TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 358 - Awal Ekspedisi


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Selatan...


Setelah memanfaatkan kemampuan pengintaian dari Verara, tim ekspedisi yang dipimpin oleh Eric kini telah menyadari setidaknya satu hal.


Yaitu sebuah kenyataan bahwa mereka berada di bagian paling Selatan dari Benua Tengah di Dunia Iblis. Jika dibandingkan dengan peta Dunia Manusia, maka tim ekspedisi Eric dan seluruh Dungeon persembunyiannya berada di wilayah paling Selatan Kekaisaran Avertia.


"Tuanku. Terlihat gerombolan demon di depan." Ucap Verara sambil segera turun ke tanah.


"Jumlahnya?" Balas Eric singkat.


"Sekitar dua ratus."


Mendengar jawaban itu, Eric hanya menghela nafasnya sambil mengangkat tongkat sihirnya [Oracle Staff] ke depan.


"Fireball." Ucap Eric singkat.


Seketika, lingkaran sihir dengan ukuran yang sangat besar muncul di depan tongkat sihir Eric. Menghasilkan sebuah bola api raksasa yang menyapu bersih apapun yang ada di jalurnya sejauh 200 meter lebih.


[Anda telah memberikan .... ]


[Anda telah membunuh .... ]


[Anda telah mendapatkan .... ]


Rentetan notifikasi nampak menutupi pandangan Eric. Sebuah hal yang bahkan lebih berbahaya daripada sekumpulan demon yang menghalangi jalannya.


"Verara, kau memang masih pertama kali bertualang denganku. Jadi aku akan memakluminya kali ini. Kedepannya, tolong jangan laporkan hal sepele seperti itu." Jelas Eric sambil menurunkan kembali tongkat sihirnya.


Kini di hadapan mereka, tanah tandus yang bahkan tak ada sedikitpun tumbuhan yang bisa hidup itu, membentuk cekungan yang masih meninggalkan bekas api merah. Tanahnya pun menghitam karena kobaran api itu.


Tak menunggu respon dari Verara, Eric segera kembali melangkah dengan santai.


Ia tak ingin melewatkan sedikitpun detail dari dunia iblis ini. Itulah mengapa Eric memilih melakukan ekspedisi secara perlahan sambil terus menambah pengetahuannya di dunia ini.


Mungkin saja....


Mungkin saja Eric dapat memanfaatkannya di kemudian hari. Itulah yang menjadi dasar pikirannya.


Sementara itu, Verara nampak sedikit menundukkan kepalanya. Terdiam di tempat yang sama selama beberapa saat.


'Tap!'


Lucien terlihat menghampiri Verara dan menepuk pundaknya.


Sebagai senior yang baik, Lucien pun mengeluarkan satu dua nasehat untuk Verara.


"Fufufu.... Menyedihkan sekali. Jika kau masih takut dengan monster lemah seperti itu, jangan perkenalkan dirimu sebagai bawahan Tuan Eric." Ucap Lucien sebelum tubuhnya menghilang dan berubah menjadi gas hitam lalu tiba-tiba berada di samping tubuh Eric.


Tentu saja, mendengar pernyataan seperti itu membuat siapapun akan merasa semakin kesal.


Tapi setelah melihat langsung kekuatan dari Eric, yang bahkan mampu mengubah skill tingkat Normal menjadi senjata mematikan, tak hanya dirinya. Tapi Tharkas dan Rilette hanya bisa terkagum-kagum dan semakin menghormati Eric.


Jika bukan karena Legendary Skill [Dungeon Master] milik Eric, mereka mungkin telah lama meninggalkan regu ini. Tapi dengan adanya skill itu, afinitas seluruh monster bawahannya selalu berada di titik maksimum apapun yang terjadi.


Perjalanan yang panjang dan lama mereka berlima pun terus berlanjut....


...***...

__ADS_1


...Dunia Iblis...


...Wilayah Selatan Benua Tengah...


Setelah perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga hari, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat. Tapi cukup salah untuk menyebutnya tiba seakan mereka telah mengetahui lokasi tempat ini.


Lebih tepat jika menyebut Eric dan timnya tak sengaja menemukan sebuah reruntuhan.


"Tuanku, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Lucien kepada Eric yang nampak masih memperhatikan informasi reruntuhan yang ada di hadapannya.


...[Dragon's Lair]...


...[Special Dungeon]...


...[Boss : Old Dragon]...


...[Rekomendasi Level : 750]...


...[Rekomendasi Party : 8 Orang atau lebih]...


...[Hadiah]...


...[250.000 Koin Emas]...


...[Peti Berlian]...


...[Legendary Passive Skill : Dragon's Skin]...


Jendela informasi ini diperhatikan oleh Eric dengan sangat seksama.


Ketiga anggota tim baru itu hanya terdiam memperhatikan Eric dan Lucien yang berdiri berdampingan. Mereka tak berani untuk melakukan hal apapun karena masih merasa takut membuat kesalahan.


'Tap!'


...[Old Dragon]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Level : 950]...


Health Point : 5.000.000.000


Mana Point : 750.000.000


Stamina Point : 500.000.000


Attack Power : 800.000


Magic Power : 1.200.000


Defense : 2.000.000


'Yang benar saja.... Aku tak begitu masalah dengan damage yang mungkin dia berikan. Tapi defense setinggi itu....' Pikir Eric dalam hatinya


Setelah Eric memikirkannya selama beberapa menit, Ia akhirnya telah memutuskan. Tapi sebelumnya....


"Lucien. Apakah kau sudah siap mati?" Tanya Eric dengan wajah yang cukup datar.


Dengan senyuman yang lebar, Lucien dengan segera menjawab sambil sedikit menundukkan badannya.

__ADS_1


"Fufufu.... Dengan senang hati. Berikan saja perintahmu, Tuanku."


Mendengar jawaban itu, Eric terlihat tersenyum tipis lalu kembali menanyakan pertanyaan yang sama ke Tharkas, Rilette, dan Verara.


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Eric sambil tersenyum tipis.


"Jika itu keinginan Tuanku, maka dengan senang hati untuk menghadapinya." Jawab mereka bertiga bersamaan.


"Bagus! Kalau begitu, mari kita memburu naga!" Teriak Eric sambil segera memasuki reruntuhan itu dan pergi ke bawah tanah.


...***...


...Dunia Manusia...


...Wilayah Kerajaan Salvation...


Di tengah kota kecil yang memiliki dinding kayu itu, kini sedang melakukan pembangunan ulang.


Hampir seluruh penduduk nampak berlatih menggunakan senjata baik itu pedang, tombak, ataupun panah. Sedangkan untuk para pemain yang cukup sial untuk berada disini, mereka akan dibunuh atau diusir.


Di bawah pimpinan Elin secara langsung, Kota yang bernama Logunum ini mengalami perubahan yang sangat drastis.


Sedangkan di dalam balai kota itu....


"Nyonya Elin. Aku ingin bertanya, mengapa Anda tak menggunakan pasukan monster itu? Kurasa memanfaatkan mereka sebagai pasukan lebih efisien daripada melatih penduduk seperti ini. Sama seperti yang Anda lakukan sebelumnya selama pertempuran." Tanya salah seorang petinggi dari kelompok Elin.


Mengubah posisi duduknya, Elin pun segera menjawab.


"Pertanyaan yang bodoh. Apakah kalian buta peta? Kalian pikir siapa yang akan kita lawan jika mengumpulkan monster sebanyak itu? Celestine!" Teriak Elin dengan wajah yang serius.


Wajah mereka semua pun menjadi tegang. Mengingat bahwa reformasi besar mengenai pandangan mereka terhadap monster baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu dalam waktu dunia game, tentu saja tak ada orang yang ingin berurusan dengan para Inquisitor.


Semua itu dikarenakan Evalina, sang Inquisitor peringkat tertinggi dan dukungan Alice, Inquisitor yang meraih peringkat dua dalam waktu yang sangat singkat.


Berkat mereka berdua, kini pelatihan dan seleksi Inquisitor menjadi jauh lebih berat dan lebih ketat daripada yang sebelumnya. Meningkatkan kekuatan para Inquisitor dengan sangat drastis.


Terlebih lagi, kehancuran besar yang terjadi pada pasukan mereka ketika berusaha menaklukkan Kota Lesta membuat para Inquisitor memiliki kenangan yang sangat pahit


Dan kini, mereka bukan hanya pembawa pesan Dewi Celestine.


Melainkan jagal atau pembawa kematian itu sendiri.


"Sudah mengerti? Jika hanya menggunakan pasukan manusia, lawan yang mungkin kita hadapi hanyalah Kerajaan ini saja." Lanjut Elin.


"Lalu mengenai monster yang Anda gunakan saat penyerangan kota ini?"


"Itulah salah satu kesalahanku. Mungkin.... Salah satu dari mereka akan segera kemari. Atau lebih buruk lagi, mereka telah ada di Kota ini." Jawab Elin sambil memandangi lukisan Dewi Celestine di dinding Balai Kota ini.


Di pasar Kota ini....


Dimana banyak orang nampak sedang sibuk memperjualbelikan barang....


Terlihat seorang petualang yang cukup aneh. Ia mengenakan jubah kecoklatan yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dari kepala hingga kakinya.


Meski begitu, angin yang berhembus sesekali memperlihatkan zirah perak yang indah, serta pedang dengan sarung keemasan di pinggangnya.


Walaupun hanya sekilas, siapapun yang melihatnya akan segera tersadar.


Tersadar bahwa sebuah lambang yang ada di sarung pedang itu, lambang cahaya emas, adalah pertanda dari kematian itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2