TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 363 - Inquisitor


__ADS_3

...[Kota Mercenary]...


Di tengah alun-alun kota yang sangat ramai ini, terlihat banyak orang berlari kesana kemari. Meski arahnya berbeda, mereka memiliki satu kesamaan. Yaitu berlari untuk menjauhi barisan 50 Inquisitor yang tiba-tiba muncul.


Hanya satu orang saja yang tak lari dari barisan Ksatria berzirah putih itu.


"Jadi.... Apa yang akan kalian lakukan? Membunuhku?" Tanya Elin sambil mengeluarkan dua belati berwarna merah itu. Senyumannya yang begitu indah nampak menghiasi wajahnya.


Inquisitor yang mengenakan jubah itu segera melepas jubahnya. Memperlihatkan zirah putih dengan lambang cahaya emas.


Sambil melangkah maju, Ia pun menjawab pertanyaan Elin.


"Tentu saja. Tak hanya itu, kami juga akan menghancurkan semua yang kau miliki."


"Perkataan yang menarik. Kalian tahu kalau akan bisa bangkit kembali bukan?" Tanya Elin sekali lagis sambil memainkan belati merahnya.


"Meskipun hidup kembali, kau akan tetap menerima konsekuensi yang berat. Dan pada saat itu terjadi, kami akan terus memburumu tanpa ampun."


Dengan balasan itu, Elin memperlebar senyumannya.


"Aah, jadi begitu? Sungguh mengerikan.... Dengan kata lain...."


'Jdaaaarrr!!!'


Sebelum Elin menyelesaikan perkataannya, petir merah yang terang tiba-tiba menyambar tempat Elin berdiri. Petir itu pun nampak menyebar ke beberapa arah.


Tapi ada satu arah yang memiliki kilatan petir merah yang jauh lebih terang daripada yang lainnya.


'Zraasshh! Zraaasshh!! Zraaassshhh!!!'


Hanya dalam waktu kurang dari satu detik, Elin telah berdiri di belakang barisan Inquisitor itu dengan belati merah yang kini dilumuri darah.


"Aku hanya perlu bertahan hidup kan?" Lanjut Elin untuk menyelesaikan perkataannya.


Tapi bersamaan dengan itu, empat orang Inquisitor telah berubah menjadi cahaya putih. Pemimpin regu Inquisitor ini pun mulai merasa ngeri sekaligus menyadari arti penting dari misi yang diembannya.


'Iblis merah.... Jadi begitu. Wajar saja jika Nona Evalina memperingatkan kami tentangnya....' Pikir Inquisitor berjubah itu.


"Jangan panik! Dia hanya sendirian! Angkat perisai kalian dan jangan biarkan iblis itu melewati barisan!" Teriak sang pemimpin regu.


Barisan Inquisitor pun dengan segera rapi. Rasa panik yang mereka alami sebelumnya seakan hilang begitu saja. Hal yang wajar karena Inquisitor adalah prajurit Elit diantara yang paling Elit.


Sementara itu....


'Yang benar saja, bukankah zirah itu terlalu tebal? Aku telah mengayunkan setidaknya 20 tebasan barusan....' Pikir Elin dalam hatinya.


Baginya yang merupakan seorang Assassin, membunuh dalam satu atau dua kali tebasan adalah hal yang harus dimilikinya.


Jika tidak, Elin sendiri akan kalah dalam hal Stamina dan juga ketahanan.


Oleh karena itu, saat ini mata Elin dalam kondisi sangat fokus untuk memperhatikan celah sekecil apapun di dalam barisan pasukan itu. Termasuk juga di zirah mereka.


'Zirah mereka seragam, dengan kata lain....'


'Tap!!!'


Elin pun segera melangkahkan kaki kanannya. Kilatan cahaya merah yang indah segera menghiasi alun-alun kota ini.


'Zraaat! Zraaaattt!'


Dengan gerakannya yang cepat, Elin bergerak kesana kemari sebagai usaha untuk membingungkan barisan lawannya. Pada saat Ia menemukan celah sekecil apapun, Elin takkan ragu untuk menerjangnya.

__ADS_1


'Zraasshh! Zraaassshhh!! Zraassh!!!'


Segera setelah mengayunkan banyak tebasan dan membunuh dua Ksatria, Elin segera mundur dan mengambil jarak aman.


"Pertahankan barisan kalian!" Teriak pemimpin regu Inquisitor itu.


Serangan beruntun yang dilancarkan oleh Elin terus berlangsung selama beberapa menit. Dimana para Inquisitor hanya berada dalam posisi bertahan seakan sedang mempersiapkan sesuatu.


Mereka sama sekali tak membalas dan hanya berdiri tegap menghadapi seluruh serangan Elin.


Semakin lama, para Inquisitor itu mulai terbiasa dengan pola serangan Elin. Membuat mereka mampu bertahan dengan baik.


Tak hanya itu, para Inquisitor itu juga memiliki kemampuan sihir yang cukup tinggi. Setiap luka yang tidak merupakan luka fatal akan segera pulih dengan sihir penyembuh yang mereka gunakan.


Hal itulah yang membuat para Inquisitor ini menjadi Tanker terkuat yang pernah diketahui oleh Benua Tengah.


'Sangat keras.... Zirah sialan itu.... Jika terus begini....' Pikir Elin sambil memandangi belati merahnya. Di pandangannya, terlihat sebagian informasi dari belati itu.


Dan informasi yang paling menarik perhatiannya adalah bagian durabilitas.


...[Durabilitas]...


...[493/2850]...


'Menerima kerusakan sebesar ini hanya dari menyerang zirah itu. Mereka benar-benar monster.....'


Pada saat Elin masih tenggelam dalam pikirannya, barisan Inquisitor itu telah menyelesaikan sihir mereka setelah sekian lama mempersiapkannya. Dengan gerakan yang seragam, mereka mengayunkan pedang mereka ke arah Elin.


"Holy Smite!" Teriak barisan terdepan pasukan Inquisitor itu.


Tebasan cahaya itu menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Baik itu tanah, pagar, maupun manusia.


Termasuk Elin.


Elin yang telah berusaha untuk menghindar sama sekali tak mampu untuk melakukannya. Selain jangkauan serangan yang begitu luas, skill yang setidaknya berada di tingkat Epic atau lebih itu dilakukan oleh 20 orang secara bersamaan.


Menghindarinya saja sudah hampir mustahil dilakukan semenjak skill itu telah diaktifkan.


'Bruuukk!'


Meski begitu, Elin masih mampu menghindari sebagian besar dari serangan itu. Hanya saja, Ia kehilangan lengan kirinya dan juga lebih dari tiga perempat Health Pointnya.


"Hahaha.... Kalian benar-benar merepotkanku kali ini." Ucap Elin sambil tertawa.


Merasa kemenangan sudah di depan mata, sang pemimpin regu Inquisitor itu pun melangkah secara perlahan mendekati Elin.


'Sreeettt!!!'


Pemimpin regu itu mengangkat wajah Elin dan memberikan tatapan yang kejam.


Tanpa berkata-kata, Inquisitor itu mengayunkan pedangnya tepat di leher Elin. Memberikannya kematian secara langsung.


'Zraaaattt!!! Bruuukk!!!'


...[Anda telah menerima penghakiman dari Dewi Celestine!]...


...[Seluruh kejahatan Anda akan dipertanggungjawabkan saat ini juga!]...


...[Restriksi Log In selama 30 hari akan diterapkan!]...


...[43.824 koin emas telah jatuh!]...

__ADS_1


...[Dagger of the Lightning Prince telah jatuh!]...


...[Bersiap untuk melakukan Log Out secara paksa!]...


Tepat sebelum kepalanya yang terlepas itu berubah menjadi cahaya dan kesadarannya dikembalikan ke dunia nyata, Elin terlihat tersenyum lebar.


'Setidaknya, bunuh mereka semua yang ada disini....' Pikir Elin setelah melihat lintasan cahaya di langit.


Dan dengan begitulah, Elin telah memperoleh hukumannya.


"Kerja yang bagus, semuanya! Sekarang kita akan sege...."


Tanpa sempat menyelesaikan perkataannya, tubuh pemimpin regu itu telah terkoyak dan kini memiliki banyak sekali lubang.


Hal yang sama juga terjadi pada seluruh Inquisitor yang lainnya.


Dalam waktu yang singkat, tubuh mereka semua terjatuh ke tanah dengan banyak sekali lubang sebelum akhirnya berubah menjadi cahaya.


Drake yang saat ini telah berada diluar kota dan mengungsikan seluruh penduduk pun melihat lintasan cahaya yang muncul di langit itu.


Akhirnya, Ia memahami apa yang dimaksud oleh Elin.


"Sejak awal, kau hanya ingin menyeret mereka kedalam kematian ya?" Ucap Drake pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah Kota Mercenary itu.


Drake pun segera melanjutkan perjalanan pengungsian itu. Tujuannya adalah sebuah goa yang memiliki akses secara langsung pada lingkaran sihir Teleportasi yang dibangun oleh Eric.


Membawa seluruh penduduk ke tempat yang jauh lebih aman.


Sementara itu....


"Fuuuh.... Nyonya Elin benar-benar kejam." Ucap seorang Pria yang sedang menghisap batang rokok dengan tangan kanannya.


Sedangkan tangan kirinya nampak membawa sebuah busur dengan warna perak dan corak keemasan.


Penampilannya menyerupai seorang Wooden Elf yang ditunjukkan dengan telinga runcingnya yang panjang itu.


'Tapp!! Sruuugg!'


Setelah melempar dan menginjak batang rokoknya, Ia segera membalik badannya dan berjalan menjauhi Kota yang sedari tadi dipandanginya.


Di kejauhan, terlihat puluhan Wooden Elf yang lain berlari sekuat tenaga untuk menggapai tempat Pria itu berada.


"Tetua! Kami akan segera kesana untuk membantu!" Teriak salah seorang Elf yang terlihat masih muda itu.


Tapi Pria itu segera menepisnya.


"Kembalilah! Semua sudah selesai!" Teriak Pria itu dengan wajah yang datar.


Merasa kebingungan, para Wooden Elf yang lainnya pun hanya bisa mematuhi perintah atasan mereka.


'Nyonya Elin, lain kali kabari lebih cepat. Dengan begitu aku takkan terlambat seperti ini.' Pikir Pria itu dalam hatinya. Tangan kirinya nampak menggenggam busur itu dengan kuat karena kekesalan dalam hatinya.


Sebuah kekesalan karena Ia terlambat menyelamatkan Elin.


Segera setelah Elin menyadari mengenai keberadaan Inquisitor di dalam Kota itu, Ia tanpa ragu memberikan kabar kepada para petinggi Wooden Elf untuk membantunya.


Tapi yang bisa sampai pertama kali adalah Pria itu. Meski begitu, Ia pun telah jauh terlambat karena tak ada lingkaran sihir yang langsung menghubungkan Hutan Elf dengan Kota itu.


Pada akhirnya....


Kabar duka mengenai kematian Elin pun menyebar di seluruh wilayah Kerajaan Salvation. Memberikan kebahagiaan dan harapan yang cerah bagi para pedagang.

__ADS_1


Setidaknya untuk 300 hari waktu dunia virtual ini.


__ADS_2