TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 414 - World Quest 3


__ADS_3

"Kabur ya?" Ucap Eric yang melihat sebagian besar pasukan dari Kerajaan Suci Celestine itu meninggalkan medan pertempuran ini.


Ribuan pilar cahaya muncul di sekitar tempat Eric berdiri. Setiap dari pilar itu menelan dan membawa para pasukan suci untuk mundur menyelamatkan diri mereka dari kengerian Eric.


Secara perlahan, sosok seorang vampir dengan rambut hitam yang sedikit mengombak muncul di samping tempat Eric berdiri.


"Harus kah kita mengejar mereka, Tuanku?" Tanya Vampir yang tak lain adalah Lucien itu sendiri.


"Tidak. Aku masih perlu melakukan hal yang lain." Balas Eric singkat.


Eric pun mulai berjalan kembali ke arah barisan pasukan monsternya. Bersiap untuk memberikan perintah baru pada mereka.


Akan tetapi, Lucien menahan Eric sembari bertanya.


"Tuanku, bagaimana jika aku memberikan mereka pelajaran? Aku masih tak terima mereka mengganggu kedatangan Tuanku yang begitu agung itu." Ucap Lucien sambil sedikit membungkukkan badannya dan meletakkan lengan kanannya di dadanya.


Eric pun berpikir sejenak atas saran dari Lucien itu. Ia mengingat-ingat kembali musuh terkuat dari pihak Kerajaan Celestine.


Dan setelah memastikan tak ada lagi ancaman yang mampu untuk menghentikan Lucien, Eric pun menyetujui sarannya.


"Baiklah, kau bisa beri mereka pelajaran. Tapi berhati-hati lah." Balas Eric sambil tersenyum tipis.


"Tentu saja, Tuanku."


Dengan kalimat itu, Lucien pun segera terbang ke langit. Bersama dengannya, ratusan vampir tingkat tinggi lainnya pun turut ikut serta.


Sementara itu, Eric sendiri memikirkan rencana lainnya.


Dari balik celah dunia yang besar itu, sosok Asmodeus dan juga Obelisk akhirnya tiba. Penampilan mereka benar-benar sangat luarbiasa.


Di satu sisi, Asmodeus tak lagi banyak bercanda seperti yang dulu. Kini, Ia mengenakan gaun hitam dan merah yang begitu indah. Wujud sebenarnya dari perlengkapan itu adalah sebuah gaun tingkat Legendary yang dibuat oleh Tasmith.


Pada tangan kanannya, Asmodeus membawa tongkat sihirnya. Yaitu sebuah tongkat dengan wujud yang menyerupai lengan yang mencengkeram sebuah bola kristal merah di atasnya.


Di sisi lainnya, Obelisk berjalan dengan begitu tenang. Bahkan senyuman nampak menghiasi wajahnya setelah melihat kembali dunia manusia ini.


Perlengkapannya adalah perlengkapan terbaik yang dimilikinya. Yaitu sebuah zirah lengkap dengan warna keemasan yang begitu indah. Akan tetapi, Obelisk tak memiliki senjata.


Itu karena senjatanya adalah kemampuannya sendiri untuk memanggil Dungeon sama seperti yang dapat Eric lakukan.


Eric secara perlahan berjalan mendekati keduanya. Hingga akhirnya, Eric berhenti tepat di hadapan keduanya.


"Untuk kalian berdua.... Yah, kalian bebas melakukan apapun selama tetap melawan pihak manusia." Ucap Eric dengan tenang.


"Kau yakin dengan perintah seperti itu? Karena kau tahu, mungkin saja aku akan mencuri sorotan dunia darimu." Balas Obelisk dengan senyuman yang penuh akan rasa percaya diri.


Sementara itu, Asmodeus nampak bertanya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Aku boleh melakukan apapun?"


"Begitu lah." Balas Eric singkat.


Dengan segera, Asmodeus mulai mengepakkan sayapnya dan bersiap untuk terbang menjauh dari tempat ini.


"Kemana kau akan pergi?" Tanya Eric penasaran.


"Memanggil Leviathan. Ia harus ikut turun tangan dalam hal ini." Balas Asmodeus.


"Aah, benar juga. Aku hampir saja melupakannya."


Eric benar-benar hampir melupakan keberadaan dari salah satu raja iblis yang menguasai lautan itu. Yaitu Leviathan.


Tapi untungnya, Deus telah bersiap untuk mengatasi hal tersebut.


Sebelum benar-benar pergi, Deus kembali berkata kepada Eric.


"Jika aku bertemu dengan sosok yang kuat, aku boleh menghabisi mereka bukan?" Tanya Deus.


"Tentu saja. Selama kau tak membahayakan dirimu sendiri." Balas Eric.


Dengan senyuman yang tipis, Deus pun segera mengepakkan sayap kelelawarnya dan terbang tinggi. Meninggalkan Eric dan pasukannya.


Sementara itu....


Obelisk nampak memasang wajah yang kebingungan setelah mendengar pertanyaan dari Eric. Lagipula, Ia tak lagi memiliki musuh yang ingin dihabisi olehnya.


Dendamnya terhadap para Raja Iblis yang mengalahkannya juga telah dibalaskan. Sedangkan manusia sendiri....


"Jujur saja sekarang aku kebingungan. Mungkin aku akan mencoba mencari tahu sekuat apa para Guardian di zaman ini." Balas Obelisk yang berjalan dengan santai.


Eric pun segera bertanya.


"Guardian? Kau tahu dimana mereka berada?"


"Tentu saja. Lagipula, dulunya aku adalah bagian dari pahlawan itu sendiri." Balas Obelisk sambil tetap tersenyum.


Dan dengan kalimat itu, Obelisk pun pergi. Menuju ke arah menara kebijaksanaan untuk melawan para Guardian di dunia manusia ini sendirian.


Meninggalkan Eric kebingungan dengan apa yang sebaiknya dilakukannya sekarang.


"Pasukan monster telah bergerak dan menyerang di seluruh dunia manusia. Bahkan aku memiliki 2 Raja Iblis serta satu mantan pahlawan umat manusia di pihakku. Guardian juga akan di atasi, Kerajaan Suci juga demikian. Sialan...."


Saat ini, Eric justru mengeluhkan kondisinya sendiri.


Sebuah kondisi, dimana satu-satunya peran yang dilakukan olehnya, hanyalah mengumpulkan banyak orang-orang kuat itu dan mereka telah menyelesaikan semua masalah Eric.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Eric bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Apakah ini.... Kutukan karena pihakku terlalu kuat sampai-sampai aku tak perlu melakukan apapun?"


Eric yang masih terdiam di dekat retakan dunia itu, bahkan terus menerus memperoleh notifikasi bahwa dirinya naik level. Semua itu karena pembantaian yang dilakukan oleh para monster di bawahnya.


Yang secara otomatis, membagikan EXP yang mereka peroleh padanya.


Kini, dalam kesepian di antara barisan para monster, Eric mulai bertanya-tanya.


"Apa yang sebaiknya ku lakukan sekarang? Bahkan jika aku diam sekalipun, bukankah aku akan menang dalam kondisi seperti ini?"


Saat Eric sedang memikirkan mengenai hal itu, sebuah tombak tiba-tiba terlempar ke arahnya.


'Swuuusshhh! Jleebbb!!'


Tombak itu melesat dengan begitu cepatnya. Akan tetapi, tombak itu sama sekali tak mengenai tubuh Eric.


Hanya menancap di tanah tepat di sebelah Eric berada.


Tak ada kekuatan tambahan dari tombak besi itu. Juga tak ada sihir ataupun skill yang dimasukkan kedalamnya.


Bahkan, tombak itu tak mampu menembus cukup dalam ke tanah.


'Serangan yang meleset?' Tanya Eric dalam hatinya sambil melihat ke arah tombak besi itu.


Jika diperhatikan dengan baik, tombak besi itu tak salah lagi merupakan sebuah senjata tingkat rendah yang dapat dibeli dengan begitu murah.


Dan saat Eric menolehkan kepalanya ke arah belakang....


Ia melihat sosok yang paling ditakutkannya saat ini di kejauhan.


Yaitu sosok seorang wanita dengan rambut pirang yang terkesan acak-acakan.


Pada tangan kanannya, wanita itu memegang sebuah tombak perak keemasan yang indah. Sedangkan di tangan kirinya, wanita itu membawa sebuah pedang dengan bilah putih cerah serta beberapa corak kemerahan.


Dengan senyuman yang lebar, wanita itu pun menyapa Eric.


"Lama tak jumpa, Eric. Bagaimana kalau kita akhiri semuanya dengan pertarungan sampai titik darah penghabisan?" Ucap wanita itu.


Kini, Eric tersadar.


Ancaman terbesarnya di dunia virtual ini bukan lah sosok NPC, atau kerajaan yang besar. Melainkan hanya satu orang pemain, yang sejak awal telah diakui oleh Eric sebagai seorang pemain terbaik di dunia ini.


Ia tak lain, adalah Angie.


Yang kini, telah menjadi perwakilan dari seluruh Guardian yang ada di dunia manusia ini.

__ADS_1


Seorang dewa perang.


__ADS_2