TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 314 - Percikan Api


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Timur...


Di tempat yang cukup tandus dan dipenuhi dengan berbagai jenis hewan buas ini, nampak sosok seorang Pria yang berlarian kesana kemari.


Dari tangan kirinya yang memegang tongkat sihir dengan bahan utama dari tulang itu, muncul sambaran petir yang kuat dan juga besar. Sesekali, semburan api juga membumihanguskan apapun yang ada di hadapannya.


Sedangkan dari tangan kanannya, Ia terus menerus mengayunkan pedang hitam yang cukup panjang itu dengan akurat dan juga efisien.


Sebuah kombinasi yang luarbiasa dari daya serang dan pertahanan untuk jarak dekat, menengah dan juga jauh.


[Anda telah membunuh Fellbeast!]


[Anda telah memperoleh 482.138.974 Experience Point!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah mencapai level 500!]


[Selamat! Anda adalah pemain pertama yang memperoleh level 500!]


Di hadapan Pria itu, muncul rentetan notifikasi yang menghalangi pandangannya. Tapi tanggapan Pria itu terhadap pencapaian yang baru saja diperolehnya sangatlah diluar pemikiran orang pada umumnya.


"Berisik. Nonaktifkan notifikasi sistem." Ucap Pria yang tak lain adalah Eric itu.


[Apakah Anda yakin akan .... ]


Bahkan tanpa melihat ke arah jendela menu itu, jari telunjuk Eric telah menekan tombol [Ya] tanpa sedikitpun keraguan.


Segera setelah itu, Ia melanjutkan perburuannya untuk menaikkan level.


Sebuah kegiatan yang telah rutin Ia lakukan setelah 4 hari Log In dan menerima kenyataan di dunia Iblis ini.


...***...


...Di sebuah Goa...


"Uh...."


Lucien dan juga Cathy yang kehilangan kesadarannya setelah perburuan sengit yang dilakukan oleh para Ksatria Naga, kini telah memperoleh kembali kesadarannya.


Atau lebih tepatnya, Lucien.


"Dimana ini.... Ah! Benar, aku harus segera mengabari Tuan Eric mengenai kondisi di dunia Iblis ini!"


Lucien pun dengan segera bangkit dari tidurnya dan hendak menggunakan skill [Telepathy] miliknya untuk menghubungi Eric.


Tapi sesaat sebelum itu....


'Tap!'

__ADS_1


Tangan dengan warna kulit yang pucat serta kuku yang berwarna hitam pekat nampak menepuk pundak Lucien.


Setelah Lucien memalingkan kepalanya untuk melihat sosok yang menepuk pundaknya, terlihat wajah menawan Cathy dengan mata emasnya.


Cathy terlihat menggelengkan kepalanya kepada Lucien sambil berkata.


"Tuan Eric telah menghubungiku melalui skill [Telepathy] dan menyampaikan pesannya."


"Hah? Apa maksudmu dengan itu? Jadi Tuan Eric telah pergi ke tempat yang aman bukan?" Tanya Lucien untuk memastikan kebenaran.


Sekali lagi, Cathy kembali menggelengkan kepalanya sambil berkata.


"Tidak. Tuan Eric memberikan perintah kepada kita berdua untuk membalaskan dendam kepada seluruh Origin. Salah satunya dengan menemui Tuan Eric di puncak gunung tertinggi di wilayah Timur." Jelas Cathy


Mendengar perkataannya, Lucien nampak terkejut.


"A-apa?! Tu-Tuan Eric berkata seperti itu?!"


Tanpa menjawab, Cathy hanya mengangguk.


Nampak senyuman tipis yang makin lama makin melebar di wajah Lucien. Membuat seakan seluruh tindakannya yang sebelumnya tak pernah terjadi.


"Fufufu.... Sesuai harapan dari sang Raja Kegelapan. Jika begini keadaannya, maka bawahanmu yang rendah ini hanya bisa menurutinya."


Pada akhirnya, mereka berdua pun memulai perjalanan mereka ke wilayah Utara. Pandangan mereka tertuju tepat di sebuah gunung yang begitu besar dan tinggi, hingga terlihat bahkan dari jarak ribuan kilometer.


"Vesuvius.... Yang Mulia pernah menceritakannya kepadaku. Di tempat itu, terdapat salah satu Raja Iblis Kuno, Behemoth sang Penghancur." Ucap Cathy sambil memperlebar kedua matanya.


"Tidak. Masih ada kelanjutan pesan dari Tuan Eric. Bulan ke sepuluh, malam hari pada saat purnama, temuilah aku di sana. Sebelum itu, lakukanlah sesuatu untuk memperkuat diri kalian. Jangan sampai mati." Jelas Cathy sambil menirukan logat Tuannya yaitu Eric.


"Hanya ada delapan bulan lagi untuk itu.... Kalau begitu, kita tak bisa membuang waktu lebih banyak lagi kan?" Ucap Lucien sambil tersenyum lebar.


Cathy pun tak membalasnya dengan kata-kata, melainkan sebuah senyuman manis yang jarang diperlihatkan oleh penggila makanan itu.


...***...


...Dunia Manusia...


...Wilayah Kerajaan Suci Celestine...


Di depan gerbang raksasa yang membatasi antara kota suci itu dengan dunia luar, nampak begitu banyak rombongan pengunjung yang keluar masuk.


Mereka semua harus melalui banyak sekali proses pemeriksaan untuk memastikan bahwa mereka tak akan melakukan hal buruk selama berada di Kota Suci, Celestia itu.


Tentu saja, penjagaan yang sangat ketat dilakukan oleh banyak Ksatria Suci.


Akan tetapi....


"Sesuai perkataanmu, Angie. Pertahanan mereka menipis karena persiapan untuk penyerangan di tempat persembunyian Eric." Ucap seorang Pria berbadan besar yang hampir seluruh tubuhnya ditutupi kain abu-abu itu. Ia adalah Grund, salah satu mantan anggota Guild Mercenary terkuat, Seven Star.


Kemampuannya sebagai seorang Tanker tak lagi diragukan sebagai salah satu yang terbaik di dunia ini.

__ADS_1


"Apakah kau yakin akan melakukannya, Angie?" Tanya seorang Wanita dengan gaun yang memiliki corak ungu dan putih itu. Tak lupa dengan topi khas penyihir di kepalanya. Ia adalah Luna, salah satu mantan anggota Seven Star yang dijuluki sebagai Space Wizard karena kemampuan unik miliknya dengan sihir ruang.


Sedangkan Angie sendiri yang mendengar keraguan dari anggota Partynya hanya bisa tertawa.


Tubuhnya yang tertutupi oleh jubah hitam itu memunculkan bunyi logam yang disembunyikannya.


"Buahahaha! Ada apa? Apakah kalian takut setelah berada tepat di depan garis start?" Tanya Angie sambil tertawa.


"Tidak.... Bukan begitu. Hanya saja...."


Menyela perkataan Miyamoto, Angie segera berhenti tertawa dan mulai berbicara dengan serius.


"Dengar ya, kita adalah Rebellion. Sang pemberontak. Baik itu Dewa dan Dewi ataupun Iblis, bahkan manusia sekalipun, kita akan membantai mereka semua. Bersamaan dengan itu, kita akan mendirikan pijakan baru hanya untuk yang terkuat dan yang terpilih.


Sedangkan langkah pertama dari itu semua, adalah meruntuhkan kekuasaan Dewi Celestine dan Julia di dunia manusia ini. Meskipun kita tak bisa melawan sosok Dewi saat ini, setidaknya kita akan melemahkan pengikutnya. Bukankah rencana ini sangat seru?" Jelas Angie sekali lagi dengan cukup panjang lebar.


Mendengar penjelasan itu yang kesekian kalinya sama sekali tidak membuat seluruh anggota partynya bosan.


Yang terjadi justru sebaliknya.


Semangat mereka yang mulai melemah, kini kembali berkobar dan menjadi lebih besar daripada yang sebelumnya.


Keyakinan mereka menjadi semakin tak tergoyahkan atas apa yang akan mereka lakukan di dunia maya ini.


Dan saat ini, langkah awal mereka benar-benar berada di depan mata mereka.


Hanya satu langkah lagi....


Satu langkah lagi dan akhirnya....


"Buka jubah itu dan perlihatkan apa yang kalian sembunyikan di dalamnya. Jika kalian menolak, maka kami tak bisa mengijinkan kalian masuk." Ucap seorang penjaga gerbang itu dengan nada yang begitu tegas.


"Apakah kau yakin dengan itu?" Tanya Angie sambil memberikan tatapan yang cukup mengerikan serta dihiasi dengan senyuman yang sinis.


"Apakah kau berencana untuk bermain-main? Segera buka dan...."


'Zraaaaatttt!'


Tak hanya Angie, tapi keseluruhan Anggota Rebellion yang berjumlah 12 orang itu melempar jubah mereka secara bersamaan.


Memperlihatkan zirah yang lengkap melindungi seluruh tubuh mereka.


Termasuk juga persenjataan yang hanya ada dalam mimpi sang penjaga gerbang.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa menganga atas dua hal.


Yang pertama, mereka terkejut dengan jubah yang dilempar ke udara itu.


Sedangkan yang kedua....


"Semuanya.... Saatnya kita bersenang-senang!"

__ADS_1


Bersamaan dengan teriakan Angie itu, penyerangan di Kota Suci Celestia pun dimulai. Tanpa adanya Inquisitor yang mampu untuk melindunginya.


__ADS_2