang belum diizinkan membawa mobil sendiri datang ke kantor dengan menggunakan ojek agar lebih cepat.
"Tapi kamu sakit," tambah Mikhayla dan lagi-lagi Keyvan menggeleng dengan mata tajamnya. Dia hanya sakit tenggorokan, bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa.
.
.
.
Menelurusi perjalanan dengan perasaan gugup luar biasa, kali pertama Mikhail masuk rumah sakit dan penyebabnya adalah pingsan. Entah kenapa firasat Keyvan sama sekali tidak baik, jemari Mikhayla yang bergetar juga membuatnya kian khawatir saja.
"Papa kenapa? Apa jangan-jangan yang aku takutkan selama ini terjadi?"
Matilah jika memang benar-benar terjadi, bisa dipastikan dia akan di posisi sulit setelah ini. Kemungkinan terburuk lainnya juga bisa terjadi pada sang mertua, sungguh hal semacam ini sangat Keyvan takuti sejak dahulu.
- To Be Continue -
Hai temen-temen, sementara aku up mampir ke novel yang satu ini ya.
__ADS_1