
Pertarungan sengit antara Angie dan 3 Guardian itu terus berlanjut.
Saat ini, Cylene yang telah berada dalam kekuatan penuhnya. Menggunakan berkah dari angin untuk memperkuat dirinya sendiri. Ia menarik pedang dari tangan kanan Valiant dan segera bersiap untuk melesat ke arah Angie.
Melihat keadaan Cylene yang seperti itu, Valiant dan juga Thilmir hanya berdiam diri. Membiarkan Cylene melakukan apapun yang diinginkan olehnya.
Melihat keadaan itu, Angie merasa sedikit terancam. Ia merasakan bahaya yang besar.
'Apa-appaan ini?! Dia adalah orang yang sama?!' Teriak Angie dalam hatinya.
Kaki Cylene terlihat telah siap untuk melompat. Tubuhnya yang diselimuti oleh cahaya kehijauan itu benar-benar mengintimidasi.
Hanya dalam satu kedipan mata....
'ZRAAAASSSHHH!!!'
Tebasan Cyrese telah melayang tepat di bagian leher Angie. Tanpa memberikan kesempatan bagi dirinya untuk bereaksi, Angie pun memperoleh Damage yang sangat fatal.
...[Anda telah menerima 9.821.953 Damage!]...
...[Anda telah menerima damage yang sangat fatal!]...
...[Kepala Anda telah terpenggal!]...
...[Anda menerima efek Extreme Bleeding!]...
...[Anda akan menerima 200.000 Damage per detik!]...
...[Anda telah mati!]...
...[Anda mmemperoleh restriksi Log In selama 3 hari!]...
Notifikasi itu pun menutupi pandangan Angie yang saat ini dipenuhi dengan warna merah. Hal terakhir yang dilihatnya adalah senyuman tipis di wajah Cylene. Seakan Ia senang dengan pertarungan barusan.
'Sialan.... Yang benar saja? Bukankah Eric melawan mereka dulu? Kenapa aku.... Masih belum cukup....'
Pikiran terakhir Angie itu pun menghilang bersama dengan karakternya yang berubah menjadi cahaya putih di dunia virtual itu.
...[Bersiap untuk memindahkan kesadaran secara paksa!]...
Notifikasi terakhir itu terlihat di pandangan Angie. Dan tak berapa lama, Ia pun terbangun di dunia nyata.
__ADS_1
Pintu kapsul mesin VR itu pun terbuka dengan sedikit gas sejuk yang keluar. Di balik pintu itu, Angie terlihat secara perlahan membuka matanya. Tak berapa lama....
"Sialan! Apanya Guardian?! Bukankah mereka lebih cocok sebagai iblis?!" Teriak Angie yang dengan cepat bangun dari kapsul itu.
Ia mengambil Hoodie berwarna putih dan segera berlari meninggalkan rumahnya. Atau lebih tepatnya, apartemennya di Grandia Group.
Tujuannya hanya satu. Yaitu untuk pergi ke rumah Eric meskipun saat ini telah pukul delapan malam.
"Aah.... Nona Angie. Ada perlu apa berkunjung semalam ini...." Ucap salah seorang satpam yang menjaga lantai di bawah kediaman Eric itu.
"Aku ada perlu dengan Eric. Menyingkir lah!" Balas Angie yang masih terus berlari melewati barisan para penjaga keamanan itu.
Tapi mereka semua hanya membiarkannya karena kejadian seperti ini cukup sering terjadi. Terutama setiap kali Angie memperoleh kekalahan.
'Dok! Dok! Dok!'
"Permisi, buka pintunya!" Teriak Angie sambil menggedor pintu kediaman Eric.
"Tunggu!"
Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu itu. Tak berselang lama, kunci pintu rumah itu pun terbuka, memberikan kesempatan bagi Angie untuk masuk. Akan tetapi....
'Sreett!'
"Elin! Kenapa kau menutup kembali pintunya?!" Teriak Angie yang berusaha untuk mendorong pintu itu agar kembali terbuka.
"Kau lagi?! Kenapa kau akhir-akhir ini sering datang kemari?! Terakhir kali kau menghabiskan puding ku tanpa izin!" Balas Elin yang juga berusaha keras untuk menutup pintu itu.
"Hah?! Masih membahas itu?! Bukankah aku membelikanmu puding baru pagi harinya?"
"Aku sudah tidak mau puding setelah itu!"
Meski sama-sama berjuang, tubuh Angie yang lebih tinggi dan lebih berisi daripada Elin akhirnya menjadi pemenang. Sebuah kemenangan yang murni dikarenakan berkah dari langit.
Pintu itu pun terbuka lebar dan Angie langsung masuk seakan itu memang rumahnya sendiri.
"Eric! Dimana kau! Aku ingin protes!" Teriak Angie di dalam rumah itu.
Mendengar teriakan itu, Ayah Eric yang sedang menonton televisi segera menoleh. Begitu juga Ibu Eric yang pada saat itu sedang belajar memasak.
Sedangkan Eric sendiri yang masih makan hanya bisa terbengong. Menghentikan sendok di tangan kanannya yang akan masuk itu.
__ADS_1
"A-apa yang kau lakukan disini?!" Teriak Eric terkejut.
Sementara itu, kedua orangtua Eric terlihat cukup tenang dengan situasi ini.
"Aah, Angie ya? Nanti coba resep baruku dalam membuat dadar gulung ya?" Ucap Ibu Eric.
"Angie, duduklah disini dan menonton pertandingan bola ini bersama-sama. Kali ini pertandingan sengit antara Jerman dan Inggris. Bukankah itu asal negaramu?" Ucap Ayah Eric yang tengah duduk santai di sofa itu.
"Hah.... nampaknya kali ini aku gagal lagi mencegah Ia masuk." Ucap Elin yang segera merapikan sepatu Angie yang berserakan dan menutup kembali pintu itu.
Sedangkan Angie sendiri telah berlari ke arah dapur. Mendatangi Eric yang sedang menikmati nasi gorengnya dengan tenang. Tapi ketenangan itu telah runtuh seketika.
"Eric! Kenap kau bisa menang melawan Guardian itu?! Mereka terlalu kuat! Benar juga, Cheat! Mereka menggunakan Cheat untuk meningkatkan kekuatannya dengan gila!" Ucap Angie yang tanpa ragu segera duduk di sebelah Eric.
Mendengar hal itu, jujur saja Eric cukup terkejut. Biasanya Angie hanya mengatakan banyak omong kosong. Tapi kali ini, Ia membawa informasi yang sangat berharga. Bagaimanapun, Guardian adalah sosok yang harus Ia lawan di kemudian hari.
Informasi apapun mengenai mereka memiliki nilai yang sangat tinggi.
"Apa yang terjadi? Bisakah kau menjelaskannya padaku?" Tanya Eric.
Angie pun dengan segera menceritakan seluruh kronologi pertarungannya dengan tiga Guardian itu. Bahkan ketika 3 lawan 1, Angie sebelumnya sempat unggul. Tapi semua itu runtuh dan berubah ketika Cylene, sang Guardian Elf, melakukan sesuatu.
"Silakan dicoba, Angie." Ucap Ibu Eric yang memberikan satu piring dengan sebuah telur dadar gulung yang terlihat begitu cantik itu.
Tanpa ragu dan rasa malu, Angie dengan sigap mengambil sendok dan garpu lalu memakannya sambil melanjutkan ceritanya itu.
Dalam kejadian kali ini, bisa dikatakan Eric memperoleh keuntungan yang sangat besar.
Ia memperoleh informasi mengenai kekuatan yang sebenarnya dari para Guardian. Bahkan Angie sendiri membagikan seluruh status dan item yang digunakannya selama pertarungannya itu melalui ponselnya.
Sebuah informasi yang sangat diinginkan tapi sangat sulit untuk diminta oleh Eric karena rasa tidak nyaman.
Setelah melihat status itu, kedua mata Eric hanya bisa terbuka lebar. Mulutnya pun ternganga kembali.
'Yang benar saja?! Level 1.042?! Bahkan dengan status segila ini.... Dia masih kalah telak dengan salah seorang Guardian?!'
Kalimat itulah yang terlintas dalam pikiran Eric.
Bagaimana tidak, status Angie saat ini lebih tinggi daripada Eric murni karena jumlah Rebirth yang sangat gila serta level yang tinggi.
Dedikasinya terhadap sistem Rebirth dan Level itulah yang membuatnya bahkan melampaui seluruh kemampuan yang diperoleh Eric melalui berbagai Event dan artifak langka.
__ADS_1
Hanya saja dalam hal itu, Eric memiliki regenerasi yang jauh melampaui Angie. Atau setidaknya 10x lipat lebih cepat. Meskipun, regenerasi sekuat itu takkan berguna di hadapan serangan yang langsung membunuh lawannya.
Dengan bekal informasi itulah, Eric memperoleh pengetahuan baru terhadap sebagian dari lawannya.