
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
Matahari telah lama pergi. Menyisakan bulan dan juga bintang untuk menerangi medan pertempuran ini.
Sebuah pertempuran penentu dengan Kota Forgia sebagai pertahanan terakhir, sekaligus benteng terakhir yang masih berdiri hingga saat ini.
"Tembak!!!" Teriak salah seorang Komandan pasukan dengan lambang api biru di zirahnya.
Bersamaan dengan teriakan itu, puluhan batu berapi dilontarkan secara bersamaan ke arah Timur.
'Blaaaarrr!! Blaaarrr!!!'
Beberapa dari batu berapi itu hancur dan meledak menjadi banyak sepihan batu yang panas ke berbagai arah setelah menghantam tanah. Sedangkan yang tidak hancur akan menggelinding dan meratakan tanah dengan apinya yang sangat panas.
Tentu saja, siapapun yang cukup sial untuk berdiri di arah lontaran batu itu akan mati dengan seketika.
"Tembak!!!" Teriak komandan pasukan itu sekali lagi.
Tapi kini bukanlah batu berapi yang dilontarkan.
Melainkan sebuah panah berukuran raksasa yang ujungnya sangatlah tajam. Tak cukup sampai disitu, panah itu juga memiliki kobaran api di ujungnya untuk menambah daya serangnya.
'Swuuuooossshh!!!'
Puluhan panah baja yang berapi itu melesat dengan sangat cepat ke arah barisan pasukan Kerajaan Salvation dan juga Kerajaan Suci Celestine.
'Zraaassshh!'
Tak mengenal ampun, panah raksasa itu menusuk hingga menembus tubuh puluhan prajurit sekaligus hingga akhirnya menancap ke tanah. Membunuh semuanya secara seketika.
Pertempuran di sisi Timur Kota Forgia pun terus berlangsung dengan Kerajaan Farna yang memiliki keunggulan karena telah menghancurkan alat berat pasukan lawan sejak awal.
Sementara itu....
Sisi Utara cukup mengerikan.
Pasukan Kerajaan Rafador yang dipimpin oleh aliansi seluruh Guild dari pemain Cina itu melancarkan strategi yang sangat licik namun juga sangat efektif.
Mereka mengirim prajurit mereka untuk berpura-pura sebagai pengungsi dari Kota yang sebelumnya telah dihancurkan.
Di dalam dinding Kota Forgia, mereka menjaga ketenangan dan terus berpura-pura sebagai rakyat biasa yang sedang mengungsi. Tapi kenyataannya, mereka menganalisa mengenai sistem pertahanan dan juga mencari kelemahan Kota Forgia ini.
Hasil akhirnya, sesaat sebelum pertempuran dimulai, mereka mampu melumpuhkan seluruh alat berat yang menghadap ke arah Utara. Sehingga membuat seluruh alat berat mereka mampu menyerang dengan mudah.
Dinding Kota Forgia di sisi Utara telah lama runtuh. Pasukan dari sisi Utara pun banyak yang menjadi korban. Akibatnya hampir setengah pasukan reservasi yang berada di tengah Kota harus bergerak ke arah Utara untuk membantu.
"Komandan! Kapan bala bantuan akan datang?!" Teriak salah satu prajurit yang sedang menahan dorongan pasukan Cina itu.
"Kita adalah bala bantuan itu! Sekarang tutup mulutmu dan tahan perisaimu!" Balas sang komandan dengan sangat lantang.
Pertempuran pun terus berlanjut dengan keadaan dimana pasukan Cina sedikit lebih unggul.
__ADS_1
Sementara itu....
Sisi Selatan Kota Forgia.
Barisan seratus ribu prajurit berzirah berat dari Kekaisaran Avertia masih terdiam. Mereka masih berbaris dengan rapi tak maju selangkah pun.
Alat berat mereka juga masih utuh dan ditempatkan dengan sangat rapi.
Tentu saja, posisi barisan mereka diluar jangkauan dari alat berat pihak Kerajaan Farna.
Pada bagian terdepan barisan itu, terlihat sosok seorang Pria mudah berambut keemasan. Ia mengenakan zirah hitam dengan corak emas yang begitu elegan namun juga sangat mengintimidasi pada saat yang sama.
Di sampingnya terdapat enam orang jendral tinggi dan juga seorang panglima perang.
"Yang Mulia.... Mohon berikan perintah untuk kami." Ucap sang panglima perang.
Kaisar Vincentius nampak menggenggam erat pedang yang ada di bagian kiri pinggangnya.
Sebuah pedang dengan lambang naga pada sarung pedangnya. Gagang pedang itu juga diukur seakan membentuk kepala naga yang sedang menggigit bilah pedang yang ada di dalamnya.
Tapi yang aneh dari pedang itu, adalah rantai yang seakan menyegel pedang itu agar tidak bisa digunakan.
"Seluruh kekuatan dunia sedang bersatu saat ini. Kalian bertujuh harus memperhatikan dan mencatat semuanya secara rinci. Jangan lewatkan sedikitpun detail. Kelak mereka semua akan menjadi musuh kita." Jelas Kaisar Vincentius.
Mendengar perkataan sang Kaisar, keenam jendral dan juga sang panglima perang hanya bisa terkejut sekaligus bahagia. Mereka menyadari bahwa pemuda yang naik tahta menjadi seorang Kaisar itu adalah orang yang sangat berbakat.
Bagaimana tidak, pemikiran Kaisar Vincentius tidak terbatas pada pertempuran yang sedang terjadi saat ini. Tapi juga pertempuran yang akan mendatang. Mengingat bahwa ini adalah pengalaman perang pertamanya membuat pemikiran itu menjadi jauh mengerikan.
"Dengan senang hati, Yang Mulia."
"Aku izinkan kalian membawa masing-masing 3 orang Royal Knights. Segera laksanakan." Balas sang Kaisar dengan nada yang tenang.
Bersamaan dengan kalimat perintah terakhir sang Kaisar, keenam jendral dan juga sang panglima perang itu pun segera pergi untuk memata-matai kekuatan seluruh dunia yang saat ini sedang terkumpul di tempat ini.
Melihat seluruh bawahannya bekerja dengan sangat baik dan begitu loyal kepadanya, Kaisar Vincentius nampak membuat senyuman yang sangat tipis. Segera setelah itu....
'Tap!'
Kaisar Vincentius pun melangkahkan kakinya. Tapi apa yang terjadi berikutnya benar-benar membuat mata seluruh dunia tertuju kepadanya.
'Blaaaaaarrr!!!'
Tanah yang menjadi pijakan kaki kanan sang Kaisar itu pun retak dan mulai hancur.
Arlond yang saat itu masih memimpin pasukannya dari atas dinding segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara itu.
"A-apa yang...."
Kedua matanya terbuka lebar. Bendera yang dibawanya pun secara perlahan mulai dilepaskan.
Ia menyadari bahwa sosok yang sedang dilihatnya bukanlah manusia biasa. Tidak....
Bahkan menyamakannya dengan boss tingkat tinggi sekalipun masih terkesan merendahkannya.
__ADS_1
Arlond hanya mampu memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap terhadap apapun yang mungkin akan terjadi. Ia juga mengangkat dan menahan perisai besarnya itu sekuat tenaganya.
"Semuanya! Bertahan!" Teriak Arlond dengan lantang. Sedikit meningkatkan status para prajuritnya beserta keberanian mereka.
Sedangkan sang Kaisar Vincentius....
Ia nampak mengarahkan tangan kanannya ke gagang pedang yang masih tersegel dengan rantai emas itu.
Dengan lirih, Ia seakan mengucapkan beberapa kalimat. Tak ada yang mampu mendengarnya. Namun bibirnya terlihat sedikit bergerak.
Bersamaan dengan itu....
Langit malam yang cukup gelap itu menjadi terang kembali. Seakan-akan matahari telah terbit dari arah Selatan.
Tapi yang sebenarnya terjadi adalah lepasnya segel rantai emas pada pedang sang Kaisar. Memperlihatkan bilah pedang yang memancarkan cahaya emas yang sangat terang. Bahkan ketika hanya sedikit dari bilah pedang itu yang telah ditarik dari sarung pedangnya.
Segera setelah itu....
'Trraakk!'
Sang Kaisar secara tiba-tiba memasukkan kembali pedang itu. Menyegelnya kembali dengan rantai emas itu setelah mengucapkan beberapa kalimat dengan suara yang sangat lirih.
"Tidak.... Menggunakan pedang ini untuk menghancurkan mereka hanya akan menjatuhkan harga diriku." Ucap sang Kaisar dengan tenang.
Di satu sisi, Arlond dan juga seluruh pasukannya telah ketakutan setengah mati membayangkan serangan apa yang akan dihasilkan oleh pedang yang setingkat dengan artifak suci itu.
Sedangkan di sisi lain, seluruh pasukan dari Kekaisaran Avertia nampak berlutut segera setelah Kaisar Vincentius meletakkan tangan kanannya ke gagang pedang itu. Bahkan hingga saat ini, mereka masih berlutut sambil memasang wajah yang dipenuhi dengan rasa kekaguman.
"Maaf untuk sebelumnya. Aku berpikir terlalu pendek. Hanya ingin mengakhiri pertempuran ini secepatnya. Sekarang...." Ucap Kaisar Vincentius kepada dirinya sendiri sambil menghadap ke seluruh pasukannya. Setelah itu, Ia pun membalikkan badannya dan kembali menghadap ke dinding bagian Selatan Kota Forgia.
Kaisar Vincentius pun mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya tepat ke arah Kota Forgia.
Kini, Ia menyebutkan sebuah nama sihir dengan suara yang cukup keras hingga mampu didengar oleh kamera hologram yang terbang di udara.
"Infernal Blaze."
'SRRRUUUUGGGG!!!'
'SWUUUOOOOOOSSSHHH!!!'
Seketika setelah itu, pusaran api biru yang sangat besar dan panas itu seakan muncul dari depan tangan sang Kaisar Vincentius.
Api raksasa yang bahkan memiliki lebar hingga setengah dari dinding Kota Forgia itu pun segera melahap apapun yang ada di depannya.
Termasuk Kota Forgia.
Hingga akhirnya, apa yang disaksikan oleh dunia baik itu bagi NPC maupun Pemain, adalah hal yang berada jauh dari jangkauan mereka.
Sebuah skill....
Yang mampu untuk meratakan setengah dari salah satu Kota terbesar di dunia virtual itu.
Kini, Kaisar Vincentius menjadi lambang kehancuran itu sendiri. Keberadaannya yang mulai diketahui oleh dunia, hanya membuat semua orang semakin takut dan sedikit demi sedikit mulai tunduk kepadanya.
__ADS_1