
...Dunia Manifestasi...
...Situs Suci...
...Kuil Pertama Manusia...
Di tengah bukit dengan Padang rumput hijau yang mengelilinginya, terlihat tumpukan jasad berserakan di berbagai tempat.
Jasad itu memiliki ciri khas yang sama. Yaitu sosok seorang Pria dengan jubah putih yang dipenuhi dengan darah.
Sedangkan di sisi lain, anggota Rebellion yang tersisa hanya beberapa orang saja.
Angie, Miyamoto, Grund, Ilham, Luna, Robert, dan Camilla.
Komposisi yang tersisa saat ini sangatlah seimbang. Itulah kenapa mereka bertujuh bisa bertahan hingga beberapa hari di dalam dunia Manifestasi ini.
"Angie.... Kurasa ini adalah akhirnya. Aku tak bisa keluar dari dunia ini dengan portal milikku. Di sisi lain...." Ucap Luna dengan suara yang terengah-engah.
"Aku tahu. Rahasia keabadiannya adalah pedang usang itu. Tapi menghancurkan pedang itu...." Balas Angie sambil melemparkan tombak tingkat normal yang ada di dalam Inventorynya.
'Zraaaatt! Craaasshhhh!!!'
Tombak yang melesat tepat ke arah pedang usang yang menancap di altar batu itu segera terpental oleh perisai tak terlihat yang mengelilinginya.
Sedangkan Uskup Agung 'baru' yang masih hidup, saat ini masih duduk santai sambil membaca kitab suci.
"Sialan...."
Mendengar keluhan para anggota Rebellion, Fransiskus kemudian mengalihkan pandangannya kepada mereka.
"Ada apa, wahai para penyusup? Sudah menyerah?" Ucap Fransiskus sambil menutup bukunya.
Ia pun segera berdiri dan mengangkat kembali pedang cahaya yang telah membunuh 5 anggota Rebellion sebelumnya.
'Tap! Zraaaatt!'
Angie melesat dengan sangat cepat ke arah Fransiskus mengayunkan pedang tingkat normalnya.
Sementara itu Camilla menembakkan puluhan anak panah tepat ke arah Fransiskus.
Luna membuka banyak portal di berbagai sudut dan tempat. Mencegah Fransiskus untuk bergerak semaunya sekaligus memberikan bantuan kepada Ilham, Grund dan juga Miyamoto untuk menyerang dan bertahan.
Sedangkan pemain yang terakhir yaitu Robert berdiri di tengah formasi agar terlindungi oleh semua orang. Ia memiliki peranan penting dalam menyembuhkan semua orang yang terluka dengan skillset healer miliknya.
'Zraaaassshhhh!!!'
Tebasan pedang Angie mengarah tepat ke leher Fransiskus. Tapi seperti sebelumnya. Yaitu pedangnya terpotong oleh suhu tinggi dari pedang cahaya Fransiskus.
'Jleb! Jleb! Jleb!'
Puluhan anak panah itu menancap di tubuh Uskup Agung. Meski begitu Ia nampak tetap tenang.
"Berapa kali pun kalian mencoba, berapa banyak pun senjata yang kalian rusak.... Hasil akhir pertarungan ini sudah jelas. Selama kalian belum bertobat, kalian pasti akan ma...."
__ADS_1
Miyamoto berhasil menebas leher Fransiskus dengan kemampuan katana miliknya. Kecepatan menarik pedangnya sungguh luarbiasa. Jika ditambah dengan portal milik Luna, tentu saja tak akan ada yang bisa menahannya.
'Tak! Bruuk!'
Kepala Uskup Agung itu jatuh dan menggelinding di tanah seperti sebuah bola.
Tapi tak ada satu orang pun yang merayakan pencapaian itu. Itu semua karena....
'Jlebbb!!!'
Sebuah pedang cahaya secara tiba-tiba menusuk dada Miyamoto dari belakang. Tidak.... Menyebut itu sebagai pedang cahaya tidaklah tepat.
Penampakan senjata itu lebih menyerupai sebuah tombak cahaya. Dan berita buruknya adalah....
'Zraaasshh! Zraaaashh! Jlebbb!!!'
Ratusan tombak cahaya muncul dari bawah tanah. Semuanya menyerang ke tujuh anggota Rebellion yang tersisa.
Sebuah kemampuan yang belum pernah ditunjukkan oleh Fransiskus sebelumnya.
Hanya dua orang yang mampu bereaksi terhadap serangan mendadak itu.
Yaitu Angie yang segera menggunakan [Air Step] miliknya untuk melompat ke udara, dan Luna yang mengelilingi tubuhnya sendiri dengan puluhan Portal. Termasuk di bawah pijakan kakinya. Membuat seluruh tombak cahaya itu bahkan tidak mampu mendekatinya.
Sedangkan sisa anggota Rebellion....
Hanya bisa menerima takdir mereka untuk mati karena suhu yang sangat panas dari tombak cahaya itu.
'Tap! Tap! Tap!' Angie terus menerus berlari di udara untuk mencari sosok Uskup Agung yang baru. Ia sadar bahwa setelah Fransiskus mati, maka Fransiskus yang baru akan muncul.
Tapi hasilnya?
Tidak ada Fransiskus yang baru.
Mereka tidak menemukan apapun selain jasad yang tergeletak tak berdaya serta Padang rumput yang begitu luas.
'Apa ini? Apakah ini artinya sudah berakhir? Ia telah kehabisan nyawanya? Kalau begitu....'
Angie pun segera melesat ke arah altar batu yang mereka duga merupakan penyebab keabadian Fransiskus.
Tanpa sedikitpun ragu, Angie mengayunkan sebuah kapak besar tepat ke arah pedang usang itu.
'Tidak ada perisai?! Kalau begitu....'
'Traaaangg!!! Bruukk!'
Tebasan kapak besar milik Angie itu berhasil membelah pedang usang itu menjadi dua. Melemparkan salah satu bagian yang memiliki gagang ke tanah.
'Tap!'
"Apakah dengan begini.... Sudah selesai?" Ucap Angie pada dirinya sendiri sambil melihat tombak cahaya yang sebelumnya muncul dari bawah tanah itu mulai menghilang.
Luna yang juga menyadari hal itu segera membuka portal di sebelah Angie.
__ADS_1
"Semoga saja begitu. Uskup Agung itu nampak menjaga pedang usang itu sejak awal pertarungan. Bukankah dia bilang kekuatan pedang usang itu luarbiasa pada saat pertama?"
Angie tak merespon perkataan Luna. Bukan karena Ia tak ingin. Tapi karena Angie sependapat dengan perkataan Luna dan berkeinginan untuk menghancurkan sisa pedang usang itu.
'Braaaaakkk!! Braaakkk!!'
Angie mengayunkan kapak besar itu secara membabi-buta hingga menghancurkan bukan hanya pedang itu, tapi juga altar batu kuno itu.
"Hah.... Dengan begini sudah selesai kan?"
Mereka berdua pun terbaring lemas di tanah. Berusaha sebaik mungkin mengembalikan tenaga mereka setelah menjalani neraka selama beberapa hari di dunia virtual ini.
Beberapa menit berlalu mereka masih membicarakan mengenai pertarungan ini.
Tapi setelah beberapa menit berikutnya, perasaan buruk kembali mendatangi mereka.
"Kapan dunia Manifestasi ini akan hancur?"
"Kenapa tidak ada notifikasi bahwa kita berhasil membunuhnya?"
Pertanyaan itu pun terus menerus bermunculan di tengah sepinya dunia yang disebut sebagai kuil pertama umat manusia itu.
"Sialan! Apa yang terjadi disini?! Keluar kau Uskup Agung sialan!!!" Teriak Angie dengan sangat keras. Akan tetapi, sama sekali tak ada jawaban.
Itu karena seluruh Anggota dari Rebellion sama sekali tidak menyadari, situasi sebenarnya yang sedang mereka alami.
...***...
...Dunia Manusia...
...Katredal Suci...
"Uskup Agung.... Apakah Anda yakin akan membiarkannya seperti itu?" Tanya seorang pendeta dengan jubah putih itu.
Di hadapannya, terlihat sosok Uskup Agung yang sedang membaca kitab suci di hadapan dua orang.
Dua orang itu adalah Angie dan juga Luna yang nampak berdiri tanpa sedikitpun bergerak. Pandangan mata dari dua karakter itu terlihat sangat kosong. Seakan mereka hanyalah boneka kayu yang nampak begitu nyata.
'Tap!'
Sang Uskup Agung pun menutup kitab sucinya dan segera berdiri.
"Tenang saja. Bagi mereka, kematian adalah wujud kebebasan itu sendiri. Sekarang.... Bagaimana penaklukan Kerajaan Monster di Pegunungan Alpa itu?" Tanya Uskup Agung Fransiskus dengan tatapan mata yang tajam sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Sang pendeta muda sebelumnya pun mulai berjalan mengikuti Uskup Agung dari belakang. Bersama dengan puluhan pendeta yang lainnya.
"Semuanya berjalan dengan sangat baik, Uskup Agung. Kami bahkan telah menemukan bukti bahwa Kerajaan Salvation dan juga Kerajaan Farna memiliki hubungan dengan Kerajaan Monster ini." Jelas sang pendeta muda.
"Begitu kah? Jelaskan dengan lebih rinci."
Sang Uskup Agung dan juga para pendeta itu pun meninggalkan Katredal Suci dan juga Ibukota yang telah rata dengan tanah itu.
Termasuk dua orang pemain yang masih terdiam di dalam Katredal suci itu.
__ADS_1
Mereka berdua masih terjebak di dunia ilusi ciptaan Uskup Agung Fransiskus. Entah untuk seberapa lama.