
Eric, Cathy dan juga Lucien segera meninggalkan gurun hitam itu. Mereka sama sekali tak ingin kejadian yang sama terulang, yaitu terjebak di dalam dungeon raksasa itu selama satu tahun lebih di dunia game.
Saat ini, mereka bertiga sedang bersembunyi di dalam sebuah pegunungan.
"Buahahaha! Ini luarbiasa! Benar-benar luarbiasa!" Teriak Eric dengan sangat puas.
Di hadapannya, terlihat sebuah peta tiga dimensi mengenai Dungeon yang sedang Ia bangun. Tak berhenti di sana, kemampuan barunya ini juga memberikan Eric akses terhadap menu ketika membuka peta itu.
...[Summon]...
...[Build]...
...[Craft]...
...[Repair]...
...[Upgrade]...
...[Evolve]...
...[Help]...
Tujuh menu utama itu berada di samping peta tiga dimensi yang ada di hadapan Eric.
Eric pun mencoba menekan menu [Build] untuk mengetahui isinya.
...[Build]...
......
......
......
Dengan senyuman yang tak kunjung hilang dari wajahnya, Eric dengan segera menekan tombol yang muncul di bawah menu [Build] itu.
......
...[Membangun sebuah ruangan untuk menempatkan perangkap atau monster. Ruangan juga dapat digunakan untuk keperluan yang lainnya.]...
...[Tentukan tempat yang ingin Anda bangun!]...
Segera setelah menekan sebuah tempat di peta yang dipenuhi dengan batuan keras, notifikasi baru segera muncul di hadapannya.
...[Tentukan luas dan dimensi ruangan yang Anda inginkan!]...
Peta tiga dimensi itu pun melakukan zoom in secara otomatis dan terfokus pada tempat yang telah dipilih oleh Eric.
Dengan penuh semangat, Eric pun mendesain ruangan itu dengan sepenuh hati. Meskipun, hasilnya hanyalah sebuah kubus raksasa berukuran 10x10x10 meter.
__ADS_1
...[Apakah Anda yakin dengan desain ini?]...
...[Ya] [Tidak]...
Tanpa ragu, Eric segera menekan tombol Ya. Bersamaan dengan itu, Ia pun segera berlari secepat mungkin di dalam goa yang hanya diterangi oleh obor ini.
"Tuanku, tunggu...." Ucap Cathy dan Lucien yang dengan segera mengikuti Tuannya.
Tapi tanpa disangka, terdengar sebuah teriakan yang sangat keras dari dalam goa. Suara itu pun menggema hingga ke segala arah.
"LUARBIASA SEKALI! AKU SUKA SKILL INI!" Teriak seorang Pria yang tak lain adalah Eric.
Di hadapannya, terdapat sebuah ruangan kosong yang sangat besar dengan bentuk kubus. Dinding ruangan ini hanyalah batu goa biasa.
Sekilas, memang nampak tak ada hal yang istimewa dari semua ini. Tapi kenyataannya jauh dari kata istimewa. Kemampuan baru ini membuka jutaan peluang yang baru bagi Eric yang selama ini harus menggali secara manual untuk membuka ruang baru.
"Hah.... Hah.... Tuanku, tunggu...."
Di hadapan Cathy dan juga Lucien, terlihat seorang Pria yang menyilangkan kedua lengannya. Wajahnya nampak memberikan ekspresi yang begitu bangga dan puas atas goa besar di belakangnya.
"Bagus! Sekarang aku tahu apa yang harus ku lakukan!"
Bersamaan dengan perkataan itu, Eric pun kembali menghabiskan waktunya untuk menjelajahi semua fungsi menu di dalam peta tiga dimensi itu.
Tapi bagi Cathy dan juga Lucien....
'Tuanku benar-benar sudah gila....' Pikir mereka dalam hati sambil memasang wajah yang sedih.
Parahnya lagi itu berlangsung selama 24 jam setiap harinya.
...***...
...Kerajaan Salvation...
...Kota Forgia...
Di tengah kompleks industri pandai besi yang begitu bising dan dipenuhi asap ini, terlihat seorang Pria yang memiliki penampilan yang cukup mencolok.
Orang itu mengenakan zirah yang luarbiasa besar dengan banyak sekali ornamen dan perhiasan. Tak hanya itu, Kilauan dari zirah itu nampak seakan Pria itu selalu memolesnya setiap detik.
Dengan kepala yang juga tertutupi oleh helem berwarna perak yang begitu mengkilap, Pria itu berjalan kesana kemari untuk mengunjungi tiap toko pandai besi satu persatu.
Tentu saja, semua pemilik toko pandai besi sangat menyambut kehadirannya. Tidak hanya karena Pria itu selalu membeli banyak barang buatan mereka dan membayar untuk tiap informasi yang diberikan, tapi para pemilik pandai besi itu juga bisa belajar banyak hal dari dirinya.
"Hahaha! Tuan Aamori terlalu merendah! Bagaimana mungkin zirah sebagus itu dibuat dalam 2 jam saja!" Ucap salah seorang pemilik toko yang memiliki badan besar dan kepala botak.
"Hahaha! Biasa saja! Zirah ini hanya memiliki tingkat Legendary, jadi bukan hal yang spesial." Ucap Pria yang tak lain adalah Aamori itu.
Sejak perubahannya menjadi Dewa Penempa, Aamori memperoleh banyak sekali hal yang baru. Salah satunya adalah meningkatnya kemampuan penempaan di dalam game ini. Serta membuat semua pandai besi yang berupa NPC memiliki afinitas maksimum dengan dirinya apapun yang terjadi.
__ADS_1
Meski begitu, Aamori adalah Aamori.
Ia tak pernah menganggap dirinya sempurna. Oleh karena itu Ia selalu berkelana selama ini ke segala penjuru dunia untuk mempelajari lebih banyak teknik penempaan.
Dan hasilnya sungguh luarbiasa. Aamori yang dulunya hanya terfokus untuk mencapai sebuah kesempurnaan, kini memperoleh banyak teknik untuk membuatnya mampu 'mendekati kesempurnaan' meski hanya melakukan penempaan dengan cepat.
Hasilnya adalah zirah besar yang Ia kenakan saat ini. Ia menempanya hanya dengan menggunakan baja tempa biasa di Kota Forgia ini.
Banyak sekali Penempa yang menontonnya melakukan penempaan secara langsung, membuat mereka juga memperoleh Experience Point dalam skill Penempaan mereka karena melihat Dewa Penempa secara langsung.
Kehidupannya kini nampak begitu bahagia dan menyenangkan. Seluruh masalah di dunia nyata telah teratasi, ditambah lagi Ia telah mencapai salah satu tingkat tertinggi di dalam game ini. Dan Ia masih mampu bersikap rendah hati.
Sebuah sosok yang sempurna bagi semua orang.
Tapi sayangnya, tak semua orang menyukai hal itu.
'Taapp! Taapp! Tappp!'
Terdengar suara langkah kaki yang berat dari puluhan prajurit. Di bagian dada mereka nampak jelas lambang Kerajaan Salvation.
Dengan tombak yang cukup panjang, mereka dengan arogannya mengarahkan tombak itu ke Aamori.
"Aamori! Atas perintah Yang Mulia Raja, kau dipanggil untuk segera kembali ke pihak Salvation. Saat ini, kau harus segera pergi untuk menemui Yang Mulia. Ikuti kami dan jangan buat masalah!" Teriak Prajurit itu.
Tapi yang pertama naik pitam bukanlah Aamori, melainkan para Penempa yang saat ini sedang mengobrol dengan Aamori.
"Apa kau bilang?! Seenaknya saja memerintahkan Tuan Aamori?!" Teriak pemilik toko itu.
"Jangan berpikir macam-macam! Seorang pandai besi saja bisa apa?! Matilah kau!" Teriak prajurit sambil mengayunkan tombaknya tepat ke arah sang pemilik toko.
'KLAAAANGG! KRETTAKK!!'
"Hah?!"
'Klaangg!!!'
Tombak yang baru saja diayunkan itu segera patah dan jatuh ke lantai.
"Kau.... Kau bilang Chris sialan itu memintaku untuk kembali di pihaknya? Bahkan setelah memperlakukanku sebagai mesin penghasil uang?" Ucap Aamori yang mematahkan tombak itu hanya dengan menghadanginya dengan tangan kanannya.
Dengan segera, perasaan takut mulai muncul di hari para Prajurit. Mereka sama sekali tak mengetahui seberapa kuat Aamori sebenarnya karena perilakunya yang nampak seperti orang biasa.
"Tu-tunggu! Ji-jika kau melawan ma...."
'Bruuukk!'
Aamori membanting Prajurit yang sebelumnya mengarahkan senjatanya ke warga sipil itu ke tanah.
"Aku akan kesana. Apakah sudah cukup? Sekarang tunjukkan jalannya." Ucap Aamori sambil menghadap ke Prajurit yang tergeletak di tanah itu. Tatapannya cukup dingin, tak seperti dirinya yang biasanya.
__ADS_1
Dan dengan begitulah, Chris telah memesan tanggal kematiannya sendiri.