
...Dunia Nyata...
...Jakarta...
Di hadapan sebuah gedung yang sangat besar, luas dan megah ini, Eric bersama dengan istrinya terlihat baru saja keluar dari sebuah mobil sedan.
"Berhati-hatilah, Eric. Aku akan menunggu di tempat parkir." Ucap sopir yang sudah cukup tua itu, pak Jarwo.
"Tenang saja. Kami akan baik-baik saja kali ini." Balas Elin sambil tersenyum manis.
Sementara itu, Eric memasang wajah yang sangat serius. Tatapannya begitu tajam seperti hewan buas yang sedang mengincar mangsanya.
"Ayo, Elin." Ucap Eric sambil berjalan menaiki tangga di pintu masuk itu.
Kembali ke beberapa hari sebelumnya....
Setelah Eric menghina dan mengalahkan Direktur Re:Life Indonesia, Haikal, secara langsung, Ia melaporkannya kepada atasannya.
Atasannya tak lain dan tak bukan adalah para Menteri di Negara Indonesia ini.
Berbeda dengan Haikal yang dipenuhi kemarahan dan juga emosi karena baru saja dipermalukan, para Menteri itu mampu berpikir dengan kepala dingin dan mengambil sudut pandang yang berbeda.
"Haikal. Aku mengerti perasaanmu ingin menghancurkan Eric. Tapi sayangnya hal itu takkan pernah kami setujui." Balas seorang Pria tua dengan kepala yang setengah botak itu.
Ia adalah menteri Hukum dan HAM Indonesia.
Pria tua itu memang bisa saja mencari celah hukum yang ada dan membuat Eric berada dalam masalah yang besar. Bahkan bisa saja dimasukkan ke dalam balik jeruji.
Akan tetapi pandangan Menteri itu jauh lebih luas.
Haikal yang masih cukup muda dan memiliki pandangan yang sempit tak memahami apa yang dimaksud oleh Pria tua itu.
"Biar ku jelaskan. Eric adalah salah satu Pria terkaya di Indonesia. Hal itu sudah tak bisa disangkal dan semua orang pasti mengakuinya. Terlebih lagi kecerdikannya baru saja kau buktikan beberapa waktu yang lalu. Apakah kau setuju dengan itu?" Tanya Menteri Keuangan kepada Haikal.
"Ya, aku tahu mengenai hal itu. Tapi...."
Menteri Keuangan itu segera melanjutkan perkataannya menyela Haikal.
"Lalu apa yang akan terjadi jika orang seperti itu pergi ke negara lain? Amerika? Mereka akan dengan senang hati menerima orang dengan pengaruh besar seperti Eric.
Lalu Eropa? Dengan kecerdikannya, Eric mungkin bisa menjadi orang penting di sana dengan dukungan seluruh Uni Eropa di belakangnya.
Bagaimana dengan Jepang? Negara dengan teknologi semaju itu pasti akan dengan senang hati melindungi Eric dengan secuil uang jaminan untuk penelitian mereka." Jelas Menteri keuangan itu panjang lebar.
__ADS_1
Akhirnya, Haikal mulai menyadarinya setelah dibahas sejauh ini.
"Itu benar. Kepergian Eric dari Indonesia tak hanya akan memperlemah kekuatan negara kita. Tapi juga dapat memperkuat negara lain secara signifikan." Sambung Kementrian Pertahanan Indonesia.
Haikal yang saat ini telah terpojokkan mulai merasa terancam.
"Untuk menutupi kesalahan bodohmu, kami akan memanggil Eric kemari dan membuat perjanjian baru dengannya. Yang perlu kau lakukan saat ini hanya satu. Jangan buat masalah lagi. Kau mengerti?" Tanya Menteri Keuangan dengan wajah yang cukup menyeramkan.
"A-aku mengerti...."
Pertemuan antar petinggi negara itu berlangsung secara rahasia. Hanya sebagian kecil orang yang mengetahui hal itu.
Tapi bagaimanapun, apa yang dilakukan para Menteri itu hanya bermaksud untuk memajukan dan meningkatkan kekuatan Indonesia di jajaran dunia ini. Meskipun, cara yang dilakukan cukup buruk.
Kembali ke masa terkini....
Eric dan juga Elin telah berdiri di hadapan sebuah pintu yang cukup besar dan megah. Beberapa pegawai nampak mempersilakan Eric dan Elin untuk masuk.
"Para Menteri telah menunggu kedatangan kalian berdua. Silakan masuk." Ucap Pegawai itu sambil membukakan pintu itu.
Eric dan Elin telah mempersiapkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Jika para Menteri itu memilih jalur kekerasan, maka Eric akan dengan senang hati meladeni hal itu. Bahkan jika memutuskan untuk membunuhnya sekalipun, Eric juga telah siap atas kematiannya.
Sebuah pesan sederhana untuk melakukan apapun demi membalaskan dendam nya.
Akan tetapi....
Eric dan juga Elin telah melupakan suatu hal yang sangat sederhana.
Sebuah kenyataan bahwa mereka berdua adalah salah satu keluarga yang paling berpengaruh di Indonesia.
Oleh karena itu, mereka sama sekali tak menyangka apa yang terlihat di balik pintu itu.
"Selamat datang, Tuan Eric. Sebelumnya, kami meminta maaf atas kelancangan kami semua." Ucap beberapa Menteri yang ada di dalam ruangan itu sambil menundukkan kepala mereka.
Itu benar....
Meskipun telah mempersiapkan diri terhadap hal terburuk sekalipun, Eric sama sekali tak mempersiapkan diri terhadap hal ini.
"Eh? Uuh.... Apa yang kalian lakukan?" Tanya Eric kebingunhan.
Elin yang berdiri di samping Eric pun nampak sangat terkejut. Kedua matanya terbuka lebar dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya yang terbuka.
__ADS_1
"Kami mohon. Maafkan kami atas kelancangan yang kami lakukan secara langsung maupun tidak langsung beberapa waktu yang lalu." Ucap Menteri Keuangan itu sendiri.
Setelah mendinginkan kepalanya selama beberapa saat, akhirnya Eric mampu memahami apa yang telah terjadi. Bahkan dengan petunjuk sekecil apapun.
'Aah.... Jadi begitu. Kemungkinan karena aku mengucapkan bahwa tiga kekuatan besar di dunia ini memintaku untuk mengganti kewarganegaraan ya?' Ucap Eric sambil memandangi sosok Haikal yang ada di bagian paling ujung.
"Untuk apa meminta maaf. Aku tidak ingat kalian melakukan kesalahan apapun." Ucap Eric sambil tersenyum dengan kedua matanya yang tertutup. Sebuah senyuman yang begitu indah untuk dilihat.
Tapi apa yang ada di baliknya adalah sebuah pemikiran yang busuk.
'Lihat saja, aku akan membalas semua perlakuan kalian hingga hari ini.' Pikir Eric dalam hatinya.
"Terimakasih banyak, Tuan Eric. Sekarang, silakan duduk. Ya, Nyonya Elin juga." Ucap Menteri Keuangan itu.
Akhirnya, mereka pun memulai perbincangan dengan bahasan yang ringan serta suguhan berupa makanan ringan dan juga berbagai jenis minuman.
Tepat setelah sekitar 20 menit, mereka pun mulai memasuki inti bahasan.
"Jadi, Tuan Eric. Aku mendengar kabar burung bahwa Anda berencana untuk berpindah ke luar negeri." Singgung Kementrian Pertahanan itu.
"Hoo.... Aku penasaran darimana kabar burung itu berasal. Tapi setidaknya, aku sedang mempertimbangkan akan hal itu." Ucap Eric sambil meneguk minuman itu.
Mendengar jawaban dari Eric, para Menteri termasuk Haikal sendiri mulai merasa panik. Ketakutan yang mereka pikirkan sejak beberapa waktu yang lalu terbukti nyata.
Meskipun, perkataan Eric hanyalah omong kosong yang sama sekali tak bisa dianggap serius.
Ucapannya itu hanyalah salah satu kartu yang dia keluarkan untuk memperberat poin bagi dirinya dalam negosiasi ini. Membuat semua orang mulai merasakan sedikit peluang kekalahan.
Itu semua adalah dasar-dasar negosiasi yang dulu selalu diajarkan oleh Elin dan kini telah benar-benar dikuasai oleh Eric.
"A-aaah.... Mengenai hal itu. Apakah tak ada sesuatu yang bisa kami lakukan agar kau tetap di Indonesia?" Tanya Kementrian Keuangan.
"Agar aku tetap di Indonesia? Tapi kenapa kalian harus repot-repot untuk memikirkan orang kecil sepertiku?" Balas Eric sambil memasang wajah kebingungan.
Perkataan Eric ini adalah kartu keduanya untuk semakin menguatkan posisinya dalam negosiasi ini.
Sebuah kartu dimana negosiator memposisikan dirinya sendiri dalam tempat yang tidak menguntungkan. Tergantung dari reaksi lawan bicaranya, Eric bisa menentukan kartu yang tepat untuk pembicaraan berikutnya.
Di sisi lain, Elin nampak terus menerus tersenyum tipis sambil menikmati makanan ringan dan juga minuman hangat yang telah di sediakan.
'Kau telah berkembang dengan sangat pesat, Eric. Bahkan kau tak lagi membutuhkanku dalam negosiasi ini.' Pikir Elin dalam hatinya sambil meneguk teh hangat itu.
Dengan begitulah.... Negosiasi yang dibungkus dalam undangan resmi ini pun terus berlanjut.
__ADS_1