
"Hei, Eric. Bisakah kau menyembuhkan ku?" Ucap Angie dengan tubuh yang masih sempoyongan itu.
"Yah.... Kurasa tak ada salahnya."
Dengan balasan itu, Eric segera mengarahkan tongkat sihirnya pada sosok Angie. Menyembuhkannya dengan berbagai skill penyembuhan tingkat tinggi.
Yang mana juga memulihkan sebagian dari stamina Angie yang telah habis sepenuhnya karena penggunaan skill Dimensional Slash itu.
Cahaya kehijauan dan keemasan yang indah terlihat menyelimuti tubuh Angie dengan lembut. Memulihkannya secara perlahan.
Angie terlihat memejamkan matanya menikmati suasana ini. Suasana dimana pada akhirnya, Ia telah berhasil membuktikannya. Bahwa dirinya adalah pemenang yang sebenarnya dari duel sebelumnya.
Sebuah pertarungan dimana keduanya sama sekali tak menahan diri.
Hanya saja, jika ada yang disesali oleh Angie....
"Sayang sekali kau telah menggunakan sebagian skill terkuat milikmu untuk membuka perang di dunia ini ya? Yah meskipun, skill itu takkan menghentikan ku." Ucap Angie sambil melihat langit merah darah di dunia manusia ini.
Sebuah pemandangan yang tercipta oleh skill Armageddon milik Eric. Dimana ribuan hujan meteor terlihat masih berlangsung di kejauhan. Menghancurkan peradaban umat manusia ini.
"Kau tahu kelas penyihir tak cocok untuk bertarung satu lawan satu bukan?" Tanya Eric kembali, kali ini sambil mengangkat tongkat sihirnya setelah selesai merawat tubuh Angie.
"Hmm? Apa ini? Apakah alasan pecundang?" Ucap Angie dengan senyuman yang terkesan mengejek.
"Yah, mungkin kau bisa mengatakannya seperti itu. Aku tak memiliki banyak skill yang cocok untuk pertarungan satu lawan satu dengan musuh yang selincah dirimu."
Di hadapannya, terlihat Angie menepuk tanah dengan tangan kanannya secara ringan. Mengisyaratkan agar Eric duduk di sebelahnya.
'Tak ada salahnya bukan?' Pikir Eric dalam hatinya.
Lagipula, menurut pesan yang dikirimkan oleh Elin melalui fitur pertemanan itu menunjukkan bahwa penaklukan Benua Tengah ini berlangsung dengan cukup mudah.
Dimana satu-satunya permasalahan hanya terjadi di Kekaisaran Avertia. Dan di sana, Asmodeus bersama dengan Leviathan sedang menikmati pembantaian mereka.
Sedangkan Obelisk sendiri sedang menahan seluruh Guardian sendiria. Dimana dengan kekuatannya yang telah pulih sepenuhnya, dapat menandingi seluruh Guardian sendirian.
Tentu saja, dengan bantuan seluruh harta sucinya.
Secara perlahan, Eric pun berjalan ke arah Angie dan duduk di sebelahnya. Menikmati sebuah pemandangan dunia virtual, yang mungkin akan menjadi hal terakhir yang mereka lihat di dunia ini.
Mereka berdua hanya duduk diam. Menikmati suasana tenang ini. Sesekali, Angie terlihat membicarakan mengenai masa lalunya di dunia virtual ini. Di sisi lain, Eric juga menceritakan hal yang serupa.
"Kau tahu Eric? Mungkin aku akan merindukan dunia ini. Merindukan bagaimana aku bisa bergerak bebas sesuai keinginan hatiku." Jelas Angie.
"Kau benar.... Bagaimanapun, hanya di dunia ini aku bisa memperoleh segalanya. Termasuk kehidupanku di dunia nyata." Balas Eric.
Ia teringat atas masa lalunya yang begitu kelam dengan ribuan masalah dan pandangan buruk dari orang-orang karena kebodohannya.
"Tapi jika melihatnya sekali lagi.... Ku rasa aku sudah cukup puas. Sekalipun semua harus berakhir disini." Ucap Eric sambil merebahkan badannya di tanah lapang ini.
"Aaaah.... Aku sependapat denganmu. Hei, apakah kau akan memainkan game VR baru yang akan segera dirilis beberapa tahun lagi?" Tanya Angie yang juga berbaring di samping Eric.
Memasang wajah yang kebingungan, Eric pun memikirkannya dengan serius.
Apakah Ia akan kembali?
Di dunia virtual lain yang berbeda?
Mungkin.... Mungkin saja. Tapi mungkin juga tidak. Lagipula....
"Kau tahu aku memiliki putri yang beberapa tahun lagi akan mulai memasuki sekolah formal bukan? Ku rasa aku akan lebih memilih fokus untuk merawat keluargaku." Balas Eric.
"Begitu ya? Membosankan sekali. Kalau seperti itu akhirnya, mungkin aku takkan menikah." Balas Angie sambil tertawa ringan.
"Hah? Kau serius?"
Angie terlihat memalingkan wajahnya ke arah Eric sambil memberikan senyuman yang indah.
"Tentu saja."
Eric terlihat terdiam sesaat karena terkejut atas jawaban dari Angie. Ia sama sekali tak menyangka wanita itu akan benar-benar serius meninggalkan kehidupan dunia nyata untuk game.
Atau mungkin sebaliknya? Ia mengejar kebahagiaannya di dunia nyata dengan menikmati game?
"Hah.... Aku iri denganmu." Balas Eric singkat.
Akan tetapi, saat keduanya sedang menikmati suasana santai ini....
'Zlleeebbbb!!!'
Sebuah pedang terlihat menancap di tanah. Pedang itu memiliki bilah putih yang cerah serta gagang pedang berwarna hitam.
Keduanya segera melompat dan menjauhi pedang itu. Saat Eric dan juga Angie melihat ke arah asal dari pedang itu, mereka melihat sosok seseorang di kejauhan.
Ia berdiri dengan tenang, dimana di sekitar tubuhnya dikelilingi oleh 4 buah pedang cahaya yang bergerak memutari tubuhnya dengan posisi berdiri.
__ADS_1
Pria itu mengenakan zirah berwarna kemerahan yang cukup tebal dengan beberapa kain dengan corak kekuningan yang indah.
Setelah sosok Pria itu membuat suatu gerakan gestur dengan tangan kanannya, pedang yang menancap di tanah itu sebelumnya mulai hancur dan menghilang menjadi partikel-partikel kecil.
Angie yang menyadari sosok Pria itu segera berjalan mendekat ke arah Eric, membisikkan sesuatu dengan suara yang lirih.
"Eric, dia adalah berita buruk. Dengan sebagian besar skill ku yang masih dalam Cooldown, aku takkan bisa menyainginya. Bagaimana jika kita bekerjasama untuk saat ini?" Tanya Angie.
Eric yang masih terus memperhatikan sosok Pria dengan zirah merah itu pun akhirnya menyadari identitasnya yang sebenarnya.
"Jangan katakan.... Dia Aamori? Aku mengerti. Lagipula, kau masih harus bertanggungjawab karena membunuhku dua kali barusan." Balas Eric juga sambil berbisik.
Di kejauhan, sosok Aamori nampak berjalan secara perlahan ke arah mereka berdua.
"Angie, apakah kau bermaksud untuk bermain sebagai pahlawan umat manusia dengan melawan Eric?" Tanya Aamori yang nampaknya telah menyadari identitas sebenarnya dari Kaisar Iblis itu.
"Hah! Masa bodoh dengan umat manusia! Aku hanya kemari untuk bersenang-senang! Bagaimana denganmu? Kau berniat untuk menjadi pahlawan manusia?!" Tanya Angie dengan nada kesal.
Sambil menggerakkan tangan kanannya, salah satu pedang cahaya yang ada di sekitar tubuh Aamori nampak bergerak. Kini berada di atas telapak tangan kanannya.
"Aku? Aku hanya memihak para naga. Dan untuk itu, aku akan menghancurkan keduanya. Baik itu iblis.... Maupun manusia." Balas Aamori sambil mengayunkan lengannya. Membuat pedang cahaya itu melaju dengan cepat ke arah Eric.
Eric secara refleks segera mengaktifkan skill perisai kristalnya untuk menahan pedang itu.
Akan tetapi.... Nampaknya perisai kristalnya benar-benar tak banyak membantu di pertarungan akhir-akhir ini.
'Swuuusshhh!'
Dengan mudahnya, pedang cahaya itu menembus perisai kristal milik Eric.
Bukan karena memiliki efek khusus atau semacamnya. Tapi murni karena kekuatan dari salah satu pedang cahaya itu benar-benar melampaui batas kewajaran. Dan menghancurkan perisai kristal Eric dengan mudahnya.
'Swuuusshhh!'
Eric dengan segera memiringkan wajahnya untuk menghindari pedang cahaya itu. Setelah itu, Eric segera berlari menjauh. Menjaga jarak dari Aamori.
'Yang benar saja?! Apakah ini masih wajar?!' Keluh Eric dalam hatinya.
Sementara itu, Angie yang melihat kondisi Eric barusan menyadarinya. Bahwa lawan mereka kali ini bukan lah sosok yang bisa diremehkan. Sekalipun mereka berdua bekerja sama.
"Ada apa, Eric? Barusan hanyalah salam hangat dariku." Ucap Aamori sambil tersenyum tipis.
Angie yang memanfaatkan kondisi itu segera berlari ke arah Aamori dan mengayunkan pedang peraknya tepat ke arah leher Aamori.
Tapi seketika, sesuatu yang keras menahan tebasan pedang Angie.
Hanya dengan gerakan ringan dari tangan kirinya, Aamori berhasil menciptakan sebuah perisai besar dengan warna kemerahan yang menyala dengan api di tengahnya.
Perisai itu tak hanya menahan serangan Angie, tapi juga merusak pedangnya.
'Kreettaakkk!'
...[Efek Thorn dan Burning Flame telah merusak pedang Anda! Durabilitas pedang Anda saat ini berada di bawah 10%!]...
'Yang benar saja?! Hanya dengan menyentuh perisai itu?!' Pikir Angie dalam hatinya dengan perasaan yang terkejut.
Angie pun segera melompat mundur menjauhi sosok Aamori. Menjaga jarak yang aman dengannya. Dan tanpa menyadari, bahwa pedang cahaya yang sebelumnya hampir menusuk tubuh Eric, kini telah bergerak tepat ke arah tubuh Angie.
Menyerangnya dari bagian belakang.
'Zraaaasshhh! Blaaaarrr!!!'
Tapi secara tiba-tiba, tanah tepat dimana Angie berada segera naik setinggi beberapa meter. Mendorong Angie ke udara cukup tinggi untuk membuatnya terhindar dari tebasan pedang cahaya itu.
Nampaknya, pelaku dari kejadian itu tak lain adalah Eric yang menggunakan sihir bumi tingkat rendah untuk menaikkan tanah di lokasi targetnya.
Menyelamatkan Angie dari tebasan pedang cahaya yang misterius itu.
"Hmm.... Mungkin jika kalian berdua bekerjasama akan membuat ini sedikit menarik." Ucap Aamori dengan wajah yang datar.
Ia terlihat begitu percaya diri dengan perbedaan kemampuan diantara mereka. Dan itu memang bukanlah sikap yang salah.
Bagaimana tidak?
Aamori bahkan belum menggunakan seperempat dari keseluruhan kemampuannya saat ini dan telah membuat keduanya kesulitan.
Di sisi lain, Angie yang terselamatkan segera menoleh ke arah Eric. Memberikan tatapan yang seakan mengatakan sesuatu tanpa sepatah kata.
Melihat sikap Angie itu, Eric seakan-akan memahami apa maksudnya.
Dengan cepat, keduanya pun membentuk sebuah Party untuk situasi ini. Menggabungkan sisa-sisa kekuatan mereka untuk menghadapi keadaan ini.
Angie berperan sebagai seorang petarung yang akan bergerak di depan. Menjaga jarak antara Aamori dengan Eric.
Sementara itu, Eric yang berada di garis belakang akan fokus untuk menyerang Aamori dengan sihirnya. Fokus untuk memberikan damage dari lokasi yang aman.
__ADS_1
Di atas kertas, kombinasi antara Eric sebagai penyihir dan juga Angie sebagai seorang petarung sangat lah cocok. Akan tetapi pada kenyataannya, mereka berdua melupakan satu hal yang sederhana.
Aamori bukan lah seorang petarung maupun penyihir. Melainkan seorang penempa.
'KLAAAANGGGG!!!'
Saat Angie melihat celah, Ia dengan segera menghunuskan tombaknya tepat ke arah dada Aamori.
Aamori sama sekali tak bergerak. Juga tak menghindar. Perisai berapi yang sebelumnya digunakannya juga telah lama menghilang.
Akan tetapi....
"Kenapa...." Ucap Angie kebingungan setelah melihat tombaknya sama sekali tak bisa menggores zirah kemerahan milik Aamori itu.
Bahkan notifikasi dari sistem memperjelas segalanya yang terjadi saat ini.
[Ancient Fire Dragon Scale telah menyerap 99% damage tipe fisik yang Anda berikan!]
[Anda telah memberikan 16 damage!]
Dengan sikap yang begitu tenang, Aamori hanya bertanya kepada Angie.
"Kenapa? Apakah ada yang salah?"
'Sreeettt!'
Angie dengan segera melompat mundur menjauhi Aamori. Pikiran Angie saat ini bercampur aduk dengan berbagai pertanyaan.
'Apa yang terjadi? Apakah karena zirahnya memiliki defense yang terlalu tinggi? Tapi efek itu....' Pikir Angie dalam hatinya sambil terus kebingungan.
Ia kemudian melirik ke arah Eric di kejauhan yang telah mempersiapkan sihirnya dengan 4 buah lingkaran sihir amplifikasi berwarna merah itu.
'Bagus, Eric. Berdasarkan notifikasi barusan, seharusnya zirah itu lemah terhadap serangan tipe sihir.' Pikir Angie.
Angie pun segera kembali untuk menyerang, menyibukkan Aamori sementara Eric mempersiapkan sihirnya.
'Klaaangg! Klaaaangg! Klaaanggg!'
Beberapa skill telah digunakan oleh Angie. Hanya saja, damage terbesar yang bisa dihasilkan olehnya hanyalah sebesar 328 damage saja.
'Sialan, sebagian besar skill terbaikku sedang dalam Cooldown. Bagaimana dengan Eric?!'
Saat Angie menoleh, Ia mendapati sosok Eric yang justru lari kesana kemari tanpa arah yang jelas. Semua itu dikarenakan keempat pedang cahaya Aamori telah mulai mengejarnya.
'Sialan! Benar juga! Bagaimana aku bisa melupakannya?!'
Di sisi lain, Eric yang berusaha untuk terus menghindari pedang cahaya itu mulai kesulitan seiring dengan beratnya beban di ujung tongkatnya. Semua itu karena efek samping dari kombinasi [Amplification] dan [Overdrive] yang digunakannya.
'Swuusshh! Sraaasshh!'
Keempat pedang itu berulang kali berusaha untuk menyerang Eric. Dimana saat ini, Eric hanya bisa menghindarinya dengan sedikit ruang untuk bersantai.
Ia bahkan tak memiliki cukup waktu untuk menembakkan sihirnya.
"Angie!" Teriak Eric dari kejauhan. Dimana Angie segera memahaminya.
Angie pun segera menggunakan skill [Pierce] dengan tombaknya. Berharap untuk bisa menembus pertahanan gila milik zirah Aamori.
'Klaaaangggg!'
Hasilnya sama seperti sebelumnya. Tak bisa menembus zirah kemerahan milik Aamori itu. Akan tetapi, cukup untuk membuat Aamori kehilangan sedikit fokusnya karena damage yang dihasilkan.
[Anda telah menerima 4.218 damage!]
Notifikasi itu muncul di hadapan Aamori. Membuatnya cukup terkejut karena dirinya dapat menerima damage sebesar itu sekalipun memiliki defense yang sangat tinggi. Termasuk efek pengurangan damage.
'Yang benar saja? Jadi kau bilang, tanpa adanya efek pengurangan 99% damage ini aku akan menerima 420.000 damage hanya dengan satu tusukan itu?!'
Damage yang diberikan Angie memang tak seberapa dibandingkan dengan HP yang dimiliki oleh Aamori. Tapi sudah cukup berharga untuk membuatnya kehilangan fokus.
Dimana pada akhirnya, hal itu membuat pedang cahaya yang mengejar Eric sebelumnya tak dapat bergerak dengan baik. Dan memberikan Eric cukup waktu untuk melancarkan serangannya.
"Extermination Ray."
Dengan kalimat itu, ujung tongkat sihir milik Eric segera mengeluarkan lingkaran sihir berwarna putih yang terang.
Dari lingkaran sihir tersebut, cahaya putih terang nampak tercipta dan melesat ke arah Aamori di kejauhan.
Setiap kali cahaya itu melewati lingkaran sihir amplifikasi yang berwarna merah, cahaya itu menjadi semakin terang dan semakin besar.
Hingga akhirnya cahaya itu memiliki lebar yang lebih dari 10 meter dan seterang matahari setelah melewati lebih dari 6 buah lingkaran amplifikasi.
'SWUUUUUUUUSSSSSHHH!'
Sesaat setelah lingkaran sihir Extermination Ray tercipta, Angie telah melompat mundur sejauh mungkin. Meninggalkan Aamori terdiam dalam kebingungan.
__ADS_1
Tapi tak berselang lama, hingga Aamori menyadari apa yang terjadi.
Sebuah sinar putih yang menyerang dengan kecepatan cahaya. Serangan yang hampir mustahil untuk dihindari itu pun mengenai Aamori.