TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 342 - Pembersihan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu semenjak Elin memerintahkan para prajurit bayarannya untuk memburu para petinggi dan bangsawan yang berhubungan dengan Kerajaan Salvation.


Mereka tidak segera melakukan pembunuhan saat itu juga, tapi melakukan pengamatan dan perencanaan yang sangat matang.


Dalam setiap regu, terdiri dari tiga pemburu yang berupa campuran Player dan NPC. Setiap dari mereka memiliki tugas masing-masing.


Setidaknya, satu diantara mereka akan bertugas untuk menyusup dengan menyamar menjadi apapun yang memungkinkan. Orang ini memiliki peranan yang penting untuk mendekati target dan memberikan jalan masuk untuk dua orang lainnya.


Kemudian satu orang lagi akan berperan menjadi penggali informasi yang akan menyamar untuk menjadi apapun di sekeliling lokasi target. Pada umumnya, mereka menjadi pedagang atau turis yang ramah.


Dan terakhir orang ketiga memiliki peran untuk menjadi eksekutor. Dengan kata lain, pembunuhnya.


Regu yang telah dipilih dan dilatih secara pribadi oleh Elin dalam waktu yang singkat ini, telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membunuh seorang bangsawan yang menjadi target mereka.


Dan hal itulah yang terjadi pada salah satu Earldom yang dikuasai oleh Earl Rufus. Ia adalah bangsawan dari Kerajaan Salvation yang berjasa besar dalam pertempuran, sehingga membuatnya memperoleh hak untuk menguasai sebagian tanah jarahan.


"Fwuuuh.... Bawakan yang baru lagi." Ucap Earl Rufus sambil melemparkan seorang budak ke lantai.


"Tuanku, jika Anda terus berperilaku seperti ini...." Ucap salah seorang pelayannya.


"Apa? Aku akan terkena hukuman?" Tanya kembali Rufus dengan nada kesal.


Memberanikan dirinya, pelayannya pun kembali berbicara.


"Jika Anda terus seperti ini, hamba takutkan bahwa Yang Mulia Raja akan mencabut gelar Anda. Permisi." Ucap Pelayan itu sambil segera pergi meninggalkan ruangan yang busuk ini.


Earl Rufus memiliki perawakan yang kian hari kian memburuk. Badannya semakin gemuk, penampilannya semakin tak terawat, bahkan Ia mulai jarang membersihkan dirinya sendiri.


Kesehariannya hanyalah untuk makan, minum, dan bersenang-senang sesuka hatinya.


Dengan kalimat sederhana, Ia adalah seorang sampah.


"Oi koki! Kemarilah! Bawakan lagi makanan yang enak itu kepadaku! Cepat atau aku akan memenggal kepalamu!" Teriak Earl Rufus dengan keras.


Segera, sang koki pun datang menemui bangsawan itu.


"Dengan segera, Tuanku. Sedangkan untuk menu makanannya?" Tanya Koki itu.


"Kau sendiri yang memilih. Itu karena apapun yang kau buat, selalu menjadi makanan yang lezat. Sungguh sesuai yang diharapkan dari koki yang berasal dari Ibukota." Ucap Rufus dengan wajah yang terlihat cukup senang.


Sang koki pun segera pergi meninggalkan ruangan itu untuk mempersiapkan hidangannya.


Sebuah hidangan terlezat yang mungkin akan pernah dirasakan oleh Rufus.


'Seperti perkataan Nona Elin, mereka semua busuk hingga ke dalam jiwanya. Meski aku ingin segera membunuhnya, tapi aku harus bekerja sesuai dengan rencana. Dan bagianku adalah untuk menyusup dan mengetahui kondisi di balik dinding kastil ini.' Pikir sang koki pada dirinya sendiri.


Sementara itu di luar kastil ini, terdapat seorang pedagang yang sangat ramah.

__ADS_1


"Diskon besar! Diskon besar untuk 100 pembeli hari ini! Dapatkan buah-buahan segar hanya seperempat harga!"


Hanya bermodalkan promosi kecil seperti itu, Ia mampu menarik perhatian banyak sekali warga di sekitar Kastil.


Dan segera setelah mengumpulkan banyak sekali orang untuk mengantre di hadapan kiosnya, Ia akan mulai mengorek berbagai informasi melalui jalan apapun.


"Kudengar Putri dari tetanggaku menghilang. Menurut perkataan dari pasukan penjaga, mereka diculik oleh Goblin."


"Goblin?! Bukankah itu menyeramkan?! Bagaimana bisa mereka sampai ke dalam kota?!"


"Aku sendiri juga tidak mengerti."


"Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh para penjaga?"


Sang pedagang pun membuat senyuman yang begitu ramah sambil melayani seluruh pembelinya.


Hingga akhirnya....


"Aah maaf sekali Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya sekalian, tapi seluruh persediaan ku telah habis. Seperti biasa, aku akan kembali lagi esok hari!" Ucap sang pedagang itu sambil membereskan kiosnya.


Nampak raut wajah kekecewaan pada beberapa orang pelanggan. Tapi sebagian besar nampak puas karena telah mampu membeli banyak sekali buah segar dengan harga yang sangat murah.


Di saat semua pembeli telah menyingkir, sang pedagang kini sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Ternyata wilayah ini jauh lebih buruk daripada apa yang dikatakan Nona Elin. Bukan hanya bangsawan, bahkan prajurit pun mulai membusuk.' Pikir Pedagang itu sambil melihat ke arah 3 orang Prajurit yang menculik gadis secara terang-terangan.


Sementara itu di luar dinding Kota....


Terlihat seorang pria yang sedang menggembalakan beberapa ekor domba di Padang rumput yang cukup luas itu.


Sahabat karibnya adalah sebuah busur dengan 12 anak panah, serta dua ekor serigala.


Pria itu nampak menggembalakan ternaknya dengan begitu bahagia. Tapi setelah seekor merpati mendatanginya sambil membawa secarik surat.


Setelah membacanya, Pria itu mengikat seluruh ternaknya ke sebuah batu dan meminta agar dua ekor serigalanya menjaga mereka.


Dengan kuda-kuda yang sangat kuat, Pria itu menarik anak panahnya di busur kayu itu.


Satu menit....


Dua menit....


Waktu terus berlalu tapi Pria itu belum melepaskan tarikannya sama sekali. Membuat orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan Ia lakukan.


Tapi tepat pada saat matahari akan terbenam, tatapan mata Pria itu menjadi semakin tajam.


Bibirnya yang sedari tadi masih menghisap sebatang rokok itu, tiba-tiba memuntahkannya ke tanah. Batang rokok yang telah lama mati itu pun terlempar dari mulutnya.

__ADS_1


Tapi bahkan sebelum rokok itu jatuh ke tanah....


'Zraaaaaaatttt!!!'


Anak panah yang telah Ia tahan sekian lama itu, akhirnya dilepaskan.


Kecepatan lesatan anak panah itu benar-benar luarbiasa. Bahkan menyebutnya melampaui kecepatan suara pun tak salah.


Segera setelah mendekati kota itu, anak panah itu nampak pecah dan hancur berkeping-keping.


Tapi bukannya terhenti, setiap kepingan anak panah yang hancur itu justru melesat semakin cepat ke arah kota.


Dan dari setiap pecahan itu, semuanya mengarah tepat ke seluruh Prajurit yang ada di Kota itu.


Semua kecuali mereka yang sempat atau sedang berada di balik dinding. Meski skill yang digunakan nampak begitu hebat, panah cahaya ini tak mampu menembus sesuatu yang setebal dinding.


Menyebabkan hanya sekitar 20% prajurit saja yang selamat karena terlindungi oleh dinding.


Penyerangan ini dikarenakan isi surat yang dibawa oleh merpati itu, yang berbunyi bahwa seluruh Prajurit yang ada di Kota ini, termasuk para bangsawannya adalah sampah.


Sementara itu, sisa-sisa prajurit dan bangsawan Farna berada di dalam tahanan.


Memahami hal itu, Pria yang sebelumnya nampak seperti seorang Pria paruh baya yang memiliki rambut beruban, seketika berubah menjadi seorang pemuda dengan rambut pirang dan telinga runcing yang tajam.


Pemuda yang sosok aslinya adalah seorang Elf yang pernah diselamatkan oleh Eric itu menyamar menjadi seorang manusia dan menjadi eksekutor.


Tak hanya dirinya, tapi semua eksekutor merupakan seorang petinggi Elf yang menyamar.


Dari kejauhan, pemuda itu memperhatikan Kilauan ribuan cahaya di kejauhan yang menerangi Kota itu.


Sebuah cahaya yang membawa kematian bagi siapapun yang menjadi targetnya.


Sementara itu....


Di Hutan Elf....


Terdapat seorang wanita yang nampak begitu kesal. Perasaannya itu terlihat jelas dengan dirinya yang terus menerus menggaruk kepalanya.


Di tangan kanannya, terlihat selembar kertas yang berisi mengenai perkembangan kegiatan pembersihan bangsawan dan semua yang bersekongkol dengan Salvation.


Tapi dari laporan itu....


"Aku memang benar meminta mereka membunuh beberapa bangsawan, tapi.... Kenapa pada akhirnya mereka membantai bahkan seluruh prajuritnya?! Yah, bukan berarti aku tidak menyukai hasil ini.... Tapi.... Aaarrgghh!!!"


Saat ini, Elin sangat kesal karena Ia kehilangan seluruh potensi Experience Point yang seharusnya bisa didapatkannya itu.


Dan dengan begitu, terror baru kembali muncul di dunia manusia.

__ADS_1


Atau lebih tepatnya, di Kerajaan Salvation.


__ADS_2