TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 303 - Kondisi Dunia Nyata


__ADS_3

...Indonesia...


...Kulon Progo...


...Wilayah Grandia Group...


Jam dinding telah menunjukkan pukul 23.08. Meski begitu, masih banyak sekali orang yang sedang duduk di hadapan meja bundar itu.


Jumlah total dari peserta yang ada di ruangan ini mencapai sekitar 58 orang. Bukan jumlah yang sangat besar, tapi tiap-tiap dari mereka memiliki peranan yang penting dalam mengatasi permasalahan kedepannya yang bahkan belum selesai di bahas hingga detik ini.


"Tuan Eric.... Apakah kau serius dengan itu?" Tanya salah seorang gadis yang nampaknya masih berumur 19 tahun itu.


"Untuk apa aku tidak serius? Aku memperoleh informasi dari beberapa bawahanku yang ada di dunia manusia, bahwa para Guardian sialan itu sedang berusaha untuk memburu tempat persembunyian sekaligus markasku." Jelas Eric dengan sangat tegas kepada semua orang itu.


Lisa yang selalu berada di sisi Eric nampak mendengarkan dengan seksama sambil mengetikkan banyak hal di sebuah komputer hologram di hadapannya.


Keributan ringan pun terjadi di dalam ruangan ini. Semua orang mulai berbicara dengan sebelahnya, membahas hal ini.


Mereka semua, adalah para petinggi dari Guild Merah Putih yang dibentuk atas dasar persatuan Indonesia mendukung Player terkuat di negaranya, Eric. Tentu saja, sebuah kenyataan bahwa pijakan Eric di dunia manusia telah terancam adalah hal yang sangat buruk bagi mereka. Termasuk Indonesia.


"Lalu.... Bagaimana caranya agar Anda bisa kembali ke dunia manusia, Tuan Eric?" Tanya salah seorang Pria botak itu.


"Aku belum bisa. Meskipun aku bisa, aku masih punya banyak keperluan di dunia iblis yang harus ku selesaikan. Maka dari itu aku meminta bantuan pada kalian. Tenang saja, aku bukanlah pengemis. Kalian semua akan dibayar dengan sangat pantas." Ucap Eric sambil menoleh ke arah Lisa.


Lisa yang memahami maksud Eric dengan segera berdiri dan menekan beberapa tombol pada tabletnya. Seketika, lima layar hologram muncul di tengah meja bundar ini, membentuk segi lima.


Pada layar itu, ditunjukkan sebuah angka dalam bentuk koin emas. Sudah termasuk angka dalam bentuk IDR dan juga USD.


"Tu-Tuan Eric! I-ini kan...."


"Apakah Anda serius?!"


Beberapa orang mulai heboh melihat angka yang ditampilkan. Pasalnya, angka itu sangatlah besar hingga sulit untuk dipercaya.


Untuk setiap petinggi, mereka yang membantu Eric akan memperoleh 10.000 koin emas. Sedangkan untuk semua anggota yang bukan petinggi, akan memperoleh 100 koin emas.


Jika dihitung secara kasar, Eric bisa menghabiskan lebih dari 10 juta koin emas hanya untuk misi sederhana ini. Sebuah angka yang bahkan cukup untuk mendirikan dua buah kerajaan.


Tapi tanpa disangka, Febri, sang pemanah terbaik di Indonesia, seketika berdiri.

__ADS_1


"Tuan Eric. Kurasa ini terlalu berlebihan. Perlu diketahui bahwa kami tak bergabung untuk uang. Tapi untuk kejayaan Indonesia."


"Aku setuju dengan itu. Re:Life bisa dikatakan sebagai dunia ke dua itu sendiri. Kemenangan Indonesia di sana, juga berarti kemenangan Indonesia di dunia nyata. Hal itu telah dibuktikan oleh Tuan Eric sendiri yang bisa menjadi sesukses ini berkat Re:Life." Jelas Renata.


Komentar positif pun terus menerus bermunculan. Tapi Eric hanya memasang wajah datar. Ketika kerusuhan telah memuncak, Ia mengangkat tangan kanannya agar mereka semua sedikit tenang.


"Lisa. Jelaskan kepada mereka." Ucap Eric sambil kembali duduk santai.


"Tentu saja, Tuan Eric."


Lisa pun dengan segera memulai penjelasannya.


"Pertama, itu hanyalah uang virtual yang berada di dalam Game. Bukan berarti Tuan Eric kehilangan uangnya yang sebenarnya.


Kedua, Tuan Eric adalah seorang Raja Iblis dengan gelar Greed. Untuk memperoleh kekuatan, Ia bahkan harus mengumpulkan 50 juta koin emas. Dan itu tidak hanya satu kali. Jadi 10 juta hanyalah jumlah yang kecil.


Ketiga, jangan lupakan fakta bahwa Tuan Eric berada di dunia iblis. Sebuah tempat yang dipenuhi monster dan juga musuh dengan level tinggi. Termasuk juga hadiah yang akan diperoleh sangatlah tinggi. Belum lagi, Tuan Eric adalah satu-satunya pemain yang ada di sana.


Jika Tuan Eric bisa memonopoli dan menguasai seluruh dunia itu, maka kekayaan yang besar pasti mengalir kepadanya." Lisa pun mengakhiri penjelasannya dan segera kembali duduk.


Sementara itu, Eric hanya mengangguk dengan tenang. Semua orang pun terdiam hingga Eric kembali berbicara.


Sontak, semua orang pun berdiri dan membungkukkan badannya.


"Kami akan selamanya setia kepadamu, Tuan Eric!" Ucap mereka serempak, mengetahui bahwa Tuannya begitu baik.


Meski begitu, tak ada yang menyadari.


Bahwa alasan sebenarnya Eric menundukkan kepalanya, adalah untuk menyembunyikan wajahnya yang tak lagi bisa menahan senyuman lebar bagaikan iblis itu.


'Bagus! Semoga saja takkan pernah ada pengkhianat di pihakku! Fufufu.... Harga yang murah....' Pikir Eric dalam hatinya.


Tapi belum selesai Ia berbahagia....


'Dok! Dok! Dok!'


Seseorang nampak mengetuk pintu ruangan ini dengan cukup keras.


Semua yang ada di ruangan ini pun sedikit terkejut dan kehilangan momen ini.

__ADS_1


"Tuan Eric! Berita buruk! Baru saja muncul berita bahwa seseorang telah membaca buku kuno!" Teriak orang yang ada di balik pintu itu.


Mata Eric pun dengan segera terbuka lebar.


'Siapa? Musuh? Kawan? Atau....'


Ia pun dengan segera menambahkan instruksi pada tugas para pemain di Guild Merah Putih, untuk mencari tahu sosok yang telah membaca buku kuno itu.


...***...


...Wilayah Perbatasan Kekaisaran Avertia...


...Kuil Naga Api, Arroth...


'Trraaangg! Traaangg! Traaaaangg!!!'


Suara palu besi yang menempa sebilah pedang yang terbuat dari bahan Adamantite itu. Sebuah material kelas dewa yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.


Termasuk juga tingkat kekerasannya.


Aamori yang telah memukul bilah pedang itu selama berbulan-bulan, masih belum mampu untuk merapikan bilah pedang itu. Jangankan merapikan, membuatnya tajam saja masih berada dalam alam imajinasi terliarnya.


'Sialan! Bagaimana caranya menempa benda sekeras ini?! Tidak.... Aku telah membuktikan bahwa aku bisa menempanya. Yang ku butuhkan hanyalah waktu!' Teriak Aamori dalam hatinya.


Puluhan Fire Draconic, termasuk Arroth, memperhatikan sosok Aamori yang masih terus menerus menempa meskipun mengetahui bahwa hal itu hampir mustahil untuk dilakukan.


"Yang Mulia.... Bukankah sebaiknya Anda menghentikan hal ini?" Tanya Valis dengan wajah yang memelas.


Akan tetapi, Arroth memiliki pandangan yang berbeda terhadap Aamori.


Arroth pada awalnya menganggap bahwa Aamori akan menyerah setelah tiga hingga sepuluh hari. Akan tetapi, kenyataannya jauh melampaui hal itu.


Aamori bahkan tak pernah berhenti menempa untuk istirahat, selain dirinya yang harus makan dan tidur di dunia nyata.


Dengan total waktu kerja mencapai lebih dari 127 hari, membuat bahkan Arroth sekalipun merasa ngeri.


"Tidak.... Orang ini bahkan melebihi harapanku. Aku ingin melihat benda seperti apa yang bisa dia buat dengan kekuatan yang tersegel itu. Meski tidak mungkin, tapi jika saja.... Jika saja dia bahkan bisa sedikitpun meniru artifak buatanku...."


Mata Arroth pun berbinar dengan penuh harapan kepada sosok Aamori yang dipilihnya itu.

__ADS_1


Sosok manusia.... Yang bahkan tak mengenal kata istirahat dan menyerah sebelum tugasnya berakhir.


__ADS_2