TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 307 - Ancaman Baru


__ADS_3

...Dunia Iblis...


...Wilayah Kota Venice...


Tanpa aba-aba....


Deus dengan segera memecahkan keheningan di reruntuhan kota Venice yang kini telah menjadi medan pertempuran itu dengan sihirnya.


Ia mengangkat tongkat sihir di tangan kanannya dan mengarahkannya tepat ke arah Sierra.


Sebuah bola api kecil pun tercipta tepat di hadapan wajah Sierra. Dan dalam sekejap, bola api itu membesar hingga ratusan kali lipat dengan suhu yang bahkan bisa melelehkan logam.


'DUAAAAAAAAAARRRR!!!'


Ledakan yang mencapai radius hampir 100 meter lebih itu menghancurkan segalanya yang ada di sekitarnya dengan bentuk seperti matahari.


Menyisakan hanya sebuah kawah yang sangat dalam dan sangat panas. Ditunjukkan oleh warna merah menyala yang masih ada di sebagian besar tanah dan batuan yang kini telah menjadi lava itu.


Itulah efek dari skill tingkat Legendaris [Supernova] yang dimiliki oleh Deus.


Kerusakan yang sangat besar seharusnya terjadi pada kedua belah pihak mengingat jarak mereka tak begitu jauh.


Meski begitu, Deus masih bisa mengeluarkan perisai sihir yang mampu melindungi hampir semua prajurit dan bawahannya yang masih tinggal di tempat ini.


Akan tetapi....


"Sesuai harapan, pembukaan yang meriah dari mantan Ratu Iblis yang paling ditakuti." Ucap Sierra dengan tenang sambil mengarahkan tangan kirinya ke depan, membentuk sebuah perisai sihir dengan bentuk segi enam itu.


'Seperti yang diduga, dia takkan mati semudah itu.' Pikir Deus dalam hatinya.


'Zraaaatt!'


Sierra dengan cepat mengeluarkan sebuah tombak hitam pekat dengan menggunakan sihir ruangnya. Fenomena yang menyerupai ketika Player mengeluarkan item dari dalam Inventorynya.


"Asmodeus. Dengan tombak ini, aku bersumpah akan membunuhmu." Teriak Sierra sambil mengarahkan tombak hitamnya itu ke arah Deus.


Sementara itu, Deus mengangkat tongkat sihirnya yang nampak terbuat dari tulang monster itu ke atas. Mengarahkannya tepat kepada Sierra.


"Jangan meremehkan ku, Sierra. Jika kau memaksaku, maka aku dengan terpaksa akan menghancurkan dunia ini dan seluruh isinya." Balas Deus dengan tatapan yang tajam.


"Coba saja jika kau memang bisa."


Dengan begitulah, pertempuran yang akan menulis ulang sejarah dunia iblis....


Akan segera terjadi.


...***...


...Dunia Manusia...


...Dungeon Origin...

__ADS_1


Di depan sebuah mulut goa yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil itu, berdiri sosok dua orang Pria. Mereka adalah Valiant dan juga Thilmir.


Tujuan mereka kemari? Tentu saja....


"Ruderioss berkata bahwa di dalam tempat ini terdapat persembunyian para monster yang sebenarnya. Ia meminta kita untuk menghabisi mereka demi keseimbangan dan kedamaian dunia manusia." Jelas Valiant dengan panjang lebar kepada Thilmir.


"Siapa yang peduli dengan semua itu? Lagipula rasku sudah hampir punah! Yang ku inginkan hanyalah pertarungan yang seru!" Balas Thilmir sambil mengangkat kapak besarnya itu.


Mereka berdua pun mulai memasuki goa itu secara perlahan. Tanpa adanya rasa takut sedikitpun, langkah kaki mereka berdua akan membawa kehancuran....


Bagi siapapun dan apapun yang mereka anggap sebagai 'ancaman' umat manusia.


Sedangkan Origin?


Tanpa kehadiran tokoh-tokoh besar dan penting seperti Eric, Lucien dan juga Oliver....


Mereka bahkan tak menyadari kedatangan dua Guardian itu.


Itu karena dibalik setiap langkah kaki mereka, ribuan vampir mata-mata telah dibantai tanpa sedikitpun rasa ampun.


...***...


...Kerajaan Salvation...


...Reinard...


Di tengah istana yang saat ini masih dalam pembangunan ulang karena serangan dari Farna itu, terlihat sosok seorang Pria berambut pirang yang duduk di sebuah kursi kayu.


'Eric telah melangkah jauh melampaui imajinasi terliarku. Perubahan ras? Raja iblis? Apa-apaan itu? Dan lagi sejak kehilangan Alice dan Neo.... Kurasa masa depan kerajaan ini....'


Chris terus menerus merenungkan hal yang sama semenjak pertempurannya dengan Kerajaan Farna yang berakhir dengan kegagalan.


Ia tidak menyesal. Akan tetapi sibuk memikirkan langkah yang berikutnya. Haruskah Ia berhenti menjadi seorang Raja? Atau haruskah Ia melanjutkannya?


Lagipula jika melanjutkan, Ia sudah kehilangan arah dan tujuannya.


Pada saat Ia masih dipenuhi dengan kebingungan itu....


'Tap! Tap! Tap!'


'Kreeeeek....'


Beberapa prajurit penjaga nampak membuka pintu kayu yang besar itu.


"Yang Mulia! Kami membawakan seorang tamu yang sangat penting! Ia bilang akan membantu Yang Mulia untuk menaklukkan dunia!" Teriak Prajurit itu sambil berlutut menghadap sosok Chris.


Mendengar ocehan yang hampir tak masuk akal itu, Chris hanya tertawa ringan sambil menyindir.


"Hahaha.... Menguasai dunia? Apa berikutnya? Mengalahkan Dewa dan Dewi?" Sindir Chris ke arah pintu itu.


Tapi apa yang didapatinya sangatlah berada di luar dugaannya sendiri.

__ADS_1


Ia melihat sosok yang seharusnya sudah tak ada di dunia ini. Sosok yang menjadi simbol kejahatan dan juga kebencian itu sendiri.


Semua itu dibungkus dengan penampilannya yang cukup rupawan dengan rambut seputih salju dan mata merah yang menyala. Penampilannya ditutupi hanya dengan jubah hitam.


"Jangan berkata seperti itu, Raja Salvation Chris. Aku memang pernah kehilangan segalanya. Tapi setidaknya, tidak dengan ambisiku." Ucap Pria itu sambil tersenyum jahat.


Melihat sosoknya yang sebenarnya setelah Pria itu membuka tudung jubahnya, Chris secara refleks berdiri karena terkejut.


"Evan?! Kau?! Kenapa kau ada disini?!" Teriak Chris dengan penuh rasa terkejut.


"Daripada bertanya kenapa aku ada disini, bukankah lebih baik kau bertanya tawaran apa yang ku bawa untukmu?" Tanya Evan sambil tersenyum lebar dan mengeluarkan sebuah botol kaca yang berisi cairan biru.


Pada akhirnya, Chris pun menerima kedatangan Evan dengan sangat hangat.


'Maafkan aku Eric. Tapi kurasa, kau yang sekarang hanya akan menghalangi rencanaku untuk menaklukkan dunia ini. Oleh karena itu....'


Kedua orang yang sebelumnya menjadi aliansi Eric ini, sekarang....


...***...


...Kerajaan Suci Celestine...


...Katredal Suci...


Di tengah ruangan rahasia di dalam Katredal Suci ini, terdapat sebuah meja bundar dengan warna perak yang begitu indah.


12 orang nampak duduk di hadapan meja bundar itu, membahas sebuah permasalahan yang sedang terjadi di dunia ini.


"Dewi Celestine telah memberikan perintahnya untuk membantai seluruh monster yang merupakan bawahan dari Raja Iblis Eric." Ucap Uskup Agung itu dengan wajah serius kepada semua orang yang berada di ruangan ini.


"Lalu apalagi yang harus ditunggu? Kita harus segera bergerak sekarang juga." Balas seorang Pria yang nampak merupakan pendeta itu.


"Aku ingin membalaskan dendam kakakku." Ucap Lucias yang merupakan adik sepupu dari Inquisitor yang paling terkenal karena aksinya, Leo.


"Bisakah kalian menghubungi para Guardian yang dikatakan menjadi pelindung dunia ini?" Tanya Alice yang kini menjadi Inquisitor tingkat tinggi yang baru.


Mendengar pertanyaan dari Alice, sang Uskup Agung hanya menggelengkan kepalanya.


"Guardian adalah keberadaan yang menjaga dunia ini. Akan tetapi, keberadaan mereka tak bisa dengan mudah ditemukan. Tapi tenang saja, mereka bukanlah musuh dari Dewi Celestine." Jelas Uskup Agung.


Seorang wanita berambut perak yang panjang dan indah, serta sorot mata merahnya yang sangat tajam itu, mulai berbicara.


"Cukup omong kosongnya. Katakan dimana Eric saat ini? Aku akan membawakan kepalanya kepada kalian." Ucap wanita bernama Evalina itu.


"Tidak.... Kita takkan melawan iblis itu. Kita memiliki misi yang lebih penting yaitu menghabisi seluruh bawahannya dan menghapuskan semua jejaknya di dunia ini. Dan soal itu, Dewi Celestine telah menunjukkan lokasinya kepadaku."


Bersamaan dengan perkataan Uskup Agung itu, kini musuh Eric menjadi jauh lebih banyak dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Apa yang menantinya di dunia virtual ini....


Tak pernah Ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2