
Sementara Mikhail datang, ini adalah kesempatan Mikhayla untuk berdua bersama sang suami. Beberapa waktu lalu, Keyvan memang betah ditinggal karena sedang fokus dengan lemon yang dia nikmati.
"Ck, gigi kamu baik-baik saja?" tanya Mikhayla meringis dan itu membuatnya ngilu padahal sama sekali tidak masuk ke mulut Khayla.
"Iya, kenapa memangnya? Cobain ... segar, Sayang."
Segar apanya, Mikhayla bergidik ngeri kemudian duduk di sebelah Keyvan. Jika sudah begini, Keyvan bahkan rela menghentikan semua kesibukannya demi memanjakan sang istri. "Kenapa? Capek ya? Sini cerita," tutur Keyvan begitu lembut kemudian mengecup kening sang istri.
"Sedikit, tadi Via aku ajarin baca ngawur ... besok-besok kamu yang ajarin dia ya, aku males."
"Hm? Kenapa begitu, Sayang?"
Keyvan paham kesabaran Mikhayla memang setipis tisu dan tingkah Zavia luar biasa bahkan tidak bisa diprediksi. Entah apa yang Zavia lakukan kali ini sampai-sampai dia memilih berhenti padahal hanya mengajarkan putrinya untuk membaca.
"Gimana tidak capek coba, diajarin baca dan dia pura-pura tidur ... mana ngorok lagi."
Jurus pura-pura tidur itu adalah andalan Mikhayla sebagai kode jika meminta suami ataupun papanya mengerjakan tugas sewaktu kuliah. Kini, Mikhayla justru diuji kala Tuhan menghadirkan malaikat kecil seperti Zavia.
"Buahahaha benarkah? Padahal kalau sama aku tidak, dia sudah pintar baca, Khayla. Mungkin dia juga malas," ungkap Keyvan kemudian, karena memang jika Keyvan yang menjadi gurunya anak itu benar-benar menurut bahkan bisa menghabiskan waktu lama.
"Yaudah besok-besok kamu saja, aku tidak sesabar itu."
Keyvan memahami keadaan istrinya, apalagi kini dia tengah hamil dan jelas saja hal semacam itu akan membuat jiwanya diuji. Walau di kehamilan kedua ini bayi dalam kandungan Mikhayla tidak serewel Zavia, tetap saja suasana hati sang istri betul-betul perlu dijaga.
"Siap, Ibu Negara ... sini tidur, kantung mata kamu sampai hitam begitu, kurang tidur, 'kan?"
Jelas saja iya, tanpa perlu dijelaskan Mikhayla sangat-sangat lelah. Kehamilannya sama sekali tidak menghalangi wanita itu dalam hal apapun, kesibukan di luar terkait pendidikan dan perannya sebagai istri sekaligus ibu tentu saja melelahkan.
"Mau aku pijat?"
Mikhayla mengangguk dan segera merebahkan tubuhnya di sofa. Keyvan yang memang terbiasa melakukan hal itu jelas saja menerima mulai memijat kaki Khayla yang kini sedikit membengkak, kalau kata Zia pertanda menuju kelahiran semakin dekat. Akan tetapi, sudah cukup lama Keyvan menunggu, belum juga terdapat tanda-tanda itu hingga dia justru khawatir ada masalah dengan istrinya.
.
__ADS_1
.
.
"Sayang," panggil Keyvan lembut seraya terus memijat kaki Mikhayla dengan penuh kelembutan.
"Hm, kenapa?"
"Kamu, belum lahir-lahir juga ... apa tidak masalah?"
"Tidak, wajar kok. Kamu tenang ya," ucap Mikhayla menenangkan sang suami karena memang sejak kemarin-kemarin itu yang Keyvan katakan.
"Tapi aku khawatir, Sayang. Apa tidak sebaiknya aku tengokin lagi? Kata Keny supaya cepat harus rajin dikunjungi Papanya," ungkap Keyvan dan Mikhayla menghela napas kasar lantaran parah ke arah mana Keyvan bicara.
"Itu mah maunya kamu, jangan modus ya ... aku aduin Papa nanti," ujar Mikhayla memerah padahal yang sedang bicara adalah suaminya sendiri dan hal itu wajar saja sebenarnya.
"Papa juga bilang begitu week," ujar Keyvan menjulurkan lidah dan itu sangat-sangat menyebalkan sebenarnya.
Mikhayla hanya terdiam kemudian seraya menikmati pijatan Keyvan yang memang benar-benar memanjakan dirinya. Pria itu beberapa kali mengecup kaki Khayla meski sudah dilarang entah apa sebabnya. Mungkin terlalu gemas dengan kakinya yang sudah membengkak itu, pikir Khayla.
"Opa pulang dulu, sudah hampir sore ... nanti uncle Zean cari Opa."
"Gamau, Opa ... Opa sama Via aja, uncle Zean udah gedeee, Via kan masih kecil."
Kebiasaan, hal seperti ini sudah menjadi rutinitas Zavia dan Mikhail jika hendak berpisah. Biasanya, jika sudah begini akan terjadi drama panjang dan membuat kepala Mikhayla sedikit sakit nantinya.
"Via sama Mama dan Papa dulu, nanti malam Opa datang lagi bawa martabak kesukaan Via."
"Gamau martabak, Opa ... Zavia tu maunya main sama Opa, dipuk-puk sama Opa biar Vianya bobok," pinta Zavia begitu jelas hingga sesaat menjadi pusat perhatian Keyvan yang sejak tadi fokus memijat sang istri.
"Puk-puk Papa Evan saja ya."
"Papa puk-puk Mama, Via sendirian."
__ADS_1
Uhuk
Keyvan tersedak mendengar ucapan Zavia yang jujur luar biasa. Mikhayla sontak memerah padahal kejadian itu hanya sekali, itupun candaan lantaran Keyvan saja malam itu. Mikhail sontak menatap putri dan menantunya bersamaan kemudian menggeleng pelan.
"Bohong, Pa!! Khayla puk-puk Via tiap malam beneran."
Putrinya benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Menyesal sekali Keyvan bermain-main kala itu, kini Zavia mengingat semuanya dan dendam itu seperti tertanam dalam dirinya.
"Pokoknya Via gamau Opa pulang, bobok di sini sama Via."
"Astaga, Oma gimana kalau Opa bobok di sini? Via yang bobok sama Opa mau? Nanti tidurnya bertiga," ucap Mikhail dan hal itu sontak Zavia angguki, apapun asal bersama Mikhail sepertinya.
"Tapi besok pagi anterin Via pulang ya."
"Iya, ayo berangkat ... pamit dulu sama Mama sana, Papanya juga."
Secepat itu dia dan Mikhail sepakat, bahkan izin dari Keyvan pun belum dia dapatkan. Pria itu terkekeh dengan putrinya yang bahkan mengecup punggung tangan seakan jarak mereka sejauh itu.
"Via nginep di rumah Opa ya, Papa ... Papa jangan sedih, Via cuma bentar."
Hal serupa dia lakukan pada Mikhayla juga. Sepanjang Zavia pamitan, Mikhayla menahan tawa tanpa henti. Dia tidak kuasa jika harus lebih lama lagi. Hingga beberpa menit berlalu, Keyvan dan Mikhayla menatap jendela kaca di samping ruang tamunya.
"Nginep samping rumah pamitnya seperti mau umrah," ungkap Mikhayla benar-benar tidak kuasa menahan tawa kala melihat sang putri dalam genggaman tangan Mikhail yang kini berjalan memasuki kediaman papanya.
"Haha kita cuma berdua dong, bulan madu yuk."
Kesempatan sekali, Mikhayla sudah menduga otak Keyvan isinya hanya itu-itu saja. Bahkan saat ini tangannya yang semula memijit kaki justru berpindah naik ke pahaa dan hal itu membuat Mikhayla menangkap tangannya cepat-cepat.
"Jangan macam-macam ya, ini masih sore ... kalau aku tiba-tiba lahiran tengah malam bagaimana?"
.
.
__ADS_1
.
Coba absen yang masih kangen keluarga ini.