
Formasi dari pertarungan kelompok Angie beserta bantuan Eric akhirnya membuahkan hasil.
'Kreettaakkkk!!'
Zirah kemerahan Aamori akhirnya retak untuk kedua kalinya.
Mereka tak tahu apakah Aamori masih bisa memanggil zirah yang sama untuk berulang kali. Tapi satu hal yang pasti.
Bahwa sesaat sebelum Aamori memanggil zirah yang baru, terdapat jendela waktu selama 1 detik untuk menyerang Aamori yang berada dalam kondisi sangat lemah.
Dan kesempatan itu, tentu saja sama sekali tak disia-siakan.
Semua anggota kelompok Angie yang memiliki kemampuan penyerangan segera menggunakan skill terkuat mereka ke arah Aamori.
Begitu pula Eric yang sekali lagi menembakkan Extermination Ray ke arah portal yang dibuat Luna di hadapannya.
Sebuah portal yang akan menghantarkan sinar penghancuran itu tepat di atas kepala Aamori.
Dan benar saja, Aamori segera memanggil kembali zirah yang sama persis seperti sebelumnya. Tapi sebelum zirah itu benar-benar terpasang dan terhitung oleh sistem....
Seluruh serangan mereka telah mengenai Aamori.
'Zraaasssshhh! Staaabbb! Blaaaaarrrr!!!'
[Anda telah menerima 492.585 damage!]
[Anda telah menerima 72.881 damage!]
[Anda telah menerima ....]
Notifikasi itu terus menerus muncul di hadapan Aamori. Memperlihatkannya betapa mengerikan kekuatan kelompok ini sebenarnya.
Satu-satunya yang memisahkan antara Aamori dengan pemain di kelompok itu, hanyalah karena Aamori mengenakan perlengkapan yang sepenuhnya berada di tingkat Mythical.
Sebuah perlengkapan yang hanya bisa dimiliki oleh Dewa, atau diperoleh melalui Quest yang sangat-sangat sulit.
Mengenakannya satu saja sudah cukup merusak keseimbangan permainan di dunia ini.
Apalagi semua bagian perlengkapannya merupakan tingkat Mythical.
"Menjauh!" Teriak Angie sesaat sebelum sinar penghancuran Eric mengenai Aamori.
Semuanya pun melompat mundur dengan cepat. Berharap agar Aamori akhirnya akan mati dengan serangan ini.
Jika tidak, maka semuanya akan berakhir sia-sia dan mengulang dari awal lagi karena regenerasi Aamori yang begitu gila.
"Ugghh!"
Grund terlihat terluka cukup parah akibat tusukan pedang sisik naga Aamori sebelumnya. Dimana api yang membakar perutnya tak kunjung menghilang.
"Mundur dulu, aku bisa menahannya selama beberapa saat." Ucap Ilham, meminta agar Grund menyembuhkan lukanya terlebih dahulu.
Semua orang masih terus memandangi ke arah dimana cahaya putih penghancuran milik Eric itu masih terus menggerus tubuh Aamori.
Mereka tak bisa melihat Aamori secara langsung. Tapi setidaknya, mereka berharap Aamori akhirnya akan mati dengan serangan itu.
Pada kenyataannya, mereka justru menyadari hal lain. Di balik cahaya putih itu, Aamori telah berhasil mengenakan zirahnya kembali. Menahan lebih dari 99% damage yang diterimanya.
Tak hanya itu, Aamori juga segera menempatkan 3 perisai terbaiknya untuk menahan serangan Eric.
'Hampir saja....' Pikir Aamori dalam hatinya setelah melihat informasi Health Point miliknya yang hanya tersisa sebanyak 4% saja.
Jika Ia terlambat sepersekian detik lagi, mungkin Ia akan mati.
Dengan tenang, Aamori meneguk Full Health Potion sambil menghadapi damage dari Extermination Ray milik Eric.
Tak hanya itu....
"Tunggu, bukankah langit menjadi sedikit lebih gelap?" Ucap Ilham kebingungan.
Saat semua orang melihat ke arah langit, mereka menemukan sebuah pedang raksasa. Ukurannya begitu besar hingga membuat skill tertinggi di elemen api yaitu Meteor seperti sebuah mainan anak-anak.
Pedang raksasa itu terlihat melaju dengan begitu cepat ke arah tanah. Tepatnya di tempat dimana para anggota kelompok Angie berkumpul.
"Luna! Bi...."
"Tak mungkin. Terlalu besar. Akan lebih baik jika kita mundur sebentar." Ucap Luna sambil menciptakan total 14 buah portal untuk membawa seluruh anggota kelompok Rebellion bersama dengan Eric dan salinannya menjauh.
Dari kejauhan, mereka melihat pedang raksasa itu menghantam tanah. Menancap begitu dalam dan menyebabkan gempa yang begitu kuat, menggetarkan tanah di sekitarnya.
Sedangkan Aamori sendiri terlihat masih berjalan dengan sehat. Dimana zirah merah miliknya yang begitu menyebalkan itu telah kembali terpasang.
Aamori nampak sedang meregangkan ototnya dan berjalan ke arah pedang raksasa itu.
Setelah membuat sedikit gerakan tangan, pedang itu pun menghilang menjadi cahaya. Kembali memasuki penyimpanannya.
"Yang benar saja.... Dia masih menyimpan kartu seperti itu?" Tanya Angie kesal.
Bagaimanapun, Aamori terlalu kuat dengan berbagai perlengkapan gila miliknya. Sekalipun dihadapi, pertahanannya terlalu kuat. Dan sekalipun zirahnya dihancurkan, Aamori masih bisa memanggil zirah yang baru untuk menggantikannya.
Dan saat ini, ketika Eric memperhatikan kondisi Aamori, Health Point miliknya terus menerus beregenerasi dan kini telah kembali ke tingkat 40% lebih.
"Hah.... Nampaknya kita akan mengulang dari awal?" Tanya Eric kesal.
Saat Eric sedang mengeluh, Elin mengirimkan pesan kepadanya.
[Apa yang kau lakukan?! Cepat kemari atau aku akan mengakhiri semuanya tanpa dirimu!]
"Ada apa?" Tanya Angie penasaran.
Eric pun dengan cepat menutup jendela pesan itu tanpa membalasnya.
"Tak ada, hanya Elin. Lebih penting dari itu, bagaimana cara kita mengalahkannya?" Tanya Eric.
Tak ada jawaban.
Semua orang sama sekali tak bisa memikirkan jawaban apapun kecuali sebuah kalimat bahwa mereka kurang kuat.
Mereka kurang dalam menaikkan level dan perlengkapan mereka. Hanya itu saja penjelasan dari situasi ini.
Memangnya apalagi selain status Aamori yang terlalu kuat berkat perlengkapannya? Seluruh strategi telah mereka gunakan. Berbagai trik dan tipuan telah mereka pakai.
Yang ada hanyalah Aamori yang akan menjadi semakin kuat karena pengalamannya selamat dari pertarungan ini jika semua ini terus berlanjut.
Akan tetapi....
"Ah, benar juga. Angie, bagaimana dengan kemampuanmu sebelumnya? Yang membuat rambutmu menjadi perak itu?" Tanya Eric penasaran.
"Transcendence? Skill bodoh itu memiliki Cooldown selama 7 hari. Tak ada gunanya."
Kepala Eric pun segera berputar dengan keras untuk memikirkan solusinya.
Apapun yang terjadi, saat ini mereka semua kalah kuat dari Aamori. Sekalipun dengan buff yang tebal dan saling menumpuk masih tetap saja tak mampu untuk mengalahkannya.
Jika mencoba cara yang sama sekali lagi pada Aamori, kemungkinan takkan berhasil karena Aamori telah menyadarinya.
Tapi....
Jika saja....
'Overdrive hanya memangkas Cooldown selama 10 menit saja, yang sangat pas untuk Amplification.... Tunggu dulu!'
Eric seketika menyadari sesuatu.
"Angie! Kau bilang Cooldown selama 7 hari kan?"
"Ya, kenapa? Sudahlah, lupakan itu dan pikirkan bagaimana kita mengalahkan monster itu!" Keluh Angie sambil menunjuk ke arah Aamori yang nampak masih mengatur ulang seluruh perlengkapannya agar lebih cocok dalam pertarungan ini.
Kemampuan adaptasi Aamori benar-benar mengerikan. Dan Angie paham betul, bahwa ini adalah kesempatan terakhir mereka sebelum Aamori akan benar-benar memperoleh pengalaman bertarung yang cukup banyak.
Cukup untuk menghabisi mereka semua sendirian dengan kekuatannya yang mengerikan itu.
Terlebih lagi, pedang raksasa yang mereka lihat sebelumnya merupakan salah satu kartu yang disembunyikan oleh Aamori.
__ADS_1
Mereka tak tahu bagaimana Aamori akan menggunakannya. Tapi satu hal yang pasti, terkena pedang itu mungkin akan segera mengakhiri nyawa mereka.
"Tenang saja, aku punya ide."
Eric yang saat ini telah berbeda dengan dirinya yang dulu. Ia telah memiliki cukup pendidikan untuk membuatnya mampu memecahkan berbagai masalah kompleks.
Sedangkan matematika?
Bagi dirinya yang saat ini bukanlah masalah yang rumit.
'*Pengurangan Cooldown dasar dari Overdrive adalah 10 menit. Batas penggunaan Amplifikasi sebelum efeknya terlepas adalah 10 kali. Setiap Amplifikasi akan meningkatkan efek skill berikutnya sebanyak 2 kali lipat.
Dengan kata lain.... 10 dikali 2 pangkat 10.... 10.240 menit. Atau sekitar 170 jam. Sedangkan 7 hari hanya 168 jam jadi.... Cukup*!'
Eric segera menyadari bahwa skillnya benar-benar cukup jika dipaksakan untuk mengurangi Cooldown Transcendence milik Angie sebanyak 7 hari lebih 2 jam.
Itu jika Ia bisa menggunakan amplifikasi sebanyak 10 kali, hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Dan pastinya, akan menghalanginya dalam bergerak sedikit pun.
Bukan hanya karena itu sulit, tapi hampir mustahil untuk dilakukan secara praktek. Karena untuk menggunakan Amplifikasi lebih dari 1 kali, Ia butuh menggunakan Overdrivenya.
Sementara itu, niat awal Eric adalah untuk memperkuat Overdrivenya agar bisa mengurangi Cooldown lebih jauh lagi. Dan hal itu berarti bertolak belakang dengan tujuannya.
Tapi kali ini, semua itu berbeda.
Itu karena Eric memiliki salinannya. Yang akan membantunya dalam menggunakan Overdrive untuk mengurangi Cooldown dari Amplification miliknya. Sementara Eric hanya perlu fokus untuk menggunakan skill Amplifikasi saja.
Sambil menyimpan Overdrive miliknya.
"Oi, kemari lah. Aku akan menjelaskan rencana ku padamu." Jelas Eric kepada salinannya.
"Begitu. Dimengerti. Mudah saja." Balas salinan Eric.
Angie dan juga kelompoknya yang lain nampak kebingungan. Akhirnya Angie pun bertanya kepada Eric.
"Apa rencana mu? Apakah ini bisa mengalahkannya?" Tanya Angie.
Dengan senyuman yang lebar, Eric pun berkata ke arah Angie.
"Tugas kalian adalah menyibukkan Aamori selama kurang lebih 10 menit. Sementara itu, aku akan menyiapkan suatu hadiah padamu, Angie. Yang jelas apapun yang terjadi, kau tak boleh mati Angie."
"Begitu ya? Aku mengerti." Balas Angie.
Semua anggota kelompoknya segera paham.
Sebelumnya, mereka menahan Aamori selama 5 menit saja sudah hampir kuwalahan. Dan sekarang Eric meminta mereka untuk menahan Aamori selama 10 menit?
Terlebih lagi ketika Aamori telah mulai terbiasa dengan gaya bertarung kelompok Rebellion?
Itu adalah hal yang hampir mustahil dicapai.
Hampir mustahil....
Jika mereka berharap semuanya bisa selamat.
Dengan kata lain, sebagian besar dari mereka pasti akan mati dalam rencana ini. Bukan masalah yang besar bagi mereka.
Tapi kematian satu orang saja dalam kelompok ini sama halnya dengan mencopot salah satu roda gerigi yang menggerakkan sebuah jam.
Mungkin masih bisa berjalan. Mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang pasti, formasi mereka akan hancur sesaat setelah orang pertama mati.
"Katakan, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Angie sekali lagi.
"Aku akan menghapuskan Cooldown dari Transcendence milikmu." Balas Eric singkat.
Kedua mata Angie pun terbuka lebar. Ia tak percaya bahwa ada sebuah skill yang sekuat itu.
Menghapuskan Cooldown selama 5 atau 10 menit memang langka, tapi bukan hal yang begitu menakjubkan.
Tapi menghapuskan Cooldown selama 7 hari?
"Kau sudah gila? Mana mungkin itu...."
"Percaya saja padaku." Balas Eric singkat menyela perkataan Angie.
Semua orang pun terdiam. Hanya itu lah kesempatan mereka. Yaitu dengan melawan seseorang di tingkat Mythical, juga dengan orang lain yang berada di tingkat Mythical.
Tapi jika Angie bisa kembali menggunakan Transcendence....
"Aku mengerti." Ucap Luna dengan senyuman yang ramah. Ia segera berdiri dan menciptakan sebuah portal untuk mengantar mereka kembali ke area pertarungan di dekat World Rift itu.
"Aku juga tak masalah. Lagipula jarang-jarang kita bisa menemukan sosok Boss yang membuat kita tersudutkan sampai seperti ini bukan?" Ucap Miyamoto sambil mengayunkan Katana miliknya.
"Sependapat denganmu." Balas Ilham dengan senyuman yang lebar.
Pada akhirnya, semua orang pun bangkit. Mereka berencana untuk menghadapi monster itu sekali lagi. Dan menahannya selama 10 menit sementara Eric menyiapkan semuanya.
"Eric.... Aku mengandalkanmu." Ucap Angie sebelum berlari melewati portal itu.
Eric pun kini hanya berdiri di sebuah bukit di kejauhan bersama dengan salinannya.
"Ayo kita mulai."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Eric segera membuat lingkaran sihir amplifikasi yang pertama.
Salinannya pun segera menghapuskan Cooldown dari skill Eric dengan Overdrive.
'Swuuuusshhhh!!!'
Setelah cooldownnya terhapuskan, Eric segera menggunakan amplifikasi sekali lagi. Kali ini, dua buah lingkaran sihir amplifikasi telah terbentuk di ujung tongkatnya.
'Klaaangg! Klaaangg!'
Pertarungan antara Rebellion dengan Aamori kembali berlangsung. Kali ini, Aamori bergerak dengan jauh lebih agresif. Memanfaatkan hujan pedang cahaya secara acak sekaligus mengayunkan pedang raksasa itu dari waktu ke waktu.
'Swuuuusshhh!'
Lingkaran amplifikasi ketiga pun terbentuk.
Sampai 3 menit ini, belum ada korban yang jatuh. Kelompok Angie masih terus berhadapan dengan sengit melawan Aamori sekalipun tak mampu melukainya.
Akan tetapi, Aamori mulai bertanya-tanya mengenai dimana keberadaan Eric. Apakah Eric merencanakan sesuatu?
'Swuuuussshhh!'
4 buah lingkaran sihir amplifikasi akhirnya telah terbentuk.
Dan kali ini, kecurigaan Aamori telah menjadi semakin nyata. Sebelumnya Eric merupakan penyumbang damage terbesar.
Sangat tak mungkin untuk meninggalkan penyerang terkuat mereka di belakang. Dan dengan itu, Aamori memutuskan untuk segera mengakhiri kelompok Angie ini.
'Zraaaassshh Zraaasshhh!'
Aamori semakin lihai dalam menggunakan kekuatannya. Dimana Ia saat ini dapat menembakkan sekitar 10 pedang cahaya ke arah yang ditentukan dengan cepat.
Pengendaliannya yang semakin meningkat itu hampir saja membunuh salah satu anggota Rebellion, yaitu Grund.
'Swuuusshhh!!'
Lingkaran sihir amplifikasi yang kelima telah terbentuk. Hampir lima menit telah berlalu di pertarungan itu.
Ini adalah waktu yang sama ketika mereka bertarung sebelum Aamori mulai bersikap agresif. Eric hanya bisa berharap bahwa mereka semua dapat bertahan.
Karena tanpa adanya Eric di sana, Aamori bisa bergerak lebih leluasa tanpa khawatir Ia akan menerima damage yang besar.
Akan tetapi....
"Kuuuggghh!!!"
10 lebih pedang cahaya menancap di tubuh Ilham. Membunuhnya seketika.
Tak ada waktu untuk berkabung atas kematian Ilham di pertarungan ini. Lagipula, Aamori menjadi semakin lihai dalam mengendalikan kemampuannya.
Pergerakannya sama sekali tak bisa diprediksi dengan arsenal persenjataan yang begitu banyak.
__ADS_1
Dan mulai pada saat inilah, roda gerigi yang membuat formasi Rebellion begitu kokoh mulai runtuh.
Pada saat Eric berhasil membuat lingkaran sihir keenamnya, Camilla dan juga Miyamoto telah terbunuh oleh pedang raksasa yang diayunkan secara horizontal oleh Aamori sebelum akhirnya kembali menghilang.
'Sialan.... Bertahanlah!'
Berikutnya, Sephia, Rachel dan juga Iveria terbunuh oleh 20 pedang cahaya yang bergerak sesuai dengan pikiran Aamori. Semua itu terjadi saat Eric baru saja menyelesaikan lingkaran ke tujuhnya.
Pengendaliannya meningkat dengan begitu pesat hingga Aamori bisa mengendalikan pergerakan pedang cahaya itu sembari bertarung menghadapi Angie, Scars, dan Grund.
Kematian ketiga kelas pendukung itu memberikan pukulan yang kuat kepada kelompok Angie.
Mereka tak lagi bisa menikmati Buff yang meningkatkan kekuatan pertarungan mereka. Dan itu artinya, semakin besar peluang mereka terbunuh di pertarungan ini.
'Sialan! Tak bisakah lebih cepat lagi?!' Keluh Eric setelah membuat lingkaran sihirnya yang ke delapan.
Tapi pada saat ini, Eric bisa melihatnya.
Bahwa Aamori telah berhasil membunuh Axius, Scars, Grund, dan juga Robert.
Kematian mereka berempat menghapuskan kemampuan kelompok Angie untuk menjaga garis depan sekaligus kemampuan mereka meregenerasi Health Point.
Tak hanya itu, kematian Scars berarti tak ada satu pun orang yang bisa memberikan Debuff kepada Aamori untuk memperlemah kemampuannya yang sudah seperti monster itu.
Kini, hanya tersisa Angie dan juga Luna saja. Yang bertarung melawan Aamori secara mati-matian dengan memanfaatkan portal miliknya.
Pada akhirnya....
Saat Eric baru saja menyelesaikan lingkaran sihir yang ke 9, Luna berhasil terbunuh.
Kemampuan adaptasi Aamori benar-benar seperti monster. Ia bahkan telah mampu memprediksi kebiasaan Luna dalam menggunakan portalnya dan menembakkan pedang cahaya ke arah dimana portal itu akan terbentuk.
Membunuh Luna seketika dengan puluhan pedang cahaya yang menancap di tubuhnya.
Sedangkan Angie sendiri, kini telah dalam keadaan kritis.
Ia telah kesulitan untuk menghindari kemampuan pengendalian Aamori yang semakin lihai itu. Belum lagi Angie masih harus terus menyembuhkan dirinya sendiri berkat lautan api yang tercipta oleh pedang Aamori.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Angie terlihat mulai kehabisan nafasnya karena terus menerus melakukan gerakan cepat hanya untuk mengimbangi serangan Aamori yang semakin agresif.
"Ngomong-ngomong, dimana Eric? Jangan katakan.... Dia meninggalkan kalian? Untuk menghancurkan dunia ini?" Tanya Aamori sambil berjalan secara perlahan ke arah Angie.
Ia telah sangat yakin bahwa kemenangan ini miliknya, dan telah mulai merasakan kepuasan atas kemenangan itu sendiri.
Baru pertama kali ini, Aamori merasakan sebuah pertarungan seseru ini. Dimana saat Aamori melepaskan helmnya, Angie bisa melihat senyuman lebar di wajahnya.
"Ya, dia tak ingin mengikuti pertarungan bodoh ini. Lebih baik membiarkan mereka bertarung sementara aku menghancurkan dunia, itu katanya sebelum pergi." Balas Angie.
Ia berusaha untuk mengulur sebanyak mungkin waktu.
Tapi Angie sadar, mungkin Ia telah gagal menepati permintaan Eric.
"Begitu kah? Hahaha, ku rasa memang benar begitu." Balas Aamori.
'Bagus lah jika dia percaya.' Pikir Angie dalam hatinya sambil menarik pedangnya. Angie bersiap untuk menahan Aamori lebih lama lagi.
Meski begitu, apa artinya jika dia mati dan semua rencana ini akan gagal?
"Tapi Angie.... Bisakah kau melihat ke arah sana? Ada cahaya merah yang cukup terang kau tahu? Dan aku.... Cukup mengenali cahaya itu. Bagaimanapun, cahaya itu yang telah hampir membunuhku sebanyak dua kali."
'Bodoh! Kenapa tak bersembunyi?! Eric bodoh!'
Saat ini, 9 lingkaran sihir berwarna merah milik Eric dapat terlihat dengan begitu jelas di kejauhan. Wajar saja karena ukurannya begitu besar.
Tanpa ragu, Aamori segera mengayunkan tangan kirinya. Mengirimkan 30 pedang cahaya ke arah Eric.
"Tidak! Eric!!!" Teriak Angie ketakutan.
"Sekarang, mari kita akhiri?" Ucap Aamori sambil mengangkat pedang sisik naga apinya ke atas.
Tapi bukannya mengayunkan pedangnya, Aamori justru tersenyum melihat keputusasaan yang dialami oleh Angie. Dimana rencana mereka akan digagalkan olehnya.
"Aku tahu.... Eric berpikir untuk menembakkan sinar itu lagi kan? Dan melihat ukuran lingkaran sihir merah itu, pasti aku akan mati jika kena. Tapi bagaimana jika Ia yang mati lebih dulu?" Tanya Aamori sambil menurunkan pedangnya sekali lagi.
Angie sendiri terlihat telah terpuruk di tanah. Pasrah untuk menerima kematiannya.
Lagipula, Aamori memang terlalu kuat.
Angie juga tak berniat untuk menyalahkan siapapun. Jika ada yang ingin disalahkan olehnya, itu adalah dirinya sendiri yang lemah.
Di sisi lain....
"Skill siap digunakan." Ucap salinan Eric sambil menggunakan Overdrive.
'Swuuusshhh!!!'
Akhirnya, lingkaran sihir amplifikasi ke 10 telah tercipta.
Kedua tangan Eric terlihat begitu kesulitan untuk menahannya, sekalipun seluruh statusnya telah meningkat dengan drastis akibat terangkatnya menjadi Kaisar Iblis.
Akan tetapi....
Tanpa sedikit pun disangka-sangka....
'Jleeebb! Jleeebbb! Jleeeebbb!'
30 lebih pedang cahaya mengarah tepat ke arahnya. Salinannya berhasil berlari ke depan tubuhnya sambil menciptakan sebuah perisai kristal yang besar.
Tapi semua itu hanya berhasil menahan 27 pedang cahaya saja sebelum semuanya hancur. Termasuk salinan Eric itu mati.
Sedangkan sisa 3 lagi....
Mengenai tepat di tubuh Eric.
[Anda telah menerima....]
Darahnya berkurang dengan sangat drastis.
'Bagaimana bisa.... Aaah.... Benar juga.... Sialan!!!' Keluh Eric dalam hatinya.
Saat ini, yang ada di dalam pikirannya hanya satu hal. Yaitu menargetkan sihirnya ke arah Angie. Akan tetapi....
[Target berada di luar jangkauan!]
'Kau bercanda kan? Setelah semua ini....'
Eric mulai kehilangan harapannya. Terlebih lagi, notifikasi yang menyeramkan mulai muncul di hadapannya.
[Anda telah menerima efek Extreme Bleeding! Anda akan menerima....]
Health Point Eric yang sebelumnya telah berada di kisaran 10% saja setelah menerima ketiga pedang cahaya itu, kini mulai menurun sebanyak 0.2% setiap detiknya.
Ia hanya memiliki sisa waktu 50 detik saja sebelum Health Point miliknya habis.
Menggunakan Potion sekalipun mustahil dalam kondisinya saat ini. Dimana kedua tangannya saja tak mampu untuk menahan beban berat dari 10 lingkaran sihir amplifikasi itu.
'Apakah.... Semuanya akan berakhir di sini?' Pikir Eric dalam hatinya.
Keputusasaan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.
Semua usaha dan persiapannya, semuanya akan hancur saat ini juga. Hanya karena kawan lamanya memutuskan untuk melawannya untuk bersenang-senang.
Tapi melihat HP Bar miliknya yang terus menurun drastis, Eric menyadarinya. Bahwa semua ini....
Memang akan berakhir.
Akan tetapi....
"Jadi di sini kau berada? Dan apa-apaan ini?" Ucap seorang wanita dengan suara yang begitu familiar.
Saat Eric menoleh, Ia menyadarinya. Bahwa wanita itu tak lain adalah sosok pertama di dunia ini.
__ADS_1
Yang menariknya dari dalam jurang kegelapan.
"Elin?"