TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 360.5 - Sisi Lain


__ADS_3

...[Iklan dulu, sekaligus refreshing....


...Silakan di skip bagi yang tidak berminat]...


...Dunia Virtual Re:Life...


...Tempat yang tidak diketahui...


Di tengah perbukitan yang hijau ini, terdapat beberapa orang yang berdiri dengan wajah tertunduk ke tanah.


Bukan karena merasa malu ataupun takut. Melainkan memandangi rekan-rekan mereka yang telah tiada.


Setelah pertempuran yang sangat besar antara pasukan Vincent dengan pasukan gabungan di bawah perintah Kaisar Abadi Yin Zhen, yang tersisa di Medan pertempuran ini hanyalah kematian.


Ratusan ribu lebih prajurit yang bertempur untuk tujuan dan keinginan mereka masing-masing, kini telah menemui ujung perjuangan mereka.


Tergeletak tak berdaya, semua hanya menanti entah hewan buas atau serangga memakan tubuh mereka.


Di puncak bukit itu, terlihat sosok Vincent yang berlutut di hadapan salah seorang korban jiwa pertempuran ini.


"Kau sudah berjuang dengan baik, Gus. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang." Ucap Vincent sambil memejamkan mata tubuh seorang Prajurit yang nampak cukup tua itu.


Keheningan menyelimuti seluruh perbukitan ini. Ratusan orang nampak berjalan kesana kemari, memperhatikan jasad setiap orang yang tergeletak di tanah. Berharap mungkin saja, mereka akan menemukan kawan atau saudara mereka disana.


Seorang wanita nampak melangkah dengan anggun di tengah tanah yang bermandikan darah itu. Mendekati sosok pemimpin mereka semua, Vincent.


"Yang Mulia...." Ucap wanita itu dengan suara yang lirih. Pandangannya pun terus menatap tanah, seakan melihat mayat yang penuh dengan darah itu lebih mudah daripada melihat sosok Tuannya yang terlihat cukup terpuruk.


"Ah, Jiao Lian. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Terlebih lagi, apakah masih ada pasukan musuh yang lain?" Tanya Vincent sambil segera berdiri dan membalik badannya.


Menundukkan kepalanya lebih rendah ke tanah, pelayan Vincent itu menjawab dengan suara yang sangat lirih.


"Ada...."


Meskipun sangat lirih, tapi di tengah kesunyian yang dipenuhi kematian ini, Vincent mampu mendengarnya dengan jelas.


Tanpa menjawab, Vincent mengenggam pedang satu tangan di pinggangnya dengan erat.


Zirah sisiknya yang berwarna hitam dengan jubah hitam yang memiliki alur emas itu nampak begitu elegan dengan Vincent. Sangat cocok dengan rambut hitamnya yang cukup panjang itu.


Setelah beberapa detik mempersiapkan dirinya, Vincent segera memberikan perintah kepada seluruh prajuritnya yang tersisa.

__ADS_1


"Perhatian semuanya! Lawan masih menginginkan kematian kita! Apakah kalian akan menyerahkannya begitu saja?! Jika iya, berdirilah di depanku dan aku akan memenggal kepala kalian saat ini juga! Lebih baik mati ditangan ku daripada di tangan para penjilat kaisar itu!


Tapi, jika kalian tidak ingin mati, angkatlah senjata kalian! Angkatlah kaki kalian! Berbaris lah bersamaku dan sambut kematian itu dengan perasaan penuh kebanggaan!"


Teriakan Vincent itu memecah kesunyian di tengah bukit mayat ini.


Semua orang tergerak.


Semua orang segera berdiri.


Mereka meninggalkan seluruh kawan dan saudara mereka yang bahkan belum dimakamkan dengan layak. Semua itu hanya untuk berbaris di samping Raja mereka, Vincent.


Jumlah mereka sama sekali tak banyak. Yang tersisa dari pertempuran berdarah itu hanyalah 142 orang saja. Termasuk Vincent dan pelayannya, Jiao Lian.


Meski begitu, barisan mereka begitu rapi. Seluruh orang yang tersisa membuat dua buah baris yang berdekatan satu sama lainnya. Semuanya menghadap ke arah 5.000 prajurit yang sedang berlari ke arah mereka.


Barisan depan nampak berlutut dengan satu kaki. Sedangkan barisan belakang nampak berdiri dengan tegak.


Vincent sendiri berada di barisan depan di bagian tengah. Dengan kemampuan pengamatannya, Ia segera memahami kondisi pertempuran baru yang akan terjadi ini.


"Jarak lawan masih cukup jauh! Persiapkan senjata kalian dan tunggu aba-aba dariku!" Teriak Vincent dengan suara yang begitu lantang.


Seluruh prajuritnya pun segera memenuhi perintah Vincent dengan cepat meskipun mereka sangat kelelahan.


'Graakk!!!'


Dengan gerakan yang rapi, mereka menarik senjata mereka yang digantungkan pada badan mereka.


Senjata itu cukup aneh bagi semua orang yang ada di dunia ini.


Sebuah senjata dengan bentuk yang menyerupai pipa besi yang cukup panjang, lalu dilapisi dengan kayu yang kokoh. Senjata itu cukup berat sehingga digunakan dengan dua tangan.


Tangan kiri mereka memegang bagian yang dekat dengan ujung senjata itu, sedangkan tangan kanannya menumpu beban dengan jari telunjuk yang menyentuh suatu logam.


Itulah senjata api.


Sebuah senjata yang memberikan kekuatan besar bahkan bagi prajurit terlemah sekalipun. Dan senjata itu juga, yang membuat Vincent dan seluruh pengikutnya terus menerus diburu di Benua ini.


Berbeda dengan dunia yang dimainkan oleh seluruh pemain di dunia, tempat Vincent berada memiliki energi sihir yang sangat minim. Membuat sihir hampir tak berguna di tempat ini.


Level, Growth, Skill.... Semuanya tak berguna di dunia yang memukul rata semua orang ini.

__ADS_1


"Tuanku...." Ucap Jiao Lian dengan wajah yang khawatir.


"Aku tahu. Kita sudah kehabisan batu sihir kan? Tak perlu mengatakannya dengan keras." Balas Vincent tanpa merubah pandangannya.


Meskipun dunia ini memiliki sihir yang sangat lemah, bukan berarti tak ada.


Vincent dengan kelihaiannya berhasil mengamankan batu sihir yang sangat dikuasai oleh penguasa di daerah ini. Termasuk juga mengembangkan senjata yang belum pernah ada di dunia ini, senjata api.


Dan dengan modal itulah, Ia berani mengarahkan taringnya kepada para penguasa di dunia ini.


Pada saat Vincent merasa bahwa jarak antara barisan pasukan lawan dengan tembakannya sudah cukup....


"Tembak!" Teriak Vincent dengan keras.


'DUAAARRR!!!'


Suara bagai gemuruh itu terdengar memekikkan tak hanya telinga pasukan Vincent, tapi juga pasukan lawannya.


Bersamaan dengan asap yang muncul dari ujung senjata api itu, lontaran bola besi berukuran sebesar kelereng itu melesat dengan sangat cepat ke arah lawannya.


Kecepatan tembakan itu jauh melampaui tembakan yang sebenarnya di dunia nyata. Pasalnya, Vincent tak menggunakan bubuk mesiu. Melainkan meledakkan batu sihir di dalam senapan itu untuk melontarkan bola besi.


Tentu saja, dengan kecepatan yang tinggi maka juga muncul daya hancur yang sangat besar.


'Blaaarrr! Kreetaaakkk! Praaakkk!!!'


Suara hancurnya zirah sisik itu terdengar begitu indah. Begitu juga dengan perisai kayu yang mereka arahkan ke depan untuk menahan tembakan pasukan Vincent itu.


Hanya dengan satu kali tembakan itu, setidaknya seratus orang mati seketika, dan puluhan lainnya menderita luka parah.


Menghasilkan suasana panik yang begitu hebat di barisan pasukan lawan.


"Segera isi kembali pelurunya!" Teriak Vincent dengan keras. Semua prajuritnya pun segera menuruti perintah Vincent dan melakukan isi ulang dengan cepat.


Tapi tanpa diberi tahu sekalipun, mereka semua tahu.


Bahwa jumlah batu sihir yang mereka miliki hanya tersisa sangat sedikit.


Dengan kata lain....


Hampir dipastikan bahwa mereka semua akan mati di tempat ini.

__ADS_1


Dengan menahan perasaan itu, mereka melanjutkan pertempuran hingga titik darah penghabisan.


__ADS_2