TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 382 - Masa Damai


__ADS_3

Setelah Eric berhasil memojokkan dan mengalahkan para politikus itu, akhirnya bebannya di dunia nyata berkurang dengan sangat signifikan.


Eric dan juga Elin saat ini berada di dalam sebuah mobil sedan yang dikendarai oleh Pak Jarwo, seorang sopir yang paling dipercaya oleh Eric sekaligus Ayah dari Lisa itu sendiri.


"Tapi Tuan Eric, aku masih tak memahami kenapa Anda memutuskan untuk menyerahkan seperempat kekayaan Anda." Ucap Lisa yang duduk di kursi depan mobil itu.


Eric hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu.


"Itu hanyalah sebuah segel. Untuk memastikan bahwa mereka takkan meminta lebih dari itu. Lagipula, aku sudah cukup senang karena jumlah kekayaan yang harus ku keluarkan berkurang dari 95% menjadi 25%." Jelas Eric sambil memainkan sebuah pena di tangannya.


Elin dan juga Pak Jarwo hanya diam mendengarkan percakapan antara mereka berdua. Setelah perdebatan ringan itu, mereka semua mulai membicarakan hal-hal yang ringan sambil menikmati perjalanan.


Eric dan juga Elin sebenarnya bisa sampai di Jakarta dengan cepat jika menggunakan pesawat. Tapi mereka berdua memilih untuk menggunakan mobil pribadi. Alasannya yaitu untuk mengajak Pak Jarwo serta Lisa untuk berlibur.


"Sekarang, kemana kita akan berlibur?" Tanya Elin sambil tersenyum manis.


Sambil menyusuri jalanan Ibukota, mereka berempat sesekali berhenti untuk menikmati berbagai objek wisata yang ada.


Tanpa mereka sadari, matahari telah mulai terbenam. Mereka berempat berhenti untuk beristirahat di sebuah hotel sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta.


"Kurasa sesekali bersenang-senang tanpa memikirkan apapun adalah hal yang bagus. Bagaimana menurutmu, Elin?" Tanya Eric sambil memandangi langit malam yang berawan itu.


"Aku juga berpikir begitu. Sekarang, beristirahatlah."


Dengan begitulah, masa-masa damai bagi Eric dan seluruh keluarga besarnya dimulai.


Tak hanya di dunia nyata, Eric juga merasakan hal yang sama di dunia virtual itu.


'Kuharap kedamaian ini bisa berlangsung cukup lama. Setidaknya hingga aku sudah siap untuk apapun yang datang berikutnya....' Pikir Eric dalam hatinya sebelum memejamkan kedua matanya.


...***...


...Dunia Iblis...


...Wilayah Selatan...


Eric terus melanjutkan pembangunan di Wilayah Selatan ini tanpa memperdulikan wilayah yang lain.


Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh para Harpy pengintai, hampir seluruh Wilayah Selatan ini adalah dataran tandus yang tak berpenghuni.


Jika dibandingkan dengan lokasi di dunia manusia, maka wilayah Selatan yang saat ini ditinggali oleh Eric adalah wilayah Kekaisaran Avertia.


Karena tandus dan hampir tak bisa ditinggali, maka wilayah ini biasanya digunakan sebagai pelarian. Para Prajurit maupun Ksatria yang kabur dari Medan pertempuran akan pergi ke Selatan. Dimana pada akhirnya mereka akan menjadi bandit.


Selain itu, tempat ini juga merupakan penjara alami bagi seluruh Kerajaan lain yang ada.


Para tahanan yang memperoleh hukuman mati atau hukuman seumur hidup bisa saja dibuang di wilayah Selatan ini. Membuat kematian mereka benar-benar menyengsarakan.


Oleh karena itu....


"Fufufu.... Dengan kata lain daratan seluas ini akan menjadi milikku sendiri? Sangat menarik!" Teriak Eric sambil membuat pose yang aneh di puncak kastil itu.


Tepat ketika ada orang yang mendatanginya, Ia dengan segera kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.


"Tuanku. Regu pengintai ingin memberikan laporan untuk Minggu ini." Ucap salah seorang Harpy. Di belakangnya terlihat ada 9 Harpy yang lain dimana mereka semua berlutut di hadapan Eric.

__ADS_1


"Laporkan. Terlebih lagi, tenanglah. Jangan terlalu kaku padaku. Jujur saja aku tak menyukainya." Balas Eric sambil berjalan mendekati Harpy itu.


"Kalau begitu...."


Semua Harpy itu segera berdiri dan kembali memberikan laporannya.


"Kami menemukan tulang naga raksasa di Timu...."


"Maaf aku tak mendengarnya." Balas Eric memotong perkataan Harpy itu.


Merasa kebingungan dan berusaha bersikap positif, Harpy itu pun mengulangi laporannya.


"Seperti yang kami bilang sebelumnya. Di arah Timur kota ini, mungkin berjarak sekitar satu Minggu jalan kaki, kami menemukan tula...."


"Aaaaah! Maaf! Aku tiba-tiba tak bisa mendengar apapun! Kalau begitu kalian lanjutkan saja pengawasannya! Ingat, jangan lewatkan musuh apapun yang mungkin mendekat!" Teriak Eric sambil bertingkah seakan-akan Ia sedang tuli.


Tanpa berkata-kata lebih lanjut, Eric segera kabur dari tempat itu. Meninggalkan para Harpy pengintai itu kebingungan bukan main dengan sikap Eric.


Sementara itu....


'Tulang naga raksasa?! Yang benar saja! Aku baru saja memperoleh kedamaianku! Mendengar bentuknya saja sudah sangat jelas bahwa tempat itu sangatlah berbahaya!' Pikir Eric dalam hatinya sambil segera terbang menjauh.


Itu benar....


Eric yang telah merasakan nikmatnya kedamaian, kini tak ingin lagi kembali ke neraka yang penuh dengan perjuangan. Apalagi pertaruhan nyawa.


Jika mengingat kembali pertarungannya ketika melawan Primordial Slime, Eric sendiri heran bagaimana bisa Ia seberani itu untuk mempertaruhkan nyawanya.


Kini Eric mulai berpikir. Bagaimana jika pada saat itu Ia mati? Apa yang akan dia lakukan terhadap kekangan dari para pejabat itu?


Lebih buruk lagi, apakah dirinya bisa benar-benar hidup tanpa menyentuh kembali Re:Life?


Semenjak mulai memikirkan banyak hal seperti itu, Eric secara perlahan mulai berubah menjadi seorang pasifis. Seseorang yang cinta kedamaian.


Dan untuk menjaga kedamaian itu, Ia butuh kekuatan. Terutama membentuk bawahan kuat yang selalu ada untuk mendukungnya.


Tanpa Ia sadari, Eric telah sampai di Kota Orc 2.


"Huh.... Sejauh apa sebenarnya aku terbang?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


...***...


...Dunia Manusia...


...Kerajaan Salvation...


Di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan kaca ini, terlihat sosok seorang Pria dengan rambut yang seputih salju. Mata merahnya yang seakan menyala dalam kegelapan itu hanya menambah kengerian pada dirinya.


Tak ada orang lain di dalam ruangan ini selain dirinya.


Di depannya, terlihat beberapa botol kaca dengan cairan yang memiliki warna yang berbeda antara satu dengan yang lain.


Akan tetapi, pandangannya terpaku pada sebuah ramuan dengan botol kaca kecil yang sangat indah yang saat ini sedang dipegang olehnya.


"Hmm.... Kurasa sudah bisa dibilang sempurna?" Ucap Evan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia menekan beberapa tombol di jendela menunya untuk melihat informasi mengenai ramuan yang ada di hadapannya.


...[Perfect Wolf Beastification Potion]...


...[Rarity : Legendary]...


...[Pembuat : Evan]...


...[Efek]...


...Memberikan kekuatan serigala yang sempurna. Membuat pengguna memperoleh seluruh karakteristik yang dimiliki oleh monster Serigala sambil tetap menjaga wujud manusianya secara permanen....


...Strength : + 100%...


...Agility : + 250%...


...Vitality : + 50%...


...Intelligence : + 25%...


...Stamina : + 50%...


...Dexterity : + 25%...


...Durasi Buff : Permanen...


...Buff tidak dapat dihilangkan dengan efek apapun!...


Melihat informasi itu, Evan nampak tertawa puas dengan sambil tetap menjaga perilakunya.


"Kukuku.... Tenangkan dirimu Evan. Ini hanyalah sebuah permulaan. Kau harus tetap tenang. Tapi sebagai jaminan, aku akan meneguk ramuan ini." Ucap Evan pada dirinya sendiri.


Segera setelah meneguk ramuan itu, tubuhnya nampak diselimuti dengan cahaya perak yang cukup indah. Meski begitu, tak ada sedikitpun perubahan pada dirinya selain statusnya yang meningkat dengan drastis.


Saat Evan mencoba untuk fokus terhadap kukunya....


'Sraaasshh!!'


Cakar yang tajam segera tumbuh menggantikan kuku manusianya. Evan kemudian berusaha untuk mengembalikannya seperti semula.


"Kukuku.... Kekuatan yang menarik."


Tapi pada saat dirinya sedang sibuk mengagumi mahakaryanya itu....


'Dok! Dok! Dok!'


"Masuk." Balas Evan sambil segera membuang sisa botol ramuan yang baru saja diminumnya itu.


"Yo, Evan. Bagaimana kabarnya?" Tanya seorang pria bertubuh cukup besar dengan rambut pirang, Chris.


"Semuanya berjalan dengan baik. Aku telah menemukan cara untuk melakukan produksi massal dengan cara yang efisien. Hanya saja, performanya mengalami cukup banyak penurunan." Jelas Evan sambil memperlihatkan beberapa botol kaca dengan cairan yang memiliki beragam warna itu.


"Aah jadi begitu. Kalau begitu, lanjutkan lah penelitianmu. Jangan lupa untuk mengabariku mengenai ramuan yang mampu bertahan lebih dari 10 menit itu." Ucap Chris sambil segera berjalan meninggalkan ruangan ini.


"Tentu saja. Aku masih mengerjakan hal itu." Balas Evan dengan senyumannya yang terkesan sangat jahat.

__ADS_1


__ADS_2