
...Dunia Iblis...
...Wilayah Selatan...
Beberapa bulan telah berlalu semenjak Eric memutuskan untuk tinggal dan membantu Kota Desert Orc ini.
Perkembangan yang terjadi sudah jauh melampaui apa yang diharapkan bahkan oleh Eric itu sendiri.
Kini, tempat ini telah berubah menjadi sebuah Kota raksasa dengan banyak distrik dan juga dinding batu yang tinggi dan kokoh di sekeliling Kota ini.
Tak tanggung-tanggung, menara pengawas yang terbuat dari batu nampak menjulang tinggi di seluruh sisi Kota.
Prajurit Desert Orc yang sangat terlatih pun selalu melakukan patroli dan penjagaan. Sebagian yang lainnya melakukan perburuan di kelima Dungeon yang telah dibangun oleh Eric.
Bukan hanya demi makanan, tapi perburuan itu juga dilakukan untuk memperkuat diri mereka sendiri.
Bahkan, para petinggi Desert Orc itu telah sepakat untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan Origin. Dengan kata lain, Kota itu kini terhubung secara langsung dengan markas rahasia Origin di wilayah paling Selatan Benua ini.
Membuat keamanan dari dua tempat itu terjamin dengan saling melindungi satu sama lain.
Hingga akhirnya, Kota dengan jumlah penduduk yang kini mencapai lebih dari 200.000 jiwa itu telah mencapai kemakmuran. Lahan pertanian yang sangat luas juga baru saja melakukan panen raya.
Membuat ketahanan pangan di Kota itu menjadi sangat terjamin.
Tapi ada satu masalah yang mengganggu Eric.
"Tuanku. Aku tak bermaksud untuk berkata kasara tapi.... Bukankah kau terlalu bersantai?!" Teriak seorang wanita Vampir dengan rambut perak yang indah serta mata emas yang mengkilap.
Eric yang harus menerima kuliah singkat dari Cathy itu pun hanya bisa duduk sambil mengarahkan wajahnya ke tanah.
Wajar saja. Tim ekspedisi dengan anggota lima orang itu pada awalnya dibentuk agar Eric melakukan perjalanan ke Utara, tepatnya di reruntuhan tempat Primordial Slime berada.
Tapi pada kenyataannya, Eric justru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdiam diri melakukan manajemen kota.
"De-dengarkan aku dulu, Cathy! Kota ini sangatlah penting untuk kedepannya!" Teriak Eric memohon Cathy untuk mendengarkan penjelasannya.
"Hah.... Lagipula aku tak memiliki hak untuk menyalahkanmu, Tuanku. Meski begitu, bisakah aku mendengar alasanmu?" Balas Cathy sambil menghela nafasnya.
Eric pun segera menjelaskan semuanya dengan rinci tanpa terlewat sedikitpun.
Tujuan awalnya yang hanya ingin menambah pengikut setia, kini berakhir menjadi membangun sebuah kerajaan di tengah tanah tandus yang tak berujung itu.
__ADS_1
Alasannya yang paling benar hanya satu.
Yaitu lokasi ini sangatlah jauh dari konflik. Bahkan ketakutan terbesar mereka terhadap serangan dari bangsa iblis lain pun terbukti tidak berguna.
Dunia Iblis nampak sibuk akan suatu hal sehingga tak begitu memperhatikan keberadaan tanah subur ini, atau mungkin saja sejak awal tanah ini tak berharga bagi mereka walaupun subur.
Wajar saja karena lokasinya yang sangat jauh dari peradaban membuat Kota ini tak mampu melakukan perdagangan maupun hubungan yang lain dengan baik.
"Hah.... Aku mengerti bahwa kesempatan emas untuk membangun kekuatan harus diambil dengan baik. Tapi jangan lupakan tugas utamamu. Tanpa kekuatan dari Slime itu, melawan Belphegor nampaknya hampir mustahil." Jelas Cathy sambil merebahkan dirinya di kursi alun-alun kota itu.
"Tenang saja. Aku juga tak melupakan mengenai Slime itu. Hanya saja, aku melakukan persiapan lebih lanjut untuk kedepannya." Balas Eric.
Perbincangan antara mereka berdua pun terus berlanjut cukup lama. Hingga akhirnya, Cathy menyudahi perbincangan itu karena Ia memang tak memiliki hak untuk mengatur apa yang ingin dilakukan oleh Tuannya.
Tapi Eric juga memahami pentingnya kekuatan dari Slime yang selalu dibicarakan oleh Deus dan juga Cathy.
Jika Deus sendiri bisa kalah telak oleh Belphegor, tentu saja Eric tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk menang. Oleh karena itu....
"Aku akan segera kembali berangkat. Tenang saja."
Itulah kalimat terakhir yang didengar oleh Cathy malam ini. Sebuah kalimat yang cukup membuat Cathy tenang sebelum kembali ke markas persembunyian Origin melalui lingkaran sihir yang tersebar di Kota ini.
"Tuanku, maafkan kami...."
"Jika saja kami tak memaksa Anda untuk terus tinggal disini...."
Raut wajah yang dipenuhi dengan rasa penyesalan tergambar dengan jelas di wajah para petinggi Desert Orc itu. Hal itu juga yang membuat Eric cukup lega.
'Baguslah jika mereka merasa menyesal. Dengan kata lain mereka memiliki peluang yang sangat kecil untuk memberontak jika aku menyikapi hal ini dengan baik.' Pikir Eric dalam hatinya.
"Jangan pikirkan hal itu. Tujuanku memang mensejahterakan Kota ini sehingga mampu mendukungku di masa depan. Tentunya, kalian akan mendukungku bukan?" Tanya Eric untuk memastikan.
"Tentu saja! Kami akan mengerahkan segalanya untuk mendukungmu, Tuanku!"
"Sebuah kelancangan jika kami menolak permintaan bantuan darimu, Tuanku!"
"Sebuah kehormatan untuk mendukung Anda!"
Seluruh petinggi yang mendengarkan perkataan dari Eric pun segera berteriak dengan penuh semangat. Mereka semua menyanggupi permintaan dari Eric. Dengan kata lain, Eric telah mengamankan wilayah selatan, tepatnya di tanah tandus ini dengan sangat baik.
Ekspansi ke wilayah yang lainnya akan jauh lebih mudah dengan pijakan ini.
__ADS_1
Oleh karena itu....
"Kalian sudah jauh lebih baik dari kata makmur. Aku sangat yakin bahwa Kerajaan tetangga sekalipun akan iri dengan kekuatan dan kemakmuran kalian. Jadi, aku bisa menyerahkan Kota ini kepada kalian bukan?"
Kalimat terakhir Eric itu menandakan perpisahannya dengan Kota ini.
Bukan perpisahan yang berlangsung untuk selamanya. Hanya saja, kehadiran Eric yang selalu dibutuhkan dan mampu menyelesaikan berbagai perkara itu akan mulai dirindukan oleh para penduduk Kota.
Eric pun kembali ke ruangannya untuk beristirahat bersama dengan keempat bawahan setianya.
Dan kini, tepat ketika matahari mulai terbit, tim ekspedisi Eric yang beranggotakan lima orang itu telah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Utara.
"Tuanku! Anda yakin tak ingin membawa pasukan?!"
"Sepuluh ribu pasukan siap untuk berangkat saat ini juga menemani Anda!"
Berbagai macam tawaran bantuan terus menerus dilontarkan kepada Eric dan juga kelompoknya. Tapi dengan senyuman yang ramah dan bahasa yang halus, Eric terus menolaknya dan bersikukuh untuk segera berangkat.
Pemandangan dinding kota yang menjulang tinggi dengan banyak sekali menara penjaga itu kian lama kian mengecil, seiring dengan semakin jauhnya langkah yang mereka tempuh.
Hingga akhirnya, pemandangan Kota itu pun tak lagi terlihat.
Menyisakan hanya lima orang menempuh perjalanan melalui tanah tandus tak berujung ini.
"Tuanku, kau telah menciptakan tangan baru yang sempurna disana." Ucap Lucien sambil melihat ke arah selatan.
"Begitu kah? Aku rasa membangun Kota baru di sampingnya adalah ide yang bagus." Balas Eric.
"Memperkuat pijakan kita di Selatan. Kemudian sedikit demi sedikit memperluas pengaruh ke kerajaan tetangga.... Menguasai dunia kini terlihat begitu mudah." Ucap Verara yang menggendong Tharkas di punggungnya sambil terus terbang.
"Itu semua karena Tuan Eric adalah penguasa yang luarbiasa." Balas Tharkas.
"Apapun itu, aku akan merindukan suasana damai di Kota itu." Ucap Rilette yang ikut menimbrung percakapan.
Mereka semua meninggalkan Kota itu dengan perasaan bahagia dan persiapan yang matang.
Tapi sayangnya, mereka sama sekali tak mengetahui apa yang telah terjadi di dunia Iblis selama beberapa bulan ini.
Entah keberuntungan atau kesialan....
Mereka tak terlibat dalam perang besar untuk menaklukkan Avacor yang mengamuk di bagian tengah Benua ini.
__ADS_1