
Sudah diwanti-wanti takut terlambat, dan nyatanya mereka memang datang paling akhir. Bahkan semua sudah berkumpul, mereka baru tiba. Akhir-akhir ini Keyvan yang tidak terbiasa dengan keramaian harus membiasakan diri lantaran keluarga Ibra memang ramai sekali.
Syukuran keluarga katanya, akan tetapi di mata Keyvan ini sudah persis satu kelurahan di undang semua. Para sahabat Ibra dan Kanaya sewaktu muda berkumpul, tidak lupa dengan anak cucunya. Tiba di ruang makan Keyvan sedikit gugup, Mikhayla hanya diam lantaran kesal Keyvan benar-benar membuatnya mandi dua kali tadi sore kini tetap cemberut padahal Keyvan sudah meminta maaf.
"Sayang, jangan begitu ... nanti mereka semua curiga dan berpikir kita ada masalah," bisik Keyvan sembari berusaha terlihat baik-baik saja.
"Memang ada, udah dibilangin hamil muda masih diterusin."
"Ya tapi kan aku pelan-pelan, lagipula cuma sebentar." Keyvan mencebikkan bibirnya, Mikhayla tetap fokus menatap makanan lezat yang tersedia di meja.
"Tetap saja, aku lagi belum mau dipaksa-paksa ... itu dosa," omel Mikhayla berusaha sepelan mungkin demi menghindari kecurigaan keluarga besarnya, bingung juga kenapa Keyvan kerap menginginkannya tanpa aba-aba.
Bisik-bisik mereka tersamarkan dengan ramainya pasukan manusia-manusia mungil yang terkadang ingin Keyvan ikat dalam satu ruangan. Ya, saat ini mereka amat berguna demi membuat pertikaian kecil mereka tidak tercium Mikhail dan lainnya.
"Karena di sini cucu kita bertambah satu, sepertinya ruang makan kita harus direnovasi ya, Nay."
Suara Ibra terdengar begitu damai, kehadiran Keyvan benar-benar disambut hangat bahkan Mikhail mulai terlupakan. Sejak tadi, hadirnya Keyvan menjadi fokus utama dan selalu mendapat respon positif dari anggota keluarganya.
"Benar, Mas ... atau mungkin kita akan punya cicit sebentar lagi," tutur Kanaya lembut, orang-orang yang disana sontak mengaminkan harapan baik Kanaya.
__ADS_1
"Iya, Van. Opa sangat berharap sebelum pulang ke pangkuan Tuhan, mau lihat buah hati cucu-cucu Opa. Kalau bisa sampai Lengkara dan Ameera, tapi Andai Tuhan tidak izinkan buah hati Khayla saja Opa sudah bahagia."
Sebagaimana Kanaya, Ibra juga mengharapkan yang sama. Maklum saja, baik dia maupun Mikhail menikah di usia yang cukup dewasa, jadi wajar saja jika Ibra berharap akan hal semanis itu. "Aamiin ... semoga Opa panjang umur, dan masih bisa lihat bayi Khayla yang lucu-lucu," ungkap Mikhayla tulus, meski sedikit sulit dia berusaha menggenggam jemari Ibra yang kini keriput.
"Jangan ditunda ya, Sayang ... suami kamu juga pasti berharap sama. Opa dulu menikah di usia 29 tahun, dan anak adalah tujuan utama Opa saat itu. Baiknya Tuhan menganugerahkan anak papa yang hebat ini," ungkap Ibra menatap Mikhail yang kini tampak diam menatap piring kosongnya, entah sedih karena cerita ibra atau ada hal lain yang mengusik hatinya.
"Betul, Khayla ... dulu Opamu babak belur sewaktu melamar Omamu, perjuangan mereka sangat mengharukan, tidak sia-sia karena akhirnya putra seperti malaikat dari pernikahan mereka," sahut Lorenza yang rela datang dari jauh demi bisa melihat cucu menantu sahabatnya.
"Aah sweet sekali Oma Loren, lihat Papa jadi terharu." Mikhayla menunjuk sang papa yang kini memilih diam dan tidak ikut bicara, dari kejauhan memang dia terlihat sedih.
Terharu apanya, Mikhail tengah berpikir ini agenda makan malam seperti tahun sebelumnya atau pesta menyambut kehadiran Keyvan sebagai pangeran di dalam keluarga besarnya.
"Aduh-aduh, Oma Lorenza masih bisa lihat yang bening-bening ternyata. Bukannya sudah rabun, Oma?" Siska mengejeknya hingga semua yang hadir di sana sontak tertawa.
Ketiga wanita yang menjadi sahabat sejak muda itu masih begitu manis. Meski wajahnya sudah keriput dan rambut yang kini memutih tidak memudarkan kasih sayang yang mereka jalin sejak lama, walau terpisah jarak yang cukup jauh akan tetapi mereka masih terus menjalin hubungan sebaik mungkin.
"Aduh, kan pakai kacamata ... jelas dong, apalagi yang bentukannya begini."
Keyvan salah tingkah, baru kali ini dia merasa malu dipuji manula. Ingin sekali dia menyembunyikan wajah memerahnya di balik pundak Mikhayla. Akan tetapi hal itu dia tahan lantaran Mikhail menatap tajam ke arahnya dan pria itu paham betul maksud tatapan sang mertua yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo makan ... keburu dingin," ajak Zia kemudian, entah sampai kapan pembicaraan ini berakhir karena memang asyik sekali.
Seperti yang diajarkan Zia sebelumnya, Mikhayla mengambilkan nasi untuk sang suami dan dia menepis rasa kesalnya lebih dulu. Keyvan menarik sudut bibir seraya menatap lekat wajah imut Mikhayla yang tengah bersandiwara di hadapan keluarga besarnya.
"Maaf, Sayang."
"Shuut, diam dulu ... dari tadi Papa lihatin kita," bisik Mikhayla sengaja menginjak kaki Keyvan hingga pria itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Van? Kenapa?"
"Ah, ti-tidak Opa ... kesemutan," jawab Keyvan berusaha tenang walau jujur sesakit itu rasanya.
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1
Maaf ya baru sempat up, bukan direncanakan tapi memang waktunya lagi melet karena Author sibuk sedikit dari kemarinđź’‹