
'Sreeettt!!'
"Apa yang kau lakukan?! Membunuh Tuan kita seperti itu?!" Teriak Lucien sambil mencekik leher Cathy.
Tapi Cathy nampak tetap tenang, masih terus memperhatikan jasad Eric yang tergeletak di atas pasir hitam itu.
"Katakan sesuatu!" Teriak Lucien sambil mengancam Cathy dengan cakar besarnya.
Cathy pun akhirnya tergerak dan melirik ke arah Lucien.
"Seperti biasa, kau tak bisa berpikir sedikitpun ya?" Ucap Cathy sambil tersenyum.
"Apa ma...."
Posisi mereka berdua yang sebelumnya adalah Lucien mencekik leher Cathy dengan kuat, kini seketika berubah drastis.
Cathy dengan cepat memutar tubuhnya dan membanting Lucien ke tanah. Kini mengunci kedua lengannya dengan kakinya.
"Jika itu sulit kau pahami, lihatlah ke depan." Ucap Cathy sambil memaksa Lucien melihat ke arah tubuh Eric yang telah tergeletak tak berdaya.
Meski sangat kesal dan marah, Lucien akhirnya menyadarinya.
"Tu-Tuanku? Kau tidak apa?" Tanya Lucien kebingungan.
Lucien akhirnya menyadari keanehan dalam situasi ini. Yaitu sebuah kenyataan bahwa tubuh Eric masih utuh.
Seharusnya, makhluk apapun yang mati di dunia ini akan segera berubah menjadi cahaya putih setelah beberapa detik kematiannya. Meski terkesan kejam, tapi itulah hukum dari dunia ini.
Melihat bahwa tubuh orang yang telah mati masih tertinggal di dunia ini?
Justru hal itu jauh lebih menyeramkan daripada kematian pada umumnya.
"Jika kau sudah paham, maka segeralah persiapkan dirimu." Ucap Cathy sambil segera melepaskan Lucien. Kini, Cathy segera bersiap dalam mode bertarung dengan tangan kosongnya.
Begitu juga dengan Lucien.
Setelah beberapa saat berlalu....
"Heh.... Jadi kau menyadarinya?" Ucap Eric dengan suara yang berbeda daripada sebelumnya. Tubuhnya pun mulai bergerak dan nampak berusaha untuk berdiri.
Tapi kini, penampilannya telah berubah total.
Semua karakteristiknya sebagai seorang Vampir telah menghilang dan berubah menjadi manusia yang seutuhnya. Ciri yang paling membedakan adalah warna mata Eric yang kini menjadi keemasan.
"Siapa kau...." Ucap Lucien sambil memasang posisi siaga penuh.
Akan tetapi, apapun yang kini bergerak dengan tubuh Eric itu sama sekali tak memperdulikannya.
__ADS_1
"Meski belum sempurna, tapi setidaknya ini sudah cukup. Aku ucapkan terimakasih pada kalian untuk selalu mendukung perkembangan tubuh ini." Ucap Eric kepada Cathy dan Lucien.
Senyuman yang sangat mengerikan terlihat di wajah Eric.
Eric nampak memperhatikan dirinya sendiri selama beberapa saat, memberikan waktu kepada Lucien dan Cathy untuk berpikir.
"Lucien. Turuti perkataanku untuk kali ini saja. Lawan yang akan kita hadapi adalah salah satu pahlawan manusia kuno yang jatuh dalam kegelapan. Bahkan hingga dianggap sebagai salah satu Iblis terkuat. Ia adalah Obelisk, sang Penguasa." Jelas Cathy dengan suara yang lirih.
Tapi tanpa di sangka, tubuh Eric itu turut berbicara.
"Tak perlu berbisik, aku benar-benar berterimakasih untuk kalian atas nama Obelisk. Oleh karena itu, bisakah aku meminta bantuan untuk terakhir kalinya?" Tanya Obelisk yang mengendalikan tubuh Eric itu.
Kini, luka di dada tubuh Eric telah sembuh dengan sempurna. Seluruh Health Pointnya pun telah kembali.
Tak menjawab sedikitpun, Lucien dan Cathy justru bersiap untuk bertarung.
Tapi sayangnya....
"Matilah untuk tubuh ini." Ucap Obelisk dengan tenang sambil memanggil singgasananya di tengah gurun hitam ini.
Sebuah singgasana emas dengan banyak sekali perhiasan secara tiba-tiba muncul dari bawah tanah tepat ke arah tubuh Eric. Ia pun duduk dengan begitu tenangnya sambil memasang wajah sombong, memandang Lucien dan Cathy dari atas.
Dengan segera, mereka berdua pun bergerak dengan sangat cepat untuk membalas Obelisk.
Cathy terlihat berlari di atas tanah. Sedangkan Lucien nampak terbang dengan cepat untuk menyerang dari udara.
Kerjasama antara kedua orang itu memang tak perlu lagi diragukan. Jika serangan Cathy gagal, maka Ia dapat memberitahukan kelemahan targetnya ke Lucien.
Tapi sayangnya, bahkan belum dua detik mereka berdua bergerak....
'Srraaanggg! Srriiingg!'
Puluhan rantai raksasa muncul dari bawah tanah dan dari langit. Semuanya menargetkannya ke arah Lucien dan Cathy.
Di atas singgasana itu, nampak sosok Obelisk yang duduk sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya nampak Ia gerakkan kesana kemari seakan sedang mengusir nyamuk.
Tapi itulah kenyataannya.
Obelisk sedang menggunakan kuasanya untuk memanipulasi Dungeon Raksasa, Black Desert ini untuk membunuh Lucien dan Cathy.
"Hoo.... Bukankah kalian bergerak cukup bagus? Bagus kalau begitu, aku merasa bisa memperoleh kekuatan yang besar setelah mengorbankan kalian berdua." Ucap Obelisk sambil tersenyum.
Berkebalikan dengan senyumannya, rintangan yang harus dihadapi oleh Cathy dan juga Lucien justru semakin berat.
Kuil raksasa yang ada di kejauhan nampak menembakkan sesuatu. Tidak.... Lebih tepat jika menyebutnya menghujani sesuatu ke arah tempat mereka bertiga berada.
Obelisk di sisi lain nampak mengeluarkan dinding dari bawah tanah untuk melindungi dirinya.
__ADS_1
Tapi bagi Cathy dan Lucien?
"Cathy!" Teriak Lucien sambil segera pergi ke arah Cathy berada. Tanpa jeda, Lucien segera melepaskan dua buah sihir yaitu sihir angin dan sihir api.
Berkat keputusan cepat itu, Lucien berhasil menghadang ratusan ribu panah besar yang mengarah ke mereka berdua.
Tempat yang sebelumnya hanya berisi Padang pasir berwarna hitam ini, kini dipenuhi dengan panah besar dari Balista.
Tapi berkat keputusan Lucien itu juga....
'Sreeeetttt!!!'
Sebuah rantai berhasil menjangkau tangan kanannya. Rantai besar dengan cahaya keemasan itu langsung menarik Lucien dengan cepat dan membawanya ke arah Obelisk.
"Hah.... Ternyata mudah sekali. Aku bahkan belum mengeluarkan sebagian senjata suciku." Ucap Obelisk dengan begitu tenang sambil bersiap untuk membunuh Lucien.
Cathy yang tak menerima hal ini segera menggunakan sihir ruangnya. Dari balik sihir ruang itu, Cathy nampak mengeluarkan sesuatu dengan warna hijau. Slime.
Sambil berlari sekuat tenaga, Cathy membiarkan Slime hijau itu untuk memangsa dirinya. Sebagai gantinya....
'Spraaasshh!'
Cathy mengayunkan lengan kanannya sekuat tenaga ke arah pergerakan rantai yang membawa Lucien itu.
Slime yang sedang memangsa tangan kanannya itu pun memanjang karena kekuatan ayunan Cathy. Melihat ada mangsa baru, Slime itu pun berusaha sekuat tenaga untuk menggapai mangsanya, yaitu Lucien.
"Kuuughhh!!"
Dengan sekuat tenaga, Cathy berusaha untuk menarik dan melepaskan Lucien dari rantai besar itu.
"Lucien!!!"
Meski tak mampu menarik seluruh tubuh Lucien, tapi Cathy berhasil melepaskan tangan kanan Lucien dari ikatan rantai itu. Memberikannya kesempatan kedua dalam pertarungan ini.
'Sraaashhh! Zraaaangg!! Klaaaangg!!!'
Lucien memutar tubuhnya dengan sangat cepat sambil mengayunkan cakar harpy besar itu di setiap putarannya, membuat rantai besar itu pun patah dan hancur. Termasuk Slime yang menariknya.
'Tap!'
Pada akhirnya, Lucien telah terbebas dari rantai itu dan kini berdiri di samping Cathy.
Dengan tubuh yang telah dilumuri cairan berwarna hijau, Cathy nampak menggunakan sihir air dan angin untuk membersihkan dirinya sendiri dalam sekejap.
Setelah melihat kekuatan lawannya secara langsung, kini mereka berdua telah siap.
"Hoo.... Menarik. Berusahalah lebih keras lagi, wahai anak-anak Asmodeus!" Teriak Obelisk yang menggunakan tubuh Eric dengan sangat lantang.
__ADS_1
Setelah hilangnya keraguan, pertarungan pun kembali dilanjutkan.
Sebuah pertarungan yang akan menentukan bukan hanya hidup dan mati dua vampir itu. Tapi juga masa depan Tuan mereka berdua, Eric.