
Dengan langit yang mulai gelap dan dipenuhi dengan awan hitam, dua kubu yang saling berlainan pendapat itu pun berhadapan.
Ketika kata-kata tak lagi mampu bertemu, kini hanya pedang dan panah yang tersisa.
"Bersiaplah kalian semua. Mungkin beberapa dari kalian akan mati, tapi berjuanglah untuk hidup. Itu karena bagi mereka yang berhasil bertahan, akan memperoleh kekayaan dari jarahan kota ini." Jelas Elin dengan suara yang cukup keras.
"Wooaaaahh!!!" Teriak seluruh pasukan sambil menghantamkan senjata mereka. Sebagian nampak dihantamkan pada perisai besi, namun sebagian yang lainnya dihantamkan ke tanah. Menghasilkan suara nyaring yang cukup mengintimidasi lawannya.
Dengan langkah perlahan yang mantap, seluruh pasukan Elin pun bergerak maju.
Para pemanah lawan yang berdiri di atas dinding nampak telah menarik busur mereka. Panah yang tajam itu telah siap melesat kapan saja. Yang mereka nantikan, hanyalah menanti pasukan perampok itu mencapai jarak tembak mereka.
Tapi tepat sebelum Elin dan pasukannya mencapai jarak tembak mereka....
Senyuman licik Elin terlihat dengan jelas di wajahnya.
"Summon.... Orc!" Teriak Elin sambil mengarahkan tangannya kedepan.
Sekitar 50 lebih Orc segera muncul seakan dari udara. Dan parahnya lagi, 50 Orc yang mengenakan zirah seadanya serta gada batu itu berada di zona tembak para pasukan lawan.
Dengan segera, Orc yang kini berada di barisan terdepan itu berlari dengan sekuat tenaga sesuai dengan aba-aba Elin. Meninggalkan pasukan utamanya di belakang dengan langkah yang sedikit lebih lambat.
Di saat lawan mulai kebingungan antara menembak Orc atau tidak, Elin telah memanggil 50 monster lagi dengan Unique Skill Summoner miliknya yang diperoleh dari Scarlet dulu.
Jumlah monster yang tiba-tiba muncul dan menyerbu dinding kayu itu terus menerus bertambah setiap saat. Langkah mereka jauh lebih cepat daripada pasukan utama yang berupa manusia itu.
"Tenang saja! Mereka tidak memiliki tangga! Mereka takkan bisa mendaki dindin...."
'Braakkk! Kreetakk!'
Gerombolan Orc yang menyerbu itu mengubah diri mereka sendiri menjadi tangga. Orc yang pertama akan menundukkan badannya untuk menopang Orc yang lain. Sedangkan Orc yang kedua akan memikul Orc berikutnya. Begitu seterusnya hingga mereka mencapai puncak dinding yang setinggi sekitar 5 meter itu.
"Huwaaa!!!"
Ketakutan, salah seorang pemanah di Kota itu pun melepaskan panahnya, bukan ke pasukan utama Elin yang beranggotakan manusia. Melainkan ke Orc yang mendaki dinding kayu itu.
'Jleb!'
Dengan satu tembakan dan teriakan itu, Elin berhasil membuat panik semua pemanah yang ada di dinding. Mereka semua pun melepaskan anak panahnya ke arah monster terdekat.
'Bagus!' Pikir Elin dalam hatinya tanpa berhenti memanggil monster baru.
Tak ingin melewatkan kesempatan emas dimana pemanah lawan tak siap untuk menembak ini, Elin segera berteriak sekuat tenaga.
"Serbu secepat yang kalian bisa! Yang membunuh paling banyak prajurit akan memperoleh bonus emas!"
Pasukan utama Elin pun melangkah jauh lebih cepat. Bagaimanapun, mereka adalah Elit yang telah terlatih oleh pelatihan keras Elin dan para Elf di Dungeon yang berupa hutan itu.
Dengan langkah yang cepat, mereka mendekati dinding sambil membawa tangga kayu yang sangat panjang. Setelah berada tepat di depan dinding, mereka segera meletakkan tangga itu di dinding serta membiarkan para monster untuk mendakinya.
__ADS_1
Sementara itu, Elin melompat sekuat tenaga. Lompatannya yang cukup tinggi dan jauh karena status Agility dan juga Strength nya yang luarbiasa tinggi.
'Tap!'
Dengan sempurna, Elin mendarat tepat di atas dinding.
Pasukan lawan yang ada di sekelilingnya nampak kebingungan harus bereaksi seperti apa. Pada akhirnya, mereka hanya menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma kepada Elin.
Tapi di saat pembantaian sedang berlangsung....
'Klaaangg!!!'
Elin berhasil mengelak dengan menahan pedang besar yang diayunkan ke arahnya itu.
"Hoo.... Jadi inikah sosok iblis merah yang sering menjadi perbincangan itu?" Ucap Ksatria dengan zirah putih.
"Bawahan Chris?" Ucap Elin sambil segera melompat mundur. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menilai orang sombong yang muncul di hadapannya.
Tapi entah sebaik apapun Elin berusaha menilainya, Ia sama sekali tak mampu untuk menemukan kelebihannya.
Bagi Elin, Pria yang muncul di hadapannya itu....
'Jdaaarrr!!!'
Petir merah seketika muncul menghantam tubuh Elin. Membuatnya diselimuti petir merah.
Kedua lengan Elin memegang belati merah. Dengan posisi yang siap untuk memotong, Elin segera tenggelam dalam bayangannya sendiri.
Ksatria berzirah putih itu sama sekali tak mampu bereaksi melihat kecepatan Elin yang berada dalam mode Lightning Prince.
Apa yang Ia rasakan, hanyalah sensasi puluhan tebasan yang membuat tubuhnya terpotong-potong menjadi banyak bagian.
Hanya dalam waktu kurang dari dua detik, Ksatria yang digadang-gadang menjadi penyelamat bagi seluruh prajurit di Kota itu, telah tercincang-cincang layaknya bahan makanan.
'Tap!'
Segera setelah mencincang tubuh lawannya, Elin berdiri dengan tenang tepat di depan tubuh Ksatria itu.
Dengan senyuman bak iblis, Elin mendekati kepala Ksatria itu yang telah tergeletak di tanah dan mulai berubah menjadi cahaya putih.
"Keroco sepertimu tak layak untuk bersikap sombong seperti itu."
Dengan perasaan penuh kemarahan, Ksatria yang bahkan belum sempat memperkenalkan dirinya itu telah dipaksa untuk meninggalkan dunia ini.
Pertempuran yang sangat berat sebelah ini pun berlanjut. Tapi Elin sama sekali tak membiarkan pasukannya menyentuh rakyat sipil.
Kemenangan telah dipastikan semenjak kepanikan pasukan di dalam dinding terjadi.
Akhirnya, pertempuran yang berlangsung sekitar 30 menit lebih itu berakhir dengan kemenangan telak Elin.
__ADS_1
Korban di pihak Elin hanyalah sekitar 40 orang yang luka ringan, namun tak ada kematian yang terjadi.
Di hadapan walikota tempat itu, Elin mengarahkan belatinya tepat ke leher sang walikota.
"Dua pilihan untuk kalian. Semuanya mati di tangan kami, atau bekerjasama dengan kami. Jika kalian memilih untuk bekerjasama, aku bisa menjanjikan kekayaan dan kejayaan. Tapi, keselamatan kalian takkan bisa ku jamin." Jelas Elin dengan wajah seriusnya.
Di balik tubuh walikota itu, pasukan Elin termasuk para monster telah mengarahkan senjata mereka ke arah warga sipil. Secara langsung menyandera mereka. Membuat pikiran walikota itu tak bisa terlalu jernih.
Setelah beberapa saat berlalu, sang walikota itu tak kunjung menjawab. Membuat Elin mengangkat tangan kanannya seakan telah siap untuk mengayunkan belatinya.
"Tiga...."
Semua orang tahu apa yang dimaksudkan oleh Elin. Seluruh pasukannya pun mengikutinya dengan mengangkat senjata mereka ke atas.
Sang walikota yang melihat sekelilingnya pun sadar, bahwa nyawa warganya berada di tangannya.
Tak ada yang diperbolehkan untuk berbicara, kecuali sang walikota untuk menjawab tawaran Elin. Membuat suasana di sore hari menjelang malam ini menjadi sangat sunyi. Hanya gemuruh awan yang nampak akan segera hujan ini yang bersuara.
"Dua...."
Tak ada keraguan sedikitpun dari Elin. Baik suaranya, maupun genggaman belatinya.
Walikota itu sangat yakin bahwa wanita dan pasukannya akan membunuh semua orang disini tanpa sedikitpun keraguan.
Meski begitu, sang walikota masih terdiam. Ia masih tak bisa menjawab untuk bekerjasama dengan perampok yang menyerang kotanya. Bayangan membunuh orang lain sudah terlihat di dalam pikiran sang walikota.
Akan tetapi....
"Satu...."
Haruskah Ia dan warganya mati disini?
Bukankah kelompok ini takkan lagi terhentikan kedepannya?
Meskipun mereka menolak bekerjasama dan mati di tempat ini, bukankah wanita yang ada di hadapannya beserta pasukannya takkan berhenti untuk membunuh?
Lalu....
Bukankah dengan begitu....
Kematian mereka hanya sia-sia saja?
Dengan pemikiran itu, sang walikota akhirnya berbicara.
"Baiklah! Aku mewakili wargaku semua, setuju untuk bekerjasama dengan kalian!"
Senyuman tipis yang tergambar di wajah Elin begitu mengerikan setelah mendengar jawaban dari walikota itu.
"Bagus. Kalau begitu, bisakah kita mulai rapat pertamanya?" Ucap Elin dengan senyuman manisnya yang khas.
__ADS_1