TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 316 - Pertempuran di Katredal Suci


__ADS_3

...Dunia Manusia...


...Kerajaan Suci Celestine...


...Celestia...


Beberapa jam telah berlalu.


Yang tersisa di tengah kota suci yang megah ini, hanyalah 12 orang serta sebuah katredal suci yang berada di pusat kota ini.


Seluruh bangunan yang lainnya telah diratakan dengan tanah.


"Bukankah bangunan ini sangat luarbiasa menurutmu, Angie?" Tanya Grund sambil tersenyum puas.


Setelah pembantaian seluruh penduduk dan juga pasukan yang ada di Kota ini, mereka semua telah berhasil memanen banyak sekali Experience Point dan memperoleh banyak level.


Mendengar pertanyaan itu dari Grund, Angie hanya tersenyum tipis.


"Semoga saja didalamnya terdapat sesuatu yang menarik."


"Sesuatu.... Apa yang kau maksud dengan itu?" Tanya Miyamoto sang pendekar pedang dengan gaya Samurai.


"Uskup Agung misalnya."


Bersamaan dengan balasan singkat itu, Angie melangkah secara perlahan mendekati pintu masuk itu.


Ia pun membuka pintu yang sangat besar dan megah itu secara perlahan.


'Tap! Tap! Tap!'


Suara langkah kaki keduabelas orang itu menggema ke seluruh isi katredal suci yang begitu megah itu.


Bahkan sebagian besar dari mereka secara refleks terkagum-kagum pada keindahan yang ada di dalam katredal suci ini.


Berbagai hiasan dan ornamen yang indah diletakkan pada lokasi yang tepat.


Berbagai jenis lukisan dipajang di setiap sisi dinding Katredal ini.


Dan dari itu semua, mozaik berukuran raksasa dengan corak dan gambar yang begitu indah terpampang pada ujung katredal ini.


Sebenarnya, terdapat cukup banyak mozaik yang tersebar di dalam Katredal Suci ini.


Akan tetapi 3 buah mozaik utama yang berada tepat di ujung ruangan ini nampak begitu mendominasi. Bukan hanya karena ukurannya. Tapi juga karena keindahannya.


Dua buah mozaik yang ada di kiri dan kanan memiliki gambar sosok manusia yang nampak sedang berdoa. Menghadap masing-masing ke kanan dan ke kiri.


Banyak sekali jenis hewan juga terlihat ikut berdoa dengan sosok manusia itu.


Sedangkan mozaik yang ada di tengah memiliki ukuran yang paling besar.


Dan gambar yang ada pada mozaik itu adalah sosok seorang wanita yang sangat anggun. Mengenakan gaun putih yang sangat indah dan memiliki tiga pasang sayap dengan warna putih yang sangat indah.


Akan tetapi, wajahnya nampak tertutupi.... Atau lebih tepatnya tersamarkan oleh cahaya keemasan yang indah. Lambang cahaya itulah yang kini menjadi lambang dan dikenakan oleh para Inquisitor.


Kedua tangannya nampak memberikan sesuatu kepada dua buah mozaik dengan wujud manusia yang sedang berdoa itu.


Dari tangan kananny terlihat sang wanita.... Atau lebih tepatnya Dewi Celestine sedang memberikan buah-buahan.

__ADS_1


Sedangkan dari tangan kirinya, terlihat sang Dewi sedang memberikan persenjataan.


"Gambar yang sangat menarik. Apakah itu artinya Dewi Celestine memberi pengikutnya makanan dan senjata?" Tanya Luna setelah memperhatikan mozaik itu selama beberapa saat.


Tapi bukan jawaban dari kawannya yang diperoleh. Melainkan jawaban dari seorang Pria tua dengan jubah serba putih di ujung ruangan itu.


"Dewi Celestine akan memberkati seluruh manusia dengan mencukupi kebutuhannya."


'Tap! Tap! Tap!'


Pria tua itu melangkahkan kakinya secara perlahan, ke arah para anggota Rebellion.


Setelah beberapa saat dipenuhi dengan keheningan, Pria tua itu kembali berbicara.


"Sedangkan satu hal lainnya, Dewi Celestine memberkati pengikutnya dengan kekuatan."


Bersamaan dengan kalimat terakhirnya itu, sang Pria tua berjubah putih segera menghentikan langkahnya.


Seluruh anggota Rebellion pun bersiap untuk segera bertarung. Mereka semua menarik senjatanya dengan cepat.


Bukan karena para anggota Rebellion melihat sosok Pria tua itu bersiap untuk menyerang.


Tapi apa yang mereka rasakan saat ini, hanya bisa dijelaskan dengan pengalaman bertarung yang cukup panjang dan sengit.


Itulah yang bisa disebut dengan insting.


Sesaat setelah melihat Pria tua itu menghentikan langkah kakinya, keduabelas orang itu sangat yakin atas satu hal.


'Pria ini sangat berbahaya!'


Bahkan hal itu diperjelas ketika Luna membagikan informasi mengenai orang yang berdiri di hadapannya itu dengan item penakar kekuatan.


[Tipe : NPC]


[Ras : Manusia]


[Level : ???]


'Apa maksudnya dengan tidak diketahui? Bukankah item mata itu bisa melihat semuanya?' Pikir Angie dalam hatinya setelah melihat notifikasi party chat itu.


Di tengah ketegangan yang dirasakan oleh seluruh anggota Rebellion itu, tiba-tiba suara berat dari seorang Pria tua memecahkan suasana ini.


"Ada apa, wahai para penjajah? Jangan katakan bahwa setelah menghancurkan seluruh ibukota ini, kalian akan pergi tanpa meruntuhkan Katredal suci ini?"


Perkataan Pria tua yang tak lain adalah uskup agung itu membuat seluruh bulu kuduk para anggota Rebellion berdiri.


Perkataannya sangat menusuk dan juga mengerikan di saat yang sama.


Itu karena apa yang dikatakannya....


Adalah tepat seperti yang dipikirkan oleh mereka semua.


Sempat terlintas pada pikiran mereka untuk kabur dari tempat ini dan mempersiapkan ulang segalanya sebelum kembali menantang Uskup Agung.


Tapi kini rencana mereka yang seakan terlihat dengan jelas....


"Holy Site Manifestation."

__ADS_1


Ucap Fransiskus, sang Uskup Agung dengan suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.


"Terlambat!"


Itulah satu kata yang segera terucap oleh seluruh Anggota Rebellion kecuali Angie.


Saat ini, Angie berada tepat pada puncak fokusnya. Hal itu dikarenakan Ia telah lama tak menemukan lawan yang jauh lebih kuat darinya semenjak membentuk kelompok Rebellion ini.


Rasa senang sekaligus semangat yang sangat besar berkobar di dalam dirinya.


Semua itu ditunjukkan dengan senyuman tipisnya yang mengerikan itu.


"Bagus. Jika tidak seperti ini maka tak pantas untuk disebut sebagai Uskup Agung!" Teriak Angie dengan senyuman yang kini terbuka lebar.


Bersamaan dengan itu, ruangan yang sebelumnya merupakan sisi bagian dalam Katredal Suci yang begitu megah....


Kini telah berubah drastis.


Di sekeliling tempat merupakan Padang rumput yang begitu luas. Tak ada satupun pohon yang berdiri di tengah bukit hijau ini.


Langit biru yang indah serta dihiasi oleh sedikit awan membuat suasana di tempat ini begitu nyaman.


Di puncak bukit itu terdapat sebuah altar batu dengan gerbang yang juga terbuat dari batu besar yang dipahat secara kasar.


Sedangkan sang Uskup Agung nampak berdiri di depan Altar batu itu.


"Tahukah kalian, wahai para penjajah, tempat apa ini?" Tanya Fransiskus sambil memegang sebuah pedang yang menancap di altar batu itu. Menyebabkan altar itu menjadi terbelah dua.


Tentu saja, tak ada satu orang pemain pun yang mengetahui tempat ini.


Bahkan bagi Rebellion yang telah melalang buana ke berbagai tempat untuk menyelesaikan Quest rahasia sekalipun.


Mereka sama sekali tak mengetahui bahwa tempat ini pernah ada.


"Hanya diam? Bisa kusimpulkan bahwa kalian tak mengetahui tempat ini? Sungguh disayangkan." Ucap Fransiskus sambil memasang wajah kecewa.


"Memangnya tempat apa ini?" Tanya Angie dengan suara lantang.


Fransiskus pun segera menarik pedang usang yang sudah berkarat itu secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan Angie.


'Srraaaang!'


Suara gesekan antara besi dengan batu itu terdengar cukup nyaring.


Apa yang muncul setelah itu sama sekali tak istimewa. Hanya sebuah pedang tua yang sudah berkarat.


Segera setelah itu, Fransiskus pun mulai kembali berbicara.


"Tempat ini.... Adalah awal dari peradaban manusia. Dan pedang ini.... Adalah senjata pertama yang ditempa oleh umat manusia. Senjata yang buruk dan sudah usang. Bahkan hanya beberapa Minggu setelah pembuatannya.


Akan tetapi.... Di dalam pedang ini terdapat kekuatan seluruh umat manusia pada masa itu."


Setelah mengakhiri perkataan panjangnya, Fransiskus mulai mengayunkan pedang tua yang usang itu dan kembali berkata.


"Ingin mencobanya?"


Pertarungan antara Rebellion dengan Uskup Agung dari Dewi Celestine kini sudah tak terelakkan.

__ADS_1


Apa yang menanti kedua belah pihak, hanya bisa dijawab oleh pertarungan yang akan terjadi.


__ADS_2