TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 390 - Pertempuran


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu semenjak pertemuan dan perundingan Eric dengan Sierra.


Kini, pasukan Eric telah melaju secara perlahan tapi pasti ke arah Timur. Sesekali, Eric berhenti untuk membangun Dungeon Kecil. Tujuannya adalah untuk menghubungkannya dengan Kota Orc di wilayah Selatan.


Tentu saja, hanya dirinya sendiri yang tahu cara penggunaan lingkaran sihir Teleportasi itu, bersama dengan beberapa petinggi pasukan yang ada.


Sedangkan saat ini....


"Yang Mulia. Seluruh pasukan telah siap untuk bergerak kapan saja." Ucap salah seorang Orc dengan kulit kecoklatan itu sambil berlutut di hadapan Eric.


Ia adalah salah satu Jendral dalam perang ini. Salah satu monster yang diberi banyak sekali berkah dengan kekuatan Evolusi dan juga Ascension milik Eric.


Meskipun menghabiskan banyak sekali Level, tapi itu bukanlah hal yang lagi menjadi masalah bagi Eric. Hanya dalam pertempuran ini saja, Ia sudah yakin akan memperoleh ratusan level sekaligus.


"Kerja bagus. Sebelum bergerak, bagaimana menurutmu kondisi dari musuh?" Tanya Eric singkat.


Orc itu pun segera menjawab tanpa sedikitpun jeda.


"Musuh hanya memiliki 100.000 pasukan. Meski begitu, jika dilihat dari barisan dan juga sikap mereka semua, kemungkinan besar semuanya adalah pasukan Elit yang setara dengan Ksatria Naga milik Ratu Iblis Sierra." Jelas Jendral itu dengan rinci.


Eric terlihat memikirkannya sejenak sebelum memutuskan untuk bergerak.


"Jadi begitu? Kalau begitu, mari kita buka perang ini dengan sesuatu yang meriah. Sesuatu yang mungkin cukup sulit untuk mereka tahan." Ucap Eric sambil menoleh ke arah Trebuchet raksasa yang telah mereka bangun.


Trebuchet adalah sebuah alat berat dalam peperangan yang memiliki fungsi utama melontarkan batu besar.


Tapi berbeda dari Trebuchet pada umumnya yang dibawa dari Kota, pasukan Eric baru saja membangunnya dengan kayu yang mereka peroleh dari hutan di tempat yang mereka lalui.


Terlebih lagi, ukurannya begitu besar hingga tak lagi mampu digerakkan setelah selesai dibangun.


Untuk melontarkan sebuah batu raksasa yang dibuat oleh para regu penyihir itu, dibutuhkan seratus prajurit yang menggerakkan alat itu secara bersamaan. Bahkan dal kondisi mereka telah memperoleh Buff kekuatan.


"Dimengerti, Yang Mulia." Balas Jendral itu sambil segera bergerak kembali ke posnya. Ia lalu memberikan instruksi yang disampaikan dengan gerakan bendera. Setiap bendera itu mewakili beberapa jenis strategi yang hanya dipahami oleh kapten di setiap regu.


Dan tugas dari seluruh kapten itu adalah menyampaikan maksud dari suatu kibaran bendera kepada bawahannya.


Pada bagian Trebuchet....


"Perintah untuk menembak telah tiba! Semuanya! Segera isi Trebuchet itu dan bersiaplah melemparkannya ke arah lawan!" Teriak sang kapten.

__ADS_1


Hal yang sama juga terlihat di berbagai lokasi pada barisan pelontar batu itu.


Dengan total 40 Trebuchet, semuanya telah mengisi batu raksasa yang kini dibakar oleh para regu penyihir.


Sekitar 100 prajurit menggerakkan sebuah tuas yang menggerakkan lengan kayu raksasa itu.


Setelah semuanya siap, mereka pun segera mendorongnya secara bersamaan. Seluruh tenaga yang dikeluarkan tersalurkan pada lengan Trebuchet itu sehingga melemparkan batu raksasa yang ada di lengannya.


'SWUUUOOOSSSHHH!!!'


Puluhan batu raksasa yang terbakar oleh api yang membara itu terlihat melintasi langit seperti sebuah meteor. Dengan ukurannya yang sebesar itu, tak salah juga menyebutnya sebagai meteor.


Sementara itu di sisi barisan pasukan Belphegor, kepanikan yang cukup besar mulai terjadi.


"Serangan musuh!!!"


"Semuanya! Menghindar!!"


Seluruh prajurit yang sebelumnya bersikap cukup tenang dan tegap itu, kini berlarian ke segala arah berusaha untuk menghindar dari puluhan batu raksasa yang terbang ke arah mereka.


Salah satu komandan dari pasukan itu pun merasa keheranan dengan situasi ini.


"Yang benar saja.... Bahkan jaraknya berada jauh diluar jangkauan pelontar batu milik pasukan kita.... Tapi bagaimana bisa, mereka melemparkan batu sebesar itu sejauh ini?!"


Ledakan yang cukup besar terjadi setiap kali batu raksasa itu menghantam tanah.


Tak hanya mengguncang tanah serta meratakan makhluk apapun yang ada di bawahnya, tapi batu raksasa itu juga hancur lebur karena beratnya sendiri.


Hasilnya? Ribuan pecahan batu yang tajam terlontar dengan sangat kuat dan cepat ke segala arah. Dan dari semuanya itu, kobaran api yang panas menyelimutinya


Meski tak memiliki daya hancur yang sebesar benturan pertama, tapi ribuan serpihan batu ini mampu mengoyak sebagian besar tubuh para prajurit yang cukup sial untuk berada di lintasannya.


Menghindari serangan ini hampir dikatakan mustahil.


Sementara itu, Belphegor yang memperhatikan semua kejadian ini....


"Cukup mengesankan, dan sesuai dugaan. Eric, sungguh disayangkan kau menjadi musuh. Jika tidak, kau akan menjadi boneka terbaik yang bisa ku miliki...." Ucap Belphegor sambil berdiri di tengah kekacauan itu.


Bahkan dirinya sekalipun juga menerima beberapa damage ketika berhadapan dengan kehancuran itu.

__ADS_1


Tapi tak berhenti disana....


Gelombang kedua dari tembakan Trebuchet raksasa milik Eric telah melayang di udara. Tujuannya kini sedikit lebih jauh dan lebih lebar daripada tembakan sebelumnya.


Itu karena Eric memprediksi bahwa tembakan pertama akan membuat pasukan musuh panik dan menyebar ke segala arah. Dengan satu gerakan yang hampir tak mungkin mereka ambil, yaitu maju mendekati sumber kekacauan ini.


Dan semua itu sesuai dengan prediksi Eric.


Pasukan Belphegor mulai berlarian ke arah belakang. Mereka berpikir bahwa menjauhi jangkauan dari Trebuchet lawan akan menyelamatkan mereka.


Tapi pada kenyataannya....


'BLAAAAAAAAARRRR!!! BLAAARRR!!'


Tembakan kedua ini memberikan kehancuran dan kekacauan jauh melampaui tembakan yang pertama. Itu karena jangkauan dan luasan tembakan itu sendiri lebih besar daripada yang sebelumnya.


Belphegor terlihat cukup kesal dengan semua ini. Ia pun secara perlahan berjalan ke arah barisan pasukan Eric.


Perlahan tapi pasti, langkah kakinya menjadi semakin cepat. Hingga akhirnya, Ia melompat dan terbang ke udara.


"Pasukanku yang bodoh! Siapapun yang kabur dari perang ini akan ku bunuh dengan tanganku sendiri! Termasuk keluarga kalian!" Teriak Belphegor sambil bergerak melesat ke barisan pasukan Eric.


Kecepatannya cukup tinggi meskipun Ia terlihat mengenakan zirah hitam yang cukup berat.


Mendengar teriakan dari Belphegor, semua prajurit yang sebelumnya berusaha melarikan diri, kini berbalik arah dan bersiap untuk bertempur.


Bukan untuk menghargai perintah dari Tuannya.


Tapi mereka tahu....


Akan lebih baik untuk mati di medan perang daripada mati di tangan kejam Belphegor.


Di sisi lain....


"Yang Mulia. Serangan memberikan hasil yang sangat efektif. Kemungkinan sekitar 10.000 lebih prajurit dari pasukan musuh telah dimusnahkan dengan serangan barusan." Lapor sang Jendral Orc itu kepada Eric.


Mendengar hal itu, Eric pun memperlihatkan senyuman yang puas.


"Kerja bagus. Sekarang, haruskah kita sambut kedatangan mereka dengan lebih meriah?" Tanya Eric sambil memperhatikan ribuan Iblis yang terbang ke arah barisan pasukan Eric.

__ADS_1


Kini, pertempuran pun memasuki tahap yang berikutnya.


Hingga saat ini, Eric masih memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan pihak Belphegor. Yang membuatnya masih mampu tersenyum dengan tenang.


__ADS_2