
Segera setelah kemenangannya di dunia Iblis, Eric segera menyerahkan sisa kendali kepada banyak bawahannya yang bisa dipercaya dan juga kepada Sierra.
Penyebabnya hanya ada satu.
Yaitu Ia telah Log In selama lebih dari 12 jam dalam satu hari ini.
Sebenarnya itu bukanlah masalah yang besar bagi Eric. Hanya saja....
"Yoo.... Kau bersenang-senang disana? Apakah kau melupakan sesuatu? Putrimu misalnya?" Ucap seorang wanita dengan rambut hitam yang menyentuh bahunya, Elin.
"A-aku sedang sangat sibuk kau tahu?! Be-benar kan?!" Teriak Eric dengan penuh terkejut sesaat setelah keluar dari kapsul VRnya.
Di hadapannya, ada sosok Elin yang sedang menggendong Putrinya Silvia yang telah tertidur. Jarum jam pun telah menunjukkan angka 1 dini hari.
Tapi di saat situasi tak lagi bisa memburuk....
"Berisik sekali, kau bisa membangunkan muridku." Ucap Andra yang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu. Ia dengan sigap mendekat ke arah Elin yang berusaha menenangkan bayinya yang sedang menangis itu.
"Cupcupcup.... Kemarilah."
Dengan tatapan Elin yang begitu sinis kepada Eric, suara hati yang remuk pun mulai terdengar.
"Tunggu dulu.... Sejak kapan kalian seakrab ini?"
"Sejak aku lupa bahwa kau adalah ayahnya. Andra, tolong rawat Silvia dengan baik ya?" Ucap Elin seakan mengabaikan perkataan dari Eric.
"Tenang saja. Memang itulah niatku untuk kemari. Kemarilah Silvia, Guru akan memperlihatkan langit malam yang indah kepadamu...." Ucap Andra sambil menggendong Silvia dengan lembut.
"Waaa.... Waaa...."
Melihat sosoknya, Silvia terlihat begitu tenang dan senang. Dengan kedua tangan mungilnya yang seakan berusaha untuk meraih langit.
"Benar sekali. Guru akan memperlihatkan kepadamu banyak bintang yang indah."
Dengan begitulah, Andra kembali menghilang dari kamar Eric. Menyisakan kesunyian diantara pasangan suami istri itu.
Eric terlihat sangat terpukul melihat kejadian barusan. Mungkin saja.... Ia terlalu mengabaikan keluarganya demi sebuah permainan? Meski begitu.... Itu adalah pendapatan terbesarnya dalam hidup ini.
Di saat wajah Eric terus menerus menatap ke tanah, Elin secara tiba-tiba mendekat dan memeluk tubuh suaminya itu.
"Aku hanya bercanda, Eric. Tapi lain kali, berikan sedikit perhatian untuk keluargamh, oke?" Tanya Elin sambil mempererat pelukannya.
Eric secara refleks pun segera membalas pelukan itu dan menjawab.
"Hanya sebentar lagi, Elin.... Percayalah padaku. Aku akan menyelesaikan semua ini."
__ADS_1
"Terimakasih."
Pada akhirnya, mereka berdua pun beristirahat dengan tenang. Sedangkan Andra di sisi lain sedang berdiri di atap gedung ini untuk memperlihatkan keindahan bintang pada Silvia.
"Meskipun saat ini aku tak mampu.... Kuharap kau bisa melihat bintang-bintang itu dengan lebih dekat, Silvia. Apakah kau mau?"
Mendengar pertanyaan dari Andra, Silvia justru terlihat sangat antusias dan begitu senang.
"Awaaaa..... Waaa! Waaaaa!"
Entah apakah bayi itu bisa memahaminya atau tidak, tapi pada kenyataannya.... Andra hanya bisa berharap.
......***......
...- Pagi Hari - ...
Hari Senin, salah satu hari yang cukup dibenci banyak orang karena menandakan mereka semua harus mulai berangkat bekerja.
Tapi nampaknya, aturan itu tak berlaku bagi Eric dan juga Elin. Bagaimana tidak?
"Aah, aku sedang malas berangkat bekerja. Eric, tolong berikan aku pijatan." Ucap Elin yang masih menggeliat di atas ranjang yang besar itu.
Tapi sayangnya....
"Sebentar. Aku sedang membuat alasan yang logis kepada Lisa agar Ia mau membiarkanku beristirahat hari ini." Balas Eric yang sedang berputar-putar di tengah ruangannya.
"Kakak! Kau akan membolos kerja lagi?!"
"Ti-tidak! Bukan seperti itu! Be-benar! Ini adalah meminta waktu untuk beristirahat!" Balas Eric dengan gugup.
"Jadi kau memaksaku untuk bekerja menggantikanmu dan kak Elin agar kalian berdua bisa bersantai?!" Teriak Rina yang semakin kesal.
Suasana pun menjadi semakin heboh ketika ayah dan juga Ibu dari Eric ikut bergabung dalam pesta ini.
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut seperti ini?"
"Ibu! Kakak membolos kerja lagi!"
"Mungkin lain kali gantilah nama dokumennya atas namamu sendiri. Setidaknya itu akan mengajari Eric untuk tak sembarangan meninggalkan pekerjaannya." Balas Ayah Eric yang masih sibuk meminum kopi paginya itu.
"Hmm.... Itu benar juga. Mungkin aku akan melakukannya setelah ini." Balas Rina dengan wajah yang seakan-akan sedang berpikir serius tentang kejadian ini.
Eric yang mendengar hal itu pun mempercepat langkah kakinya untuk memutari ruangan ini. Dengan harapan agar kepalanya juga bisa ikut berputar.
Sementara itu....
__ADS_1
"Eric! Mana pijatanku?! Punggungku sudah pegal semua!"
Sedangkan Silvia dan juga Andra masih tertidur di sofa ruang tamu dengan acara televisi yang masih menyala.
Dan begitulah, Eric mengawali pagi harinya dengan sangat meriah.
......***......
...- Kantor Utama Grandia Group -...
"Tuan Eric, kau terlihat begitu kelelahan." Ucap Lisa yang melihat sosok Eric yang begitu lemas. Kantung matanya pun terlihat sangat tebal meskipun ini masih hari pertama dalam Minggu ini.
Bahkan jarum jam masih menunjukkan pukul 09.42
"Lisa.... Tolong, biarkan aku beristirahat...."
"Tidak bisa. Setelah ini Anda memiliki jadwal untuk bertemu dengan Direktur dari Industri Penambangan di Papua.
Ingat, perjanjian pertemuan ini telah dibuat sejak 3 Minggu yang lalu. Kau tak bisa membatalkannya begitu saja, Tuan Eric." Balas Lisa sambil memberikan senyuman yang begitu manis. Dengan harapan kecil yaitu untuk menyemangati atasannya.
Akan tetapi hal itu juga terlihat sia-sia bagi Eric yang saat ini. Setelah begadang penuh untuk bermain game, Eric masih harus mengurusi Elin yang rewel di malam harinya.
Terlebih lagi pagi harinya benar-benar sangat meriah hingga membuatnya kesulitan bahkan untuk bernafas sekalipun.
"Hah.... Aku tak bisa.... Mataku benar-benar tak bisa terbuka.... Lisa aku sangat mengantuk...."
Mendengar ucapan itu dari Eric, Lisa dengan segera mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam.
"Hmm, masih ada sekitar 45 menit sebelum pertemuan. Mungkin kau bisa beristirahat sejenak. Tapi bertahanlah sebentar, kita masih di jalan." Ucap Lisa.
"Terimakasih...."
Mereka berdua berjalan ke arah ruang rapat yang telah dijanjikan. Seperti yang diduga, ruangan ini masih kosong. Bahkan anggota dari perusahaannya sendiri pun belum datang. Apalagi mereka yang berasal jauh di Timur.
Oleh karena itu, Lisa menuntun Eric yang telah sempoyongan ke dalam ruang Staff. Di dalamnya terdapat banyak kursi dan sofa, serta beberapa televisi dan kulkas untuk beristirahat para pegawai.
Siapapun bisa mengakses ruangan ini kapan saja. Tapi saat ini....
'Tidak ada orang?'
"Lisa, aku akan tidur sebentar. Bangunkan aku 3 menit sebelum rapatnya dimulai." Ucap Eric yang segera melemparkan dirinya di salah satu sofa yang ada tanpa memperdulikan apapun.
Lisa yang melihat pemandangan itu pun terlihat membuat senyuman yang tipis.
'Tuan Eric, kau benar-benar manis hari ini.'
__ADS_1
Setelah memperhatikannya selama beberapa saat lagi, Lisa akhirnya segera meninggalkan ruangan itu dan mempersiapkan segala keperluan rapat yang akan dilaksanakan.
Beberapa saat kemudian, salah satu petinggi dari Grandia Group telah hadir dan ikut membantu Lisa dalam menyiapkan ruangan ini.