TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 412 - World Quest 1


__ADS_3

...[World Quest!]...


...[Hentikan Kaisar Iblis sebelum Ia berhasil menghancurkan dunia ini!]...


Notifikasi itu muncul di hadapan seluruh pemain. Tak memandang level, tak memandang peringkat, seluruh pemain di dunia ini saat ini turut bertanggung jawab atas masa depan ReLife.


Tepat setelah Eric melepaskan Apocalypse Skill : Armageddon, ribuan sihir tingkat Legendary segera aktif di seluruh penjuru dunia ini.


Dari pedesaan yang terpencil, hingga ke sebuah ibukota kerajaan yang besar. Bahkan mencapai kekaisaran yang agung.


Skill itu tak lain adalah salah satu skill terkuat dalam sihir tipe api : Meteor Fall.


Ribuan batu raksasa berapi jatuh, menghujani benua manusia yang selalu dipenuhi kedamaian ini.


Langit biru yang indah segera tergantikan oleh warna merah darah yang mengerikan. Bahkan, cahaya merah darah itu mampu menutupi matahari yang menyinari benua ini.


'Blaaarrr!!! Duaaarr!!! Braaakkk!!'


Ribuan meteor itu jatuh secara acak di seluruh benua ini. Ketika manusia cukup beruntung, meteor akan jatuh di hutan atau padang rumput yang kosong.


Tapi jika mereka cukup sial....


"Tidaaak! Aku baru saja bermain beberapa bulan ini!" Teriak salah seorang pemain.


"Aku telah menantikan event ini! Kenapa harus ke arah kota ini?!"


Sebuah batu meteor mengarah tepat di hadapan mereka.


'BLAAARRRRRR!!!'


Sebuah ledakan yang besar terjadi setiap kali meteor itu menghantam tanah. Getarannya mampu melontarkan berbagai bangunan di sekitarnya. Sedangkan panas apinya segera membunuh ribuan orang di sekitarnya dalam sekejap.


Termasuk juga memberikan damage yang sangat besar bagi orang lain dalam radius 2km lebih dari lokasi jatuhnya meteor itu.


Seluruh persiapan yang telah dibuat oleh berbagai pemain papan atas segera runtuh. Semuanya hancur dalam sekejap setelah Eric melepaskan salah satu skill tingkat tertinggi di dalam dunia permainan ini.


Hal itu juga menunjukkan perbedaan kekuatan besar antara dirinya dengan seluruh pemain lainnya. Dapat dikatakan, hampir tak ada yang mampu menyainginya.


Dalam waktu sekejap, jutaan pemain telah dipaksa oleh Log Out. Begitu pula dengan jutaan NPC lain yang mati dalam kejadian itu.


Player dengan nama hitam? PK?


Eric telah melampaui semua itu. Bahkan membuat kejahatan para PK di seluruh dunia semenjak awal permainan ini dimulai seperti hal yang sepele.


Dalam kekacauan yang telah melampaui perkiraan semua orang ini, hanya segelintir pemain dan organisasi yang dapat bereaksi.


Tapi itu tak menutup kenyataan bahwa semuanya terlibat dalam event terbesar dalam game ini. Sebuah Event penjajahan dari Kaisar Iblis.


Tak ada yang tahu sosoknya yang sebenarnya. Bahkan 99% lebih pemain percaya bahwa kaisar Iblis itu adalah seorang NPC. Atau dengan kata lain, sebuah karakter buatan dari dalam game.


Hanya segelintir orang yang mempertanyakan apakah Kaisar Iblis itu adalah seorang pemain.


Dan dari mereka semua, hampir tak ada yang berpikir bahwa itu adalah Eric.


Di atas sebuah menara yang tinggi, seorang wanita berambut pirang dengan perlengkapan putih keemasan yang indah berdiri dengan tegap.


Tangan kanannya membawa sebuah tombak emas yang panjang. Sedangkan pandangannya, mengarah tepat kepada retakan atau celah dunia yang muncul.


Ia mengabaikan warna langit yang kini telah berubah sepenuhnya menjadi merah darah.


Dengan senyuman yang tipis, wanita yang tak lain adalah Angie itu telah mengetahui tujuannya.


"Akhirnya kau tiba, Eric."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Angie segera melompat dari puncak menara itu. Ia berlari dengan cepat menuju ke arah celah dunia yang ada.


Dalam hatinya, terdapat sebuah harapan kecil.


Harapan untuk mengakhiri konflik antara dirinya sendiri mengenai siapa yang lebih kuat.


Di sisi lain....

__ADS_1


Kini, tepat di hadapan celah dunia itu, Eric berdiri dengan tenang di tengah-tengah barisan pasukan monster dan iblisnya.


"Hmm.... Skill barusan terlalu kuat. Apakah para developer itu benar-benar bekerja untuk menyeimbangkan permainan ini?! Untung saja skill itu memiliki cooldown 60 hari dan tak bisa dipercepat Overdrive." Ucap Eric pada dirinya sendiri.


Tangannya sibuk menekan berbagai tombol di jendela menu miliknya. Memastikan bahwa seluruh persiapannya telah matang. Termasuk juga, menanti kedatangan seseorang.


Tak butuh menunggu lama baginya, karena orang itu baru saja tiba di sampingnya.


Seorang gadis dengan rambut merah muda yang pendek serta tubuh kecil dan ramping.


Gadis itu mengenakan perlengkapan seperti seorang Assassin, lengkap dengan jubah hitam tebal dan zirah tipis di sebagian tubuhnya.


Senjata utamanya tak lain adalah sepasang pisau berbentuk menyerupai petir dengan warna merah.


Dari bibirnya yang tipis, Ia berbicara.


"Telah lama tak melihat dirimu di dunia ini, Eric."


"Begitu juga denganku. Kau tahu, Elin? Ku rasa aku lebih suka warna rambutmu yang ini." Balas Eric sambil tersenyum tipis.


"Hah? Maksudmu, aku harus mengecat rambutku menjadi warna merah di dunia nyata? Kau pikir berapa banyak orang yang akan menertawai ku nantinya?" Balas Elin dengan sedikit kesal.


"Hahaha! Bercanda! Jangan menarik senjatamu!"


Keduanya saling canda sesaat, meskipun situasi saat ini bagi pemain lain sangat lah kelam.


Sebagian besar dari pasukan Eric telah menyerbu berbagai desa dan kota. Banyak pemain dan NPC yang terbunuh oleh bawahan Eric. Tapi tuan dari semua monster itu sendiri, justru bersikap santai.


"Jadi bagaimana dengan pasukan mu? Mereka sudah bergerak?" Tanya Eric.


"Begitu lah. Aku menutupi beberapa tempat yang tak dijangkau oleh pasukanmu. Ngomong-ngomong, kau yakin dengan semua ini?" Tanya Elin.


Sambil memasang wajah yang kebingungan, Eric kembali bertanya.


"Yakin apanya? Bukankah ini cara terbaik untuk menutup tirai permainan ini? Setidaknya, jauh lebih baik daripada pengumuman developer yang akan menutup servernya karena sepi pemain." Balas Eric sambil tertawa ringan.


"Tak masalah jika kau berpikir demikian. Tapi kau tahu kan? Impian banyak orang akan hancur setelah dunia ini...."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Eric telah memotongnya.


"Eh?"


Tanpa memandang ke arah Elin, tatapan mata Eric hanya tertuju di satu tempat. Kini, di hadapan pasukan utamanya, Eric telah disambut oleh barisan pasukan besar dengan zirah serba putih.


"Cepat sekali mereka datang. Aah, benar juga. Bukankah pengguna sihir teleportasi itu menjadi Inquisitor disana?"


"Alice?" Tanya Elin.


"Benar. Pergi lah, tempat ini terlalu terbuka untuk assassin sepertimu." Perintah Eric singkat.


"Tak perlu kau katakan aku juga sudah tahu. Aku pergi dulu, menyingkirkan beberapa musuh besar untukmu."


Dengan balasan itu, tubuh Elin seakan mulai memudar. Atau lebih tepatnya, membaur dengan lingkungan sekitar hingga sulit untuk dilihat.


Elin segera berlari meninggalkan medan pertempuran ini. Tanpa menanti balasan dari Eric.


"Terimakasih, Elin."


Kini, seluruh fokus Eric berada pada barisan pasukan suci di atas bukit itu.


Barisan mereka begitu rapi. Jumlahnya juga bukan main-main. Tapi di hadapan kekuatannya saat ini....


"Hahaha! Berjuang lah untuk tidak mengecewakan ku, manusia!" Teriak Eric sambil tertawa puas.


Penampilannya saat ini yang telah menjadi iblis sepenuhnya sangat lah berbeda. Dengan sepasang sayap kelelawar hitam kemerahan yang besar di punggungnya, Eric telah sepenuhnya menjadi seorang Iblis.


Hanya sebagian, yang masih bisa menyadari sosoknya yang sebenarnya.


Dan sayangnya, sosok itu ada di hadapannya.


Seorang Ksatria suci dengan zirah putih yang indah, membawa sebuah artifak pedang suci Dewi. Rambut peraknya yang panjang, serta mata merahnya yang menyala itu menatap tepat ke arah Eric.

__ADS_1


Dalam sekejap, Ia telah menyadarinya. Tapi dengan senyuman yang tipis, wanita itu menyimpan rahasia tersebut untuk dirinya sendiri.


"Nona Evalina, apakah ada yang salah?" Tanya Inquisitor lain di sampingnya.


"Tidak. Tidak ada. Semuanya! Bersiap lah untuk berperang! Kita akan memenggal kepala Kaisar Iblis itu untuk menyelamatkan dunia ini!"


"Wuuuoooohhh!!!'


Peperangan pertama dari pihak kerajaan suci Celestine pun dimulai. Mereka menghadapi Eric secara langsung, tepat ketika Eric masih berada dalam kondisi primanya.


Dari garis belakang, ratusan pilar dan lingkaran sihir mulai muncul. Semua itu ulah sihir Alice yang berusaha untuk memberikan jalan masuk dan jalan keluar bagi para ksatria suci.


Membuat para ksatria suci bisa menyerang lalu mundur dengan mudah ketika terluka. Sebelum nantinya disembuhkan di garis belakang dan digantikan ksatria yang lainnya.


Hanya saja....


'Braaakkk! Kraaakk!'


Kekuatan dari pasukan monster dan Iblis Eric jauh melampaui kekuatan mereka.


Hanya dalam satu tebasan kapak raksasa Desert Orc, zirah tebal ksatria suci itu terbelah.


Hanya dalam satu hentakan kaki ras raksasa, puluhan Ksatria suci itu segera terhempas jauh ke belakang. Belum lagi ketika para raksasa itu mengayunkan gada besar mereka.


Dan hanya dari semburan api sederhana para Draconic, zirah yang seharusnya melindungi para ksatria suci itu, kini berbalik melawan mereka. Dengan menjebak panas yang mampu melelehkan logam itu pada seluruh perlengkapan mereka.


Sekalipun situasi sangat berat sebelah, Evalina tetap bertarung dengan senyuman yang lebar.


Kini, mengganti senjata pedang satu tangannya dengan sebuah pedang besar, Evalina melompat tepat ke arah Eric. Mengayunkan pedang besarnya sekuat mungkin untuk menebas tubuh Eric.


Gerakannya sangat lah cepat. Ayunannya juga sangat kuat. Terlebih lagi, saat ini dirinya juga dalam kondisi Over Buff.


Meski begitu....


'Klaaaangggg!!!'


Suara benturan pedang besar Evalina itu menggema memekikkan telinga sebagian besar pasukan di sekitarnya. Suaranya begitu keras hingga menimbulkan damage pada pendengaran banyak pasukan.


Sedangkan Eric sendiri....


'Kreetaakk!'


"Hoo, menarik sekali. Kau bisa meretakkan satu lapis perisaiku. Bagaimana dengan ini?" Tanya Eric sambil memasang 2 lapis perisai baru.


Tebasan dari Evalina sama sekali tak lemah. Bahkan termasuk dalam salah satu serangan terkuat yang ada di dalam game yang dapat diberikan oleh seorang pemain.


Jika pemain biasa menerimanya, mereka bahkan takkan sadar telah mati. Tentu saja, dengan damage yang mencapai angka puluhan juta, itu telah melampaui overkill itu sendiri. Tapi di hadapan kekuatan Eric....


"Cih, seperti yang ku dengar. Kekuatanmu melampaui batasan akal sehat ya?" Tanya Evalina.


Eric yang mendengar kalimat itu sedikit goyah. Apakah Evalina menyadari identitasnya? Tidak, pasti maksudnya mengenai Kaisar Iblis itu kan?


Setelah mundur beberapa langkah, kini Evalina bersiap untuk kembali menyerang.


Tapi kini, Evalina secara tiba-tiba mengganti senjatanya tepat sebelum mengenai sihir perisai Eric. Menjadi sebuah pedang satu tangan yang kecil dengan warna perak dan emas yang indah.


Dan senjata itu....


'Swuusshh!'


Senjata kecil itu dapat dengan mudah menembus seluruh perisai sihir Eric. Jika reaksinya sedikit saja terlambat, maka leher Eric akan segera terpotong oleh pedang itu.


Atau lebih tepatnya....


'Pedang sialan itu, menembus perisai? Tidak, melewatinya?!' Teriak Eric dengan sangat terkejut sambil melompat ke belakang.


Dengan senyuman yang lebar, Evalina segera berbicara kembali.


"Ahahaha! Bagaimana rasanya? Ketika sihirmu itu tak berguna? Tentu saja, di hadapan artifak Dewi ini, seluruh sihir akan menjadi tak berguna."


'Nullify magic? Ada peralatan sekuat itu? Sialan, pasti ulah para Developer itu kan? Aku bisa membayangkan mereka tertawa sambil menonton ku saat ini.' Keluh Eric dalam hatinya.

__ADS_1


Kini, dengan papan pertarungan yang mulai seimbang, Eric harus berpikir lebih keras untuk menghadapi efek dari senjata itu.


Sebuah senjata, yang akan segera menghapuskan sihir yang mengenainya.


__ADS_2