TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 415 - Musuh Lama


__ADS_3

Tanpa memberikan kesempatan bagi Eric untuk bereaksi sedikit pun, Angie segera melesat ke arahnya.


Tangan kirinya membawa sebuah pedang satu tangan dengan bilah putih cerah, yang dengan cepat diayunkan ke arah leher Eric.


'Blaaaaarrr!!!'


'Cepat sekali?!' Pikir Eric dalam hatinya setelah melihat kecepatan gerak dari Angie barusan.


Wanita itu bukan lagi sosok yang sama seperti apa yang diketahuinya dulu.


Tidak....


Sejak dulu Eric memang tahu bahwa Angie adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ditemuinya. Tapi Ia hanya tak menyangka, bahwa Angie akan berkembang secepat ini.


Dengan ayunan pedang itu, tubuh Eric terlempar cukup jauh. Mungkin sejauh ratusan meter ke belakang.


Hanya saja, tebasan nya sedikit meleset karena reaksi dari Eric. Mengakibatkan Eric hanya menerima luka di bahu kanannya saja.


Meski begitu, damage yang diterimanya sama sekali tak main-main.


[Anda telah menerima 129.135 damage!]


[Anda telah menerima efek pendarahan hebat! Anda akan menerima 5.000 damage per detik!]


Dengan cepat, Eric menggunakan skill [Healing] dan [Cure] untuk menyembuhkan seluruh lukanya.


Tapi saat ini, Eric terpisah cukup jauh dari para bawahannya. Ia tak lagi bisa berlindung di balik perisai tubuh para monsternya.


Mungkin Angie memang mengincar hal itu. Menjauhkan Eric dari kekuatan terbesarnya. Yaitu para monsternya itu sendiri.


Di kejauhan, sosok Angie terlihat berjalan secara perlahan. Senyuman yang lebar nampak menghiasi wajahnya itu.


"Bagaimana, kau setuju dengan pertarungan satu lawan satu bukan?!" Teriak Angie dari kejauhan.


Saat ini, Angie membawa dua senjata berbeda. Yaitu pedang satu tangan di tangan kirinya, serta sebuah tombak di tangan kanannya.


Eric yang tak terbiasa dengan pola pergerakan lincah dari Angie merasa bahwa kombinasi senjata itu sangat merepotkan.


Itu karena tombak memiliki jarak serangan yang sedikit lebih panjang daripada pedang. Dan Eric tak tahu kapan Angie akan menggunakan senjata yang mana.


"Ku pikir kau akan melawanku di akhir?" Tanya Eric sambil tersenyum.


Ia tahu bahwa suatu saat pasti akan berhadapan dengan Angie. Tapi tak disangka olehnya bahwa akan menghadapi Angie langsung di saat Ia baru saja muncul di dunia ini.


"Tidak. Jika aku melakukannya, bukankah manusia takkan memiliki kesempatan untuk menang? Lagipula, aku juga ingin hadiah dari Server setelah mengalahkan mu." Balas Angie yang terus berjalan mendekat.


Kini, mereka berdua berdiri saling berhadapan satu sama lain. Menatap mata lawan mereka dengan serius dan menanti gerakan yang akan dibuatnya.


"Begitu ya? Apakah aku tak bisa meminta keringanan? Kau tahu penyihir sama sekali tak cocok untuk bertarung melawan pendekar dalam jarak dekat bukan?" Tanya Eric.


"Kalau begitu, bisa kah aku meminta keringanan agar kau tak memanggil monster mu?" Balas Angie juga dengan senyuman.


"Maaf, tapi aku tak bisa melakukannya."


"Begitu pula denganku."


Keduanya terdiam selama beberapa saat.

__ADS_1


Sebelum akhirnya, Angie yang memberikan serangan pertama kepada Eric. Dengan ayunan tangan kanannya yang begitu cepat, tombak itu hampir saja memenggal leher Eric.


Untungnya Eric cukup cepat untuk menghindarinya.


Dan sebagai serangan balasan, Eric mengarahkan tongkat sihirnya tepat ke tubuh Angie. Menggunakan sebuah skill dasar yang dianggap sebagai yang paling lemah dalam skill penyihir.


[Magic Bullet]


'Blaaarr!'


Meskipun sangat lemah dan termasuk sebagai skill rendahan, skill itu memiliki satu keunggulan dibanding seluruh skill tingkat tinggi milik Eric.


Yaitu kecepatan aktivasi yang instan. Dengan kata lain, tak perlu banyak menunggu selesainya rapalan sihir atau semacamnya.


Sesaat setelah memikirkannya, skill itu akan segera aktif.


Angie yang sama sekali tak menyangka bahwa skill rendahan itu akan digunakan, harus menerima harga yang cukup mahal.


[Anda telah menerima 48.136 damage!]


Notifikasi sistem itu muncul tepat di hadapan Angie. Tak hanya itu, efek knockback dari skill [Magic Bullet] itu mendorong tubuh Angie ke belakang sejauh beberapa meter.


Tak cukup jauh, tapi sudah cukup untuk memberikan Eric waktu mengaktifkan sihir yang lebih tinggi.


Saat Angie baru saja bersiap untuk menerjang ke arah Eric sekali lagi, semburan api yang panas mulai mengarah tepat ke tubuhnya.


'Swuuuuoooossshhh!!!'


Semburan api itu memberikan damage lebih dari 60.000 setiap 0.2 detik. Melukai karakter Angie dengan cukup parah.


Akan tetapi, Eric sama sekali tak bisa menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Lagipula, musuhnya kali ini adalah Angie.


Dan benar saja.


Secara tiba-tiba, notifikasi damage yang diberikan oleh Eric mulai berhenti.


Eric dengan cepat menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Ia segera menolehkan kepalanya ke berbagai arah untuk mencari keberadaan Angie.


Tapi semua itu telah terlambat.


Dengan menggunakan skill [Air Step] miliknya, Angie mampu menggunakan udara sebagai pijakannya sendiri. Dan kini telah berada tepat di atas Eric.


'Jleebb! Jleebb! Zraaassshh!'


Dengan tiga buah tusukan tombak keemasan itu, Angie berhasil mendaratkan satu serangan telak ke tubuh Eric.


Mengenai tepat di dada kanannya.


[Anda telah menerima 217.859 damage!]


Perbedaan damage yang diberikan olehnya dan yang diterima terlalu besar. Eric menyadari hal itu. Lagipula, penyihir memang bukan lah tipe yang bertarung di garis depan.


Apalagi bertarung satu lawan satu dengan pendekar.


Kekalahannya mungkin sudah dipastikan jika hanya didasarkan dari perbedaan tipe kemampuan mereka.


Akan tetapi, Eric bukan lah seorang penyihir. Melainkan seorang penguasa Dungeon.

__ADS_1


Dan kesalahan bagi seorang penguasa Dungeon untuk bertarung di luar wilayahnya.


Oleh karena itu....


'Zraaaattt!'


Sebuah lingkaran sihir secara tiba-tiba muncul di tanah tempat keduanya berdiri. Dan dalam sekejap, sebuah kubus hitam mulai muncul. Menelan keduanya di dalamnya.


Membawa mereka ke dalam salah satu Dungeon milik Eric.


Angie yang menyadari bahwa semua pemandangan di sekitarnya mulai berubah segera berhenti melangkah dan mempersiapkan dirinya.


Langit mulai berubah warna menjadi merah darah. Dengan hamparan tanah gersang di segala penjuru.


Ia sama sekali tak mengenali Dungeon ini.


Lebih tepatnya....


"Ini termasuk sebuah Dungeon?" Tanya Angie.


Beberapa kali Ia mengalihkan pandangannya. Tapi tetap saja Angie tak mampu untuk menemukan keberadaan Eric dimanapun.


Terlebih lagi, Dungeon ini terlalu luas. Lebih tepat jika menyebut tempat ini sebagai dunia jika dibandingkan dengan sebuah Dungeon.


"Kau menyukainya?" Tanya Eric dengan suara yang seakan dekat dengannya.


Tapi seberapa banyak pun Angie mencari, Ia tak bisa menemukan Eric.


"Dimana ini?" Tanya Angie.


Kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi. Angie sendiri sudah mengetahui bahwa Eric adalah lawan yang sangat merepotkan jika berhasil membawanya ke dalam Dungeon.


Itu lah kenapa Angie bermaksud untuk membunuh Eric secepat mungkin sebelum hal itu terjadi.


"Selamat datang di Dungeon terbaikku." Balas Eric singkat.


Angie merasa kebingungan. Tak ada apapun di sekitar tempatnya berada selain hamparan tanah gersang yang begitu luas.


Akan tetapi, jika Eric mengatakan bahwa ini adalah Dungeon terbaiknya maka....


"Jangan katakan bahwa ini...." Ucap Angie dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Kau benar. Ini adalah Dungeon terbesar yang ku miliki. Sebuah Dungeon yang mencakup keseluruhan wilayah kekuasaanku di dunia Iblis. Termasuk apapun yang ada di dalamnya." Balas Eric.


Seketika, wajah Angie mulai menunjukkan senyuman. Bahkan Ia mulai tertawa.


Eric yang melihat hal itu dari balik kastil utamanya yang begitu jauh merasa kebingungan dan bertanya.


"Apanya yang lucu?"


"Tidak.... Eric. Aku hanya ingin berterimakasih padamu." Balas Angie.


"Berterimakasih? Kenapa?"


"Karena mengetahui ini bukan lagi di dunia manusia, maka aku tak perlu segan-segan untuk menahan kekuatanku. Aturan para Guardian, kau tahu? Tapi jika di sini, aku tak perlu ragu untuk menghancurkan semuanya bukan?"


Mendengar jawaban itu, Eric menjadi bertanya-tanya atas pilihannya.

__ADS_1


Apakah membawa Angie ke dalam dunia ini adalah sebuah keputusan yang tepat, atau justru menjadi kesalahan terbesarnya?


__ADS_2