
...Dunia Nyata...
...Afrika...
'Dukdukdukduk!!!'
Suara baling-baling helikopter itu terdengar begitu kencang di tengah tanah yang sangat tandus ini.
Di atas tanah, terlihat sosok beberapa orang yang membawa tongkat dengan lampu kelap kelip yang cukup terang. Mereka nampak mengarahkan lokasi pendaratan helikopter itu.
Sementara itu di tempat yang tak begitu jauh, terlihat jajaran kendaraan Jeep yang memiliki beberapa regu yang mengenakan perlengkapan perang.
Segera setelah helikopter itu mendarat....
"Sebelah sini, Tuan Eric." Ucap salah seorang Pria dengan peralatan tempur itu. Baju pelindung yang tebal dengan corak kecoklatan yang menyamarkan keberadaannya, helm tempur dengan alat bantu penglihatan, serta senapan yang cukup besar.
Mereka semua adalah tentara, atau lebih tepatnya penjaga pribadi yang dikelola oleh Grandia Security. Sebuah organisasi tak resmi yang berfokus pada keamanan seluruh perusahaan Grandia.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Eric yang segera mengenakan pakaian pelindung itu. Termasuk helm.
"Cukup buruk. Pemberontakan terhadap Afrika Selatan oleh para aktivis membuat situasi di daerah ini cukup memanas. Sejujurnya, kami tak ingin Tuan Eric pergi kesini secara langsung." Jelas salah seorang petugas keamanan itu.
Tujuan Eric pergi jauh-jauh hingga ke benua lain ada beberapa.
Yang pertama, untuk memastikan pembangkit listrik yang telah Ia buat mampu memberikan pasokan listrik dalam jumlah yang cukup besar. Serta memastikan keamanannya dengan mata kepalanya sendiri.
Kemudian yang kedua, adalah untuk melakukan uji coba senjata eksperimental di tengah Padang pasir yang tak berpenghuni ini.
Kemudian yang terakhir....
'Sebelum melakukan perlawanan dengan pemerintahan gila di Indonesia, aku harus mempersiapkan mental ku di Medan perang ini.'
Itulah tujuan utama Eric.
Mau bagaimanapun, kerugian yang dideritanya atas cekikan para elit pemerintahan di Indonesia membuat dirinya harus berpikir sepuluh langkah kedepan.
Ia tak bisa hanya bergantung pada dunia virtual seperti Re:Life. Sebesar apapun kesuksesannya di sana, dunia itu hanyalah dunia Maya.
Kini, pertempuran yang harus di hadapi oleh Eric berada di dua dunia.
Tapi tepat setelah beberapa menit berjalan....
'Duaaaarrr!!!'
Ledakan yang besar dari sebuah tembakan terjadi tepat di sebelah kendaraan yang dikendarai oleh regu Eric.
"Tembakan! Tembakan! Sisi kendali! Laporkan keadaan! Apa yang terjadi dengan Drone pengintai?!"
"Mereka menyadarinya dan telah menembak Drone itu!"
__ADS_1
Meski situasi saat ini cukup menegangkan, seluruh prajurit masih nampak cukup tenang. Mereka melakukan koordinasi dengan rapi.
Tiga buah Jeep yang sebelumnya ada di belakang, kini bergerak mengelilingi Jeep yang ditumpangi oleh Eric.
Sementara itu, ada satu orang yang sebenarnya sangat panik tapi mampu menyembunyikannya dengan sangat baik.
'Yang benar saja?! Apakah aku akan mati disini?!'
Orang itu adalah Eric.
...***...
...Re:Life...
...Dunia Manusia...
...Wilayah Kerajaan Salvation...
"Aamori benar-benar gila...." Ucap seorang Wanita dengan rambut merah, Elin, sambil memandangi hancurnya sebuah kota.
Kota itu nampak rata dengan tanah setelah hujan pedang yang dikeluarkan oleh Aamori.
"Nyonya Elin. Apa yang akan Anda rencanakan selanjutnya?" Tanya seorang Pria yang tak lain adalah komandan dari pasukan bayaran.
"Kita akan membangun banyak pos perampok. Di setiap rute perdagangan, tempatkan setidaknya 200 hingga 300 orang. Dengan begitu, melumpuhkan kekuatan dari Kerajaan Salvation dari segi ekonomi akan mudah terealisasikan." Jelas Elin dengan rinci.
Komandan itu pun mengangguk dengan tenang.
Sementara itu, Elin segera berjalan ke tempat lain. Lebih tepatnya ke sebuah desa kecil di pinggir sungai.
'Eric saat ini masih tak bisa diharapkan. Dengan kesibukannya di dunia nyata, ditambah dengan dirinya yang masih terjebak di dunia iblis.... Aku harus bisa setidaknya mengambil kembali wilayah Kerajaan Farna.' Pikir Elin dalam hatinya.
Sesampainya di desa kecil itu, Elin disambut oleh seorang Pria dengan zirah tipis yang tertutupi oleh jubah coklat.
"Elin, selamat datang kembali."
Pria itu adalah Arlond. Mantan Raja Kerajaan Farna yang saat ini sedang mengasingkan dirinya di desa kecil ini. Ia memulai hidup sederhana sambil menikmati suasana desa yang damai.
Meski begitu, Ia tak melupakan sedikitpun kewajibannya sebagai seorang Raja.
"Aku telah menghambat jalur perdagangan mereka. Kau hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menggulingkan tahta Chris. Kemudian...."
"Elin." Ucap Arlond menyela Elin.
"Hmm? Ada apa?" Tanya Elin kebingungan.
"Apakah kau tidak lelah dengan semua ini? Kau tahu, tentang semua tindakanmu ini...." Ucap Arlond dengan sedikit ragu.
Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Eric lah yang mengangkat Arlond dari tanah ke langit.
__ADS_1
Tak hanya memberikan Arlond sebuah kesempatan untuk menjadi Raja, tapi Eric juga secara tidak langsung mengubah hidup Arlond secara drastis di dunia nyata.
Seorang pegawai pabrik yang hanya hidup pas-pasan, kini bisa dibilang telah menikmati hidup mewah sebagai kesehariannya.
"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Elin dengan memasang wajah yang cukup serius.
"Kau tahu? Seluruh dunia telah mengetahui bahwa kau adalah dalang dari semua kejahatan yang terjadi di wilayah Kerajaan Salvation. Seluruh dunia membenci dirimu dan Eric. Apakah hidup dalam keadaan seper...."
"Kau salah, Arlond. Sejak awal, aku dan Eric memang serupa. Tak memperdulikan apapun, kami berdua hanya akan bergerak jika itu menguntungkan pihak kami. Dibenci oleh dunia? Bukankah ini hanya sebatas permainan?" Tanya Elin sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.
Arlond nampak sedikit menundukkan kepalanya, seakan tak mampu untuk melihat sosok Elin yang menurutnya dalam keadaan marah.
"Dunia ini memang hanyalah sebuah permainan. Tapi berpengaruh secara langsung dengan kehidupan di dunia nyata. Oleh karena itu, bisa dibilang bahwa apa yang terjadi disini, akan mempengaruhi kehidupan pemain di dunia nyata. Contoh yang paling jelas adalah diriku." Jelas Arlond dengan suara yang gemetar.
Elin tak segera menjawab perkataan Arlond. Ia justru membalikkan badannya dan terdiam selama beberapa saat.
Hingga akhirnya....
"Aku mengerti apa maksudmu. Kau ingin menikmati permainan ini seperti apa yang dulu kau inginkan bukan?" Tanya Elin dengan senyuman tipis di wajahnya.
Arlond pun hanya mampu mengangguk dengan perlahan.
"Tapi kenapa baru sekarang? Jika kau mengatakannya sejak dulu, aku takkan repot-repot seperti ini." Jawab Elin sambil tersenyum lebar.
Arlond pun kebingungan dengan perkataan dan sikap Elin.
'Kenapa baru sekarang? Jadi sejak setelah kekalahan dengan pasukan gabungan itu pun tak masalah? Lalu tidak perlu repot? Apa maksudnya dengan....'
Elin pun segera melanjutkan perkataannya tanpa menunggu balasan Arlond.
"Boleh saja. Kau bisa bermain sesuka hatimu. Untuk apa meminta ijin dariku?" Ucap Elin sambil tertawa ringan.
Arlond pun mulai bernafas lega. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Elin memperbolehkannya untuk bermain dengan damai.
"Elin.... Terimakasih banyak. Aku tak tahu bahwa kau akan memperbolehkannya." Ucap Arlond sambil sedikit menundukkan badannya.
"Hahaha, dasar. Kau hanya tak pernah mengungkapkan perasaanmu saja. Itulah mengapa sampai sekarang kau masih tak memiliki pasangan."
Perkataan Elin yang benar dan tepat sasaran itu tentu sedikit menusuk hati, walaupun hanya bercanda.
Akan tetapi....
"Sejujurnya, kepalaku cukup pusing memikirkan bagaimana caranya mengambil alih kembali kerajaan Farna. Tapi berkatmu yang kini lebih memilih bermain santai, aku tak lagi memiliki keraguan itu." Ucap Elin sambil bernafas lega.
"Eh? Apa maksudmu dengan...."
Sebelum Arlond menyelesaikan perkataannya, Elin memotong perkataan Arlond.
"Dengan begini, aku bisa membantai siapapun yang aku inginkan, tanpa harus banyak berpikir."
__ADS_1
Kalimat itu pun keluar dari mulut Elin dengan senyuman yang cukup lebar.
Sebuah senyuman, yang lebih menyerupai Iblis daripada rasnya yang merupakan Wooden Elf.