TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 311 - Kenyataan


__ADS_3

"Terimakasih banyak atas bantuanmu, Belphegor." Ucap Sierra sambil mengulurkan tangan kanannya. Sedangkan tombak terkutuknya itu seakan hilang ditelan kegelapan.


Mendengar perkataan itu, Belphegor segera memutar badannya dan menjabat tangan Sierra.


"Jika bukan karena regenerasinya, kau takkan sedikitpun kesulitan dalam melawannya. Aku hanya kebetulan memiliki kemampuan yang tepat untuk itu." Balas Belphegor dengan senyuman tipis dan tatapan mata yang sayu.


Sierra sedikit menundukkan kepalanya mendengar kenyataan yang pahit itu. Ia sadar bahwa dirinya hanya memiliki kekuatan utama dalam pertarungan satu lawan satu dengan perbedaan ukuran tubuh yang tak terlalu jauh.


Jika melawan Belphegor saat ini, Sierra bahkan memiliki kemungkinan untuk menang.


Akan tetapi melawan monster yang bahkan jauh lebih besar daripada ukuran kota?


Sierra tak memiliki Skill ataupun kemampuan dengan jangkauan seluas itu. Ditambah lagi dengan regenerasinya yang begitu cepat.


'Aku masih perlu banyak belajar....' Pikir Sierra dalam hatinya setelah mendengar perkataan dari Belphegor.


Segera setelah itu, Belphegor mengepakkan sayap iblisnya dan segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan retakan tanah yang masih terbakar oleh api biru yang sangat panas itu.


"Pastikan Asmodeus telah mati sebelum pergi!" Teriak Belphegor dari kejauhan.


Sierra hanya mengepalkan tangannya mendengar ucapan itu.


'Hanya dalam 100 tahun lebih, dia telah menjadi sekuat ini? Bukankah sebaiknya Ia melepas gelar pemalasnya?' Pikir Sierra dalam hati memperhatikan sosok Belphegor yang terus menjauh.


Meski begitu, Sierra segera menepis pemikirannya yang tidak berguna dan segera memandangi wilayah di sekitarnya.


"Jadi semuanya telah mati.... Lagipula melawan makhluk seperti itu, tentu saja takkan ada yang selamat. Bagaimana dengan regu pengejar para petinggi Iblis bernama Eric itu?" Ucap Sierra pada dirinya sendiri sambil terus berjalan mendekati ngarai tempat Asmodeus terkubur hidup-hidup.


Detik menjadi menit....


Menit menjadi jam....


Hingga akhirnya setelah beberapa jam, Sierra berhasil menemukannya.


Sosok seorang wanita berambut pirang yang berusaha merangkak dari bawah bebatuan yang besar itu.


Pakaiannya rusak parah. Sedangkan tubuhnya dipenuhi dengan darah.


Gaun indah yang biasanya membalut tubuh wanita itu, kini lebih menyerupai kain lusuh yang compang-camping.


Sedangkan penampilannya yang selalu anggun dan elegan itu, telah diganti dengan penampilan yang begitu buruk. Tubuh yang dipenuhi luka serta rambut yang tak lagi rapi.


Dari bibirnya yang sudah mulai pucat itu, terdengar suara yang sangat lirih hingga Sierra sekalipun tak mampu mendengarnya.


"Lucien.... Eric.... Kabari dia.... Pergilah sejauh mungkin.... Tempat ini.... Terlalu berbahaya...."


'Tap! Tap! Kreekk!'


Langkah kaki yang cukup berat terdengar semakin mendekat ke arah Wanita berambut pirang itu.


Setiap langkahnya menghancurkan bebatuan yang dilewatinya.


Dengan zirah bersisik yang serba hitam, Ia terus menerus memperpendek jaraknya dengan wanita yang terjebak oleh bebatuan itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya, kini Ia berdiri tepat di depan wanita itu.


"Bagaimana kabarmu, wahai Ratu Iblis yang Agung, Asmodeus? Sepertinya tidak terlalu baik ya? Apakah ini akibat dari melepaskan monster raksasa itu?" Tanya Sierra dengan tatapan yang sangat tajam.


Deus sendiri terlihat tak mau mendengar perkataannya. Atau mungkin.... Tidak mampu mendengarnya.


Ia terus berusaha untuk merangkak keluar dari batuan besar yang menjebak dirinya itu, seakan tak menyadari sosok Sierra yang telah berdiri tepat di depannya.


Merasa kesal diacuhkan, Sierra segera mengangkat tubuh Deus dengan mencengkeram lehernya sekuat tenaga.


"Guuuhhh!!! Uhuukk!!!"


Deus berteriak kesakitan. Kedua tangannya seakan berusaha keras untuk meraih dan melepaskan cengkeraman kuat oleh Sierra.


Tapi sungguh disayangkan....


Deus yang saat ini, bahkan tak mampu untuk mengangkat lengannya mendekati tangan kanan Sierra itu.


"Menyedihkan sekali. Ratu Iblis yang begitu ditakuti ternyata bisa memperlihatkan sosok seperti ini?" Ucap Sierra berusaha untuk memprovokasi.


Tapi seperti yang telah Ia duga sebelumnya, Deus telah kehilangan beberapa indranya setelah melakukan pemanggilan [World Eater] secara paksa.


Saat ini, Deus tak lebih dari seorang NPC yang buta dan tuli dengan level kurang dari 10.


Bahkan pemain yang baru saja bergabung dalam permainan Re:Life ini pun bisa mengalahkan Deus setelah menyelesaikan tutorialnya.


Beberapa puluh detik berlalu tanpa adanya jawaban dari Deus.


Kedua lengan Deus nampak telah kehabisan tenaganya. Kedua kakinya yang sebelumnya terus menerus meronta, kini telah mulai tenang.


Hingga akhirnya, setelah 1 menit lebih 20 detik....


Deus tak lagi bergerak. Hanya menyisakan tatapan matanya yang kosong, menatap ke arah langit.


Bersamaan dengan itu, tubuhnya mulai memudar.


Beberapa butiran cahaya putih nampak mulai mengelilingi sosok yang dulunya pernah menguasai Dunia Iblis ini dengan kekuatannya sendiri.


Cahaya putih yang begitu indah mulai menelan tubuh Asmodeus.


Mulai dari ujung kakinya, jari jemari tangannya, hingga akhirnya mencapai seluruh tubuhnya.


Cahaya itu mulai memudar dan menyebar ke segala penjuru arah dengan lembut.


Beberapa butiran cahaya yang cukup besar nampak terlambat untuk menghilang. Tapi tak lama kemudian, cahaya itu mulai menyusul yang lainnya.


Sedangkan kini yang tersisa, hanyalah sosok Sierra yang masih mengangkat tangan kanannya seakan masih mencengkeram leher Asmodeus.


Cahaya api biru yang masih menjulang tinggi ke langit menjadi saksi atas apa yang terjadi pada hari ini.


Sebuah peristiwa yang akan mengubah takdir dari seluruh makhluk yang hidup bukan hanya di dunia iblis. Tapi juga di dunia manusia.


Sebuah peristiwa....

__ADS_1


Yang menghancurkan keseimbangan kekuatan di dunia iblis ini.


...***...


...Dunia Iblis...


...Di dalam sebuah goa yang gelap...


'Tap! Tap! Tap!'


Langkah kaki dua orang terdengar menggema di dalam goa yang sempit itu.


Salah seorang memiliki rambut hitam yang cukup panjang dengan pakaian ala bangsawannya yang telah compang-camping itu.


Sedangkan seorang lagi memiliki penampilan yang begitu anggun dengan rambut perak dan mata emasnya.


Mereka berdua melangkah dengan hati yang sangat berat serta tubuh yang sangat kelelahan.


Hal yang wajar mengingat seluruh tubuh mereka telah dipenuhi oleh luka yang cukup dalam.


Meski begitu, mereka berdua terus menerus melangkah tanpa memandang ke belakang. Mereka tak pernah berhenti bahkan untuk beristirahat sedikitpun.


Hingga pada akhirnya, mereka mencapai bagian yang terdalam dari goa ini. Membuat mereka mau tak mau harus beristirahat.


'Brukk!!'


Mereka berdua melempar tubuhnya ke tanah seakan tak lagi memiliki tenaga untuk berdiri.


"Lucien.... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucap Wanita berambut perak itu dengan terengah-engah.


'Cck!'


Mendengar pertanyaan yang terdengar begitu bodoh itu, Lucien hanya bisa mendecakkan lidahnya sambil membalas dengan kesal.


"Apa yang harus kita lakukan?! Hah?! Kau sadar hanya kita berdua yang tersisa kan?! Terlebih lagi aku harus menyampaikan pesan terakhir Yang Mulia kepada Tuan Eric! Jika tidak maka Tuan Eric hanya akan mengalami nasib yang sama! Tidak, mungkin lebih buruk lagi!!!" Teriak Lucien dengan penuh kemarahan yang tergambar begitu jelas di wajahnya.


Sebuah ekspresi yang sangat jarang Ia perlihatkan kepada siapapun.


Mendengar teriakan Lucien yang begitu keras dan dipenuhi amarah itu, Cathy hanya bisa menutup kedua matanya rapat-rapat sambil menutup telinganya.


Ia merasa ketakutan dengan situasi yang saat ini mereka alami.


Di satu sisi, Ksatria Naga yang mengejar mereka memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Lucien. Ditambah lagi jumlah mereka ada puluhan.


Sedangkan di sisi lain, mereka sadar betul bahwa Eric akan kembali muncul di tengah reruntuhan Kota Venice. Hanya untuk mengetahui bahwa pembantaian besar-besaran telah terjadi.


Jika saja musuh masih berjaga disana untuk menunggu Eric, mungkin itu adalah akhir dari segalanya.


Sedangkan satu-satunya yang bisa memperingatkan Eric hanya mereka berdua.


Di tengah situasi yang dipenuhi dengan keputusasaan itu....


Mereka berdua secara tidak sadar telah kehilangan kesadaran dirinya karena kelelahan yang berlebih. Menyerahkan nasib mereka berdua kepada takdir.

__ADS_1


__ADS_2