TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 422 - Pertarungan Akhir


__ADS_3

'KRETTAAAKKKK!!!'


Zirah merah Aamori itu pun akhirnya hancur berkeping-keping. Memperlihatkan hanya pakaian kain di baliknya.


Aamori terlihat begitu terkejut dengan kejadian ini. Ia tak menyangka zirah tingkat Mythicalnya akan bisa dihancurkan. Terlebih lagi, ketika melawan dua orang yang telah berada dalam kondisi lemah.


Angie di satu sisi telah kehilangan sebagian besar skillnya yang berada dalam Cooldown yang begitu lama.


Sementara itu, Eric kehilangan Core dari Ultimate Slime miliknya. Membuat tubuh karakternya kehilangan sebagian besar Buff yang diberikan dari Core tersebut. Termasuk efek nyawa tambahan di dalamnya.


Kini, sambil memasang wajah yang serius, Aamori menancapkan pedang besarnya ke tanah dan mengarahkan kedua tangannya ke dadanya.


Angie sama sekali tak berniat untuk memberikan kesempatan bagi Aamori untuk beristirahat. Begitu pula dengan Eric yang telah siap untuk menembakkan Extermination Ray berikutnya.


'Kali ini, akan ku pastikan akan membunuhnya.' Pikir Eric dalam hatinya sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Aamori.


Tapi sesaat sebelum Angie berhasil menghunuskan tombaknya tepat ke arah jantung Aamori....


'Swwuuuussshhhh!!!'


Sebuah cahaya putih nampak menyelimuti tubuh Aamori. Dan segera setelah itu....


'KLAAAANGGGG!!!'


Tombak Angie yang seharusnya menusuk tepat di jantung Aamori, justru menghantam suatu benda keras. Sangat keras bahkan tangan Angie hingga terpental ke arah belakang.


Di balik cahaya itu, Angie bisa melihatnya sekali lagi.


'Yang benar saja?!' Teriak Angie dalam hatinya.


Dengan cepat, Angie pun melompat ke belakang. Dimana Aamori segera memasang 3 perisai terkuatnya di samping tanpa melihat sedikit pun.


'BLAAAARRRR!!!'


Hantaman dari sinar Extermination Ray nampak mengenai perisai Aamori. Tapi kali ini, seluruh sinar itu nampak berhasil ditahan oleh ketiga perisainya. Membuat Aamori sama sekali tak terkena sedikitpun serangan Eric.


Sambil memberikan tatapan yang begitu fokus, Aamori pun berbicara ke arah Angie.


'Kau tahu siapa aku kan? Jangan berpikir menghancurkan peralatanku saja sudah cukup untuk menghentikan ku."


Kini, di tubuh Aamori telah terpasang zirah merah yang sama seperti sebelumnya. Yang sama sekali belum lecet sedikit pun.


Melihat hal itu, Angie akhirnya menyerah dan bergerak ke arah dimana Eric berada.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tak memberikan damage sama sekali?" Tanya Eric kebingungan.


"Dia membuat salinan dari zirah yang sebelumnya hancur. Terlebih lagi, kali ini dia telah menduga seranganmu dan menahannya sebelum mengenainya." Jelas Angie sambil mengganti tobaknya menjadi pedang.


Sementara itu, tangan kiri Angie nampak membuka panel menu di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Eric penasaran.


"Sesuatu untuk mengatasi hal ini." Balas Angie singkat.


Di kejauhan, Aamori masih nampak mempersenjatai dirinya sendiri. Kali ini Ia tak lagi setengah-setengah dalam menggunakan perlengkapannya.


Zirah merahnya terlihat begitu kokoh dengan jubah hitam bercorak keemasan di atasnya. Sebuah jubah yang sebelumnya tak dikenakan olehnya.


Tak hanya itu, kini Aamori mengenakan sebuah helm merah bercorak emas. Menutupi hampir seluruh kepalanya kecuali bagian matanya.


Pada tangan kirinya, Aamori mengenakan sebuah perisai tebal berwarna merah yang terbuat dari sisik naga api kuno.


Sedangkan pada tangan kanannya, Aamori memegang sebuah pedang satu tangan dengan bentuk melengkung dan bersisik berwarna merah. Api merah nampak menyelimuti pedang itu.


"Aku akan mengakhirinya disini." Ucap Aamori. Ia merasa begitu senang dengan situasi yang menegangkan ini. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan permainannya yang biasanya.


Yang hanya bersembunyi di balik tempat yang aman untuk menempa perlengkapan yang terkuat. Tapi kali ini.... Ia menghampiri bahaya itu sendiri.


Aamori segera berlari melesat ke arah Angie dan juga Eric di kejauhan. Di belakang tubuhnya, 4 buah pedang cahaya nampak mengikutinya.


Eric yang melihat sosok Aamori berlari ke arahnya dengan perlengkapan yang jauh lebih lengkap dari sebelumnya merasa terintimidasi.


Sebelumnya, hanya sebuah zirah saja telah menyulitkan mereka berdua. Tapi kali ini?


'Blaaarr!!'


Eric menembakkan sebuah Magic Bullet untuk melihat seberapa berbahayanya Aamori saat ini. Tapi percobaannya memiliki harga yang cukup mahal.


Magic Bullet itu mengenai tubuh Aamori. Tapi Ia hanya diam dan terus berlari. Tanpa sedikit pun berusaha untuk menahannya.


Sedangkan notifikasi yang diperoleh Eric....


[Anda telah memberikan 0 damage!]


[ telah membalikkan 25% damage yang Anda berikan!]


[Damage yang dibalikkan dihitung sebelum penerapan Defense dan pengurangan Damage!]


[Anda telah menerima 17.491 damage!]


Bukannya melukai Aamori, Eric justru melukai dirinya sendiri dengan serangan itu.


"Yang benar saja?!" Teriak Eric dengan panik.


"Ada apa?" Tanya Angie kebingungan yang telah selesai mengetikkan berbagai hal di jendela menu miliknya itu.


"Hati-hati, jubah hitam sialan itu memantulkan seperempat damage yang akan kau berikan. Sebelum pengurangan damage oleh pertahanan gila miliknya." Jelas Eric.


Eric pun mulai menggunakan berbagai skill buff tambahan kepada dirinya sendiri sekaligus Angie. Yang menyelimuti tubuh mereka berdua dengan cahaya biru.


Cahaya biru itu meningkatkan defense milik Eric dan juga Angie sebesar 40% lebih. Ditambah mengurangi damage yang diterima sebesar 20%.


Setidaknya....


Cukup untuk mengurangi salah satu efek dari perlengkapan Aamori. Dan belum, untuk menghadapi pedang sisik naga api yang mengintimidasi itu.


'Zraaassshhh!!!'


Saat Aamori mengayunkan pedang sisik naga itu, gelombang api merah muncul searah dengan tebasannya. Tepat ke arah Eric dan juga Angie.


Keduanya hanya melompat ke udara untuk menghindarinya.


'Hanya gelombang api saja? Tak cukup buruk.' Pikir Eric dalam hatinya.


Angie yang melihat efek dari pedang itu serupa dengan pedang yang sebelumnya, merasa bahwa serangan ini tak perlu diwaspadai maupun ditakuti.


Akan tetapi....


'Zleeeebbbb!!!'


Saat Aamori menancapkan pedang itu ke tanah, sebuah ledakan api yang kuat muncul dari bawah tanah sesuai di tempat dimana Aamori menginginkannya.


'Blaaaaaaaarrrrr!!!'


Ledakan api itu mencapai ketinggian hingga 10 meter lebih di atas tanah. Mengenai Angie yang masih berdiri di udara itu.


'Tap!'


Sekalipun sedikit terlambat, Angie berusaha untuk menghindar. Tapi api itu sedikit mengenai kakinya.


[Anda telah menerima 92.853 damage!]


'Hanya sedikit saja sudah sesakit ini?!' Pikir Angie dalam hatinya sambil terus berlari menjauh.


Sementara itu, Aamori terlihat mulai mengendalikan pedang cahayanya sekali lagi. Dan kini dengan pedang sisik naga berapi itu, Aamori dapat menyelimuti keempat pedang cahaya itu dengan api.

__ADS_1


Meningkatkan tak hanya kekuatannya. Tapi juga kecepatannya.


'Sraaaasshh! Sraaasashhh!'


Dua dari pedang cahaya itu bergerak ke arah Eric. Sedangkan yang dua lagi bergerak ke arah Angie.


'Zraaassshhh!'


Dengan kecepatan gerakan pedang cahaya itu saat ini, Eric tak lagi mampu untuk menghindarinya. Dan hanya bisa bergantung pada salinannya untuk mengaktifkan skill Crystal Shield untuk menahannya.


Bahkan dengan akurasi dan perhitungan AI dari salinan Eric sekalipun....


'Pyaaaarrr!!!'


Crystal Shield itu kini tak lagi mampu untuk menahannya dengan sempurna.


"Lapor, tidak terdapat cukup Mana Point dan regenerasinya untuk terus melangsungkan pertahanan ini." Ucap salinan dari Eric.


'*Sialan.... Menggunakan Mana Potion juga memiliki batas. Terlebih lagi, membuang banyak waktu pada tubuhnya untuk meminum Potion itu.


Jika saja Core Slime milikku masih utuh, aku akan memiliki cukup regenerasi untuk menggunakan Crystal Shield secara terus menerus*....' Keluh Eric dalam hatinya.


Setelah memikirkannya sejenak, Eric pun memutuskan.


"Tak masalah. Bakar mana secukupnya. Saat telah habis, aku akan melindungi mu untuk meneguk Mana Potion." Balas Eric.


"Dimengerti." Balas salinan Eric itu.


Di sisi lain, Angie terlihat masih mampu untuk menghindari dua pedang cahaya yang berapi itu. Hanya saja Angie tak lagi mampu untuk sambil melancarkan serangan balasan.


Hanya mampu untuk terus menghindar dan bertahan saja.


Dalam hatinya....


'Kenapa lama sekali? Apa yang mereka lakukan?' Tanya Angie dalam hatinya.


Baru sesaat setelah Angie memikirkan hal itu....


Eric melihat sesuatu yang sangat familiar. Sesuatu yang mengingatkannya atas kejadian yang pernah di alaminya, jauh di masa lalu.


Perbedaannya, bukannya tujuh. Melainkan sebanyak 11 lingkaran portal muncul di berbagai arah.


'Jangan katakan apa yang Angie maksud itu....' Pikir Eric dalam hatinya. Ia merasakan sebuah perasaan bahagia yang begitu besar.


Karena Eric sangat yakin, di balik salah satu dari lingkaran portal yang berdiri secara vertikal itu....


"Hai, Eric. Lama tak berjumpa." Sapa seorang wanita dengan rambut panjang berwarna perak keunguan. Ia mengenakan pakaian menyerupai penyihir dengan warna dominan berwarna ungu.


"Lu-Luna...." Balas Eric terkejut ketika melihat sosok wanita itu muncul dari balik portal di sampingnya.


"Seperti biasa, bukankah kau selalu terlibat masalah besar? Aaah, aku jadi ingat. Bukankah situasi ini menyerupai waktu dulu dimana kau hampir terbunuh oleh seorang Assassin?" Ucap Luna dengan santai sambil memasang wajah yang bingung.


Dari balik 10 portal yang lainnya, sosok pemain lainnya yang juga termasuk dalam anggota Rebellion Angie muncul satu persatu.


Sebuah pemandangan yang sama persis seperti yang dilihat Eric dulu ketika tujuh anggota Seven Star muncul menyelamatkannya.


'Klaaaanggg!!'


Salah seorang yang muncul terlihat menggunakan perisainya untuk menahan pergerakan dari pedang cahaya milik Aamori. Ia tak lain adalah Grund, salah seorang Tanker di kelompok ini.


Di sisi lain, salah seorang pemain lain yang berasal dari Indonesia juga muncul tepat di belakang Aamori. Ia adalah Ilham, yang juga merupakan seorang Tanker.


Ilham berencana untuk menahan sosok Aamori agar tak bisa bergerak bebas dengan ketahanannya yang cukup tinggi.


Bersama dengannya....


'Zraaaattt! Klaaaangg!!'


Sebuah tebasan katana yang panjang itu nampak mengarah tepat ke leher Aamori. Tapi serangan itu berhasil di tahan oleh helm tebalnya.


Dari samping Aamori, sosok Scars muncul sebagai Assassin dari kelompok Angie ini. Ia memberikan sebuah tusukan belati yang sama sekali tak mampu untuk menggores zirah tebal Aamori.


Tapi entah kenapa, Scars nampak tetap tenang setelah menusukkan belatinya ke arah lutut Aamori.


"Kau tahu, ada cara untuk membunuh musuh yang berzirah tebal seperti ini kan?" Ucap Scars sambil memamerkan belatinya yang dilapisi cairan hijau.


Robert dan Iveria muncul di garis belakang. Mereka berdua bertugas untuk menyembuhkan sekaligus memberikan buff kepada Angie dan juga Eric.


Keberadaan penyembuh itu memberikan Eric dan juga Angie kesempatan untuk bergerak secara leluasa. Dapat fokus dalam penyerangan tanpa memikirkan mengenai pertahanan.


Camilla, seorang pemanah papan atas dari Inggris juga muncul untuk membantu Angie dalam mengikis pertahanan Aamori dari kejauhan.


Dua orang terakhir yaitu Rachel yang mulai memainkan harpanya untuk melantunkan lagu yang indah. Meningkatkan seluruh status anggota kelompoknya. Dimana Angie dengan cepat segera memasukkan mereka semua dalam Partynya dengan Eric.


Sedangkan Sephia sendiri bertugas untuk menjaga Rachel dari bahaya apapun. Karena saat Rachel telah mulai memainkan harpanya, Ia sama sekali tak bisa melakukan apapun. Termasuk bertahan dari serangan.


Di samping keduanya, Axius sebagai seorang penyihir dari kelompok ini bertugas untuk menyerang dari kejauhan.


"I-ini semua...." Ucap Eric terkagum-kagum.


Apa yang dilihat oleh Eric, adalah kelompok terbaik dari yang terbaik. Dengan komposisi kelompok yang paling seimbang dan juga pengalaman bertarung yang paling tinggi.


Mereka selalu bergerak di zona paling berbahaya, menghadapi boss yang belum pernah dilawan oleh siapapun, bahkan mungkin tak pernah diketahui oleh siapapun.


Dan kini, kelompok itu berada dalam pihak Eric. Untuk menghadapi sosok Aamori yang benar-benar melampaui batasan paling absurd sekalipun berkat seluruh perlengkapan tingkat Mythicalnya.


Belum lagi sebagai penempa terkuat di dunia virtual ini, Aamori bisa memberikan buff yang besar terhadap hasil tempaannya sendiri. Termasuk memanggil salinannya.


Sebuah kombinasi yang melampaui kegilaan tingkat Mythical lain seperti Eric yang hanya terfokus sebagai pemimpin, dan Angie yang hanya terfokus sebagai petarung.


"Jadi begini rencana kalian? Melawanku dengan pemain-pemain terkuat? Hahahaha!!!" Teriak Aamori sambil tertawa lepas.


Semua orang pun mulai bersiaga. Bersiap untuk membuat langkah yang berikutnya.


"Eric, Angie.... Aku akhirnya paham. Aku akhirnya mengerti kenapa kalian benar-benar suka bertarung. Karena semua ini benar-benar sangat menyenangkan!" Teriak Aamori.


Kali ini, Ia sama sekali tak lagi menahan apapun. Aamori berencana untuk bertarung habis-habisan sekalipun akan menghancurkan dunia ini.


Itu benar.


Karena hanya saat ini saja.


Hanya saat ini saja, Ia bisa menikmati sebuah pertarungan yang seimbang. Dan bukannya sebuah pertarungan yang berat sepihak.


"Habisi dia." Perintah Angie singkat.


"Dimengerti." Balas seluruh anggota Rebellion dengan senyuman yang lebar di wajah mereka.


Alasannya hanya satu.


Baru kali ini, mereka menemui musuh yang cukup kuat bahkan hingga Angie dan Eric berdua sekalipun tak bisa menghadapinya.


Dan musuh yang seperti itu, adalah mangsa yang selalu mereka cari-cari.


Sebuah musuh yang pantas untuk dihadapi pada akhir dunia ini.


Pertarungan yang paling epik ini pun terjadi. Pihak pengembang ReLife pun menyadarinya. Bahwa mungkin, pertarungan ini akan menentukan nasib dari dunia virtual ini.


Apakah akan hancur di tangan para Iblis?


Hancur di tangan ras naga api?


Atau justru.... Berhasil di selamatkan?


Tanpa ragu, mereka segera merekam pertarungan ini secara diam-diam. Berniat untuk menyiarkannya ke publik segera setelah pertarungan itu berakhir.

__ADS_1


Berbagai drone yang tak terlihat serta tak bisa berinteraksi dengan dunia virtual itu pun segera terjun ke arah lokasi pertarungan antara Eric dan Angie beserta kelompoknya menghadapi Aamori.


Alur ini sama sekali tak mereka duga. Karena mereka tak menyangka Eric dan Angie akan berada dalam posisi yang dilemahkan setelah pertarungan mereka berdua.


Tapi setidaknya....


'Klaaangg! Zraaattt!!'


Miyamoto bersama dengan Ihlam terlihat bertarung di garis depan melawan Aamori.


Pertukaran serangan mereka benar-benar berat sepihak, dimana Aamori hanya menerima damage sebesar 1 hingga 2 digit sembari membalikkan damage sebesar 5 digit.


Tapi di sisi lain, kelompok Rebellion Angie dapat dikatakan tak menerima damage sedikitpun. Semua itu berkat penyembuhan area milik Robert yang menyembuhkan seluruh anggota Partynya secara berkala.


Angie bersama dengan Scars terus menerus menyerang celah yang dibuat oleh Aamori.


Seberapa kuat pun perlengkapan miliknya, Aamori adalah seorang pemain yang menghabiskan hampir sebagian besar waktunya di ruang penempaan.


Membuat pengalamannya bertarung sangat minim dan banyak celah.


'Staaaabbbbb!!!'


Setiap tusukan dari Scars berhasil mengenai sela-sela zirah tebal Aamori. Damage yang dihasilkan memang tak besar, tapi efek racun yang diberikannya sudah cukup untuk memperlambat Aamori.


[Anda telah terkena efek racun kuat!]


[Stack racun kuat telah mencapai 50!]


[Anda akan menerima 50.000 damage per detik!]


[Efek racun telah menurunkan seluruh status Anda sebesar 5%]


'Sial, bagaimanapun aku harus mengatasi Assassin itu.' Pikir Aamori.


Tapi setiap kali Ia berniat untuk mengayunkan pedang sisik naga nya ke arah Scars, Ilham dan Grund segera menyela dan menahan tebasannya.


Dan sekali lagi, memberikan kesempatan bagi kelompok Angie untuk menyerang.


Kali ini Angie memanfaatkan situasi itu dan mengarahkan kedua belatinya. Ia menggunakan kembali skill serangan cepat yang sebelumnya. Tapi kini dengan bantuan berbagai Buff yang menumpuk, membuat Angie mampu melakukannya lebih dari yang sebelumnya.


Dimana hanya dalam waktu 3 detik saja, Angie berhasil memberikan lebih dari 84 tebasan belatinya. Yang sedikit demi sedikit mengikis durabilitas dari zirah Aamori.


Sesaat setelah memberikan serangan itu, Angie segera melompat mundur karena 25% damage yang diberikannya ke Aamori telah dipantulkan. Membuat HP Angie saat ini dalam kondisi kritis di bawah 10%.


Robert yang melihat Angie mundur segera paham satu hal yang pasti. Yaitu darahnya menipis.


Ia dengan cepat segera menyembuhkannya.


Di sisi lain, Eric bersama dengan Luna sedang bersiap untuk menyerang.


"Eric, aku yakin kali ini kau telah cukup kuat untuk membantu kami kan?" Tanya Luna dengan senyuman yang ramah.


"Hah, tentu saja."


"Kalau begitu, terus lah berlari ke depan dan percayakan sisanya padaku."


Perkataan Luna itu sedikit tak bisa dipahami oleh Eric. Tapi Eric hanya bisa percaya. Dengan cepat, Eric pun turun ke tanah dan mulai berlari.


Ia berpikir untuk menggunakan berbagai sihir tingkat rendah dan menengah yang tersisa. Sebuah sihir yang tak memiliki banyak Casting Time tapi cukup kuat untuk merusak zirah Aamori.


'Tap! Tap!'


Dengan cepat, Eric pun berlari sambil mengaktifkan Magic Barrage ke depan.


Tanpa di duga, sebuah portal pun muncul di hadapannya. Mengantarkan Eric tepat di belakang Aamori setelah melewatinya.


Dan pada saat yang sangat tepat, sihir Eric telah aktif. Menembakkan lebih dari 100 peluru sihir secara bersamaan ke arah punggung Aamori.


'Blaaarr! Blaaarrr! Blaaarrr!'


[Anda telah memberikan 184 damage!]


[Anda telah memberikan ....]


Sesaat setelah Aamori menyadari serangan dari belakang, Ia mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Eric.


Tapi sesuai dari permintaan Luna, Eric hanya bisa percaya. Dan terus berlari ke depan.


'Swuuusshhh!'


Sebuah portal muncul sesaat dan segera menutup. Memindahkan Eric kembali di kejauhan.


"Cih, dia menyadarinya ya?" Keluh Luna ketika melihat sosok Aamori menghentikan ayunan pedangnya.


Pada awalnya, Luna berniat untuk melakukan 2 hal secara bersamaan dalam kejadian barusan.


Yaitu menyelamatkan Eric, sekaligus menjebak Aamori. Jika senjata Aamori memasuki portal itu sedikit saja dan Luna menutupnya, maka senjata itu akan segera terpotong dan rusak.


Tapi Aamori menyadari secara langsung mengenai bahaya dari portal itu.


Di sisi lain, Camilla nampak terus menembakkan anak panahnya ke tanah. Atau lebih tepatnya, ke arah portal Luna yang diletakkan secara horizontal di tanah.


Dan portal itu terhubung ke 4 portal lain yang berada di atas tubuh Aamori. Menghujaninya dengan anak panah yang tanpa henti.


Pertarungan dengan pola yang sangat rumit berkat kombinasi antara kemampuan Luna dan kecerdasannya dalam memprediksi arah pertarungan, serta pengalaman kelompok Rebellion yang begitu tinggi pun terus berlangsung.


Berbagai ledakan sihir serta pertukaran senjata terus menerus terjadi. Aamori terlihat begitu kesulitan menghadapi kelompok yang begitu terorganisir ini.


Setelah berlangsung selama kurang lebih 4 menit, Aamori akhirnya mulai tersudut. Dan pada saat itu lah, Ia menggunakan salah satu kartu andalannya.


Aamori melemparkan perisai di tangan kirinya ke tanah. Segera setelah itu, Ia mengangkat tangan kirinya setinggi mungkin di langit.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tapi dari kelompok Angie, mereka dengan segera menyadari ada sesuatu yang aneh.


Seakan-akan sedang menghadapi boss suatu Dungeon yang akan menggunakan suatu kemampuan yang kuat, mereka pasti melakukan suatu gerakan yang mencurigakan.


Gerakan Aamori saat ini adalah salah satunya.


Dan dengan cepat, mereka semua menyadari ada Kilauan cahaya yang terang di langit.


Tanpa satu pun kata perintah, semuanya paham. Mereka segera melompat mundur dan menjauh. Sekaligus berkumpul di dua titik sambil memasang formasi pertahanan.


Titik pertama berada di sekitar Angie, sedangkan titik kedua berada di sekitar Luna.


Dengan intuisinya yang kuat, Luna segera memasang portal di atas kedua titik perkumpulan itu.


Dan benar saja.


'Swuuushhh! Swuuusshhh! Jleeebbb! Jleeebbb!!'


Hujan pedang cahaya yang sebelumnya terus menerus digunakan oleh Aamori pun muncul. Ribuan lebih pedang cahaya terus menerus menghujani tanah ini.


Setiap kali pedang itu menancap di tanah, Aamori segera menariknya ke dalam penyimpanannya dan memanggilnya kembali di langit.


Siklus itu terus menerus berulang.


Tapi sayangnya, tak ada satu pun pedang yang mengenai lawannya.


Justru sebagian besar pedang yang seharusnya mengenai lawannya itu masuk ke dalam portal milik Luna.


Satu-satunya alasan Aamori menghentikan hujan pedang cahaya itu adalah karena Luna mengarahkan kembali pedang yang masuk ke dalam portalnya ke arah Aamori.


Setelah hujan pedang cahaya itu berhenti, pertarungan pun berlanjut dengan pola yang serupa seperti sebelumnya.


Setiap detik yang berjalan, Aamori hanya bisa semakin tersudutkan.

__ADS_1


Hingga akhirnya....


__ADS_2