TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 387 - Perundingan


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Tengah...


Pergerakan pasukan Eric yang begitu besar berhasil mengundang banyak sekali perhatian dari berbagai pihak. Tak hanya itu, di seluruh jalur yang dilewati oleh pasukan utama yang dipimpin oleh Eric itu....


"Katakan apa pilihanmu?" Tanya Eric sambil memandang sosok Raja Iblis yang telah berlutut di hadapannya.


"Ka-kami mohon, berikanlah ampunan.... Kami berjanji takkan pernah mengarahkan pedang padamu. Oleh karena itu...." Ucap Raja Iblis itu sambil terus berusaha memohon kepada Eric.


Tapi tentu saja, meninggalkan satu saja masalah tak teratasi akan menjadikannya masalah besar di kemudian hari. Terlebih lagi jika meninggalkannya hanya dengan sebuah janji yang bisa dilanggar kapan saja.


Jika itu terjadi, Eric mungkin akan mengalami ancaman yang cukup serius. Dimana Ia bisa saja diserang dari belakang atau pasukan dari Raja Iblis ini yang akan bergerak ke wilayah Selatan dan menyerang wilayah Eric.


Oleh karena itu....


"Tentu saja aku akan mengampuni kalian semua. Jika kalian menyatakan bergabung dengan pihakku, dan mulai mengibarkan bendera ku." Ucap Eric sambil melirik ke arah Legiun pasukannya.


Banyak bendera berkibar di barisan para prajurit monster itu. Bendera itu memiliki desain yang cukup sederhana. Yaitu warna hitam polos sebagai warna dasarnya dengan lambang tangan yang seakan membawa sebuah bola. Bola yang wujud aslinya adalah dunia itu sendiri.


"Ba-baiklah! Kami akan bergabung! Kami akan bergabung! Oleh karena itu, kami mohon ampunan nya! Jangan bunuh satupun dari kami...."


"Tenang saja. Jika kau bergabung di bawah penaklukan ku, maka aku akan menjamin kejayaan dan kemakmuran bagi kalian semua. Kalau begitu, jaga diri kalian baik-baik." Balas Eric sambil segera kembali ke barisan pasukannya.


Raja iblis itu kini telah tunduk kepada Eric. Beberapa bangsawan mulai mendekati Raja Iblis dengan wujud seperti Minotaur itu.


"Yang Mulia...."


"Apakah aku telah membuat kesalahan dengan melakukan ini?" Tanya Raja Iblis itu sambil memegangi tumpukan kain bendera penaklukan Eric.


Tapi bangsawan yang kini mulai mengerumuni Raja Iblis itu segera mengulurkan tangan mereka dan mengambil bendera itu.


"Perintahkan para prajurit untuk mulai mengibarkan bendera ini." Ucap salah satu Bangsawan kepada Ksatria yang mengikuti mereka.


Dengan segera, bendera itu pun berkibar di sekeliling Kota ini.


"Yang Mulia. Anda telah membuat keputusan yang benar. Kami baru saja memperoleh kabar bahwa Kota milik Raja Iblis Yghar baru saja dihancurkan hingga tak tersisa sedikitpun oleh Legiun Raja Iblis Eric. Jika kita menolak tawaran ini, hanya kehancuran yang akan menanti kita semua."

__ADS_1


Itu benar.


Eric yang saat ini benar-benar tak memberi ampunan sama sekali kepada para Iblis yang menolaknya. Hal yang wajar karena para Iblis ini juga bertanggungjawab atas kematian rekan-rekannya.


Sejak awal, Ia telah bertekad untuk membunuh semua Iblis di dunia ini. Tapi tekadnya itu mulai memudar dan berubah menjadi menaklukkan seluruh dunia Iblis ini sambil membunuh siapapun yang melawannya.


Dengan tekad itulah....


Legiun Eric terus meninggalkan kehancuran dimanapun mereka bergerak. Kecuali bagi mereka yang memilih untuk bersumpah setia dan bergabung dalam kekuasaannya.


Tentu saja, berita sebesar ini telah sampai di seluruh penjuru benua ini. Termasuk juga wilayah Sierra.


'Sreeettt!!!'


Sierra yang sedang duduk di singgasananya nampak menggenggam erat kertas laporan yang baru saja diberikan oleh Ksatrianya itu.


Menunjukkan betapa kesal dirinya setelah membaca hal itu.


"Avacor sialan.... Jika saja Avacor tak pernah muncul di dunia ini, maka Pria itu takkan bisa bergerak semaunya seperti ini. Lagipula, apa yang dilakukan oleh Belphegor?! Bukankah biasanya dia suka dengan kerusuhan seperti ini?!" Teriak Sierra sambil merobek-robek kertas laporan itu.


Sedangkan untuk Raja Iblis Belphegor.... Dia telah bergerak beberapa saat yang lalu." Ucap Ksatria yang berlutut di hadapan Sierra itu.


Mendengar hal itu, kedua mata Sierra terbuka lebar. Ia mulai berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Ksatria itu seakan tak percaya dengan perkataannya.


"Belphegor.... Bergerak? Sendiri?" Tanya ulang Sierra untuk memastikan.


"Tidak. Raja Iblis Belphegor membawa pasukan dengan jumlah yang cukup besar. Termasuk juga menyeret seluruh bangsawan yang ada." Jelas Ksatria Naga itu kepada Sierra.


Senyuman yang lebar mulai terlukis di wajah Sierra. Ia merasa bahwa keseimbangan di dunia Iblis ini bisa sekali lagi dipulihkan. Meskipun harus mengandalkan bantuan dari Belphegor itu sendiri.


"Kerja bagus! Terus gali informasi mengenai kejadian ini. Aku akan bersiap untuk bergerak dengan beberapa Penunggang Naga. Pelayan! Bawakan zirahku!" Teriak Sierra.


Dengan segera, beberapa pelayan wanita yang juga merupakan ras Draconic itu terlihat membawa potongan zirah Sierra. Satu demi satu, mereka memasangnya secara perlahan.


Termasuk juga membawakan tombak terkutuk milik Sierra. Kini penampilannya menyerupai Ksatria kegelapan dengan zirah bersisik yang serba hitam dan tombak yang juga hitam.


Ditambah dengan sayap naga yang ada di punggungnya yang juga memiliki warna hitam, serta ekor yang cukup panjang dan tajam itu. Sierra telah berada dalam kondisinya yang paling sempurna.

__ADS_1


Setelah semuanya telah siap, Ia bermaksud untuk segera keluar dari kastil ini. Menemui para penunggang naga dan segera bergerak.


Tapi sayangnya....


'Tap! Tap! Tap!'


Suara langkah kaki terdengar menggema di dalam ruangan yang megah dan besar ini.


Seketika, pandangan semua orang tertuju ke arah sumber suara itu. Penasaran mengenai siapa yang berani masuk tanpa seizin Sierra.


'Kreeeeekk!!!'


Pintu besar itu secara tiba-tiba mulai terbuka tanpa sedikitpun meminta izin. Membuat Sierra mulai merasa curiga terhadap apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi apa yang ada di balik pintu itu....


Adalah sosok seorang Pria dengan rambut hitam yang tak terlalu panjang namun juga tidak bisa dikatakan pendek. Wajahnya tertutupi oleh sebuah topeng perak dengan alur segienam berwarna biru. Sehingga tak begitu mudah mengetahui siapa sosoknya yang sebenarnya.


Sedangkan pakaiannya adalah jubah putih yang indah dengan alur biru yang menawan. Begitu juga sepatu kain putih yang digunakan oleh Pria itu.


Tapi apa yang menjadi perhatian semua orang di ruangan ini adalah senjatanya.


Sebuah buku.


Buku itu memiliki warna hitam dengan pelindung sampul berwarna perak yang terlihat mengkilap. Buku itu sendiri terus menerus terbuka dan sesekali halamannya membalik dengan sendirinya.


Tanpa diduga....


"Kenapa? Jika ini tongkat maka kau tahu siapa diriku?" Ucap Pria itu yang segera mengubah topengnya menjadi tembus pandang. Memperlihatkan sosoknya yang sebenarnya.


"Eric?! Apa yang kau lakukan disini?!" Teriak Sierra sambil memasang kuda-kuda siap untuk bertarung.


"Jangan mudah marah seperti itu. Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu. Apakah kau tertarik?"


Pada saat itulah, perundingan di dalam istana Sierra segera dimulai.


Sebuah perundingan yang akan menentukan nasib dan masa depan dari dunia iblis ini. Tidak.... Lebih tepat jika mengatakan bahwa perundingan ini akan menentukan nasib dari dunia Re:Life itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2