TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 364 - Permintaan


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Selatan...


Kelompok ekspedisi Eric yang baru saja menyelesaikan Dungeon itu nampak begitu senang. Termasuk Eric itu sendiri.


Tak hanya memperoleh banyak hadiah dan juga Experience Point. Tapi pengalaman bertarung anggota timnya juga meningkat dengan drastis.


'Jika terus seperti ini, bahkan menghadapi Primordial Slime sekalipun nampaknya akan berjalan dengan baik-baik saja.' Pikir Eric dalam hatinya sambil memperhatikan beberapa item di dalam Inventorynya.


...[Diamond Chest]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Memberikan banyak hadiah secara acak dengan tingkat Legendary. Hadiah bisa berupa item sekali pakai hingga perlengkapan tingkat legendaris.]...


...[Legendary Skill Book : Dragon Skin]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Tipe : Passive Skill]...


...[Meningkatkan status Vitality sebesar 100% secara permanen dan meningkatkan defense sebesar 200% secara permanen]...


Dibandingkan dengan Diamond Chest yang bisa saja memberikan banyak hadiah yang berguna, Eric jauh lebih tertarik dengan Skill Book legendaris itu.


Meningkatkan Vitality sendiri sudah mengandung arti meningkatkan Defense sebesar 100%. Tapi menaikkannya lagi sebesar 200%? Ini adalah penipuan terbesar!


Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Eric dengan mata berbinar dan senyuman yang sangat lebar. Wajahnya sangat jelas menggambarkan bahwa dirinya ingin memiliki skill itu.


Lucien yang melihat ekspresi Eric pun segera menyadarinya.


"Fufufu.... Sudah selayaknya Sang Raja Kegelapan yang menggunakan semua hadiah yang kita peroleh kali ini." Ucap Lucien sambil berpose aneh seperti biasanya.


Dengan senyuman yang hangat, Eric pun segera berterimakasih tidak hanya kepada Lucien tapi juga seluruh bawahannya yang lain. Segera setelah itu, Eric menggunakan skill legendaris itu untuk dirinya sendiri.


Mengingat Eric tak boleh mati bahkan satu kali pun karena akan menerima banned permanen, skill legendaris Dragon Skin ini akan sangat berguna baginya.


Setelah menggunakan skill itu, cahaya keemasan mulai menyelimuti tubuh Eric. Secara perlahan merubah tubuhnya.


Kini kulitnya menjadi jauh lebih keras dan nampak sedikit memiliki pola sisik yang samar.


"Tuanku! Sekarang mari kita segera buka peti hadiah itu!" Teriak Lucien memotong momen selebrasi ringan yang sedang dilakukan oleh Eric.


Tak hanya Lucien, tapi Verara, Rilette dan juga Tharkas nampak sudah menanti untuk mengetahui apa isi dari peti dengan warna biru yang indah itu.


"Baiklah... baiklah...." Balas Eric sambil tertawa ringan.


...[Peti Berlian telah terbuka!]...


...[Selamat! Anda memperoleh banyak hadiah!]...


...[Ancient Potion : 30x]...


...Sebuah ramuan kuno yang akan menyembuhkan seluruh parameter yang ada. Benda yang sangat berharga. Gunakanlah dengan bijak!...


...[Old Dragon Scale : 3x]...

__ADS_1


...[Rarity : Legendary]...


...[Tipe : Material]...


...Merupakan sebuah material tingkat legendaris. Menggunakannya sebagai bahan untuk membuat zirah atau perlengkapan pelindung akan memberikan bonus yang sangat besar terhadap status Defense....


...[Old Dragon Fang]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Tipe : Material]...


...Merupakan taring seekor naga yang sudah tua. Memiliki tingkat ketajaman yang sangat tinggi. Tapi bahan ini cukup rapuh. Memberikan status Attack yang sangat tinggi jika dibuat menjadi senjata. Tapi durabilitas senjata itu akan sangat rendah....


...[Old Dragon Bone Spear]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Tipe : Senjata - Tombak]...


...Sebuah tombak yang ditempa menggunakan tulang naga tua. Memiliki ketajaman yang sangat tinggi tapi sangat mudah rusak....


Memperhatikan seluruh isi hadiah itu, para anggota tim ekspedisi ini sangat takjub dengan material yang diperoleh.


Tapi hanya ada satu orang yang nampak kurang begitu bahagia.


"Tasmith.... Seharusnya kau melihat material tingkat legendaris ini dan menempatkan ku sesuatu...." Ucap Eric pada dirinya sendiri dengan senyuman yang dipenuhi kesedihan.


Ketiga bawahan baru Eric sama sekali tak memahami apa yang dimaksud oleh Eric. Hal yang wajar karena mereka tak mengenal sosok yang bernama Tasmith.


Hanya Lucien....


Itu semua karena Lucien tahu dengan sangat baik.


Tasmith, termasuk juga Oliver dan juga Liz adalah petinggi tertua dan yang paling awal melayani Eric. Keberadaan mereka bahkan jauh lebih berharga daripada apapun karena berkat mereka lah, Eric bisa sampai disini.


Dan di atas semua itu, ada Asmodeus.


Eric segera menepis pikirannya setelah mendengar perkataan Lucien.


"Lupakan. Sekarang, mari kita lanjutkan ekspedisi ini. Perjalanan kita masih sangat jauh." Ucap Eric sambil segera kembali berjalan ke arah Utara.


...***...


...Dunia Nyata...


...Kediaman Eric...


Di dalam kamar yang cukup besar itu, kapsul perangkat permainan VR nampak terbuka secara perlahan.


Eric yang berada di dalam mesin itu dengan segera berdiri dan bersiap untuk melangkah keluar dari kamar.


Sebelum akhirnya Ia dihadangi oleh sosok yang sangat berbahaya.


Penampilannya saja sudah mampu membuat Eric terintimidasi. Belum lagi menghitung tatapan matanya yang sangat tajam.


"Yoo.... Sudah puas bermainnya? Sekarang bagaimana jika kau mengurus anakmu?" Ucap sosok mengerikan yang sebenarnya adalah Elin itu.

__ADS_1


"Ma-maafkan aku! Aku terbawa suasana!" Balas Eric dengan panik sambil segera mendekati Elin yang sedang menggendong bayi itu.


"Jika kau terus seperti ini, kemungkinan Silvia akan menganggap orang gila itu sebagai ayahnya." Balas Elin sambil melirik ke arah meja makan.


Menyadari tatapan Elin, seorang Pria yang sedang dengan sangat lahap makan mie instan itu pun segera berbicara.


"Hah? Aku? Kenapa?"


Pria itu adalah Andra yang telah mendedikasikan dirinya untuk memberikan pendidikan kepada Silvia sejak dini.


Meski begitu, Eric dan Elin sendiri juga tak paham. Pendidikan macam apa yang akan bisa diterima oleh bayi yang bahkan belum berumur setengah tahun ini.


Setelah merawat putrinya selama beberapa saat hingga tertidur, Eric akhirnya membawa Silvia ke tempat tidurnya.


Dan akhirnya, saatnya telah tiba untuk menghadapi Boss terakhir pada hari ini.


"Apa maumu? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanya Eric kepada Elin yang masih terus menyilangkan lengannya sambil memberikan tatapan yang mengerikan kepada Eric.


"Aku mati." Balas Elin singkat.


"Maaf, apa aku tidak salah dengar?"


"Aku mati dan memperoleh restriksi selama 30 hari. Apakah itu kurang jelas?" Lanjut Elin.


Eric pun merasa sangat terkejut. Mau bagaimanapun, Elin adalah salah seorang Player yang sangat berbakat dan diakui oleh Eric sendiri.


Mengetahui dirinya mati begitu saja adalah hal yang sangat aneh bagi Eric.


"Inquisitor?" Tanya Eric singkat seakan bisa menebak apa yang terjadi.


"Kurasa aku paham bagaimana perasaanmu pada saat pertama kali Inquisitor menyerbu Origin. Tapi saat ini mereka sudah jauh lebih kuat. Ingat Alice? Dia telah memihak Inquisitor itu." Jelas Elin sambil mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas.


Mereka berdua pun berjalan ke arah balkoni. Sambil memandangi langit malam yang indah dan kompleks Grandia Apartment yang kian ramai, Eric dan Elin menghabiskan waktu mereka berdua dengan terus bertukar informasi.


Tak ada waktu untuk bermain-main di kala krisis ini.


Di dunia virtual, mereka berdua memperoleh perlawanan yang sangat keras dari seluruh belahan dunia. Terutama Kerajaan Suci Celestine.


Kemudian di dunia nyata, regulasi yang dibuat oleh pemerintahan semakin memberatkan Grandia Group. Khususnya Eric itu sendiri.


Hingga akhirnya, Elin pun mengutarakan apa yang selama ini ingin Ia sampaikan.


"Eric. Aku mohon untuk luangkan waktumu berpikir dengan baik dan mengumpulkan kekuatan sebelum kembali ke dunia manusia.


Sesuai dengan perkataanmu, kau mungkin bisa kembali dengan bantuan Sierra. Tapi kembali saja ke dunia manusia takkan mengubah banyak hal. Seluruh pedang di dunia itu telah tertuju padamu. Oleh karena itu...."


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Eric segera mencium bibir Elin seakan memintanya untuk berhenti.


Hanya sebuah ciuman yang sederhana.


Tapi itulah yang sangat dibutuhkan oleh Elin.


"Sudah cukup, aku paham. Jangan paksakan dirimu, Elin. Kau terlihat sangat kelelahan akhir-akhir ini. Mengenai sisanya, serahkan saja padaku." Ucap Eric sambil menatap mata Elin dengan lembut.


Eric telah menyadarinya sejak awal Elin mulai melakukan penyerangan di wilayah Salvation.


Menyadari bahwa Elin terlalu memaksakan dirinya untuk mengisi kekosongan Eric di dunia itu. Oleh karena itu....

__ADS_1


"Tenang saja. Aku akan membuat mereka semua membayar seluruh perbuatan itu setelah aku kembali kesana. Tentu saja, termasuk bunganya."


__ADS_2