
...Kerajaan Farna...
...Barisan Pegunungan Alpa...
Di hadapan barisan pegunungan yang menjulang tinggi ini, terlihat ratusan ribu pemain sedang berdiri dengan tenang.
Tentu saja, semuanya membawa sebuah peralatan yang cukup unik yaitu beliung, sekop dan juga cangkul.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya seorang Wanita dengan pakaian berupa setelan jas dan celana hitam dengan kacamata. Tak lupa, terdapat sebuah berkas di tangan kanannya. Ia adalah Lisa yang telah memutuskan untuk mengganti pakaiannya di dunia virtual ini.
Perhatian semua orang pun segera tertuju kepadanya. Suasana mulai menjadi tenang dan diiringi dengan anggukan kepala yang ringan dari mereka semua.
"Bagus. Kalau begitu, kita akan memulai pembangunan Kota kita sendiri!" Teriak Lisa dengan sangat keras seakan memberikan semangat.
"Wuooooohhh!!!"
"Gila! Aku tak pernah menyangka hal ini bisa dilakukan!"
"Ngomong-ngomong, apakah tidak masalah kita membangun Kota di wilayah Kerajaan Farna?"
"Bukankah Raja itu sendiri yang memberikan tanah ini kepada Guild Merah Putih dengan syarat mengikuti peraturan yang ada serta membayar pajak?"
"Hal yang sepele!"
Keributan pun kembali terjadi, membuat semua orang menjadi sangat bersemangat pada hari itu.
Dan dengan begitulah, ratusan ribu pemain itu mulai menggali, mencangkul dan juga meratakan tanah untuk memulai pembangunan itu.
Sedangkan untuk material dan bahan bangunan yang diperlukan, semuanya telah disimpan dalam Inventory milik Lisa dan beberapa petinggi lainnya. Tentunya, semua itu berasal dari uang Eric.
...***...
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
"Yang Mulia, apakah itu adalah pilihan yang bijak memberikan tanah kita kepada orang asing seperti mereka?" Tanya salah seorang menteri kepada Rajanya yang sedang berjalan keluar dari istana itu.
"Tenang saja. Mereka bukanlah orang asing." Balas Arlond singkat sambil terus berjalan. Arahnya yaitu barak pasukan.
Menteri itu pun hanya mengangguk mendengar jawaban dari Arlond dan terus mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di barak pasukan, Arlond dengan segera mengumpulkan dan merapikan barisan pasukan sambil melakukan inspeksi ringan.
'Tap! Tap! Tap!'
Arlond melangkah dengan perlahan namun dengan hentakan kaki yang cukup kuat. Matanya yang tajam terus menerus memperhatikan tiap prajurit.
Sebagai seorang Raja, Ia memiliki hak khusus untuk mengetahui nama, level dan sebagian kecil status dari rakyat dan juga pasukannya.
__ADS_1
[Nama : Brim]
[Level : 132]
[Status]
Health Point : 85.740
Mana Point : 3.280
Stamina Point : 21.590
Attack Power : 1.460
Magic Power : 285
'Hmm....' Batin Arlond sambil sedikit mengerutkan dahinya.
Rata-rata level prajuritnya cukup tinggi jika dibandingkan dengan prajurit di kerajaan lain. Bahkan masih lebih tinggi daripada Player pada umumnya.
Meski begitu....
'Tak cukup.... Mereka bahkan tak bisa bertahan melawan para Imperial Knights. Apalagi para Guardian itu. Aku harus memikirkan sesuatu untuk memperkuat mereka.' Pikir Arlond dalam hatinya.
Meskipun Arlond setuju untuk menerima misi dari Valiant sang Guardian Manusia untuk menghancurkan tempat persembunyian Eric, Ia sama sekali tak ada niat untuk mengkhianati sosok yang telah merubah hidupnya secara drastis itu.
Dan Ia baru saja menyadarinya, karena bisikan para prajurit di barisan belakang.
"Apa yang akan dilakukan oleh Yang Mulia?"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Jangan katakan bahwa Yang Mulia akan mengirim kita untuk berperang?"
"Masih lebih baik daripada Raja sebelumnya yang mengirim pasukan ke labirin kematian itu."
Mendengar perkataan itu, Arlond dengan segera tersadar.
'Benar juga! Jika aku menyerang Dungeon Treasure milik Eric, bukankah Quest dari Valiant terpenuhi? Selain itu, aku juga bisa meningkatkan level para prajurit ku lebih lanjut! Tapi kurasa untuk itu.... Kekuatan para Pahlawan Farna diperlukan untuk meminimalisir korban.' Pikir Arlond dalam hatinya.
Seluruh prajurit menjadi gugup melihat tingkah Arlond yang begitu mencurigakan itu. Mereka semua berspekulasi bahwa Raja mereka akan memberikan perintah yang mustahil.
Segera setelah beberapa menit berlalu....
"Semuanya! Perhatian! Yang Mulia akan berbicara!" Teriak salah seorang Ksatria yang berdiri di samping Arlond.
Semua prajurit pun bersiaga dan mempersiapkan telinga mereka untuk mendengarkan semuanya dengan seksama.
'Tap! Tap!'
__ADS_1
Arlond melangkah ke depan dengan langkah yang mantap dan badan yang tegap. Setelah itu, Ia segera menyampaikan maksudnya.
"Kepada seluruh Prajurit Kerajaan Farna, tepatnya Kota Forgia. Kita semua akan memenuhi permintaan dari Guardian Valiant untuk menumpas para monster! Bersamaan dengan itu, kita akan meningkatkan kekuatan Kerajaan Farna! Aku telah menemukan lokasi persembunyian monster itu dan kalian semua sebaiknya mengikuti perintah dariku!" Teriak Arlond.
Semenjak kejadian pertempuran antara Eric dan Deus dengan para Guardian, opini NPC manusia kepada Eric dengan segera menurun secara drastis. Itu semua karena mereka cukup membenci dan takut kepada sosok iblis. Meski begitu, beberapa masih tetap percaya dan kagum terhadap kekuatan Eric.
Itulah kenapa, mereka dengan segera setuju dan bersorak dengan keras untuk memburu monster yang dianggap sebagai bawahan dari Raja Iblis Eric.
Dan dengan itulah, leveling hampir seluruh prajurit di Kerajaan Farna pun berlangsung di Dungeon Treasure.
Kejadian ini semakin membuat Valiant yang masih menaruh keraguan pada mereka terpaksa untuk percaya bahwa mereka tak ada hubungannya dengan Raja Iblis Eric. Meskipun sebelumnya cukup dekat dengan Eric yang masih berperan sebagai penyihir.
...***...
...Dungeon Origin...
...Lantai 31...
Setelah perginya Eric dari dunia manusia ke dunia iblis, sisa petinggi yang ada di Dungeon Origin dengan segera memutuskan untuk bersembunyi sejauh mungkin dari permukaan tanah sekaligus membangun pertahanan.
Salah satu pemimpin dan pengusul dari ide ini adalah Rianne, sang peri penyair yang dengan segera menjadi petinggi setelah dipanggil itu.
Barikade demi barikade, serta kastil demi kast di bangun di setiap lantai. Semua itu dijaga oleh sekitar 10.000 lebih prajurit yang ada hingga ke lantai 31 ini kecuali pada lantai 1 hingga 5 yang telah dengan sengaja dikosongkan untuk mengecoh lawan.
Dan pada lantai 31 ini, mereka mulai mengalami dilema untuk melanjutkan penggalian atau berhenti dan membangun kastil yang kuat di lantai ini.
"Jadi bagaimana menurutmu, Nona Rianne?" Tanya Minis sang ketua Penambang.
"Jika yang terjadi seperti perkataanmu, yaitu batuannya semakin keras, maka kita tak ada pilihan lain untuk melanjutkan penggalian bukan?" Balas Rianne dengan tenang.
Seluruh sisa petinggi yang lain pun mengangguk seakan setuju dengan perkataan Rianne.
Akan tetapi, beberapa petinggi yang lain, terutama yang mengurus perihal makanan berkata lain.
"Meski begitu, tempat ini hanya dipenuhi dengan batuan yang sangat keras. Menumbuhkan makanan di tempat ini sangatlah mustahil. Apalagi beternak. Kita akan lebih dahulu mati karena kelaparan daripada karena serangan dari lawan."
Perkataan itu dengan segera menusuk hati semua orang. Mereka semua sadar dan tahu akan hal itu. Jadi mereka sama sekali tak bisa menolaknya.
Tapi semua itu diruntuhkan oleh Rianne dengan sangat mudah.
"Yang kau perlukan hanyalah tempat bertani yang tidak keras kan? Wind Shredder." Ucap Rianne sambil mengarahkan tangan kirinya ke sebuah dinding batu yang terlihat sangat keras itu.
Ratusan atau bahkan ribuan pedang angin yang sangat tajam dengan segera menghancurkan batuan itu hingga berkeping-keping. Tidak.... Lebih tepatnya menghancurkannya hingga menjadi remahan yang menyerupai tanah.
"Meskipun sama sekali tidak subur, setidaknya kau bisa mencobanya kan? Para alkemis yanga akan membuat penyubur tanahnya."
Permasalahan pangan pun....
Terselesaikan dengan begitu mudahnya. Membuat semua orang bahkan tak bisa bereaksi sama sekali.
__ADS_1