TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 313 - Kabar Buruk


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Beberapa hari kemudian.......


'Swuoooosshh!'


Cahaya putih yang indah nampak muncul di tengah goa yang gelap dan dipenuhi dengan puing-puing bangunan itu.


Dari balik cahaya itu, muncul sosok seorang Pria dengan rambut hitam yang tak terlalu panjang. Matanya yang merah menyala nampak begitu mengintimidasi. Begitu pula dengan taringnya yang tertutup rapi oleh bibir Pria itu.


Sedangkan perlengkapannya cukup sederhana. Sebuah jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya serta sebilah pedang hitam pekat di tangan kanannya. Sedangkan di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat sihir dengan kristal biru yang indah di ujungnya.


"Hmm? Dimana ini? Bukankah lokasi respawnku seharusnya berada di Kota Venice bawah tanah?" Ucap Pria itu yang tak lain adalah Eric.


Ia masih belum memahami situasi yang sedang dialaminya saat ini.


Sesaat sebelum Ia Log In ke dalam dunia game ini, istrinya Elin telah memperingatkan bahwa beberapa hal buruk telah terjadi di dunia manusia.


Eric telah memahami hal itu dan berencana untuk segera meminta bantuan Deus untuk membuka kembali gerbang [World Rift] untuk kembali ke dunia manusia. Dengan begitu, Eric bersama pasukannya dari dunia iblis ini bisa membantu peperangan yang akan terjadi.


Tapi kenyataannya?


Ia telah berada di tempat antah berantah.


Tanpa menyadari, bahwa hal yang jauh lebih buruk telah terjadi di dunia iblis.


Penyerangan Kerajaan Suci Celestine? Invasi dari kerajaan lain? Pemain dari Indonesia yang terancam?


Hal seperti itu bahkan tak mampu menyamai terror yang baru saja terjadi di dunia iblis ini.


"Holy Light." Ucap Eric sambil mengarahkan tongkat sihirnya kedepan.


Dengan bantuan cahaya yang sangat terang dari skill tingkat Unique itu, Eric berhasil melihat kondisi di sekitarnya.


Tapi sungguh disayangkan....


Bahwa apa yang Ia lihat, adalah hal terakhir yang akan pernah Ia inginkan.


'Kretakk!'


Bunyi pecahan dari atap bangunan yang terinjak oleh kaki Eric ketika mundur secara refleks itu, menggema memenuhi goa yang telah menjadi sempit ini.


"Tidak.... Tidak mungkin. Apa yang terjadi disini? Ini.... Jangan katakan bahwa tempat ini adalah Venice bawah tanah!" Teriak Eric seakan tak ingin mempercayai kenyataan ini.


Ia pun segera memperbesar keluaran Mana ke dalam skill [Holy Light] miliknya. Berusaha untuk memperjelas keadaan yang ada di sekitarnya.


Akan tetapi....


Semakin terang cahaya yang dibuat oleh skill Eric hanya memperjelas kenyataan yang selama ini Ia sanggah. Sebuah kenyataan yang tak pernah Ia inginkan.


Sebuah kenyataan bahwa Kota Venice bawah tanah yang baru saja dibangun olehnya telah hancur lebur. Bersamaan dengan seluruh penduduk yang ada di dalamnya.


Eric pun bergegas mencari jalan keluar dari dalam kota bawah tanah ini.


Alasannya sungguh sederhana.


Hanya untuk menemukan sebuah bukti, sekecil apapun itu, untuk menyanggah kenyataan yang pahit ini.


Akan tetapi apa yang menantinya di permukaan dunia iblis ini, adalah hal terburuk yang bisa Ia bayangkan.


Sebuah tongkat sihir dengan bahan utama dari tulang hewan buas, serta cakar yang nampak memegang sebuah bola sihir berwarna merah, terlihat tergeletak di tanah.


Sebuah benda yang awalnya merupakan pembawa malapetaka bagi lawan, dan penyelamat bagi kawan.

__ADS_1


Kini hanya mampu terbaring di bawah tumpukan bebatuan.


Seakan tak ada nilainya sama sekali.


Reaksi yang diberikan oleh Eric sungguh sangat mudah untuk ditebak oleh siapapun.


Tanpa Ia sadari, air mata telah mengalir dari kedua matanya.


Kakinya seakan kehilangan seluruh kekuatannya meskipun memiliki status Strength yang setara dengan raksasa. Membuat dirinya terjatuh di tanah menghadap ke sebuah tongkat berbahan tulang itu.


Kedua tangannya gemetar saat berusaha mendekati tongkat sihir itu.


Sedangkan taringnya yang tajam secara tak sengaja mengigit bibirnya sendiri dengan sangat kuat.


[Anda telah menerima damage!]


[Anda telah menerima efek Bleeding!]


[Emosi Anda tidak stabil!]


[Apakah perlu Log Out untuk menenangkan diri?]


"Berisik...." Ucap Eric sambil mengenyahkan semua jendela notifikasi sistem yang muncul menutupi pandangannya.


"Apa-apaan ini? Bukankah kau bilang bahwa dirimu yang terkuat di tempat ini? Lalu apa maksudnya ini?!" Teriak Eric kesal sambil meraih tongkat sihir itu.


Kedua matanya tak lagi mampu untuk membendung semua emosi yang ada di dalam dirinya.


Peringatan terus menerus bermunculan untuk meminta Eric tenang. Akan tetapi Ia sama sekali tak mengindahkannya dan dengan segera mengenyahkan semua peringatan itu.


Setelah keheningan selama beberapa saat, dengan wajahnya yang terus menatap tanah, Eric kembali berbicara.


"Kenapa kau diam saja, Deus? Katakan padaku.... Kenapa.... Kenapa kau.... Dari semua orang...."


Ia meraih tongkat sihir itu dengan kedua tangannya. Sedangkan dua senjata yang sebelumnya Eric kenakan telah dikembalikan ke dalam Inventorynya.


"Kenapa kau tidak lari, Deus? Apakah karena kau tidak bisa? Tidak.... Mengingat pertarungan untuk mempertahankan gerbang di dunia manusia, kau pasti punya segudang cara untuk kabur." Ucap Eric sambil mulai bangkit dan berdiri.


Kekuatan telah kembali ke seluruh tubuhnya. Dan lebih dari itu, kini tubuhnya telah dikuasi oleh satu jenis emosi yang paling kuat.


"Jadi begitu.... Musuhmu yang terlalu kuat? Tidak, tidak mungkin itu terjadi. Itu karena kau yang terkuat bukan? Kalau begitu.... Hanya ada satu jawaban." Ucap Eric dengan tatapan yang sangat tajam ke arah ratusan jurang yang terbentuk di sekitar reruntuhan kota Venice itu.


Di dasar jurang itu, masih terlihat secara samar-samar api warna biru yang berusaha untuk membakar apapun yang tersisa.


"Jadi begitu.... Ada yang campur tangan dalam pertarungan ini. Jika tidak, tak akan ada seorangpun yang bisa mengalahkanmu, bukan?" Ucap Eric sambil menunjukkan senyuman tipis di wajahnya.


'Tap!'


Eric melompati jurang itu, dan mulai bergerak ke arah Timur.


"Kalau begitu, yang harus ku lakukan sangatlah sederhana."


Kini Eric tak lagi berlari. Ia menggunakan skill [Fly] miliknya untuk segera terbang.


Tatapannya sungguh tajam, seakan fokus pada satu tujuan.


"Membunuh semua iblis yang ada di dunia ini."


...***...


...Dunia Manusia...


...Kuil Naga Arroth...

__ADS_1


Pemandangan yang ada di kuil ini telah berubah drastis.


Sebuah tempat yang dulunya merupakan tempat pemujaan Arroth sang Naga Api Kuno, kini seakan berubah menjadi tempat pertunjukan.


'Ttraaangg! Ttraaangg!'


Di hadapan seluruh tatapan mata para Fire Draconic itu, terlihat sosok seorang manusia yang sedang mengayunkan palunya secara terus menerus. Menghantam sebilah pedang yang berwarna putih mengkilap itu.


Sepuluh....


Seratus....


Seribu....


Entah berapa banyak pukulan palu yang telah Pria itu ayunkan ke bilah pedang itu.


Tapi ada satu hal yang pasti.


Yaitu sebuah kenyataan bahwa Pria itu tak pernah berhenti mengayunkan palunya.


Jika dihitung semenjak kehadiran Pria bernama Aamori itu ke dalam Kuil Arroth ini, mungkin telah beberapa bulan berlalu.


Dan Aamori, telah mengayunkan palunya setidaknya selama sembilan per sepuluh waktu yang ada.


"Aamori.... Apa yang kau lakukan dengan tubuhmu itu?" Ucap Arroth dengan wajah yang dipenuhi dengan perasaan khawatir itu.


Dengan tubuh atau karakter berlevel 1 yang tak memiliki skill apapun itu, berhasil menciptakan sebilah pedang yang bisa diayunkan satu kali sebelum akhirnya patah adalah sebuah pencapaian yang hebat.


Belum lagi mempertimbangkan tubuh dengan Health Point serendah itu yang bisa saja mati seketika jika terkena oleh bara api yang begitu panas.


Tapi Aamori tetap berdiri dengan tegap di hadapan api terbesar yang pernah dilihatnya.


Itu karena untuk melelehkan logam, terdapat tingkatan suhu yang diperlukan.


Semakin baik dan kuat logam yang akan ditempa, pada umumnya kebutuhan suhu yang diperlukan akan semakin tinggi.


Sedangkan untuk salah satu logam tingkat tertinggi di dalam dunia Re:Life ini yaitu Adamantium, suhu yang diperlukan sangatlah besar.


Bara api yang biasanya digunakan oleh pandai besi terhebat di berbagai kota di dunia ini pun, bahkan tak mampu menggores sedikitpun logam ini. Melelehkannya hanyalah sebuah angan-angan kosong dengan api itu.


Oleh karena itu, melihat sosok manusia dengan level 1 masih bisa berdiri dengan tegap di hadapan api sebesar itu saja, sudah merupakan sebuah keajaiban.


"Hentikan. Kau tak perlu melanjutkannya lagi. Aku sudah mengatakannya kepadamu ratusan kali bahwa aku akan menjadi gurumu.


Maka dari itu berhentilah menempa dan belajarlah denganku." Ucap Arroth mendekati sosok Aamori.


Tapi sungguh disayangkan, Aamori sama sekali tidak membalas perkataannya.


Bukan karena Ia sombong ataupun memiliki dendam kepadanya.


Tapi itu semua karena Aamori saat ini sedang ada dalam fokus tertinggi yang pernah Ia alami.


Aamori mengabaikan seluruh informasi yang tidak penting saat ini. Seluruh informasi kecuali yang menyangkut mengenai penempaan.


'Kurang keras.... Aku harus menempanya sedikit lebih keras di bagian bawah ini. Kemudian bagian atas ini, sudah mulai mendingin. Aku harus kembali memanaskannya.'


Pikiran Aamori terus menerus berjalan memikirkan cara terbaik dan yang paling efisien untuk menempa sebuah karya yang berada di tingkat Mythical itu.


Tak sedikitpun Ia merasa bahwa hal itu mustahil untuk dilakukan.


Bukan karena Ia percaya diri pada kemampuannya. Tapi karena Ia percaya pada satu hal yang paling salah di dalam dunia game.


'Jika sebuah game memberikan tugas kepada pemain, bukankah itu artinya tugas itu bisa diselesaikan?'

__ADS_1


Dengan begitulah, Aamori melanjutkan tempaannya tanpa memperdulikan apapun.


__ADS_2