TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 352.5 - Sisi Lain


__ADS_3

...Dunia Nyata...


...[Hujan Pedang Cahaya! Inikah kekuatan luarbiasa dari salah satu senjata sang Dewa Penempa?!]...


Di sebuah layar raksasa yang terpajang di sebuah gedung yang cukup tinggi itu, nampak dengan jelas rekaman kejadian ketika Aamori menjatuhkan puluhan ribu pedang cahaya ke sebuah Kota.


Kota yang berada di wilayah Kerajaan Salvation itu kini menjadi reruntuhan yang tak berpenghuni. Semua orang yang selamat dari kejadian itu kini telah mengungsi.


Tapi, ada suatu hal yang mengganggu pikiran semua orang.


...[Apakah Aamori sang Dewa Penempa berada di pihak Manusia?]...


...[Ataukah Ia berada di pihak Monster?!]...


...[Aamori menolak wawancara dengan media dengan alasan 'sedang sibuk'! Apa yang sedang Ia rencanakan selanjutnya?!]...


Berita yang berisi pembawa acara yang terus menerus membuat heboh, serta narasumber yang tak kalah ributnya itu turut meramaikan jalanan di Kilometer 0 Yogyakarta ini.


Banyak orang yang sedang berlibur atau hanya berjalan-jalan saja di Malioboro ini menyempatkan diri mereka untuk menonton berita itu.


Berita mengenai perubahan Aamori yang sebelumnya merupakan Penempa legendaris menjadi Dewa Penempa itu sangat menghebohkan dunia.


Seluruh penggemar Aamori yang sebelumnya, kini semakin menggila. Tak hanya itu, Aamori juga menarik penggemar baru. Bahkan maniak. Membuat ketenarannya di dunia nyata meroket hingga ke langit.


Tapi setidaknya ada satu orang di tengah kerumunan itu yang nampak tak begitu peduli dengan berita itu. Atau setidaknya, Ia nampak tak tertarik.


Pria itu nampak berjalan dengan jaket Hoodie dengan tas selempang berbahan kulit yang berwarna kecoklatan.


Dengan kedua tangannya yang Ia masukkan ke dalam kantong Hoodie itu, Pria itu terus berjalan melintasi jalanan itu sambil berdesak-desakan dengan banyak orang.


'Yang benar saja... jika kalian ingin menonton TV maka tonton lah sendiri sepuas kalian dirumah. Jangan memenuhi jalan seperti ini.' Keluh Pria itu dalam hatinya.


Sesekali, Ia melirik ke arah layar besar itu dan melihat sekilas serangan hujan pedang cahaya yang dilancarkan oleh Aamori.


'Kekuatan gila seperti itu.... Apakah seru memainkan permainan yang selalu kau menangkan?' Pikir Pria itu sambil menghentikan langkahnya selama beberapa detik sebelum kembali berjalan lagi.


Setelah terlepas dari kerumunan itu, Pria itu segera mengambil ponselnya dan nampak sibuk dengan ponsel itu selama beberapa menit. Sebelum akhirnya, sebuah mobil sedan berhenti di pinggir jalan tepat di hadapannya.


Jendela depan mobil itu terbuka secara perlahan, memperlihatkan sosok sang sopir yang mengenakan baju kotak-kotak dengan kacamata hitam yang diletakkan di atas kepalanya.


"Selamat siang. Apakah benar dengan Mas Vincent?" Tanya pengemudi itu.


"Ya." Balasnya singkat sambil segera memasuki mobil itu.


Selama perjalanan, sang sopir nampak beberapa kali mengajak Vincent berbicara. Tapi tiada hasil baginya, karena Vincent hanya membalas dengan 'oh', 'begitu' dan beberapa balasan singkat lainnya.


Pada akhirnya, perjalanan yang menempuh lebih dari 10 Km ini pun berlangsung cukup sepi.


"Mas, mas. Sudah sampai."


"Ah, maaf. Aku ketiduran. Biayanya?" Tanya Vincent yang segera terbangun dari tidurnya.


"Total biaya sebesar 112.850 Rupiah." Balas sang pengemudi.

__ADS_1


"Ambil saja kembaliannya." Ucap Vincent sambil memberikan selembar uang berwarna merah, selembar uang berwarna keunguan, dan selembar uang berwarna kekuningan.


'Memangnya berapa yang bisa dikembalikan dari ini?' Pikir Sopir itu melihat uang sebesar 115.000 Rupiah.


Meski tak mengatakannya, sopir itu jelas mengharapkan sebuah tip karena perjalanan jauh yang tak menyenangkan yang baru saja dialaminya. Tapi Ia tak bisa berharap banyak, karena orang yang baru saja diantarkannya, telah lama memasuki bangunan.


Jika dideskripsikan, tempat tinggalnya adalah sebuah gedung yang cukup besar dan tinggi. Memiliki banyak kamar dan juga tempat makan serta belanja di lantai bawah.


Tulisan [Grandia Apartment] terpampang dengan jelas di bagian atas gedung ini dengan cahaya warna-warni yang begitu indah.


'Cting!'


Suara bel lift berbunyi, menandakan Vincent telah mencapai lantai yang diinginkannya. Terlihat angka 6 di hadapannya. Dengan langkah ringan, Ia bergegas kembali ke ruangannya.


...[612]...


Itu adalah nomor apartemennya.


Vincent nampak mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya di sebuah mesin yang ada di sebelah pintu.


'Ting!'


[Selamat datang kembali, Vincent.]


Notifikasi itu muncul di layar kecil mesin itu. Segera setelah itu, Vincent membuka pintunya dengan kunci biasa.


Rumahnya cukup sederhana. Itu karena Vincent memilih model yang sesuai untuk ditinggali oleh satu orang.


Di dalam unit apartemennya, terdapat 3 kamar, 1 kamar mandi, ruang tengah, dan dapur. Kamar pertama digunakan sebagai tempat tidur. Sedangkan satu kamar lagi digunakan olehnya sebagai gudang penyimpanan berbagai barang.


'Ctek!'


Vincent menyalakan lampu di kamar itu. Di dalam ruangan yang cukup besar itu, terlihat sebuah mesin VR Re:Life di sudut ruangan, sebuah set komputer dengan 3 buah monitor, serta dua buah pendingin ruangan.


'Baiklah, aku akan makan terlebih dahulu sebelum kembali ke neraka.' Pikir Vincent dalam hatinya sambil segera pergi ke dapur tanpa mematikan lampu kamar itu.


Membiarkan udara bersirkulasi sejenak sebelum Ia menggunakannya. Hal yang sama juga dilakukannya pada seluruh ruangan yang ada.


'Sreeeng! Sreeeng!! Tak!'


Vincent nampak menggoyang wajan besar itu dengan tangan kirinya, lalu mengaduknya dengan tangan kanannya.


Selagi menunggu, Ia mempersiapkan menu sampingannya yang berupa daging panggang yang telah dilumuri dengan bumbu.


Hasilnya? Nasi putih panas dengan tumis kacang panjang dan sayuran lainnya, ditambah dengan daging panggang.


Sebuah menu yang cukup aneh ini lah yang menjadi makan malamnya.


Vincent memakannya sendirian di ruang tengah sambil menonton televisi.


...[Istri dari Eric sang Raja Iblis telah buka suara!]...


...[Ia menyatakan bahwa dirinya, termasuk Arlond dengan para pengikutnya, akan selamanya meneror Kerajaan Salvation hingga mereka mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka!]...

__ADS_1


...[Apakah ini artinya Eric dan Elin memiliki hubungan erat dengan Arlond sang Raja Kerajaan Farna? Hubu....]...


'Ctik!'


Vincent segera mematikan televisinya. Bukan karena tidak menarik, tapi Ia telah selesai makan dan harus segera mencuci piringnya.


Setelah semuanya beres, kini Ia memasuki ruangan dengan mesin VR berbentuk kapsul itu.


"Hah...."


Vincent nampak sedikit menghela nafasnya sebelum melangkah memasuki ruangan itu. Seakan apa yang ada di hadapannya, adalah hal yang cukup berat untuk dihadapi.


...[Bersiap untuk Log In]...


...[Bersiap untuk memindahkan Kesadaran!]...


...[Selamat datang kembali di Re:Life, Vincent!]...


Pandangannya seketika berubah total.


Sebuah tempat yang dulunya adalah ruangan modern, kini berubah menjadi tenda yang nampak cukup bobrok, dengan banyak lubang di banyak sisi.


"Selamat datang kembali, Yang Mulia." Ucap seorang wanita pelayan yang mengenakan seragam rapi itu.


"Ya. Bagaimana kondisinya?" Tanya Vincent segera sambil melangkah keluar dari tenda itu.


"Cukup buruk. Selama Yang Mulia tak hadir, Pasukan gabungan yang terbentuk dengan perintah dari Kaisar Abadi, Yin Zhen, telah terus menerus menggempur perkemahan kita." Jelas Pelayan itu.


"Siapa saja? Jumlahnya?" Tanya Vincent singkat.


"Setidaknya empat Raja Besar yang bersumpah setia kepada Kaisar telah ikut serta dalam pertempuran ini. Ditambah dengan tujuh Raja lain, kekuatan tempur mereka setidaknya 20 kali lebih besar daripada milik kita." Jelas sang Pelayan.


"Hah...."


Vincent nampak menghela nafasnya, dan mengeluarkan gulungan perkamen dari tas di pinggangnya. Gulungan itu adalah peta kecil yang digambar oleh para pengintainya mengenai lokasi Medan pertempuran ini.


Setelah memandanginya selama beberapa puluh detik, Vincent kembali lagi menanyakan suatu hal.


"Apakah Kaisar Yin Zhen ikut serta dalam perang ini?" Tanya Valiant sambil melihat sekelilingnya. Para prajuritnya nampak kelelahan. Tak sedikit pula yang memiliki banyak perban di tubuh mereka.


Tapi pandangannya tertuju pada sebuah lubang galian yang cukup besar. Dimana di dalamnya, nampak ribuan orang yang tergeletak tak berdaya. Mereka adalah para korban jiwa dalam peperangan ini.


Pandangan Vincent pun mulai menyipit.


'Cih....'


Sang Pelayan pun kemudian segera menjawab pertanyaan Vincent.


"Tidak. Kaisar Yin Zhen masih menangani permasalahan lain di dalam Kekaisarannya."


Senyuman tipis pun terlihat di wajah Vincent yang sedari tadi nampak masam.


"Bagus. Kalau begitu, kita bisa memenangkan pertempuran ini. Ikuti aku." Ucap Vincent dengan tegas sambil segera melangkah pergi.

__ADS_1


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


__ADS_2