
...- Kuil Naga Api Kuno -...
Dalam kuil yang memiliki fungsi lain sebagai tempat tempa ini, Aamori terus bekerja keras untuk membangun kekuatan yang besar.
Apa yang dibangun olehnya adalah kekuatan ras Fire Draconic yang akan membantunya dalam menentukan nasib akhir dunia ini.
Berbeda dari kebanyak top player yang lain, Aamori sendiri menyatakan bahwa dirinya takkan mendukung pihak manusia maupun pihak iblis. Dengan kata lain, perang antara 3 belah pihak mungkin akan terjadi.
Dan untuk mempersiapkan hal itu....
'Klaangg! Klaaangg!!'
Suara tempaan dari palu besar terdengar begitu keras. Menggema bahkan hingga ke seluruh rentetan pegunungan ini.
Tak hanya suara, tekanan dari setiap pukulan palu itu cukup keras untuk menggetarkan wilayah di sekitar kuil ini. Makhluk apapun yang melewatinya, maka akan merasakan getaran yang sama seperti gempa bumi ringan.
Dan di tengah dari semua itu, terlihat sosok Aamori yang mengenakan pakaian kulit dengan palu berwarna biru yang besar di tangan kanannya.
Tak hanya dirinya saja. Tapi terdapat ratusan Fire Draconic yang lain.
Hanya saja, Ia sendiri yang masih berstatus sebagai manusia di tengah kerumunan Fire Draconic.
"Naikkan apinya lebih panas lagi! Kita takkan bisa menempa Orichalcum dengan api selemah ini! Bagian penempa! Kuatkan pukulan kalian!" Teriak Aamori dengan keras, mengkoordinasikan seluruh Fire Draconic di dalam kuil ini.
Bahkan termasuk Arroth itu sendiri.
Apa yang sedang dikerjakan oleh Aamori hingga membutuhkan tenaga sebanyak dan sebesar ini?
Hal itu tak lain adalah sebuah pedang yang sangat besar. Bahkan sangat besar hingga memiliki panjang sekitar 60 meter dengan lebar lebih dari 8 meter.
Tentu saja pedang itu takkan pernah bisa digunakan oleh Aamori atau siapapun dengan cara yang biasa. Tapi berbeda dengan skill tingkat Mythical yang dimiliki oleh Aamori.
Dengan menciptakan suatu benda melalui proses penempaan, maka Aamori akan memperoleh informasi mengenai struktur benda itu yang dihitung oleh sistem.
Jika informasi itu melebihi 95%, maka skill yang dimilikinya yaitu [Recollection] dan juga [Replication] akan dapat digunakan.
Apa gunanya?
Tentu saja....
Untuk membuat sebuah pedang raksasa jatuh dari langit kapanpun Ia mau selama Mana Point yang dimilikinya masih memadai. Menghancurkan siapapun dan apapun yang harus menghadapinya.
Persenjataan raksasa inilah yang akan membuat Aamori bisa berdiri sebagai pihak yang independen daripada yang lain.
Salah satunya karena Ia memang memiliki kekuatan yang mutlak untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
Lalu mengapa tak memihak manusia?
Jawabannya tentu saja....
Aamori yang telah berhasil selamat dan bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan di dunia nyata, bahkan mampu mengangkat derajat banyak sekali warga di Afrika tengah berkat pekerjaannya di dunia virtual ini, merasa tugasnya sudah terlaksana dengan baik.
Berbeda dengan Eric yang bahkan hingga detik ini masih terus dan akan selalu mengejar kekuatan dan kekayaan di dunia nyata, Aamori tak memiliki banyak hasrat dan keinginan seperti itu.
Selama Ia dan keluarganya bisa hidup dengan baik, maka itu sudah cukup baginya.
Dan sekarang, Ia hanya ingin bersenang-senang dalam dunia virtual ini. Sebuah dunia yang memang sejak awal sebenarnya hanya dibangun untuk membuat orang bisa bermain dan bersenang-senang.
Jika Aamori bergabung dengan pihak manusia, maka kemungkinan Raja Iblis apapun yang keluar dari dunia bawah itu akan menjadi terlalu mudah dikalahkan. Membuat permainan ini tak lagi seru.
Atau setidaknya....
Itulah yang ada dalam pikirannya.
Sambil terus tenggelam dalam semangat membara, menanti hari yang ditentukan itu, Aamori terus menempa pedang raksasanya dengan senyuman.
Dan begitulah, Aamori terus mempersiapkan dirinya dalam kuil naga api kuno itu. Membangun satu demi satu berbagai jenis senjata raksasa yang ada dalam pikirannya.
......***......
...- Lantai 43 -...
Di dalam lokasi penambangan yang telah lama ditinggalkan ini, Angie bergerak hanya sendirian.
11 rekannya yang lain, yang termasuk dalam kelompok Rebellion itu, saat ini sedang sibuk melakukan leveling di tempat yang biasanya.
Sedangkan Angie yang hanya berburu dengan menggunakan panah dinilai hanya akan menghambat pergerakan mereka. Atau setidaknya memperlambat.
Apa yang sedang dilakukannya saat ini?
'Syuuuutt!!!'
Ia terus menerus menembakkan panah di dalam kegelapan ini. Alasannya sangat sederhana. Semakin sulit suatu panah mengenai targetnya, baik itu karena lingkungan ataupun karena jarak, maka nilai Exp yang diperoleh untuk keahlian tersebut akan meningkat dengan drastis.
Begitulah kenapa Ia berburu di tempat yang mengerikan seperti ini.
Ratusan bahkan ribuan kelelawar berterbangan kesana kemari dari satu lorong ke lorong yang lainnya. Sesekali, zombie ataupun Golem akan ditemukan disini.
Tak hanya itu, levelnya juga benar-benar tinggi. Jauh lebih tinggi daripada monster yang biasanya mereka lawan.
Lalu kenapa kelompoknya tak berburu disini?
__ADS_1
Semakin tinggi level monster, maka exp yang diperoleh akan semakin tinggi. Itu adalah pengetahuan dasar yang bahkan anak sekolah dasar pun bisa memahaminya.
Tapi apakah memburunya menghasilkan banyak exp secara efisien?
Peningkatan level monster juga berarti peningkatan kesulitan. Dan pada akhirnya, mereka yang ahli dalam melakukan farming atau grinding monster akan membuat sebuah istilah EXP/Hour atau jumlah exp yang akan diperoleh setiap jamnya.
Hasilnya mungkin akan membuat banyak pemain menengah yang berpikir top player selalu berburu monster paling sulit untuk menaikkan level.
Yang pada kenyataannya, kelompok Rebellion saat ini hanya melakukan perburuan Orc berlevel 170 di wilayah Kekaisaran Avertia.
Alasannya sederhana. Jumlah mereka banyak, sangat mudah untuk dikalahkan, memberikan exp yang cukup untuk melakukan Rebirth di level 151, dan mengalami respawn dengan sangat cepat.
Di atas kertas, itu adalah lokasi farming Exp yang paling sempurna bagi mereka. Tapi melakukannya sebenarnya sangat membosankan karena tak ada hal yang istimewa selain terus membunuh dan membunuh monster tiada henti selama berjam-jam.
Itulah perbedaan yang membuat player casual dengan pro player sangat jauh. Dedikasi mereka untuk sebuah tujuan sangatlah tinggi.
Sama seperti Angie yang saat ini terus menerus mengganti senjatanya dan memburu monster terkuat untuk menaikkan level keahliannya.
Dan ketika level keahlian itu mencapai tingkatan tertentu....
'Tttrriiing!'
Sebuah jendela notifikasi tiba-tiba muncul di hadapan Angie segera setelah Ia menjatuhkan Field Boss di tempat ini hanya dengan anak panahnya.
...[Anda telah mencapai tingkat keahlian yang sangat tinggi dalam memanah!]...
...[Seluruh serangan dengan menggunakan panah akan memperoleh damage tambahan sebesar 5%!]...
...[Gerakan Anda akan menjadi 4% lebih cepat jika menggunakan panah sebagai senjata utama!]...
...[Level memanah Anda telah mencapai maksimum!]...
Hanya kalimat itulah yang muncul pada jendela notifikasi itu. Bonus yang diperoleh memang menarik setelah mencapai level tertinggi dalam sebuah bidang senjata.
Tapi selain itu, tak ada hal lain yang istimewa dari semua ini.
Meski begitu.... Angie terlihat tersenyum dengan sangat puas. Itu karena mungkin.... Ia adalah satu dari dua orang di dunia ini yang mengetahui apa maksud dari pesan itu.
Dan Ia sendiri, telah melihat pesan yang sama beberapa kali.
Yang pertama adalah beberapa saat sebelum dirinya menjadi pendekar tombak legendaris. Dan yang kedua, adalah ketika Ia akan menjadi seorang pendekar pedang legendaris.
Sebuah pesan yang sama, yang terlihat seakan menandakan bahwa perjalanan pengguna suatu senjata tertentu telah sampai di garis finish.
Yang pada kenyataannya, adalah pintu untuk menentukan, siapa yang benar-benar berdedikasi untuk menjadi seorang legenda.
__ADS_1