
Di dasar ngarai yang sangat gelap namun diterangi oleh cahaya merah yang membentuk alur yang rumit ke segala arah itu, terlihat sosok Deus yang berdiri di pusat alur itu sambil meletakkan tongkatnya di tanah.
Deus terlihat terus menerus merapalkan mantra sihirnya. Sebagai sebuah skill tingkat tertinggi yang bahkan di atas ranah Mythical, diperlukan pengorbanan yang besar. Yaitu rapalan atau enchantment yang sangat panjang untuk mengaktifkan skill dengan sempurna. Serta konsumsi Mana Point yang sangat besar.
Deus mampu memenuhi kebutuhan Mana Pointnya dengan sangat mudah mengingat levelnya yang berada di atas 1.000 dan telah memperoleh kembali kekuatan miliknya yang dulu.
Akan tetapi permasalahannya adalah dalam perapalan.
Ia setidaknya akan membutuhkan waktu selama satu jam untuk menyelesaikan rapalan itu.
Sedangkan dalam waktu selama itu, Ia sendiri tak yakin apakah dirinya bisa bertahan hidup selama itu.
Jika skill tingkat Armageddon diaktifkan tanpa memenuhi persyaratan rapalannya, efek yang dihasilkan tidak akan sempurna.
Dan di dunia ini, hanya segelintir NPC yang memiliki skill tingkat ini. Bahkan kekuatan dari Dewi Gaia yang bisa mengembalikan kerusakan yang terjadi di dunia manusia secara langsung, masih berada di tingkat Mythical.
"Wahai engkau, Penguasa Kehampaan.... Wahai engkau, Penguasa Kelaparan...."
Deus terus menerus merapalkan mantranya memanggil makhluk yang berada di balik batasan skillnya, World Eater atau Pemangsa Dunia.
Setiap detik berlalu, cahaya merah yang berasal dari alur sihirnya semakin terang dan semakin besar.
Setelah sekitar 2 menit berlalu, tak hanya cahaya merah itu semakin terang. Tapi tanah juga mulai bergetar secara perlahan.
Tapi tentu saja, Sierra dan pasukannya sama sekali tak mau menunggu hal itu.
'Krretaaakkk!!'
Sebuah tombak hitam pekat dengan cepat melesat ke arah Deus tepat ke jantungnya.
'Kreetassss!!!'
Secara tiba-tiba, muncul sembilan buah bayangan hitam dari tanah. Bersamaan dengan itu terbentuklah perisai sihir berwarna biru yang sangat indah.
'Blaaaaaaaarrr!!!'
Kehancuran yang dibawa oleh tombak itu berhasil menghempaskan ngarai ini. Menghancurkan sebagian besar batuan di sekitar perisai.
Perisai sihir yang dipasang oleh sembilan bangsawan vampir setia Deus berhasil menahan lemparan tombak Sierra yang sangat mematikan itu.
Meski begitu, bukan berarti tak ada biaya yang harus dibayarkan.
"Kuuughhh!!!"
Beberapa bangsawan vampir yang memiliki level di atas 400 itu nampak memuntahkan darah meskipun tidak menahan tombak hitam itu secara langsung.
Semua itu karena efek resonansi yang dimiliki oleh tombak terkutuk milik Sierra. Semua yang bersentuhan dengannya, akan menerima kerusakan yang besar. Bahkan jika pengguna sihir perisai berada di tempat yang jauh sekalipun.
'Bruukk!'
Beberapa bangsawan nampak mulai terjatuh ke tanah setelah menerima serangan itu. Sedangkan yang masih tersisa terus menerus memperkuat perisai sihir itu untuk menahan tombak hitam yang hingga saat ini masih terus mendorong perisai kokoh itu.
Sementara itu, Deus nampak tak memperdulikan apapun selain menyelesaikan rapalan sihirnya.
Tapi dalam hatinya, Ia sangat menyadari situasi saat ini. Sebuah kenyataan bahwa Ia takkan sempat menyelesaikan rapalan mantra dari [World Eater] sebelum dirinya mati terbunuh.
__ADS_1
'Jika saja Eric ada disini.... Aku yakin dia pasti bisa memikirkan sesuatu. Tidak.... Kenapa aku berpikir seperti itu? Aku seharusnya bersyukur karena Eric tidak ada disini. Dengan begitu....'
Kilasan balik kehidupan singkat Deus sejak bertemu dengan Eric pertama kali mulai terlintas dalam pikirannya.
Ia ingat betul bahwa pada awalnya, dirinya hanya menganggap Eric sebagai alat untuk membebaskan diri dari pelariannya di dunia iblis.
Tapi semakin lama Ia bersama dengan Eric, Ia semakin menyadari suatu hal yang sangat jelas
'Itu benar.... Kau tak boleh mati disini, Eric. Kau masih memiliki banyak sekali tugas yang harus diselesaikan.'
Bersamaan dengan kalimat terakhir Deus dalam pikirannya itu, terdengar sebuah suara yang sangat mengerikan dalam situasi saat ini.
'Kreeetaakkk!!! Pyaaaaarrr!!!'
Perisai yang dipasang oleh beberapa bangsawan vampir yang masih tersisa ini, kini telah hancur lebur.
Sedangkan tombak yang mengarah tepat ke tubuh Deus itu masih melaju dengan secepat kilat.
'Blaaaarrrr!!!'
Tubuh Deus kembali berlubang setelah menerima lemparan tombak hitam itu.
Tak hanya sampai disitu, tombak yang kini menghantam tanah itu mulai menghancurkan dasar ngarai ini beserta dengan keseluruhan bebatuan di sekitarnya. Mengubur Deus dan juga para bangsawan vampir itu hidup-hidup dengan batuan yang sangat keras.
Tapi sesaat sebelum itu terjadi....
"Aku melepaskanmu, wahai pemangsa dunia. Dengan wujud tak sempurnamu, makanlah seluruh dunia ini."
Suara yang lirih dari seorang wanita terdengar dari bawah timbunan batu itu.
Di permukaan....
"Selamat, Yang Mulia. Anda telah mengalahkan sosok yang dianggap terkuat di dunia iblis ini sekaligus menghentikan bencana di dunia ini." Ucap salah seorang Ksatria Naga yang berlutut di hadapan Sierra.
Sedangkan Sierra sendiri hanya berdiri dalam diam, memperhatikan ngarai yang begitu dalam itu runtuh dan menimbun seorang mantan Ratu Iblis terkuat yang pernah ada.
Sesekali, tatapan mata Sierra berpindah untuk memperhatikan cahaya merah yang mulai meredup.
'Aku membunuh Asmodeus? Yang benar saja. Lalu sihir skala besar ini.... Benarkah sudah berhasil dihentikan?' Pikir Sierra dalam hatinya sambil mengarahkan tangan kanannya kedepan.
Dalam sekejap, muncul kilatan hitam yang menyambar tangan kanan Sierra. Dari balik kilatan itu, nampak tombak hitam pekat yang berhasil menusuk Deus sebelumnya.
"Terlalu cepat untuk merayakannya. Aku yakin iblis itu takkan mati semudah ini. Minta seluruh Ksatria untuk bersiaga." Ucap Sierra tanpa melirik sedikitpun ke arah Ksatria Naga itu.
"Dimengerti, Yang Mulia." Balas Ksatria Naga itu sambil berdiri dan segera bersiap untuk pergi.
'Tap!'
Tangan kiri Sierra menghentikan langkah kaki Ksatria Naga itu.
"Tunggu. Bagaimana dengan perburuan bawahan Iblis bernama Eric ini?" Tanya Sierra seraya menahan Ksatria Naga itu untuk pergi.
Sang Ksatria Naga pun dengan sigap segera kembali berlutut dan memberikan laporannya.
"Regu yang melakukan pengeja...."
__ADS_1
'Grudukkk! Gruuduuukk! Gruuuduuuukk!!'
Sebelum Ksatria Naga itu menyelesaikan perkataannya, terjadi sebuah gempa yang menggoncang tanah di sekitar tempat mereka berpijak.
Getaran yang terjadi sangatlah kuat hingga membuat tanah mulai retak dan hancur. Bahkan pada sebagian sisi terlihat tanah yang runtuh hingga ke dasar yang tak berujung.
Suara gemuruh yang begitu keras dan memekikkan telinga itu mengejutkan semua orang yang ada. Bukan hanya pasukan Naga yang dipimpin oleh Sierra di tempat itu.
Tapi suara gemuruh itu cukup keras hingga terdengar di kastil Belphegor.
"Sudah dimulai ya?" Ucap Belphegor pada dirinya sendiri sambil duduk santai dan membalik halaman buku yang sedang dibacanya. Ia terlihat mengarahkan pandangannya tepat ke arah bekas kota Venice.
Para pelayan dan juga bangsawan yang ada di ruangan yang sama dengan Belphegor sama sekali tak bisa memahami maksudnya.
Tapi ada satu orang yang benar-benar memahami apa yang akan terjadi.
"Sialan! Bisa-bisanya dia melakukan ini?!" Teriak Sierra sambil melebarkan sayapnya dan bersiap untuk terbang setinggi mungkin.
Seluruh Ksatria Naga yang ada di sekitar tempat itu juga dengan segera terbang setinggi mungkin.
Itu karena tepat di bawah pijakan kaki mereka....
...'GRROOOOOOOOAAAAAAAARRRRR!!!'...
Terdengar suara aneh yang sangat tidak mungkin dihasilkan oleh gempa ini. Sebuah suara yang sangat nyaring dan memekikkan telinga semua orang yang mendengarnya.
Tidak....
Suara yang terdengar bahkan sudah cukup untuk memberikan terror kepada siapapun yang mendengarnya. Bahkan Sierra sekalipun.
"Tidak mungkin.... Bukankah aku berhasil menghentikannya sebelum Ia menyelesaikan sihir ini?!" Teriak Sierra sambil terus terbang ke langit dan sesekali menengok ke belakang.
Tapi itu adalah keputusan terburuk.
Sebuah keputusan buruk untuk melihat apa yang terjadi di permukaan tanah.
...'BLAAAAAAAAARRRR!!!'...
Dari pusat gempa yang terjadi, tanah yang ada mulai runtuh dan hancur. Menghasilkan suara yang begitu keras dan mengerikan.
Tapi di balik semua itu, terlihat sosok yang menyebabkan 'gempa' ini terjadi.
Panjang tubuhnya yang terlihat saja sudah melampaui 100 meter. Sedangkan diameter tubuhnya sendiri mencapai 50 meter lebih.
Ribuan, atau bahkan puluhan ribu taring yang sangat tajam dan besar dengan susunan yang sangat berantakan itu terlihat memenuhi seluruh rongga mulut makhluk itu.
Tak terlihat wujud mata dari makhluk yang menyerupai cacing itu.
Yang terlihat hanyalah makhluk berukuran raksasa dengan panjang tubuh yang bahkan belum terukur itu. Dan apa yang membuatnya lebih mengerikan lagi, adalah sebuah kenyataan bahwa makhluk itu memakan segalanya yang ada di hadapannya.
Baik itu tanah, batu, dan tentu saja.... Makhluk hidup.
Kini, Dunia Iblis dihadapkan dengan masalah baru yang jauh lebih besar daripada yang sebelumnya.
Sebuah krisis....
__ADS_1
Yang bahkan bisa mengancam keberlangsungan dunia iblis itu sendiri.