TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 312 - Keruntuhan


__ADS_3

...Dunia Manusia...


...Wilayah Kerajaan Farna...


Di dalam sebuah kastil yang sederhana itu, terlihat sosok seorang Pria berambut hitam dengan zirah peraknya yang masih sibuk mengurusi berbagai berkas di hadapannya.


Ia bersama dengan delapan menterinya nampak begitu panik.


"Bagaimana dengan pergerakan dari Kerajaan Rafador?!" Teriak sang Menteri Pertahanan kepada yang lainnya.


"Mereka memimpin 80.000 lebih prajurit dari berbagai divisi di bawah bendera berlambang naga emas. Golden Dragon! Mereka berencana untuk melebarkan pengaruhnya di Kerajaan Rafador!" Balas sang Menteri Perdagangan yang memperoleh berbagai informasi itu dari para pedagang.


Di sisi lain, terlihat sosok Arlond yang menghadap ke sebuah perkamen coklat tua dengan gambar Peta Benua Tengah Re:Life.


Ia terus menerus mendengarkan informasi dari seluruh Menterinya dan menempatkan bidak catur sesuai dengan informasi tersebut.


Pada perkataannya barusan, Ia meletakkan bidak dengan bentuk kuda ke sisi Utara tanah utama Benua tengah ini. Melambangkan bahwa pergerakan dari Guild Golden Dragon begitu cepat ke arah Kerajaan Farna.


'Braakkk!'


Seseorang dengan tiba-tiba membuka pintu ruang istana itu, mengabaikan keberadaan sang Raja dan para Menteri.


"Yang Mulia! Izin melaporkan! Kerajaan Suci Celestine telah mengutus seluruh Inquisitor mereka demi menyebarkan perintah mutlak kepada seluruh Kerajaan di Benua Tengah Ini!


Informasi terakhir menyebutkan bahwa Kerajaan Doran dan Kekaisaran Avertia telah menerima perintah untuk menghapuskan seluruh lokasi persembunyian Pasukan milik Raja Iblis Eric! Kemu...."


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Prajurit itu terlempar jauh ke dalam ruangan secara tiba-tiba.


'Bruuukk! Sruuugg!!'


Dibalik pintu itu, terlihat sosok seorang Pria dengan rambut pirang. Ia mengenakan zirah putih yang sangat indah dengan lambang cahaya emas di dadanya. Zirah itu menutupi seluruh bagian tubuhnya mulai dari leher hingga ujung kakinya.


Sedangkan di bagian terluar dari zirah itu, Ia mengenakan sebuah jubah putih dengan alur emas di bagian terluarnya. Lambang cahaya emas yang indah juga terpampang dengan jelas di bagian punggungnya.


Meski begitu, tak ada seorang pun yang bisa melihat wajahnya karena tertutupi oleh topeng perak.


"Perkenalkan. Namaku adalah Lucias, salah seorang Inquisitor yang membawa pesan untuk dunia ini. Raja Arlond. Kami, atas nama Dewi Celestine, memerintahkan Kerajaan Farna untuk berpartisipasi dalam penaklukan persembunyian Raja Iblis Eric.


Kami membutuhkan sebanyak mungkin kekuatan yang ada di dunia ini demi mencegah hancurnya dunia manusia. Tentu saja, kau sebagai seorang manusia akan membantu kami bukan?" Ucap Lucias sambil menyodorkan tangan kanannya ke depan.


Mendengar penjelasan itu, Arlond hanya mampu untuk menelan ludahnya.

__ADS_1


Di satu sisi, Ia adalah aliansi terkuat dan yang paling bisa dipercaya oleh Eric. Akan tetapi di sisi lain, satu kalimat yang salah di momen ini, akan membuat tidak hanya kerajaan Farna, tapi juga termasuk Eric berada dalam posisi yang jauh lebih buruk.


Oleh karena itu...


"Tentu saja. Kami akan dengan senang hati menjawab panggilan dari Dewi Celestine untuk melawan kejahatan." Balas Arlond sambil memasang wajah penuh dengan rasa percaya diri.


Mendengar jawaban itu, Lucias bukannya senang tapi justru mendecakkan lidahnya.


"Cih.... Jadi bukan kalian ya? Baguslah jika kau menerima panggilan perang kami. Instruksi lebih lanjut terdapat dalam surat ini. Pelajarilah dengan baik." Balas Lucias sambil melemparkan sebuah gulungan kertas ke arah Arlond.


'Tap!'


Arlond pun menangkapnya dengan tenang. Tapi sesaat setelah itu, sosok Lucias tak lagi dapat ditemukan.


'Ini buruk. Sekarang masih jam 3 pagi di dunia nyata. Apakah Eric sudah bangun? Aku harus segera mengabarinya.'


Dengan pikiran itu, Arlond pun dengan segera memutuskan untuk Log Out dan kembali ke dunia nyata.


...***...


...Dunia Nyata...


'Bzzzzttt!!! Bzzzttt!!!'


Suara getaran ponsel terdengar cukup mengganggu di tengah kesunyian malam itu.


Meskipun suara yang dihasilkan tidak lah keras, tapi sudah cukup untuk membangunkan seseorang.


"Hah? Siapa yang menelfon sepagi ini?" Ucap Elin sambil bangun dengan penuh rasa malasnya.


Ia pun segera berdiri dari ranjangnya yang empuk dan berjalan ke arah sumber suara itu.


"Eric? Siapa yang menelfonnya sepagi ini?" Ucap Elin sambil melihat cahaya yang muncul dari layar ponsel itu.


Pada saat Ia hendak mengangkat panggilan itu, Elin melihat nama [Arlond] di layar ponselnya.


Elin sudah memiliki firasat yang buruk sejak melihat nama itu. Meski begitu, Ia berusaha sebaik mungkin untuk berpikir positif.


Alasannya sangat sederhana.


Itu karena Arlond tak akan pernah menghubungi Eric kecuali jika situasi benar-benar sangatlah penting. Dan hal itu sudah terjadi berulang kali. Maka dari itu, Elin hanya bisa berharap bahwa berita yang dibawa oleh Arlond kali ini adalah berita yang baik.

__ADS_1


"Ya, Arlond. Ada apa? Ini aku Elin."


"Elin? Dimana Eric?" Balas Arlond singkat.


"Dia sedang tertidur pulas dan aku tak ingin mengganggunya. Katakan saja padaku maka aku akan menyampaikan kepada Eric nanti."


"Tidak bisa. Pesan ini terlalu penting." Balas Arlond dengan suara yang gelisah.


Keheningan pun tercipta selama beberapa saat. Bukan karena Elin tak ingin menjawab. Tapi karena Ia sedang memikirkan peluang apa yang bisa terjadi saat ini dengan menghubungkan seluruh peristiwa yang baru-baru ini terjadi.


Setelah sekitar 30 detik berada dalam keheningan yang beberapa kali dipecahkan oleh Arlond dengan kata 'halo' itu, akhirnya Elin telah sampai kepada kesimpulan yang paling logis baginya.


"Origin akan diserang?" Ucap Elin singkat.


"A-ap.... Ba.... Bagaimana kau bisa tahu?" Balas Arlond kebingungan.


Tapi jauh di luar dugaannya, Elin justru memberikan balasan yang cukup tenang.


"Biarkan saja hancur. Tapi sembunyikan sebanyak mungkin monster dan bawahan Eric yang ada di sana entah dimanapun. Bisa saja di Hutan Elf atau di berbagai Dungeon baru buatan Eric yang tersebar di seluruh benua tengah."


"Eh? Begitu saja? Tapi seluruh bangunan yang telah didirikan?" Tanya Arlond sekali lagi untuk memastikan.


"Bangunan dapat didirikan lagi setelah Eric kembali ke dunia manusia. Tapi bawahannya yang sudah mati takkan lagi bisa didirikan. Sisakanlah cukup banyak monster yang rela mati untuk membuat semua orang yang berusaha meruntuhkan Origin cukup yakin. Yakin bahwa mereka telah menghancurkan Origin untuk selamanya.


Tapi ingat. Jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui bahwa Farna berada di bawah kuasa Origin melalui dirimu. Lakukanlah akting sebanyak dan sebaik mungkin untuk menutupi semua itu.


Sedangkan untuk para pemain dari Indonesia yang berada di Guild Merah Putih.... Biarkanlah mereka mengamuk sesuka hatinya. Lalu kau harus lepas tanggung jawab dari mereka. Berikanlah alasan apapun untuk itu. Kalau begitu permisi, aku ingin melanjutkan tidurku. Aku masih sangat mengantuk."


Elin pun dengan segera menutup panggilan itu setelah membeberkan semua rincian rencananya.


Meninggalkan Arlond sendirian dipenuhi oleh rasa kebingungan.


"Elin.... Dia memikirkan semua itu dalam keadaan mengantuk?"


Pertarungan untuk mempertahankan benteng terakhir milik Eric, yaitu Kerajaan Farna pun segera dimulai.


Apa yang menanti mereka semua....


Hanyalah pertempuran semu yang telah diatur dan dikendalikan untuk memberikan hasil yang memuaskan bagi para penakluk.


Semua itu demi memberikan kesan bahwa mereka telah memperoleh 'kemenangan' yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2