TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 371 - Reruntuhan Kuno


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Utara...


Perjalanan selama lebih dari dua Minggu akhirnya telah selesai. Tim Ekspedisi yang dipimpin oleh Eric itu, kini telah sampai di tujuannya setelah terus menerus menghindari arah pergerakan Avacor.


Rute perjalanan yang mereka ambil terus menerus berubah menyesuaikan dengan keberadaan dan tindakan yang diambil oleh Avacor.


Bahkan tak jarang tim Eric harus membangun Dungeon kecil untuk segera kabur ke Wilayah Selatan. Penyebabnya sangat sederhana yaitu Avacor yang bergerak tepat ke arah mereka berdiri.


Eric memutuskan bahwa menghadapi Avacor secara langsung untuk saat ini adalah hal yang sangat ceroboh.


Sekalipun Ia bisa menang, korban jiwa dalam pertarungan itu akan menjadi terlalu besar. Eric tak bisa menerima kerugian sebesar itu saat ini.


Dan akhirnya, disinilah mereka.


Di hadapan sebuah reruntuhan kerajaan yang sangat besar.


Tapi kali ini, ada perubahan anggota tim. Yaitu kehadiran Catherine yang akan berperan sebagai arkeolog, atau yang akan mengumpulkan informasi.


"Cathy. Apakah benar tempat ini?" Tanya Eric sambil terus bersiaga.


Benar saja, reruntuhan ini telah dikuasai oleh Slime. Meskipun, tak diketahui apakah Slime yang ada di sekitar tempat ini merupakan Primordial Slime atau bukan.


"Tidak salah lagi. Aku merasakan keberadaan Primordial Slime di sekitar sini. Ikuti aku, Tuanku." Ucap Cathy sambil bergerak maju.


Eric dan tim ekspedisinya pun terus mengikuti langkah kaki Cathy. Termasuk juga memberikan dukungan berupa perlindungan agar Cathy bisa melakukan pengamatan dengan tenang.


"Logam ini.... Sudah kuduga. Tuanku, tolong ambil beberapa logam ini." Ucap Cathy sambil menunjuk ke arah sebuah logam dengan warna sedikit kebiruan dan alur biru menyala yang aneh.


"Baiklah. Tapi ada apa dengan logam ini?" Tanya Eric sambil segera mengambil sebanyak mungkin logam itu dan memasukkannya ke dalam Inventorynya.


"Penjelasannya cukup panjang jadi nanti saja. Sekarang, kita akan memasuki reruntuhan ini. Primordial Slime itu nampaknya berada jauh di bawah tanah." Jelas Cathy singkat sambil segera berjalan menuju ke arah sebuah bangunan yang besar.


Bangunan itu tak lagi memiliki atap. Tapi jika dilihat dari ukuran dinding dan juga luasan bangunannya, tak diragukan lagi dulunya ini adalah sebuah bangunan yang sangat besar. Dan kemungkinan adalah bangunan yang sangat penting.


'Tap!'


Tepat setelah Eric melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bangunan itu, sebuah notifikasi berwarna merah menyala muncul di hadapannya.


...[PERINGATAN!]...


...[ANDA TELAH MEMASUKI ZONA YANG SANGAT BERBAHAYA! SISTEM MENYARANKAN UNTUK MUNDUR]...


Notifikasi itu muncul dengan warna merah menyala dan terus menerus mengeluarkan bunyi yang cukup keras.


'Hmm? Apa ini?' Pikir Eric dalam hatinya sambil membuka informasi mengenai tempat ini.


"Tuanku, ada apa?" Tanya Cathy sambil memasang wajah khawatir.


"Tunggu sebentar." Balas Eric singkat.

__ADS_1


Ekspresi wajahnya pun berubah drastis. Dari yang sebelumnya cukup tenang dan datar, kini kedua matanya terbuka lebar dengan gigi yang menggigit bibir bagian bawahnya.


'Apa-apaan ini?!' Teriak Eric dalam hatinya setelah melihat informasi mengenai tempat ini.


...[Arcane Research Facility]...


...[Ancient Dungeon]...


...[Boss : Primordial Slime]...


...[Rekomendasi Level : ???]...


...[Rekomendasi Party : ???]...


...[Hadiah]...


...[???]...


...[Boss Information]...


...[Primordial Slime]...


...[Rarity : Mythical]...


...[Level : ???]...


...[Status]...


...[???]...


Eric mulai merasakan rasa takut yang besar dalam hatinya. Ia tak boleh mati. Jika Ia mati, maka seluruh perjuangan dan permainannya akan hilang saat itu juga.


Dan tentu saja, hal itu juga akan mempengaruhi rencananya di dunia nyata. Semakin memperburuk kondisinya. Oleh karena itu....


"Tuanku. Tenang saja. Kami akan dengan senang hati untuk menyerahkan nyawa kami agar kau selamat." Ucap Cathy sambil menyentuh wajah Eric.


"Fufufu.... Sebagai penguasa kematian, bukankah kau takkan bisa mati?" Ucap Lucien dengan suara khasnya.


"Bukankah kita kemari hanya untuk mengambil bagian kecil tubuhnya saja? Kita sama sekali tak ada niat untuk melawan bossnya kan?" Ucap Verara. Tharkas dan juga Rilette nampak menganggukkan kepala mereka.


Mendengar hal itu membuat Eric merasa lega. Mereka semua benar, bahwa tujuan tim ekspedisi ini dibentuk hanyalah untuk mengambil sebagian tubuh Primordial Slime untuk diteliti oleh Cathy.


Melawan Primordial Slime itu secara langsung? Sama sekali tak bisa mereka bayangkan.


Dan akhirnya, Eric mengenyahkan notifikasi menyebalkan itu dan memutuskan untuk masuk ke dalam Dungeon.


'Pintunya.... Takkan terkunci kan?'


...***...


'Tap! Tap! Tap!'

__ADS_1


Suara langkah kaki dari keenam orang itu terdengar menggema di bawah tanah bangunan ini.


Meskipun memiliki ukuran yang besar, tapi susunan bangunan ini lebih menyerupai seperti sebuah labirin. Membuat siapapun pasti akan tersesat. Semua orang kecuali mereka memiliki penglihatan seperti yang dimiliki oleh Cathy.


"Tuanku. Ke arah ini." Ucap Cathy setelah melihat dinding dan juga lantai yang ada.


Tanpa ragu, semuanya mengikuti langkah kaki Cathy.


Akan tetapi....


"Aneh sekali." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil terus berjalan secara perlahan.


"Tuanku? Apa yang kau maksud dengan itu?" Tanya Tharkas yang berdiri di barisan terdepan itu.


"Meskipun aku memperoleh peringatan bahwa Dungeon ini sangatlah berbahaya dan mematikan, tapi bukankah kita sama sekali tak menjumpai satupun monster? Bahkan kita telah menjelajahi Dungeon ini selama lebih dari dua jam." Jelas Eric sambil menyangga dagunya.


Kelima orang itu pun terdiam mendengar penjelasan dari Eric. Termasuk Cathy itu sendiri.


"Kau benar, Tuanku. Meskipun aku bisa melihat sejarah dan juga memprediksi denah Dungeon ini, tak menjumpai satupun monster yang menjaganya justru sangat aneh. Bahkan tak ada satupun perangkap." Ucap Cathy.


Di saat mereka semua masih terlarut dalam kebingungan, Verara nampak menemukan sesuatu.


Yaitu sebuah lingkaran sihir yang cukup besar di salah satu ruangan yang ada.


"Mari lupakan sejenak soal monster dan perangkap. Cathy, apakah kau tahu lingkaran sihir apa ini?" Tanya Eric dengan tegas.


"Biar ku periksa terlebih dahulu."


Cathy segera mendekati lingkaran sihir itu. Kedua matanya memancarkan sedikit cahaya keemasan yang indah. Bersamaan dengan itu, rentetan informasi pun secara perlahan diketahui oleh Cathy.


Setelah sekitar 15 detik....


"Lingkaran sihir Teleportasi. Nampaknya hanya dengan berdiri di atasnya selama 5 detik akan mengaktifkannya. Meskipun.... Aku tak bisa mengetahui kemana tujuan dari lingkaran Teleportasi ini." Jelas Cathy.


"Apa maksudmu dengan tidak mengetahui tujuannya?"


"Berbeda dengan milikmu, Tuanku. Lingkaran sihir Teleportasi ini tidak memiliki pasangan di tempat yang lain. Sehingga mengetahui tujuannya yang akurat masih cukup sulit bagiku.


Tapi satu hal yang jelas, kemungkinan besar lingkaran sihir ini akan melemparkan kita keluar dari Dungeon ini." Balas Cathy dengan panjang lebar.


Setelah memikirkannya sejenak, Eric pun akhirnya paham dengan maksud dari lingkaran sihir ini.


"Apakah ini semacam pintu darurat untuk keluar dari sini?" Ucap Eric pada dirinya sendiri.


"Kemungkinan seperti itu." Balas Cathy singkat.


"Fufufu.... Hanya seorang pengecut yang akan menggunakan pintu darurat. Tuanku, aku yakin kau pasti akan menghadapi bahaya apapun kan?" Teriak Lucien sambil membuat pose yang aneh.


'Satu-satunya bahaya yang ada di depanku saat ini adalah kegilaanmu, Lucien.' Pikir Eric dalam hatinya.


Dengan begitulah, investigasi mengenai reruntuhan di bekas Kerajaan Kuno ini pun berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2