TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Epilog


__ADS_3

...[Berita Terkini!]...


...[Perusahaan permainan VR MMORPG, ReLife menyatakan akan mengakhiri layanan mereka hari ini!]...


Semua pemain ReLife di seluruh penjuru dunia segera bangkit dari kapsul mereka. Hal terakhir yang mereka sadari di dunia itu adalah mereka sedang bersorak merayakan kemenangan mereka melawan bangsa iblis.


Bahkan mereka telah melihat dengan sangat jelas notifikasi dunia dimana 2 Dewa telah mati. Salah satunya pasti adalah Iblis itu. Terlebih lagi, notifikasi berhasil diselesaikannya World Quest seharusnya telah cukup menegaskan kekalahan bangsa Iblis dan kemenangan bangsa manusia.


Tapi kenapa?


Kenapa mereka secara tiba-tiba dipaksa untuk Log Out?


“Kali ini, kami akan melakukan wawancara kepada salah satu pemain yang berhasil bertahan hingga akhir pertempuran itu. Silakan, Tuan Trevor.” Jelas seorang pembawa acara di salah satu channel MeTube raksasa itu.


“Yah, jadi pada intinya seseorang telah berhasil mengalahkan kaisar iblis itu. Bahkan notifikasi atas kemenangan manusia telah jelas-jelas muncul di hadapan kami. Tapi secara tiba-tiba….”


“Secara tiba-tiba?” Tanya pembawa acara itu penasaran.


“Mungkin Anda takkan percaya tapi…. Dunia permainan itu berhenti selama sekitar satu menit atau lebih dengan berbagai notifikasi aneh. Dan segera setelah itu, kami semua dipaksa untuk Log Out. Termasuk seluruh rekan Guild ku di saat yang bersamaan.” Jelas Pria bernama Trevor itu.


Pernyataan Trevor itu membuat semua orang yang melihat acara wawancara yang disiarkan secara Live ini justru semakin bingung.


Kolom komentar di channel itu mulai dibanjiri dengan berbagai macam pertanyaan. Seperti notifikasi apa yang muncul di hadapannya sehingga bisa disebut sebagai notifikasi aneh itu.


Karena hanya sebagian orang saja yang cukup beruntung untuk bisa melihat notifikasi aneh itu. Sedangkan orang lain yang memiliki kapsul VR kualitas rendah akan langsung dipaksa untuk Log Out setelah waktu berhenti selama satu menit lebih itu.


Atau lebih tepatnya, berhenti selama 1 menit dan 27 detik.


“Jadi…. Notifikasi aneh seperti apa yang Anda lihat?” Tanya pembawa acara itu.


“Sebuah notifikasi yang berbicara mengenai sumberdaya perhitungan yang tak cukup atau semacamnya. Sebentar, aku berhasil mengambil screenshotnya.” Ucap Trevor.


Screenshot dari jendela permainan Trevor pun ditampilkan pada layar besar di ruangan wawancara itu. Dan semua orang awam nampak semakin kebingungan dibuatnya.


Akan tetapi, beberapa orang yang sedikit memahami istilah yang ditampilkan segera mengerti.


...[Resource for calculation is not sufficient. Pausing all graphical calculation to calculate the effect of Dimensional Slash]...


Beberapa orang di kolom komentar menyebutkan mengenai hal yang dimaksudkan pada hasil screenshot tersebut. Dimana salah satu dari tim channel MeTube tersebut menyebutkannya kepada sang pembawa acara.


“Tunggu sebentar, salah satu komentator menyebutkan mengenai apa yang dimaksud di sini. Pengguna bernama GDevGuy menyatakan bahwa kemampuan komputasional server tidak memadai untuk melakukan perhitungan yang sedang terjadi.” Jelas pembawa acara itu.


“Hah? Apa maksudnya dengan itu? Bukankah superkomputer Genesis adalah komputer terkuat di dunia ini?" Tanya Trevor kebingungan.


"Ya, begitu lah. Tapi entah kenapa...."


Pada akhirnya, tak ada satu pun orang yang bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dunia virtual itu.


Jika dianalogikan dalam permainan komputer atau ponsel yang biasanya, dunia ReLife mengalami apa yang dikenal sebagai Force Close akibat proses data yang terlalu berat.


Meski begitu, hasil dari Dimensional Slash yang dilakukan oleh Angie, telah berhasil dihitung dengan sempurna.


Dimana pada akhirnya, seluruh dunia itu hancur beserta segala isinya.


......***......


Kediaman Eric.


"Hoaaahm...."


Eric terlihat keluar dari kamarnya sambil menguap. Ia nampak mengucek mata kanannya sambil berjalan secara perlahan.


"Kak, bukankah ini sudah siang? Kenapa baru bangun?" Tanya adiknya sambil menggendong putri dari Eric.


"Eh? Benarkah?"


"Benar! Aku bahkan harus menghadiri 2 rapat yang seharusnya kakak hadiri! Huh!" Keluh Rina kesal.


Di sisi lain, ayah dan juga ibunya sedang sibuk menikmati acara televisi. Mereka nampak menonton tv sambil menikmati makanan ringan.


"Eric? Sudah bangun? Ibu dengar perusahaan permainanmu itu akan tutup. Apakah itu benar?" Tanya Ibu Eric sambil menolehkan kepalanya.


"Ya, berita mengatakan hal seperti itu. Mereka bahkan membagikan sekitar 50% total aset mereka kepada seluruh pemain di dunia. Apakah kau juga mendapatkannya?" Tanya Ayah Eric.


Eric yang baru saja bangun sama sekali tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kedua orangtuanya.


Akan tetapi, mengingat kejadian sebelumnya....


"Begitu kah? Mungkin saja benar. Tapi sayangnya.... Aku nampaknya tak mendapatkan hadiah itu." Balas Eric sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Eeeehhh?! Bukankah itu sangat disayangkan! Ku dengar hadiahnya mencapai triliunan dollar!" Teriak Ayah Eric terkejut.


"Itu benar! Bukankah kau cukup hebat dalam permainan itu?!" Tanya Ibunya histeris. Mereka bahkan sampai berdiri dari sofa nyaman itu karena terlalu terkejut.


Sedangkan Eric sendiri?


"Sudah lah. Lagipula, bukankah keluarga kita sudah cukup kaya? Biarkan orang lain yang menikmatinya."


Perkataan Eric itu memang ada benarnya.


Keluarganya sudah termasuk sebagai salah satu keluarga terkaya di Asia Tenggara. Untuk apa menimbun kekayaan lebih banyak lagi daripada yang telah mereka miliki?


Meski begitu....


'Srruuuggg!'


"Mmmhhh...."


Elin terlihat merangkul lengan kiri Eric secara perlahan dari belakang.


"Elin?"


"Lapar, belikan aku makanan." Ucap Elin dengan suara yang lemas.


Eric melihat sosok Elin sejenak, dimana Elin nampak menutupi kedua matanya dengan rambut hitamnya yang telah cukup panjang itu.


"Apa yang kau inginkan?"


"Terserah."


Jawaban dari Elin merupakan jawaban yang paling menyulitkan banyak orang. Karena apapun yang Eric pilih, mungkin takkan bisa memuaskannya.


Meski begitu, Eric pun memutuskan untuk mentraktirnya sesuatu.


"Bersihkan wajahmu dan ganti pakaianmu, kita akan segera keluar."


Elin nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum kembali masuk ke kamarnya.


......***......


"Apa maksudnya ini?"


"Bukankah kau bilang apa saja?" Balas Eric singkat sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi.... Kafe di lantai 1 apartemen? Kau serius?"


Elin nampak sedikit kecewa dengan pilihan Eric. Tapi memang itulah kesulitan yang dibawa oleh jawaban terserah.


"Sudah lah. Puding di sini cukup enak kok."


Elin tak menjawab. Ia hanya diam sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


Dengan sigap, Eric pun memotong puding di hadapannya dan menusuknya menggunakan sebuah garpu. Secara perlahan, Ia memasukkannya ke dalam mulut Elin.


"Mmmm.... Mmmm.... Kau benar. Cukup enak." Ucap Elin sambil terus mengunyah puding itu. Kini, senyuman nampak mulai menghiasi wajah manisnya itu.


"Benar kan?"


Keduanya akhirnya menikmati sarapan pagi di siang hari itu. Setelah semuanya habis, Elin baru mulai berbicara.


"Kenapa?" Tanya Elin singkat.


"Apanya?"


"Kenapa kau mati di sana?"


"Mana ku tahu? Aku tak menyangka pedang itu akan menusukku."


"Tapi...."


Elin terlihat masih sedikit menyesal atas kematian Eric di dunia itu. Sekalipun pada akhirnya, Angie memang menyelesaikan semuanya sendirian.


Akan tetapi....


"Kau tahu.... Terlalu banyak kenangan di sana bukan? Aku.... Aku hanya...."


Secara perlahan, Elin mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Dandanannya yang begitu rapi dan menawan, seketika berubah menjadi acak-acakan karena tingkahnya.


Meskipun terus berusaha menahannya, Eric dapat mendengarnya dengan jelas. Bahwa saat ini, Elin sedang menangis.


"Maaf...."


Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulut Eric. Tak ada ruang baginya untuk membuat alasan. Karena pada kenyataannya, semua ini adalah kesalahannya sendiri.


Bahkan, jika Elin tak datang menyelamatkannya di sana, mungkin akhir dari dunia virtual itu akan menjadi jauh lebih berbeda.


Entah itu ke arah yang baik, atau pun ke arah yang buruk bagi mereka berdua.


Tapi satu hal yang pasti.


"Aku.... Aku tak ingin melepaskan semua yang ada di sana, kau tahu?" Ucap Elin dengan suara yang tersedu-sedu.


"Aku tahu. Aku juga tak ingin melakukannya."


Saat keduanya masih dalam pembicaraan yang cukup mendalam, biang dari segala permasalahan itu pun muncul.


"Yo! Ada apa ini? Serius sekali?" Ucap seorang wanita yang cukup tinggi dengan rambut pirang.


Ia hanya mengenakan celana jeans biru yang sedikit robek di beberapa bagian, serta kaos hitam dengan lengan pendek. Di bagian pinggangnya terlihat sebuah tas kecil menggantung dengan rapi.


"Angie, tolong jangan sekarang. Saat ini...."


"Terimakasih." Ucap Elin.


Perkataan itu tentu saja sama sekali tak diduga oleh Eric. Ia berpikir Elin akan sangat marah kepada Angie karena wanita itu lah yang telah menguras habis kekuatan Eric.


Tapi pada kenyataannya....


Setelah menunggu selama beberapa saat, Angie nampak mengeluarkan sebuah hard Drive dengan ukuran yang cukup besar.


"Apa ini?" Tanya Eric dan juga Elin penasaran.


"Hadiah untuk kalian, mereka bilang seperti itu. Katanya mereka ditolak oleh petugas keamanan ketika ingin menemui kalian."


Eric memang melarang siapapun mengganggu permainannya di panggung terakhir itu. Jadi mungkin memang benar bahwa kehadiran mereka akan ditolak.


"Terimakasih." Balas Eric singkat sambil menerima hard Drive itu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Angie sambil melambaikan tangan kanannya. Ia nampak begitu tenang dan bahagia sekalipun dunia virtual yang menyimpan setengah dari dirinya baru saja ditutup.


Itu karena Angie memang telah terbiasa bergabung dan meninggalkan sebuah permainan sebagai karirnya sejak dulu.


Jadi Ia sudah tahu, bahwa suatu hari nanti, dunia permainannya akan berakhir.


Sebuah fakta yang tak ingin diterima oleh sebagian besar pemain.


"Apa isinya?" Tanya Elin penasaran.


"Entahlah, eh...."


Saat melihat hard Drive yang disimpan dalam kantung kain itu, Eric menemukan selembar kertas kecil yang dilipat dengan rapi.


Keduanya pun membuka surat kecil itu bersama-sama.


...[Kepada : Eric dan keluarganya]...


...[Kami dari pihak pengembang ReLife mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi dan permainan Anda. Tapi dengan berat hati, kami memang harus menutup dunia permainan itu....


...Meski begitu, kami tetap ingin memberikan hadiah kepada salah satu pemain terbaik kami. Di dalam hard Drive ini, tersimpan sebuah salinan dunia kecil dan juga seluruh NPC terdekat Anda. Termasuk salinan dari data karakter Anda dan juga Elin....


...Anda dapat memasang hard Drive ini di salah satu komputer tingkat server, lalu menghubungkan kapsul permainan Anda untuk mengakses dunia ini. Jangan lupa untuk membuat backup data jika diperlukan....


...Kami harap, Anda dan sekeluarga dapat terus menikmati 'sisa' dari apa yang telah Anda bangun selama ini.]...


...[Dengan hormat, tim pengembang ReLife]...


"Tunggu dulu? Kau serius? Kau bisa membacanya kan?!" Ucap Elin dengan senyuman yang begitu lebar.


"Tentu saja aku bisa membacanya!"


Keduanya pun terdiam.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi....


'Braaakkk!'


Keduanya segera bangkit dari meja makan itu dan berlari ke arah elevator. Mereka berniat untuk segera mencoba apa yang ada di dalam hard Drive itu.


"Tunggu! Tuan! Anda belum membayar! Anda tidak bisa pergi begitu sa.... Hah...." Keluh salah satu pelayan di kafe itu.


"Kau baru di sini?" Tanya pelayan yang lain.


"Eh? Apakah orang itu selalu makan dan pergi?"


Beberapa pelayan yang mendengar perkataannya nampak tertawa dengan cukup keras.

__ADS_1


Bagaimana tidak?


"Bodoh, apakah kau tak mengenalinya? Dia adalah yang memiliki gedung ini. Bahkan selalu memberikan donasi besar padat kafe ini."


"Tuan Eric sangat sibuk. Ia selalu meminta untuk memasukkan tagihannya hingga akhir bulan jika Ia lupa membayarnya."


"Eh?! Sungguh?!"


Bahkan hingga menjadi sekaya dan setenar itu, wajah dan penampilan sederhana dari keduanya masih menjadi korban dari salah sangka banyak orang.


......***......


Setibanya kembali di kediaman mereka, Eric dan juga Elin nampak begitu terburu-buru berlari ke arah kamar mereka.


Keluarga mereka yang melihat tingkahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tapi keduanya memang tak peduli apapun lagi.


Jika isi hard Drive ini memang benar apa adanya, maka tak ada satupun yang mereka sesali di kehidupan ini.


'Klaaakkk!'


"Sudah?" Tanya Elin panik.


"Baru saja masuk. Sekarang.... Sudah menyala." Ucap Eric setelah mengaktifkan komputer rumahnya sebagai server untuk mereka berdua.


Di sisi lain, Elin juga sedang sibuk mengatur kapsul VR mereka untuk terhubung ke komputer server milik Eric. Yang tentunya telah diamankan dengan password yang kuat.


"Aku juga sudah selesai mengaturnya."


Keduanya pun berdiri diam di hadapan kedua mesin VR mereka. Jantung mereka berdetak kencang.


Di satu sisi, mereka berharap bahwa semua ini adalah kenyataan.


Tapi di sisi lain, mereka berdua tahu. Bahwa apapun yang terdengar begitu indah untuk menjadi kenyataan, biasanya hanyalah sebuah kebohongan.


Mungkin saja ini hanyalah akal-akalan dari Angie. Sebagai upayanya untuk bercanda.


Akan tetapi, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya dengan pasti.


"Kau siap?" Tanya Eric.


"Bagaimana denganmu?" Balas Elin yang kembali bertanya.


"Tentu saja aku siap."


"Begitu pula denganku."


Setelah memantapkan pikiran mereka, keduanya pun memasuki kapsul VR itu secara bersamaan.


Kesadaran mereka mulai memudar sedikit demi sedikit. Dan di hadapan mereka, informasi dari kapsul VR itu nampak dengan jelas.


...[Berusaha menghubungkan ke Server....]...


...[Koneksi berhasil!]...


...[Perangkat akselerasi tidak ditemukan!]...


...[Dunia akan berjalan dengan perbandingan waktu 1 banding 1 dengan dunia nyata!]...


...[Bersiap untuk memindahkan kesadaran....]...


Setelah beberapa saat, kegelapan yang ada di sekitar mereka berdua pun tergantikan oleh cahaya remang-remang di dalam sebuah goa yang besar.


Eric menoleh ke samping dan melihat sosok Elin yang dikenalnya dulu.


Begitu pula dengan Elin yang melihat sosok Eric yang sama seperti dulu. Jauh sebelum Ia menjadi Iblis.


"Kita.... Benar-benar bisa kembali?" Tanya Eric dengan senyuman yang begitu lebar.


"Kau benar! Ini.... Ini luarbiasa! Eric! Ini luarbiasa!!!" Teriak Elin kegirangan sambil melompat-lompat dan memeluk tubuh Eric.


Saat keduanya masih sibuk merayakan hal yang luarbiasa ini....


"Fufufu.... Nampaknya sang pangeran kegelapan telah kembali?" Ucap Lucien sambil membuat pose yang aneh seperti biasanya.


Di belakangnya, Oliver nampak menyusul sambil menyeret Tasmith yang tak mau bekerja.


"Tuan Eric? Anda sudah kembali?" Tanya Oliver dengan sopan.


"Lepaskan aku, Goblin sialan!" Teriak Tasmith kesal.


Eric menyadari situasi dan pemandangan di tempat ini. Tempat ini tak lain adalah Dungeon Origin. Dungeon pertama yang dibuat oleh Eric dengan segala yang Ia miliki.


Bukan untuk mengumpulkan kekuatan atau semacamnya, tapi untuk melindungi apa yang berharga baginya.


Di kejauhan, Eric dapat melihat sosok Deus yang sedang menikmati makanan bersama dengan Liz di salah satu rumah makan Goblin itu.


"Semuanya.... Aku...."


Tanpa kuasa, air mata mulai membasahi wajahnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Elin ketika melihat pemandangan yang telah lama ditinggalkannya itu.


"Tuan, apapun yang terjadi.... Selamat datang kembali." Ucap Oliver sambil membungkukkan badannya secara perlahan.


"Kau benar.... Kau benar, Oliver, aku telah kembali. Terimakasih...."


"Fufufu.... Lihat lah kekuatan dari penguasa kege.... Guuhgg!!!"


Oliver nampak memukul Lucien yang bertingkah aneh itu. Dan segera mempersilakan Eric dan juga Elin ke dalam salah satu restoran terbaik di Dungeon ini.


Menjamu mereka berdua bersama dengan penguasa Vampir yang saat ini sedang menikmati kesehariannya.


Elin nampak berjalan mengikuti langkah kaki Eric sambil merangkul lengan kirinya. Setelah merasa nyaman, Ia mulai menyandarkan kepalanya di bahu Eric.


"Eric.... Pastikan untuk membuat salinannya setelah ini. Aku tak ingin kehilangan suasana ini sekali lagi." Ucap Elin yang masih terus meneteskan air matanya.


"Tenang saja. Aku sudah membuat salinannya."


"Begitu kah? Kalau begitu.... Bagaimana jika kita berkencan? Di dunia ini."


"Itu bukan ide yang buruk."


Deus yang melihat sosok Eric segera melambaikan tangannya. Menyapa teman dekatnya itu dengan ramah.


Setelah menunggu beberapa saat, seorang pelayan dengan ras Goblin nampak membawakan mereka berdua satu nampan yang dipenuhi oleh makanan.


Daging, sayur, buah-buahan, serta minuman yang segar dan dingin.


"Sudah ku duga! Tak ada yang bisa menyaingi makanan di dunia ini!" Teriak Elin sambil mengambil daging dengan kedua tangannya.


"Kau benar. Terlebih lagi, kita bisa makan sepuasnya bukan?"


Bersamaan dengan cahaya redup di dalam Dungeon ini, keduanya menikmati hari-hari keemasan mereka sepenuhnya.

__ADS_1


Dimana kali ini, mereka yakin.


Bahwa takkan ada satu pun, yang bisa merusak surga virtual mereka.


__ADS_2