
'Zraaasssshhh!'
Ayunan kedua belati Angie itu memotong tepat di leher Lucien.
Akan tetapi....
"Fufufu.... Menarik!" Ucap Lucien sambil tertawa lebar. Kedua belati Angie yang seharusnya telah memotong leher Lucien itu, hanya melewatinya saja tanpa melukai Lucien sedikit pun.
Dan segera setelah itu, tubuh Lucien kembali pecah menjadi ratusan kelelawar yang menyebar ke berbagai tempat.
"Cih, merepotkan sekali." Keluh Angie setelah mengetahui seberapa sulitnya mengenai Lucien.
Belum lagi, Angie masih harus berurusan dengan para bangsawan Vampir lainnya yang terus menyerang dirinya tanpa henti.
Di kejauhan, Eric yang melihat perbedaan kekuatan yang terlalu jauh itu mulai merasa khawatir.
Ia tak lagi yakin bahwa Lucien bisa mengalahkan Angie sendirian.
Dengan pemikiran itu, Eric pun berencana untuk memberikan bantuan tambahan.
"Tasmith, Oliver." Ucap Eric singkat.
Tak berselang lama, keduanya pun muncul di samping tempat Eric duduk.
"Ya, Tuanku." Ucap Oliver singkat.
"Merepotkan sekali.... Aku masih sibuk menempa kau tahu?" Keluh Tasmith di sampingnya.
"Musuh yang datang saat ini cukup kuat. Aku ingin kalian berdua memberikan bantuan kepada Lucien untuk mengalahkannya. Apakah kalian bisa melakukannya?" Tanya Eric.
Oliver segera membungkukkan badannya sambil memberi hormat kepada Eric.
"Akan ku usahakan sebaik mungkin, Tuanku." Balas Oliver singkat.
Sementara itu, Tasmith sendiri nampak begitu keberatan dengan pekerjaan ini. Tapi bagaimana lagi? Ia tak bisa menolaknya.
"Baiklah.... Apapun permintaanmu." Balas Tasmith sambil mengangkat palu tempanya yang besar dengan sebuah tas besar di punggungnya.
Beberapa buah permata nampak terjatuh dari tasnya setiap kali Tasmith berjalan. Karena memang tas itu sudah terlalu penuh oleh barang.
Keduanya pun mulai berjalan ke arah salah satu lingkaran teleportasi untuk mengirimkannya ke lokasi pertarungan antara Lucien dan juga Angie.
......***......
'Klaaangg! Zraaassshh! Blaaaarrrr!'
Angie terus menerus bertarung dengan mengganti senjatanya beberapa kali.
Di detik pertama, Ia akan mengayunkan tombaknya ke arah beberapa vampir di sekitarnya. Pada detik berikutnya, senjatanya telah berubah menjadi tongkat sihir untuk membakar musuhnya.
Dan sesekali, ketika Angie tak mungkin untuk menghindari serangan lawannya, Ia akan mengganti senjata di tangan kirinya dengan sebuah perisai yang besar dan tinggi.
'Klaaaaaanggg!!!'
Dengan perisai tinggi itu, seluruh cakar tajam dari para vampir yang menyerangnya segera patah.
Tapi musuhnya terlalu banyak.
Belum lagi Lucien yang saat ini bersembunyi di balik kegelapan. Menanti kesempatan emas untuk menyerang Angie.
Dan kesempatan itu pun akhirnya tiba.
'Kraaasshhh!'
Tanpa di duga olehnya, Lucien secara tiba-tiba muncul tepat di belakang Angie. Mengigit lehernya dengan begitu kuat dan menyerap sebagian besar darahnya.
[Anda telah menerima luka fatal!]
[Anda telah kehilangan sebagian besar darah Anda!]
__ADS_1
[Anda telah memperoleh debuff Anemia!]
[Anda telah kehilangan 50% Health Point!]
[Max Health Point Anda telah berkurang sebesar 5% hingga 24 jam kedepan!]
Notifikasi yang begitu mengerikan itu muncul di hadapan Angie dengan warna merah darah yang mengerikan.
'Yang benar saja?! Skill macam apa itu? Ada sebuah skill yang mengurangi Max HP?!' Keluh Angie dalam hatinya setelah menyadari hal tersebut.
Tentu saja, karena efek dari serangan itu terlalu mengerikan. Membuat daya tahannya menurun dengan sangat drastis.
'Swuuusshhh!'
Setelah mengayunkan kembali tombaknya ke arah belakang dimana Lucien berada, Angie segera melompat mundur.
"Fufufu.... Tak berguna." Ucap Lucien sambil tertawa puas.
Sama seperti sebelumnya, serangan Angie hanya menembusnya saja sebelum Lucien kembali menghilang dalam kegelapan.
'Sreeettt! Gleekkk! Gleekkk!'
Dengan cepat, Angie segera meneguk sebuah full health potion yang menyembuhkan seluruh luka di karakternya.
Meski begitu, efek samping dari Hemolisis masih belum menghilang. Yang membuat Angie masih terus menerima luka setiap detiknya.
'Bagaimana cara menyerangnya? Kenapa tak pernah terkena? Tapi sebaliknya, kenapa dia selalu mengenaiku?' Tanya Angie dalam hatinya.
Ia terus memikirkan bagaimana sebaiknya menghadapi Lucien yang begitu merepotkannya itu.
Tanpa menyadari....
Bahwa selama ini, Lucien hanya menahan luka yang dialaminya.
'Fufufu.... Seperti yang diharapkan dari musuh yang ditakuti oleh Tuanku. Hanya dalam satu tebasan selalu hampir membunuhku.' Pikir Lucien dalam hatinya sambil terus tertawa.
Selama ini, Lucien hanya menertawakan luka fatal yang dideritanya untuk membuat Angie kebingungan. Menganggap bahwa dirinya sama sekali tak terluka.
Sama seperti saat ini.
Dimana Lucien bersembunyi di balik kegelapan. Menyembuhkan dirinya sambil terus meneguk potion.
"Fufufu.... Sekarang saatnya serangan berikutnya."
Setelah mengucapkan hal itu, Lucien membuka tirai kegelapan yang segera menghubungkannya dengan dunia dimana Angie berada.
'Kraaassshhh!'
Sekali lagi, Lucien secara tiba-tiba muncul di belakang tubuh Angie. Menghisap darahnya sekali lagi yang membuatnya kehilangan setengah HP miliknya saat ini dan juga 5% max HPnya.
'Blaaaaarrrrr!'
Tak seperti sebelumnya, kini Angie telah menunggu. Dan dengan cepat mengarahkan sihir api untuk membakar tubuh Lucien di belakangnya.
"Fufufu! Sama sekali tidak berguna!" Teriak Lucien sambil tertawa. Tubuhnya sekali lagi berubah menjadi ratusan kelelawar kecil yang segera menghilang dalam kegelapan.
Perbedaannya, kali ini Angie hanya terdiam. Ia sama sekali tak berkomentar apapun. Ia hanya diam memperhatikan segalanya yang ada di sekitarnya. Termasuk gerak gerik Lucien.
Hal yang sama kembali terulang beberapa detik setelah Angie selesai meneguk potionnya.
[Anda telah menerima....]
Notifikasi yang sama kembali muncul di hadapan Angie.
Kali ini, Angie membalasnya dengan menembakkan 5 buah anak panah cahaya sekaligus.
Tapi seperti sebelumnya, hanya menembus tubuh Lucien yang kembali menjadi kelelawar. Diikuti dengan tawanya yang khas.
Hingga saat ini, Angie telah kehilangan 15% Max HP miliknya.
__ADS_1
Jantungnya mulai berdegup kencang.
Angie bahkan tak bisa tahu, apakah dirinya bisa mengalahkan Lucien di sini atau tidak. Belum lagi jika pada akhirnya harus berhadapan dengan Eric.
Tak seperti biasanya....
Angie sama sekali tak tertawa dalam kepuasan dengan pertarungan ini. Sekalipun adrenalin di tubuh aslinya mengalir dengan begitu deras.
Pikirannya benar-benar bekerja dengan sangat keras untuk menemukan cara melukai Lucien.
'Dimana? Kapan? Bagaimana? Kenapa?' Tanya Angie dalam hatinya memikirkan mengenai Lucien.
Dimana Lucien akan muncul. Kapan dia akan muncul. Dan bagaimana Lucien akan menyerangnya berikutnya.
Lalu....
Kenapa Lucien tidak terluka?
Apakah Lucien benar-benar sama sekali tak bisa dilukai?
Apakah karena yang menyerangnya hanyalah semacam bayangan? Sedangkan tubuh aslinya tersembunyi di tempat yang lain?
Memikirkan peluang itu mungkin terjadi, Angie pun melepaskan sihir tingkat tinggi [Wind Blast] yang meledakkan tekanan angin yang sangat kuat ke segala arah. Memotong monster apapun yang ada di sekitarnya.
Sekalipun tak mampu membunuh vampir kelas bangsawan secara langsung karena status INT miliknya yang tak begitu tinggi, tapi Angie memanfaatkannya untuk memperhatikan pergerakan di segala arah.
'Dimana tubuh aslinya bersembunyi? Apakah itu benar-benar tubuh palsunya?'
Sebelum selesai mengamati, Lucien kembali muncul secara tiba-tiba. Kali ini, tepat di bawah pandangannya.
Lucien muncul di depan dan segera menggigit paha Angie. Memberikan efek yang sama seperti sebelumnya.
'Swuuusshhh!'
Ayunan pedangnya sama sekali tak bisa melukai Lucien. Dimana Ia kembali menghilang di balik kegelapan.
"Fufufu.... Menyerah lah segera, manusia! Atau kau akan segera mati mengenaskan!" Teriak Lucien dari balik kegelapan.
Fokus Angie saat ini berada di puncaknya. Ia hanya berdiri tegap di tempatnya sambil terus menyingkirkan apapun yang mendekatinya.
Kedua matanya terbuka lebar. Kedua telinganya mendengarkan suara apapun di sekitarnya.
Segera setelah selesai meneguk Full Potion itu....
Kali ini....
'Jleeebbb!!!'
Angie menghunuskan tombaknya ke belakang tubuhnya. Bahkan tanpa melihat sedikit pun.
Dan tombaknya mengenai sesuatu tepat di belakangnya.
"Kuuugghhh!!!" Teriak Lucien di belakangnya. Bukan karena kesakitan. Melainkan karena rasa terkejut bahwa Angie dapat mengetahui dimana dia akan muncul.
"Sudah ku duga." Ucap Angie yang telah mulai memahami pola pergerakan Lucien itu.
Lucien segera melarikan diri dengan mengubah tubuhnya kembali menjadi kelelawar dan bersembunyi dalam kegelapan.
Sama seperti sebelumnya.
Tapi perbedaannya, kali ini Angie tidak terluka.
Bahkan, Angie saat ini telah menyadari. Bahwa pada kenyataannya, Lucien memang terluka setelah menerima serangannya.
Dengan tatapan yang begitu tenang, Angie telah bersiap untuk membunuh Lucien saat ini juga. Setelah memperoleh kesempatan yang lain lagi.
Bukan karena musuhnya memiliki kelas mythical yang membuat Eric ketakutan.
Tapi sebuah kenyataan, karena yang memilikinya adalah Angie.
__ADS_1
Sosok pemain paling jenius yang pernah ditemuinya.