TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 376 - Awal yang Baru


__ADS_3

...Dunia Nyata...


...Yogyakarta...


Di sebuah restoran yang mewah ini, terlihat sepasang suami istri berjalan dengan penampilan yang menawan.


Eric mengenakan setelan jas hitam dengan baju putih di dalamnya. Sedangkan Elin yang saat ini tengah menggandeng suaminya itu, mengenakan sebuah gaun berwarna merah yang indah.


Penampilan mereka berdua nampak menyita perhatian hampir seluruh pelanggan yang ada di restoran ini.


Hal yang wajar karena selain penampilan mereka yang menawan, pasangan suami istri itu adalah tokoh yang sangat berpengaruh, terutama di wilayah Yogyakarta.


Mereka berdua duduk di sebuah meja untuk 4 orang. Dan dua orang yang lain telah mengisi tempat itu.


"Selamat datang, Tuan Eric." Ucap Pria yang telah duduk itu. Wanita yang ada di sebelahnya adalah asisten pribadinya yang nampak telah menyiapkan tablet hologram untuk mencatat apapun yang ada.


"Yah, maaf kami terlambat, Direktur Re:Life cabang Indonesia, Tuan Haikal." Ucap Eric sambil membenahi posisi duduknya. Sementara itu, Elin hanya diam. Seakan menyerahkan semuanya kepada Eric.


"Sebelum memulai pembicaraan, bagaimana kalau kita memesan sesuatu? Silakan, pilih apapun yang Anda suka, Tuan Eric." Ucap Haikal sambil membuat gestur untuk mempersilakan Eric.


Eric dan Elin segera memesan apapun yang cukup ringan dan mampu bertahan lama. Itu karena mereka berdua tahu betul, bahwa apa yang akan dibicarakan oleh Pria berkacamata itu cukup berat.


Obrolan dan candaan ringan terus mengiringi mereka berempat, dengan sebagian pelanggan restoran yang nampak berusaha melihat maupun menguping pembicaraan mereka.


Hingga akhirnya, setelah hidangan utama selesai, mereka masuk ke dalam topik utama.


"Tuan Eric, kami akan langsung masuk ke inti pembicaraan." Ucap Haikal sambil membenahi kacamatanya.


Asistennya nampak hanya terdiam dan mencatat semua yang diperlukan di tabletnya.


"Eric, berhati-hatilah. Dari kesimpulanku, dia adalah Pria yang sangat licik." Bisik Elin kepada Eric dengan suara yang sangat lirih.


Mendengar hal itu, Eric hanya menganggukkan kepalanya sedikit dan bersiap untuk mendengarkan apapun yang akan dibicarakan Pria itu.


"Seperti yang kau ketahui, dunia Re:Life menawarkan sebuah fitur menarik yang cukup sulit ditemukan di permainan yang lainnya. Yaitu sebuah fitur untuk menukar mata uang di dunia virtual menjadi mata uang di dunia nyata." Jelas Haikal sambil terus menggerakkan tangan kanannya.


Eric yang mendengar seluruh kalimat pengantar itu hanya bisa menganggukkan kepalanya atau memberi jawaban singkat.


"Melihat dari permainanmu, kami turut berbahagia atas pencapaian yang kau peroleh hingga hari ini. Tapi sayangnya, karaktermu yang sekarang ini terlalu merusak keseimbangan dunia permainan.


?Aku berbicara mengenai dirimu yang mampu mengalahkan dua Raja Iblis Kuno, yang seharusnya menjadi boss terakhir di dalam game ini." Jelas Haikal panjang lebar.

__ADS_1


Eric dan juga Elin merasa memahami sedikit mengenai arah pembicaraan ini.


'Akh merasakan sesuatu yang buruk akan muncul....'


"Jika kekuatan itu bergerak di dunia manusia, maka keseimbangan antar pemain akan benar-benar rusak dan menyebabkan permainan menjadi 'tidak seru' lagi.


Sebagai sesama pebisnis, kah seharusnya memahami hal yang ku maksud bukan, Tuan Eric? Aku membicarakan mengenai para konsumen yang pergi." Jelas Haikal lebih lanjut.


Eric nampak memejamkan kedua matanya selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk menjawab perkataan Haikal.


"Kebangkrutan ya? Aku mengerti akan hal itu. Tapi apa hubungannya denganku? Kalian seakan-akan menyalahkan seorang konsumen yang secara kebetulan memperoleh undian senilai milyaran. Sebuah undian yang kalian buat sendiri.


Aku memainkan permainan itu berdasarkan dunia yang telah kalian atur dan kalian buat sedemikian rupa. Oleh karena itu, aku tak mengerti dimana letak kesalahanku." Jawab Eric sambil memasang wajah yang sedikit mengintimidasi.


Sekilas, Haikal nampak sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Eric. Ia sama sekali tak menduga bahwa Eric akan berkata seperti itu.


Parahnya lagi, seluruh perkataan Eric itu ada benarnya.


"Hmm.... Pemikiran yang menarik, Tuan Eric. Oleh karena itulah, aku sebagai Direktur dari Re:Life di Indonesia menawarkan sesuatu untukmu." Jawab Haikal dengan senyuman tipis yang kini gagal menyembunyikan wajah liciknya itu.


"Tawaran? Jelaskan padaku." Balas Eric sambil memakan hidangan penutupnya itu.


Haikal tak menjawabnya secara langsung, melainkan melirik asistennya sesaat. Seakan-akan mereka berdua bisa memikirkan hal yang sama. Segera setelah itu....


Mendengar penjelasan itu, Eric mulai menyipitkan kedua matanya. Ia bahkan meletakkan puding yang hampir dimasukkan ke dalam mulutnya itu.


"Krisis? Apa maksudmu dengan hal itu?" Tanya Eric sambil memberikan tatapan yang sangat tajam.


Elin yang ada di sebelahnya pun memberikan tatapan seakan Ia akan membunuh Haikal saat itu juga.


Melihat tingkah mereka berdua, ditambah dengan kesalahannya ketika berbicara, keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuh Haikal.


"Yah, aku akan mengesampingkan fakta bahwa kau memiliki hubungan dengan pemerintahan yang memerasku. Sekarang, silakan lanjutkan apa yang ingin kau katakan." Ucap Eric yang kini seakan memberikan tatapan siap untuk menghajar Haikal.


Perkataan Haikal itu memberikan petunjuk yang sangat besar mengenai hubungan Direktur Pusat Re:Life di Indonesia dengan para petinggi negara.


Alasannya sangat jelas.


Bahwa politikus itu jauh lebih ahli ketika melakukan manipulasi informasi. Apa yang merupakan pemerasan bagi Eric, diberitakan seolah-olah adalah sebuah acara amal yang hebat di seluruh saluran televisi.


Dan seharusnya, tak ada orang lain yang tahu selain beberapa Menteri itu.

__ADS_1


'Glek!'


Haikal nampak menelan ludahnya setelah mendengar perkataan Eric.


'Yang benar saja.... Ku dengar dia hanyalah bocah SMA yang memperoleh nilai terendah di Provinsi, tapi apa-apaan dengan sikap ini?! Bukankah dia terlalu cerdas?!' Pikir Haikal dalam harinya sambil melihat Eric memotong puding itu dengan garpu dan pisaunya.


"Ba-baiklah.... Aku akan mengatakannya secara langsung padamu." Ucap Haikal dengan tubuh yang mulai gemetar.


Ia tak menyangka bahwa dirinya yang seharusnya memojokkan Eric ini malah justru dipojokkan hingga seperti ini.


"Dengan kata lain, kami akan memberikan kompensasi kepada dirimu untuk mengajukan penghapusan akun. Keberadaan karaktermu saja sudah merusak keseimbangan dunia permainan ini." Jelas Haikal setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Hoo.... Mengajukan penghapusan akun, ya? Kalau begitu biar ku tanya sesuatu padamu. Apakah kau sudah menanyakan hal yang sama kepada Aamori?" Tanya Eric sambil mengarahkan pisaunya ke wajah Haikal.


Mendengar hal itu, Haikal sangat terkejut. Keringat dingin mulai kembali mengucur di sekujur tubuhnya.


"Ke-kenapa membahas Aamori? Dia adalah warga negara Afrika Tengah. Aku tak memiliki kuasa untuk mengambil keputusan di...."


'Trak!'


Eric meletakkan pisau dan garpu nya ke atas piring itu dengan cukup keras. Menimbulkan suara yang memotong perkataan Haikal.


"Tak memiliki kuasa? Dengan kata lain, Kantor Re:Life pusat tak mengetahui mengenai keputusanmu bukan?" Tanya Eric sambil segera berdiri dari kursinya, begitu juga Elin.


"Tu-tunggu dulu! Aku membicarakan mengenai karaktermu yang...." Teriak Haikal sambil berusaha mencoba untuk menahan Eric agar tidak pergi.


"Apa yang perlu ku ketahui sudah cukup. Jika karakterku dianggap mengganggu keseimbangan game, maka seharusnya Aamori jauh lebih mengganggu keseimbangan game. Bahkan aku hanya berbicara tentang pedang cahaya itu. Belum itemnya yang lain.


Tapi Re:Life Afrika Selatan dan juga Re:Life pusat di Amerika sama sekali tak mempermasalahkan dirinya. Termasuk diriku. Kau tahu? Kurasa ini hanya permainan pemerintah sambil memanfaatkan dirimu untuk semakin mempersulit posisiku di sini." Jelas Eric panjang lebar sambil membenahi pakaiannya.


Eric mengulurkan tangan kanannya seakan mengajak Elin untuk segera pergi. Pada saat yang sama, Elin mengeluarkan sebuah amplop yang cukup tebal. Isinya tak lain adalah uang dalam jumlah yang cukup besar.


"Katakan pada pengelola restoran ini, bahwa hidangannya sungguh luarbiasa." Ucap Elin sambil memberikan amplop itu kepada salah seorang pelayan.


Menyadari betapa banyak isinya, pelayan itu segera sedikit membungkukkan badannya dan berterimakasih.


Tapi di sisi lain....


"Eric! Kau pikir bisa selamat setelah semua ini?!" Teriak Haikal yang mulai putus asa.


"Kenapa? Lagipula Amerika, Eropa dan Jepang sudah menawarkan untuk mengurus seluruh keperluan perubahan kewarganegaraanku dan keluargaku. Ucapkan selamat tinggal pada pemerintahan korup di negara ini." Jelas Eric sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Dengan begitulah, pertarungan antara dua orang itu pun berakhir.


Kini, Eric perlu memilih di negara mana Ia perlu menerima tawaran itu.


__ADS_2