TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 388 - Kesalahan


__ADS_3

"Eric! Kau...!" Teriak Sierra dengan penuh amarah. Bagaimana tidak? Dunia yang dengan susah payah Ia lindungi, kini sekali lagi berada dalam kekacauan karena ulang seseorang.


Sierra tanpa aba-aba sedikitpun segera melesat ke arah Eric, menghunuskan tombak terkutuknya. Akan tetapi....


'Klaaaaanggg!!!'


Sebuah perisai kristal terlah melindungi Eric. Tak hanya pada satu titik, tapi di sekujur tubuhnya.


Senyuman yang kejam terlihat dari wajah Eric. Sebuah senyuman yang tak hanya dilapisi oleh kesombongan, tapi juga perasaan kemenangan.


"Ada apa? Bukankah kau ingin membunuhku? Kalau begitu lakukan saja sesuka hatimu. Tapi aku akan tetap mengajukan tawaran padamu." Ucap Eric sambil mengarahkan buku sihir itu di hadapannya.


Buku itu sendiri termasuk dalam jenis senjata sihir, dalam golongan [Grimoire] atau buku sihir.


Keberadaannya sangatlah langka di dunia ini karena tak bisa ditempa begitu saja. Tapi karena itulah, status yang diberikan sangat luarbiasa jika dibandingkan dengan senjata sihir jenis lainnya.


Menyadari wujud dari buku itu....


"Buku kematian dan kehidupan.... Kau?! Bagaimana kau bisa memperoleh benda berharga seperti itu?! Buku itu seharusnya hanyalah sebuah legenda! Keberadaan yang pernah bisa dibuktikan!"


Sierra yang menyadarinya terlihat begitu kebingungan. Tapi tak hanya itu, perasaan takut mulai menjalar di seluruh tubuhnya.


Itu semua karena kisah yang diceritakan secara turun temurun. Mengenai sosok Necromancer Agung yang menguasai Kematian. Sosok yang namanya sendiri tak boleh disebut karena akan membawa kematian bagi orang yang mengucapkannya.


"Hoo.... Jadi kau tahu mengenai buku kehidupan dan kematian Igvirueg ini?" Tanya Eric sambil memamerkan buku itu.


Tapi reaksi dari Sierra adalah....


"Apa yang telah kau katakan?! Jika kau menyebut namanya...."


Beberapa detik berlalu dengan keheningan. Tak ada satu iblis pun yang bergerak.


Bukan karena Raja Kematian Igvirueg yang melakukan sesuatu. Tapi mereka sendiri yang takut terhadap sosok kematian itu sendiri.


Memanfaatkan hal itu....


"Hahaha! Tengkorak sialan itu ya? Tenang saja, aku sudah membunuhnya! Daripada membahas hal itu, bagaimana jika kita menjalin sebuah kerjasama, Sierra? Pertimbangkanlah dengan baik tawaranku yang murah hati ini." Ucap Eric sambil memasang wajah yang cukup mengintimidasi.


"Ka-kau.... Mengalahkan Raja Kematian?"


Sierra dan semua Ksatria yang ada di tempat ini terlihat tak mampu mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.

__ADS_1


Terlebih lagi, Eric mengucapkannya seakan sama sekali tak ada beban. Seakan.... Raja Kematian itu sendiri adalah hal yang mudah.


Semua orang mulai merasa ketakutan terhadap sosok Raja Iblis bernama Eric itu. Mereka sama sekali tak menyangka sosok sekuat itu akan pernah terlahir di dunia ini.


'Glek!'


Sierra menelan ludahnya sendiri. Ia kini dengan serius mempertimbangkan tawaran kerjasama yang dikatakan oleh Eric sebelumnya.


'Jika itu adalah dirinya.... Mungkinkah Eric mampu melepaskan dunia ini dari genggaman Belphegor?'


Itulah yang ada di dalam pikiran Sierra.


Mengharapkan bantuan dari musuhnya memang suatu hal yang sangat tercela dan rendah. Tapi bagaimanapun, itu adalah kata hatinya yang terdalam.


Keberadaan Belphegor itu sendiri merupakan kekuatan absolut yang menguasai dan mengendalikan dunia Iblis ini sejak dahulu kala.


Seluruh Raja Iblis yang lain hanya bisa bertindak jika Belphegor mengizinkannya. Jika tidak, maka mereka akan dibunuh di depan umum dan dijadikan sebagai contoh.


Pada akhirnya, menciptakan sebuah ketakutan yang mengakar kuat dalam diri setiap Iblis.


Sebuah ketakutan terhadap Belphegor.


Tapi pada saat cahaya harapan dimana Asmodeus berusaha melawannya, Ia kalah dengan kondisi yang buruk. Sekali lagi mengunci seluruh Iblis yang ada di dunia ini dalam genggaman Belphegor.


Jika saja Eric mampu melepaskan mereka dari belenggu ini....


Sierra terlihat memberikan pandangan yang tinggi kepada Eric. Meletakkan setiap harapannya dan juga seluruh bangsa Iblis padanya.


"Sikap yang bagus. Sekarang, bisakah kita berdiskusi?" Tanya Eric sambil memasang wajah yang cukup sombong.


Tak ada yang menyadarinya.


Bahwa setetes keringat dingin telah melalui pipi kiri Eric. Di dalam pikirannya....


'Oioioi! Jadi Igvirueg adalah tokoh sepenting itu?! Menyebutkan namanya akan membawa kematian?! Yang benar saja?! Apa yang baru saja kulakukan?!'


Itu benar.


Eric sama sekali tidak mengetahui siapa Igvirueg sebenarnya. Meskipun Ia pernah mendengar namanya dari Evan ketika membantunya dalam pertempuran di kota kematian itu, Eric telah lama melupakannya.


Ia menganggap bahwa nama itu hanyalah sebuah pemanis di dalam game. Sehingga mampu meningkatkan kesan RPG yang kuat pada pemain.

__ADS_1


Tapi ini?!


'A-aku.... Tidak akan mati hanya karena menyebut namanya kan?!' Pikir Eric dengan gugup sambil terus menjaga wajah sombongnya.


Kembali ke beberapa waktu yang lalu.


Ketika Eric melewati perbatasan antara Wilayah Selatan dan juga Wilayah Tengah, Eric sekali lagi harus melewati gurun hitam yang pernah menjebaknya dalam waktu yang lama itu.


Tapi kini, Eric dan juga seluruh pasukannya sama sekali tak terjebak. Bahkan gurun itu tak seluas gurun yang ada di Wilayah Selatan. Hanya saja, warna pasirnya yang hitam itu memberikan kesan mengerikan kepada siapapun yang melewatinya.


Tak ada satu orang pun yang tahu kecuali Eric itu sendiri di dalam Legiun ini.


Sebuah fakta....


Bahwa di dasar pasir hitam ini, tertimbun sebuah kuil raksasa. Atau lebih tepatnya adalah sebuah Dungeon Raksasa yang ditinggalkan oleh Obelisk sebelum kehancuran raganya.


Hanya Eric seorang yang pernah melihat Dungeon itu secara langsung yang mengetahui tata letaknya di gurun hitam ini.


Dan hanya dirinya juga, yang mampu memasuki Dungeon itu.


Kini Ia sendirian.


Tak lagi memiliki bawahan kuat yang siap untuk menyerahkan nyawa padanya. Semuanya telah meninggalkan dirinya karena kelemahannya sendiri.


Pada saat Eric mengangkat lengannya itu, pasir mulai bergerak. Membukakan jalan masuk yang berwujud lorong kecil.


Beberapa pasukan mencoba untuk memasukinya. Tapi seluruh jebakan dengan segera aktif dan mengincar nyawa mereka.


Pada akhirnya, Eric harus melakukan penjelajahan reruntuhan Dungeon Obelisk sendirian. Di dalam reruntuhan itu pula, Ia menemukan banyak sekali harta yang telah ditimbun oleh Obelisk.


Salah satunya adalah Grimoire yang saat ini digunakan oleh Eric.


Tak mengambil pusing teks panjang yang membahas deskripsi Item itu, mata Eric hanya tertuju pada status gila yang dimiliki buku ini. Tentu saja, buku ini berada pada tingkat Mythical.


Dan parahnya lagi....


Eric terus menerus memamerkan buku itu sambil mengarang cerita sendiri. Bahwa Ia berhasil mengalahkan boss yang sangat kuat sehingga memperoleh Drop Item yang hebat.


Kini semua tindakannya itu.... Kembali kepada dirinya sendiri.


Eric telah dihadapkan fakta bahwa buku yang dipegangnya adalah milik Raja Kematian. Sosok yang bahkan Sierra sendiri takuti hingga bertekuk lutut hanya dengan mendengar namanya.

__ADS_1


'Aku.... Aku akan baik-baik saja kan?! Iya kan?!'


Dengan suasana hati yang seperti itu, Eric terpaksa memulai perundingannya dengan Sierra.


__ADS_2