TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 370 - Berita


__ADS_3

...Dunia Nyata...


...Kulon Progo...


...[BERITA BESAR!]...


...[Pendekar Pedang Legendaris telah Terlahir! Swordmaster! Seperti apakah kekuatannya?!]...


Acara berita yang membahas mengenai permainan Re:Life itu pun ditonton oleh hampir semua orang. Sebuah permainan yang dulunya hanya didominasi oleh para Pro Player, kini telah berubah menjadi gaya hidup hampir semua orang.


Setiap orang setidaknya pernah memainkan permainan ini. Sebagai pemancing, pengrajin, petani, pedagang. Apapun.


Kebebasan dunia inilah yang membuat banyak orang tertarik. Termasuk juga kebebasan kemampuan.


"Jadi, bagaimana menurut Anda mengenai pendekar pedang legendaris ini?" Tanya pembawa acara itu kepada narasumbernya.


Narasumber kali ini adalah seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi. Ia bermain di Re:Life sebagai seorang pendekar pedang sekaligus menjadi seorang pengamat dan analis di dunia nyata.


"Menurut pandangan saya pribadi, sejujurnya cukup kecewa. Itu karena saya sudah dipastikan takkan bisa menjadi pendekar pedang legendaris karena sudah ada yang memilikinya." Jawab Dosen itu.


"Ah, jadi begitu. Apakah itu berarti Anda mengetahui syarat untuk menjadi seorang legenda?" Tanya pembawa acara itu kembali.


"Petunjuknya mungkin ada di kata 'Terlahir' yang disebarkan oleh notifikasi sistem. Berbeda dengan kata 'Dibaca' ketika seseorang memperoleh kekuatan Unique dari buku Kuno." Jelas Dosen itu.


"Jadi para legenda itu bukan karena sebuah item yang ditemukan?"


"Aku sendiri belum bisa memastikannya karena aku belum pernah menjadi seorang legenda. Tapi berdasarkan perbedaan itu saja aku cukup yakin, bahwa kekuatan legenda diperoleh adalah dari hasil kerja keras sendiri. Seperti yang selalu Aamori katakan."


Sesi tanya jawab itu pun terus berlangsung dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak berguna. Tujuannya hanya satu yaitu membuat acara ini menjadi sepanjang mungkin dan memperoleh sebanyak mungkin keuntungan dari para penonton.


'Ctik!'


Eric dengan segera mematikan acara yang kini telah menjadi semakin membosankan itu. Setelah itu, Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah belakang.


"Jadi, apa yang kau mau dengan memaksaku menonton acara itu?" Tanya Eric kepada seorang wanita berambut pirang yang berdiri di belakang sofa itu.


"Aku ingin melihat secara langsung bagaimana orang-orang akan bereaksi mengenai diriku yang menjadi pendekar pedang legendaris, tapi acara ini jauh lebih membosankan dari yang kupikir...." Jawab wanita yang tak lain adalah Angie itu.


Eric pun menghela nafasnya karena tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh Angie.


"Tentangmu? Bukankah mereka sama sekali tak mengetahui bahwa itu adalah dirimu? Itulah mengapa reaksi mereka semua sangat spekulatif." Balas Eric dengan wajah yang sedikit kesal.


"Ah.... Kau benar juga."

__ADS_1


Candaan antara mereka berdua pun terus berlanjut hingga tengah malam.


Eric yang mulai kelaparan pun pergi ke dapur dan memasak sesuatu.


"Hmm? Kau memasak sesuatu Eric?" Tanya Elin dengan wajah mengantuk nya itu. Wajar saja karena Ia terbangun oleh aroma yang cukup menggoda.


"Hanya nasi goreng. Kau mau?"


"Sedikit saja. Tapi harus kuakui. Bukankah dia terlihat menyukaimu?" Tanya Elin sambil melirik ke arah Angie.


Tanpa disangka, perkataan Elin bisa didengar oleh Angie yang langsung menjawabnya.


"Berapa kali pun akan kukatakan. Aku tak berminat dengan Pria pendek seperti Eric. Kau tak perlu khawatir aku merebut suamimu, Elin."


"Meski kau bilang seperti itu, apa-apaan dengan semua ini?" Tanya Elin sambil berjalan mendekati Angie.


"Semua ini? Apa maksudmu?" Tanya Angie kebingungan.


Tapi Elin hanya terdiam sambil melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan angka 01:32 dan pakaian minim yang dikenakan oleh Angie. Sebuah pakaian yang dengan mudah memperlihatkan seluruh lekuk tubuh dan kulit putihnya.


Seakan menyadari apa yang dimaksud, Angie pun segera menjawab.


"Ah ini? Maaf, kebiasaan ku ketika di Amerika tak bisa dihilangkan semudah itu. Lagipula, negara ini cukup panas bagiku. Tak masalah bukan mengenakan pakaian yang sejuk?"


Mendengar jawaban itu, Elin hanya memberikan tatapan yang tajam ke arah Angie.


Sementara itu, Eric yang sedari tadi telah berdiri di ujung ruangan itu hanya bisa terdiam membawa nampan yang berisi tiga piring.


Ia membatu tak bergerak sedikitpun. Bahkan nafasnya pun terdengar sangat pelan. Apa yang ada di pikirannya hanya satu.


'Kumohon jangan bertarung disini....'


...***...


...Dunia Iblis...


...Wilayah Selatan...


Sebuah cahaya putih yang membentuk tubuh Eric muncul di dalam kastil ini.


"Hah.... Angie sialan. Membuat rumahku menjadi Medan perang...." Keluh Eric pada dirinya sendiri.


Di dalam kastil itu, saat ini hanya berisi beberapa petinggi Orc yang masih terlihat sibuk mengerjakan suatu berkas.

__ADS_1


"Ah, Tuan Eric. Anda telah kembali." Ucap Petinggi Desert Orc itu.


"Ya. Bagaimana dengan pembangunan Kota kedua di sebelah Barat dari Kota ini?" Tanya Eric dengan tenang sambil membuka menu Dungeonnya.


Dengan bantuan Menu itu, Eric mampu mengetahui banyak sekali informasi mengenai Dungeon yang berupa Kota Orc ini. Mulai dari jumlah penduduk, kekuatan militer bahkan hingga ekonominya.


...[Dungeon Kota Orc 1]...


...[Informasi]...


Jumlah Penduduk : 328.165 Jiwa (96% Desert Orc, 4% Ras lain)


Tingkat Kebahagiaan : 98%


Jumlah Prajurit : 50.000 Prajurit, 1.000 Ksatria.


Kekayaan Kota : 1.325.480 koin emas.


Kondisi : Sangat makmur.


Berdasarkan informasi umum itu, Eric sudah cukup senang karena kota ini dalam kondisi yang sangat baik.


"Pembangunannya berjalan dengan sangat lancar. Saat ini tenaga kerja sebesar 20.000 orang sedang dikerahkan untuk mulai melakukan pembangunan awal, Tuanku." Jawab Petinggi Orc itu.


"Kerja bagus. Kalau begitu aku akan segera pergi ke sana dan menambah jumlah populasi. Kalian terus kirimkan suplai bahan bangunan dan juga makanan ke Kota baru itu melalui lingkaran sihir Teleportasi yang ku buat."


"Siap laksanakan, Tuanku."


Dengan begitulah, Eric pergi ke Kota kedua melalui lingkaran sihir Teleportasi yang di bangunnya di setiap sisi Kota. Setiap lingkaran sihir itu terhubung dengan seluruh Dungeon besar dan juga Dungeon kecil yang dibangun Eric di seluruh tempat yang pernah dilewatinya selama melakukan ekspedisi.


Sehingga membuat pergerakannya sangat cepat dan mudah.


Setibanya disana, Eric melakukan pemanggilan secara terus menerus hingga Mana Point miliknya habis. Setelah itu, Ia menggunakan lingkaran sihir Teleportasi untuk kembali ke wilayah Tengah dari Dunia Iblis ini.


Atau lebih tepatnya di reruntuhan Kota yang sebelumnya Ia datangi.


"Selamat datang kembali, Tuanku." Ucap Lucien, Verara, Tharkas dan juga Rilette secara bersamaan menyambut Tuannya.


"Kita akan kembali melanjutkan perjalanan ke Utara. Verara, rute mana yang aman dan memiliki peluang terbesar untuk tidak bertemu dengan Avacor?" Tanya Eric secara langsung pada Verara.


"Berdasarkan informasi para Harpy yang lain, bergerak ke arah Timur Laut selama setengah hari kemudian lurus ke arah Utara adalah jalur yang paling aman dan cepat. Itu karena Avacor sendiri masih terus mengamuk di wilayah Barat." Jelas Verara sambil terus menundukkan kepalanya.


Eric yang mendengar itu cukup lega karena rute yang harus dilewati tak begitu jauh.

__ADS_1


"Kerja bagus. Sekarang, mari kita kembali bergerak."


Tim ekspedisi itu pun akhirnya kembali bergerak menuju ke wilayah paling Utara di Benua ini. Tujuannya adalah reruntuhan Kerajaan Kuno yang ditinggali oleh Primordial Slime.


__ADS_2