
"Lucien, aku akan pergi. Aku sudah terlalu lama disini." Ucap Eric sambil menekan beberapa tombol di jendela menu.
"Serahkan saja padaku sisanya, Tuanku. Aku pasti akan...."
'Bruk!'
"Tuan Eric, kami pasti akan bertahan hingga kau kembali. Tenang saja." Ucap Cathy menyela perkataan Lucien sambil memukulnya.
Dengan senyuman yang tipis, Eric pun akhirnya meninggalkan dunia virtual ini dan kembali ke dunia nyata.
...***...
...Dunia Nyata...
...Kediaman Eric...
'Bzzzzzttt!!!'
Suara mesin Full Dive VR yang sedang membuka pintunya itu terdengar ringan di dalam ruangan yang cukup besar ini.
Dari balik pintu itu, muncul sosok seorang Pria berambut hitam yang tak lain adalah Eric.
"Hah.... Entah kenapa aku selalu terkena banyak sekali masalah. Bisakah aku bertahan hidup di tempat mengerikan itu?" Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil menghela nafasnya.
Tapi pada saat Ia mengalihkan pandangannya, terlihat sosok seorang Wanita dengan rambut hitam yang mengenai bahunya. Wanita itu nampak sedang menggendong seorang bayi.
"Kau cukup lama hari ini. Apakah ada masalah?" Tanya Wanita yang tak lain adalah Elin.
Eric pun segera mempercepat langkah kakinya menuju Elin dan putrinya, Silvia.
Eric nampak membelai lembut tubuh mungil putrinya itu sebelum menjawab pertanyaan dari Elin.
"Cukup buruk. Alih-alih mengalahkan salah satu raja iblis, aku justru menciptakan sesuatu yg lebih kuat. Bagaimana denganmu? Aku lihat kau mulai kembali bermain akhir-akhir ini." Tanya Eric sambil terus bermain dengan putrinya itu.
"Aku sedang membangun ulang kekuatan. Guild Merah Putih juga melakukan hal yang sama dengan membaur di seluruh dunia." Jawab Elin dengan tenang.
Pada akhirnya, mereka berdua pun menghabiskan waktu semalam untuk saling berbagi cerita mengenai apa saja yang telah mereka alami.
Meski berada di dalam dunia virtual yang sama, keduanya tak mampu saling bertemu karena perbedaan tempat.
Oleh karena itu....
"Haruskah aku mengirim orang untuk membantumu? Aku yakin Scarlet atau Nico akan menjadi bantuan yang kuat untukmu."
Mendengar tawaran Eric, Elin hanya menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Aku ingin menggunakan caraku sendiri." Jawab Elin singkat.
__ADS_1
Hari pun telah terlalu malam. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk segera tidur karena pagi hari adalah waktunya untuk bekerja.
...***...
...Kulon Progo...
...Kantor Cabang Grandia Group...
...Bagian Konstruksi...
Beberapa hari telah berlalu.
Masalah baru pun tiba seakan tak ingin membiarkan Eric beristirahat. Parahnya lagi, masalah yang muncul kali ini sangatlah besar.
Hari sebelumnya, tepat pukul 10.00 WIB, Eric dipanggil untuk menghadap salah satu Menteri yaitu Menteri Perhubungan. Alasannya sangat sederhana, yaitu untuk memberikan ucapan selamat kepada Eric dan menawarkan sebuah kontrak kerjasama yang sangat menguntungkan.
Tapi kenyataannya jauh dari itu. Kontrak yang ditawarkan hanya membuat Eric dalam kerugian yang besar.
"Sebagai salah satu Pemuda terkaya di Indonesia, aku yakin kau akan menerima dan menyelesaikan proyek ini kan?"
Ucapan Menteri Perhubungan itu masih terngiang-ngiang di kepala Eric hingga saat ini.
Meski begitu....
Eric berjalan dengan tenang melalui banyak sekali material bangunan dan juga struktur bangunan yang begitu besar dan kokoh.
Sesekali, Eric beruntung dapat melihat manusia lain selain dirinya dan tiga orang yang mendampinginya melewati pabrik konstruksi yang begitu besar ini.
"Tuan Eric. Mengenai tawaran kontrak kerja dengan pemerintahan untuk membangun terowongan bawah tanah itu.... Apakah sebaiknya kita menolaknya?" Tanya Lisa yang tak lain adalah asisten Eric yang paling terpercaya.
Dua orang lainnya yang berdiri di belakang Lisa merupakan sosok penasehat keuangan yang mengurus berbagai masalah keuangan Grandia Group. Hal yang wajar mengingat betapa besarnya perusahaan ini saat ini, maka tangan dan kaki kedua sangatlah dibutuhkan untuk meringankan pekerjaan Eric.
Kedua orang itu nampak sibuk dengan tablet yang dihadapannya. Dengan lirikan yang ringan, semua orang bisa melihat bahwa mereka nampak melakukan kalkulasi yang rumit di dalam tablet itu.
"Mengapa kau berpikir seperti itu, Lisa?" Tanya Eric sambil terus berjalan melewati semua mesin di dalam pabrik raksasa ini.
Memberanikan dirinya, Lisa pun segera mengutarakan pendapatnya.
"Tawaran itu sangat tidak masuk akal! Berapa kali pun kami mencoba menghitungnya, bahkan dengan menurunkan kualitas serendah apapun, kita masih akan mengalami kerugian sebesar 19 Triliun Rupiah! Hal ini sangat tidak masuk akal!" Teriak Lisa dengan kesal.
Sebuah sikap yang sangat jarang diperlihatkan oleh Lisa yang biasanya begitu tenang dan sangat rasional.
"Kami setuju dengan pendapat Nona Lisa. Tawaran itu hanyalah sebuah hukuman bagi Anda, Tuan Eric. Pemerintah seakan tidak ingin Anda menjadi terlalu kuat." Sambung salah satu penasehat keuangan itu.
"Mengingat betapa besarnya pengaruh Anda di Indonesia saat ini, mungkin mereka berusaha untuk setidaknya melakukan satu dari dua hal. Memanfaatkan atau menjatuhkan Anda." Sambung penasehat keuangan yang lain.
Meski tak ingin, Eric secara terpaksa setuju dengan perkataan dua orang itu. Termasuk Lisa.
__ADS_1
Setelah perjuangan kerasnya untuk membangun kekayaan hingga saat ini, musuh terbesarnya justru adalah pemerintah yang ada di negaranya.
Jika Eric menolak tawaran kontrak kerja ini, maka Eric akan kehilangan pengaruhnya. Sebenarnya bukan hal yang besar. Tapi suatu saat akan menjadi masalah karena pemerintahan mungkin tidak mau mendukung dan menolong Eric di masa depan jika terjadi suatu hal.
Sementara itu jika Eric menerima tawaran kontrak kerja ini, Eric akan kehilangan lebih dari 80% total kekayaannya karena kerugian yang diderita. Meski begitu, pemerintahan akan memiliki hutang budi kepada Eric. Membuat Eric memiliki senjata di kala masa sulit.
Sebuah kondisi yang menyulitkan untuk dipilih bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, bagi Eric....
"Jawabanku tidak akan pernah berubah. Aku akan membangunnya. Oleh karena itu aku kemari."
Lisa dan dua orang penasehat itu pun menggigit bibir mereka masing-masing karena tidak setuju dengan pilihan Eric.
Tapi di saat mereka kebingungan....
"Tenang saja. Bukan berarti aku akan melakukannya tanpa perlawanan. Lisa, bagaimana kondisi pembangkit listrik yang kita bangun di Afrika?" Tanya Eric sambil tersenyum puas.
Mendengar pertanyaan itu, Lisa nampak sedikit terkejut.
"Ba-bagaimana kondisinya? Tentu saja dalam kondisi yang sangat baik. Pembangkit listrik tenaga Surya itu mampu menghasilkan sekitar 3.000 MWh lebih dan...."
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Eric segera berbicara.
"Bagus. Dengan begitu, membangun kompleks pabrik raksasa di sana akan sangat menguntungkan. Biarkan saja kerugian terowongan bawah tanah ini terjadi. Tapi kita akan mempersiapkan sesuatu yang bahkan dapat memaksa pemerintahan untuk diam." Jelas Eric sambil tersenyum lebar.
Mereka berempat pun akhirnya tiba di suatu elevator raksasa yang hanya dibatasi pagar besi.
Secara perlahan, elevator itu mulai turun dan memperlihatkan pemandangan mengerikan yang ada di bawah tanah pabrik raksasa itu.
"Tuan Eric.... Jangan katakan bahwa kau...."
Di bawah pandangan mereka, terlihat barisan logam besar yang berbentuk balok. Cahaya biru yang indah, serta alur yang rumit nampak menghiasi logam itu.
Ukuran tiap logam itu mencapai 1 x 1 x 3 meter. Dan semua logam yang sebenarnya adalah baterai raksasa itu tersusun dengan sangat rapi dan dijaga oleh banyak Drone yang dikendalikan oleh penjaga terpilih.
"Orang yang menguasai energi akan menguasai dunia ini. Aku harus berterimakasih banyak kepada para peneliti yang menemukan hal ini." Jelas Eric sambil tersenyum puas.
Sementara itu, dua orang penasehat keuangan yang mengikuti Eric dan Lisa nampak gemetar. Mereka berdua merasa merinding terhadap apa yang baru saja mereka lihat.
"Setiap baterai raksasa itu, memiliki daya yang cukup untuk memberikan listrik kepada sebuah desa selama satu tahun. Dan saat ini, kita telah menyiapkan sekitar 2.000 baterai." Lanjut Eric sambil menunggu elevator itu sampai di lantai terbawah ruangan raksasa ini.
'Glek!'
"Ja-jangan katakan bahwa semua ini...." Ucap salah seorang penasehat keuangan itu.
Seakan memahami pertanyaannya, Eric memberikan gestur untuk diam dan segera menjawab.
"Harta yang tidak dilaporkan." Ucap Eric dengan senyuman yang terlihat begitu licik.
__ADS_1