
Elin dengan segera meminumkan sebuah Potion untuk menyembuhkan Eric.
Kini, HPnya berada di kisaran 20%. Tapi efek Bleedingnya masih tersisa dan Eric hanya memiliki waktu sekitar 100 detik saja.
"Sebentar biar aku rawat luka mu dan...."
"Tak perlu.... Bantu aku ke sana." Ucap Eric kepada Elin.
Wanita berambut kemerahan itu pun kebingungan. Dan saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh Eric, Ia melihat sosok Aamori dan juga Angie.
Elin sadar bahwa situasi ini benar-benar kritis. Dan tak perlu lagi banyak bertanya, Elin pun segera membantu Eric untuk berjalan.
Eric tak mampu untuk menggunakan skill Fly maupun sayapnya karena beban 10 lingkaran sihir amplifikasi ini terlalu berat. Sehingga menyeretnya langsung kembali ke tanah.
Dengan lembut, Elin merangkul tubuh Eric dengan tangan kanannya dan membantunya mengangkat tongkat sihir itu dengan tangan kirinya.
"Bisa berjalan?" Tanya Elin lembut.
"Ya, terimakasih...." Balas Eric sambil terus menahan beban di kedua tangannya.
Keduanya pun berjalan menuruni bukit.
Jaraknya memang tak begitu jauh, mungkin sekitar beberapa menit saja jika berlari. Tapi dengan kondisi Eric saat ini....
"Maaf Elin jika aku egois tapi...."
"Aku mengerti."
Tanpa mendengar kelanjutannya, Elin segera melepas rangkulannya dan berjalan di hadapan Eric. Di sana, Ia menunduk seakan-akan meminta Eric untuk naik ke punggungnya.
"A-apa maksudnya ini?" Tanya Eric malu.
"Apa? Tenang saja, mungkin aku tak bisa menggendong mu di dunia nyata. Tapi di sini? Kekuatanku cukup untuk menggendong mu bersama dengan sihir sialan itu."
Eric nampak ragu-ragu untuk mengikuti saran dari Elin. Tapi tak ada waktu lagi. Dengan cepat, Eric pun naik di punggungnya. Dimana Elin mengunci kaki Eric dengan kedua tangannya.
Dengan cepat, Elin pun segera berlari dengan kencang.
"Aaah, benar juga. Bukankah kau ingat? Kita pernah kabur dari Inquisitor waktu itu dengan cara seperti ini?" Tanya Elin sambil terus berlari.
Elin memang tak menunjukkannya, tapi Ia benar-benar menahan beban berat dari lingkaran sihir Eric di setiap langkahnya.
Dimana pada setiap langkah Elin di tanah, Ia meninggalkan jejak yang begitu dalam sampai-sampai meremukkan tanah di sekitarnya.
"Apakah benar begitu? Oh iya, aku ingat." Balas Eric sambil tertawa ringan.
Jarak antara mereka berdua dengan Angie dan juga Aamori semakin dekat. Waktu Eric pun tak tersisa banyak. Dimana Ia terus menerus mencoba menggunakan Overdrive untuk menghapuskan Cooldown Angie.
[Target di luar jangkauan Anda!]
Notifikasi yang sama terus menerus muncul setiap kali Ia mencobanya.
Sementara itu di sisi lain....
Aamori nampak kembali fokus ke arah Angie. Menganggap bahwa Eric telah mati berkat serangannya barusan.
Wajar saja, karena Ia memperoleh notifikasi [Anda telah membunuh Eric]. Dimana pada kenyataannya, Eric yang dimaksud adalah salinan dari Slime itu.
"Angie.... Ku pikir kau cukup kuat setelah menjadi Dewi Perang. Tapi nampaknya.... Tak seberapa ya?" Ucap Aamori sambil terus memandang rendah Angie.
Tapi memang pada kenyataannya, Angie yang saat ini sama sekali tak bisa dibandingkan dengan Aamori.
Kekuatannya sama sekali tak seberapa karena sebagian besar telah hilang saat bertarung melawan Eric.
Meski begitu, Angie tetap diam.
Ia tetap membiarkan Aamori berkata sesuka hatinya sambil terus menerus mengulur waktu.
"Hahaha.... Begitu lah. Ini adalah kelas yang tak berguna. Sebaiknya sejak dulu aku mengejar menjadi Dewa Penempa bukan?" Balas Angie sambil tertawa.
"Kau benar. Itu memang kelas yang tak berguna. Hah.... Aku sudah lelah. Segera setelah membunuhmu, aku akan kembali ke kuil dan mempersiapkan penghancuran dunia ini. Menggantikan manusia dan Iblis dengan ras naga api." Jelas Aamori sambil segera berdiri.
Ia mulai mengangkat pedangnya. Bersiap untuk memenggal leher Angie yang masih terpuruk di tanah.
"Selamat tinggal, Angie. Pertarungan barusan benar-benar menyenangkan." Ucap Aamori.
Tapi pada saat itu juga....
Sebuah cahaya putih yang begitu terang nampak menyelimuti tubuh Angie.
Aamori yang masih trauma dengan sihir cahaya milik Eric secara refleks segera melompat mundur. Menjauhi Angie.
'Tunggu?! Bagaimana bisa?! Bukankah barusan aku telah.... Benar juga! Tubuh tiruannya!'
Aamori mulai menganggap bahwa tubuh salinan Eric masih hidup dan memutuskan untuk membunuh mereka berdua.
'Untung saja aku memiliki cukup waktu untuk menghindar. Jadi terimakasih karena telah membantuku membunuh Angie untukku.' Pikir Aamori dam hatinya.
Di sisi lain, sebuah notifikasi yang sama sekali tak bisa dipercaya muncul di hadapan Angie.
[Cooldown skill Transcendence Anda telah berkurang selama 167 jam dan 26 menit!]
[Anda saat ini dapat menggunakan skill Transcendence!]
'Gila! Eric.... Dia benar-benar ....'
Saat Angie menoleh ke samping, Ia melihat sosok Eric yang sedang digendong oleh Elin. Berlari mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Dan juga, 10 lingkaran sihir berwarna merah di ujung tongkatnya yang telah memudar dan menghilang.
'Terimakasih, Eric.... Kali ini....'
Tanpa menunggu lebih lama, Angie segera mengaktifkan skill Transcendence miliknya. Meningkatkan seluruh status di karakternya dengan tajam.
Selain itu, seluruh skill yang dimilikinya kini tak lagi memiliki Cooldown. Semuanya bisa digunakan tanpa jeda sedikitpun.
Penampilannya juga berubah menjadi layaknya seorang Dewi Perang yang sesungguhnya. Dengan rambut perak yang begitu indah.
Angie segera mengganti pedangnya menjadi sebuah tombak.
Aamori yang melihat hal ini di kejauhan mulai panik. Terlebih lagi ketika melihat sosok Eric yang berada di kejauhan bersama dengan Elin.
'Eric?! Jadi dia masih.... Sialan!'
Aamori dengan cepat menciptakan sebuah hujan pedang cahaya. Menghujani seluruh wilayah ini dengan pedang cahaya.
Akan tetapi, tak butuh 1 detik bagi Angie untuk mengakhiri semuanya.
'Sttaaaabbbbb!!!'
Sebuah serangan yang terlihat hanya seperti sebuah tusukan itu, sebenarnya merupakan penggunaan skill [Pierce] sebanyak 12 kali sekaligus.
Tak hanya merusak zirah tebal Aamori, tapi penggunaan skill penghancur Armor itu sebanyak 12 kali secara berturut-turut telah lebih dari cukup untuk melubangi tubuh Aamori sebanyak 6 kali.
Butuh satu tusukan untuk merusak zirahnya, dan satu tusukan lagi untuk melubangi tubuhnya.
"Kuuugggh!!!"
Darah mulai mengucur dengan sangat deras dari tubuh Aamori. Dimana di hadapannya, terlihat sosok Angie yang menatapnya dengan tatapan yang dingin.
"Kau ingin bertarung melawan Dewi Perang? Kalau begitu bertahan lah dari ini." Ucap Angie singkat.
'Tidak mungkin.... Ini.... Tidak mungkin....'
HP Bar milik Aamori mulai berkurang dengan begitu cepat. Dari yang awalnya masih penuh 100%, kini telah menjadi 0% hanya dalam 1 detik.
Seluruh pedang cahaya yang seharusnya menghujani tempat ini segera berhenti. Dan secara perlahan, menghilang begitu saja.
"Asal kau tahu, Eric bahkan bisa bertahan selama 5 menit melawan diriku dalam kondisi ini." Lanjut Angie.
Dengan kalimat itu, Aamori akhirnya menyadarinya.
Bahwa saat ini, Ia masih belum seberapa.
Tapi tak ada lagi kesempatan lain. Karena dengan statusnya sebagai seorang Dewa, kematian akan menjadi akhir dari segalanya.
Tak ada lagi penalti.
Tak ada lagi hukuman.
Dalam saat-saat terakhirnya sebelum dipaksa untuk Log Out oleh sistem, Aamori pun memberikan senyuman yang lebar.
"Hahaha.... Terimakasih.... Semua ini, benar-benar menyenangkan...." Ucap Aamori dengan tubuh yang sedikit demi sedikit berubah menjadi pecahan cahaya.
Hingga akhirnya, tak ada lagi yang tersisa dari Dewa Penempa itu.
Sebuah Notifikasi dunia pun muncul di hadapan semua orang.
[Salah seorang Dewa telah terbunuh!]
Angie yang melihat notifikasi itu akhirnya bernafas lega. Menyadari bahwa akhirnya, Ia bisa membunuh monster mengerikan itu.
'Jika saja.... Aamori memiliki 1 tahun lagi untuk belajar.... Mungkin dia akan benar-benar menjadi yang terkuat di dunia ini.' Pikir Angie dalam hatinya.
Akan tetapi....
[Salah seorang Dewa telah terbunuh!]
"Eh?!"
Angie kebingungan.
Kenapa notifikasi itu muncul dua kali? Apakah karena error dari sistem? Atau karena apa?
Di saat Angie menolehkan kepalanya ke arah Eric dan juga Elin, Ia melihat salah satu pedang cahaya Aamori sebelumnya telah berhasil menancap di tubuh Eric.
Sesaat sebelum Aamori terbunuh.
"Eric! Eric! Jangan bercanda! Ini sama sekali tak lucu! Eric!"
"Kuughh!!!"
Sama seperti Aamori, Eric yang juga telah mencapai status sebagai seorang Dewa tak lagi memiliki kesempatan untuk memasuki dunia ini setelah kematiannya.
Dan kematian karakter Eric, telah tercatat oleh sistem. Tak ada cara untuk menghentikannya.
Meski begitu, karakternya masih tertahan di dunia ini. Menunggu saat dimana sistem akan memaksanya untuk Log Out, untuk yang terakhir kalinya.
"Elin.... Terimakasih...."
"Tidak! Jangan mati! Tak bisakah aku...."
Saat Elin mencoba menegukkan Potion ke arah mulut Eric, cairan merah itu hanya menembus tubuhnya. Yang secara perlahan mulai berubah menjadi pecahan cahaya.
"Eric...." Ucap Angie di kejauhan sambil memasang wajah tak percaya.
__ADS_1
Setelah perjuangan selama ini, Angie tak bisa menerima jika Eric yang akan mati. Berbeda dengan kematian anggota kelompoknya yang lain, kematian Eric akan benar-benar menjadi akhir bagi karakternya.
Dan kali ini....
"Angie, syukurlah kau berhasil mengakhiri penempa sialan itu. Hahaha.... Serius, aku penasaran setinggi apa status defense miliknya." Ucap Eric sambil tertawa.
Tangan kanannya nampak mulai hancur dan berubah menjadi cahaya kebiruan yang indah. Begitu pula dengan kaki kirinya.
"Maaf Eric, aku...."
Angie masih menyesal.
Jika saja Ia berhasil membunuh Aamori sepersekian detik lebih cepat, mungkin Eric takkan mati. Tapi ini....
"Tak masalah.... Lagipula.... Dunia ini.... Telah berakhir...."
'Pyaaaarrr!'
Pada akhirnya, kepala Eric pun pecah menjadi serpihan cahaya biru yang indah. Terbang ke udara menerangi langit kemerahan ini.
Bersamaan dengan kematian Eric, seluruh makhluk panggilannya pun mulai menghilang satu demi satu.
Itu karena kematian Eric kali ini bukanlah sebuah kematian sesaat, melainkan sebuah penghapusan karakter sepenuhnya. Termasuk segalanya yang berhubungan dengan Eric secara langsung.
"Fufufu.... Bagaimana dengan.... Huh?"
Lucien yang saat ini sedang bertarung secara tiba-tiba merasakan suatu keanehan di tubuhnya. Dimana tangan kanannya mulai memudar dan pecah menjadi cahaya biru.
"Fufufu.... Nampaknya, waktu ku telah tiba."
Dengan kalimat terakhir itu, seluruh tubuh Lucien pun hancur dan menjadi serpihan kaca yang indah.
Hal yang sama juga terjadi pada para bawahan Eric yang lainnya secara langsung.
Oliver yang melihat pasukan Goblinnya yang memudar dan hancur menjadi serpihan cahaya biru itu segera menyadarinya.
"Tak ku sangka.... Ada seseorang yang bisa mengalahkan Tuanku." Ucap Oliver sambil menerima kematiannya.
Pada akhirnya, seluruh monster yang menyerbu dunia ini, yang merupakan bawahan dari Eric secara langsung segera hancur menjadi serpihan cahaya yang indah.
Menemani sorakan gembira dari para prajurit manusia yang akhirnya.... Bisa selamat dari serbuan Kaisar Iblis.
Notifikasi dunia pun muncul sekali lagi.
...[World Quest telah berhasil diselesaikan! Dunia telah selamat dari ancaman Kaisar Iblis!]...
Seluruh dunia merayakan kemenangan ini dengan sorakan yang penuh kebahagiaan. Yang dengan kata lain, mereka akan mendapatkan hadiah besar karena berhasil menyelamatkan dunia ini dari serbuan Kaisar Iblis.
Akan tetapi, suasan sedikit lebih suram di sisi yang lain. Terutama bagi Elin.
"Dasar bodoh. Jika saja kau mau bersabar dan meneguk Potion lainnya, kau bisa selamat dari itu kan?" Keluh Elin kepada sisa-sisa pecahan cahaya milik Eric.
Angie hanya diam di kejauhan. Dimana saat ini, Ia masih dalam kondisi Transcendence itu sendiri.
"Tidak.... Jika kau meneguk satu atau dua botol lagi.... Angie pasti sudah mati bukan? Mengingat Aamori sebelumnya hampir saja mengayunkan pedangnya." Ucap Elin sekali lagi. Masih pada serpihan cahaya yang kini digenggamnya.
Setelah memberanikan diri, Angie pun bertanya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Bukankah World Quest telah berakhir?"
"Aku? Aku akan tetap melanjutkan harapan Eric, dengan menghancurkan dunia ini. Mungkin akan butuh waktu yang sangat lama tanpa bantuannya, atau mungkin memang mustahil. Tapi aku akan tetap berusaha."
Elin terlihat memalingkan wajahnya saat mengucapkan hal itu.
Sebagai sesama wanita, dan juga rekan dari Eric, Angie dapat memahaminya. Bahwa saat ini Elin sedang menangis.
Bagaimanapun, karakter Eric di dunia ini adalah setengah dari kehidupan Eric yang sebenarnya.
Melihat Eric mati di dunia ini....
Akhirnya, setelah memikirkannya sejenak, Angie telah membulatkan tekadnya.
"Kau ingin dunia ini hancur bukan? Itu saja?" Tanya Angie.
"Hah? Ya, memang begitu lah. Kenapa?" Balas Elin sambil mengusap air matanya.
"Begitu ya? Tunggu sebentar." Balasa Angie yang segera melompat ke udara. Langkah demi langkah mengantarkan Angie semakin tinggi di langit.
Meninggalkan Elin sendirian dalam kebingungan.
Tanpa menyadari, bahwa Angie benar-benar akan memenuhi harapan Elin secara harfiah. Yaitu untuk menghancurkan dunia ini sepenuhnya.
Dengan kondisinya yang saat ini, Angie lebih dari mampu untuk melakukannya.
Sedangkan dirinya yang masih bisa berdiri di sini, tentu saja itu karena bantuan Eric. Jadi tak ada alasan baginya untuk tidak membantu Elin.
Secara perlahan, Angie mengganti tombaknya menjadi sebuah pedang perak.
Setelah cukup tinggi di udara, Angie mengangkat pedang perak itu ke atas secara perlahan. Memfokuskan dirinya untuk menggunakan skill penghancur dunia kedua kalinya di hari yang sama ini.
Dimensional Slash.
Elin yang melihat sosok Angie di udara hanya bisa keheranan sekaligus bingung.
"Tunggu sebentar? Apa maksudnya itu?"
Hingga akhirnya, setelah tepat 10 detik....
__ADS_1
Angie mengayunkan skill itu sekali lagi. Tapi kini, bukan ke arah sebuah dunia manifestasi.
Melainkan ke dunia virtual manusia yang sebenarnya.